Pintu gerbang masuknya persis di Jalan kolopaking, sehingga aku hanya tahu namanya masjid Kolopaking. Dari rumah aku harus berjalan kaki sepanjang 500 meter, disisi kanan jalan, melewati deretan toko Cina Tionghoa dan sebuah rumah berlantai dua milik teman ibuku, lalu berbelok di jalan kolopaking tadi dan kemudian berbelok lagi ke kanan memasuki lorong sepanjang kurang lebih 50 meter. Barulah kita bertemu dengan sebuah bangunan megah, berdinding putih dengan marmer dan kubah besar serta beranda mesjid yang lebar. Halamannya lumayan luas, tapi langsung berbatas dengan gudang mobil Bus Merdeka, milik orang tua temanku Eni Kurniasih. Di kanan kirinya ada bangunan rumah tempat khadim masjid tinggal dan bersambung dengan bagian belakang deretan toko di kawasan niaga kolopaking.
Didalam masjid terdapat beduk besar berdiameter 1,5 meter, terbuat dari kayu jati mungkin, dengan kulit kerbau yang licin. Aku biasanya ikut membantu memukul beduk, ketika malam takbiran hari raya. Selain itu kami tak dibolehkan karena hanya digunakan setiap kali menjelang azan dan iqamah. Biasanya kami juga suka tiduran dekat beduk, tujuannya supaya ketika beduk dibunyikan kami bisa ikut terbangun dan langsung wudhuk.
Luas mesjid itu aku taksir 2000 meter persegi, terdiri dari 4 bagian bangunan, bagian utama tempat mimbar, kemudian ada bagian belakang tempat orang duduk menunggu waktu shalat atau tempat jamaah anak-anak dan perempuan ketika ramadhan. Kemudian ada sayap di kiri yang diperuntukkan khusus untuk jamaah perempuan dan sayap kanan untuk jamaah anak-anak seperti kami, sekaligus juga menjadi ruang belajar mengaji.
Halaman sebelah kanan masjid, terhubung langsung dengan pasar dan terminal colt atau stamplat dokar, sedangkan bagian baratnya berbatas dengan areal persawahan dan irigasi kecil. Di bagian samping kiri masjid ada lorong kecil dan disana ada penjual rujak buah langganan kami, rasanya tak ada tandingannya, pedas manis dan harganya murah.
Tapi kenangan terindah dengan masjid kolopaking adalah ketika malam lebaran, ketika kami takbir bersama hingga larut malam, kemudian sengaja bermalam disana, karena pagi sehabis subuh, kami mendapat suguhan nasi gulai ayam. Kemudian kami pulang mandi, barulah kami mendapat suguhan porsi kedua kalinya dengan menu yang sama, rasanya lezat luar biasa, tak ada duanya. Itulah indahnya kebersamaan di masjid kami, mesjid yang kurindukan hingga hari ini. Entah kapan aku bisa berkunjung kembali meski hanya sekedar shalat tahiyatul masjid untuk mengulang kembali kenangan dulu.
Kolopaking Mosque
by hans@acehdigest
The gateway entrance at Jalan Kolopaking exactly, so I only know his name Kolopaking mosque. From home I have to walk 500 meters, on the right road, past a row of Chinese shops and a house owned by friends of my mother, then turned on the road Kolopaking earlier and then turned again to the right into the alley along the approximately 50 meters. Then we met with an imposing building, with marble and white-walled dome of the mosque and a wide veranda. Yard was quite extensive, but immediately bounded by the Merdeka Bus car warehouse, owned by my friend, Eni Kurniasih parents. On either side there are houses Khadim mosque place to live and continued with the back row of shops in the commercial area of the major kolopaking.
In the mosque there is a large drum with 1.5 meters in diameter, made of teak wood as possible, with a smooth buffalo leather. I usually help beating the drum, when the night takbiran feast. In addition we are not allowed because it is only used every time before the call to prayer and iqamah. Ussualy we also like to lie near the drum, the goal so that when the drum is sounded we could wake up and immediately joined the mosque wudhuk.
The size of the mosque I estimate 2000 square meters, consists of 4 parts of buildings , the main part of the pulpit, then there is the back where people sat waiting for congregational prayer time or place of children and women when Ramadhan. Then there is the left wing which cater specifically for women pilgrims and worshipers right wing for children like us, as well as a space to learn the Qur'an.
Right page mosque, connected directly with the market and terminal colt or stamplat gig, while the west bounded by rice fields and small irrigation. On the left side of the mosque there is a small hallway and there was fruit salad sellers our subscriptions, it's unparalleled, spicy sweet and beautiful memories with the low price.
But the most beautiful memories with Kolopaking mosque is when the evening feast, when we takbeer together until late at night, and then deliberately overnight there, because the morning after dawn, we got the chicken curry rice treats. Then we went home showered, then we got a second portion treats with the same menu, delicious taste superb, second to none. That's the beauty of togetherness in our mosque, the mosque that I miss to this day. Who knows when I can visit again despite just tahiyatul prayer to repeat back memories of old.