Aku selalu merindukan waktu untuk bisa menuliskan banyak hal tentang ibuku, sosok yang selalu kukagumi dalam hati dan raganya. Ibuku berhati baja, namun juga lembut, aku mengaggumi luar biasa. Aku pernah melalui hari-hari dan waktu yang panjang dengan ibuku, meskipun kemudian jarak dan waktu memisahkan raga tapi bukan hatiku.
Jika aku boleh meminta aku ingin menyayangi selalu, membalas kasih sayang yang tak pernah bisa kubalas, tapi setidaknya harapan dan mimpi untuk membahagiakannya adalah salah satu harapan terbaikku.
Aku pernah merasakan suka dan duka yang mendalam ketika bersama dalam ruang dan waktu. Merasakan hangatnya air mata yang menetes setiap kali kesedihannya tertumpah dari tuturannya. Jatuh di pipiku yang sedang memandangnya dari bawah dagunya, sambil bertanya-tanya sebesar dan sesedih apa sesungguhnya hatinya. Dan betapa takjubnya aku mendapati bahwa dalam kesedihan yang dalam aku masih mendapatkan kasih sayang yang tiada taranya.
Sungguh benar, bahwa kasih sayang ibu seperti udara yang tak tergantikan, sinar matahari pagi yang menghangatkan. Aku selalu merindukan saat-saat itu, bersepeda berdua, berjalan-jalan berdua menyusuri malam di pinggiran kota tanpa tujuan apa-apa kecuali saling berbagi rasa, hati dan kegundahan, agar jatuh terlepas dari dalam hati yang berat.
Aku memang tak bisa mengulang waktu dan memberinya jalan terbaik, tapi setidaknya sebagai teman, dan anak yang selalu dekat aku bangga bisa membagi waktu dan ruang agar dapat merasakan kesedihannya yang dalam dan bisa sedikit meluruhkannya. Aku menjadi orang paling beruntung dan bahagia ketika bisa melihat senyum mengembang di wajah ibuku, mungkin bisa jadi itu karena aku, jika iya betapa bahagianya, di masa kecilku yang tak panjang bersamanya aku bisa memberikannya kenangan dan bisa menyimpan kenangan bersamanya.
Aku pernah berharap bisa mengulang waktu, bertemu dengan ibuku, menemaninya sepanjang yang aku bisa, memberinya apa saja yang bisa kubagi dan kupersembahkan untuk membuatnya bahagia dan tersenyum. Meskipun itu hanya mimpi tapi aku bahagia karena sebagian mimpiku itu pernah terwujudkan.
Hari ini aku menyadari bahwa aku ternyata belum sungguh-sungguh bisa membuatnya bangga, kecuali ketika seluruh pilihan hidupku ternyata adalah salah satu harapan dalam doanya, seorang istri dan seorang ibu yang sangat baik bagi anak-anakku. Sesederhana itulah harapan seorang ibu, sebuah kebaikan bagi anak-anaknya adalah kebahagian dalam kehidupannya. Sungguh aku masih ingin terus belajar tentang kecintaan, kasih sayang, berbagai, menggunakan hati untuk menyayangi orang lain, dan sesederhana apapun sebuah kebaikan bisa menjadi harapan bagi orang lain.
Dalam wajah keras ibuku, aku menemukan kasih sayang yang tak terbalas, kasih sayang ibu yang tak bisa kuukur dengan apapun untuk membalasnya. Pada waktunya aku menyadari bahwa ibuku adalah orang terbaik yang aku punya dalam hidupku, pun hingga sekarang, ketika kita dewasa dan berharap untuk menyayanginya ternyata kita justru selalu mendapatkan limpahan kasih sayangnya. Ternyata kita dan hati kita tak pernah bisa jauh dari ibu. Sebuah paket sempurna ciptaan Allah, yang didalam tangis dan peluk kasihnya kita mendapatkan kehangatan yang jauh melebihi seribu matahari jumlahnya.
Semogalah Allah selalu menaburkan kasih sayang dan kecintaanNya untuk memberkati para ibu dan ibuku, agar dipenuhi hatinya dengan kebahagiaan setiap detik, setiap menit, setiap jam dan setiap waktu dalam nafas hidupnya. Salam sayang ananda.
Me and My Mom
by hans-acehdigest
I always longed for the time to be able to write a lot about my mother, who always admired figure in your heart and body. My mom take steel, but soft, I admires incredible. I've been through the days and the length of time with my mom, though later time and distance separating the body but not my heart.
If I may ask I always wanted love, affection reply that will never be cleansed, but at least the hopes and dreams for her happy is one of the best hopes.
I never felt a love and deep sorrow when together in space and time. Feel the warmth of the tears that dripped from every grief spilled words. Falling down my face looking at her from under his chin, wondering what the real amount and sad heart. And amazement I found that in a deep sadness I still get the love unequaled.
It's true that a mother's love is irreplaceable, such as air, the warm morning sun. I always miss those moments, cycling together, walk together through the night on the outskirts of the city without any purpose except sharing their feeling, heart and anxiety, to fall in spite of a heavy heart.
I was not able to repeat time and gave him the best, but at least as a friend, and a child who was always near me proud to be able to share time and space in order to feel a deep sadness and can be a bit drop. I became the luckiest and happiest when able to see a smile on her face, maybe it could be because of me, if so very happy, in my childhood that I can not give it with long memories and can store memories with him.
I had hoped to repeat the time, met my mother, with her as long as I can, give what can I shared and I have offered to make him happy and smiling. Although it was just a dream but I'm happy because most of my dream never realized.
Today I realized that I had not yet truly be proud, except when the entire option life turns out is one of hope in prayer, a wife and a mother who was very good for my children. Simple as that's the hope of a mother, a kindness to her children is happiness in life. Indeed, I still want to continue to learn about love, love, share, use the heart to care for others, and no matter how straight a good can be hope for others.
In my mother's stern face, I find unrequited love, a mother's love can not I measure with anything to give in return. In time I realized that my mother was the best I've had in my life, even until now, when we grow up and expect to love it always turns out we get an abundance of affection. Apparently we and our hearts could never far from the capital. A perfect package creation God, in tears and embraced his love for us to get the warmth of a thousand suns were far exceeded in number.
Hopefully God always sow love and love to bless the mothers and mother, so that her heart was filled with happiness every second, every minute, every hour and every time in the breath of life. Love Yours Childs.
Label
10 tahun tsunami.
(1)
2013
(1)
acehku
(1)
Adikku.
(1)
Aku
(4)
Among-among
(1)
Anak-anak
(1)
Anak-Anak Dikutuk
(1)
Angka ajaib
(1)
aqiqahku
(1)
Ayahku
(1)
babak baru
(1)
bakso
(1)
Barzanji
(1)
batu cincin
(1)
belimbing
(1)
Belut Loch Ness
(1)
Belut Sawah; Mancing Belut
(1)
Bibiku
(2)
bioskop misbar
(1)
birtdhday party
(1)
bisnis keluarga
(1)
busur dan panah
(1)
capung
(1)
Celengan bambu
(1)
China's Neighbords
(1)
Cibugel 1979
(1)
Cibugel Sumedang
(2)
cinta bunda
(1)
cracker
(1)
Curek; Inflammation
(1)
Dapur nenek
(1)
dejavu
(1)
Dian Kurung
(1)
distant relatives
(1)
Dremolem Or Dream Of Land
(1)
es dogger
(1)
es goyang
(1)
es serut
(1)
Fried Sticky Rice
(1)
Gadis Kecil
(1)
gambar desain
(1)
gambarku
(1)
Gandrung Mangu
(2)
golek;nugget cassava
(1)
harmonika kecilku
(1)
Ibuku
(11)
Ibuku Atau Kakakku?
(1)
Ikan
(2)
ikan dan ular
(1)
iseng
(1)
jalan kolopaking
(2)
Jalan Kusuma
(2)
jangkrik Jaribang Jaliteng
(1)
Jenang Candil
(1)
jogging
(1)
Juadah
(1)
Juz Amma
(1)
kakek dan nenek
(3)
kakekku
(3)
kecelakaan fatal
(2)
kelahiranku
(1)
Kelas Terakhir; the last class
(1)
kenangan
(1)
Kerupuk Legendar
(1)
kilang padi
(1)
Klapertart Cake
(1)
kolam ikan masjid
(1)
koleksi stiker
(1)
koleksi unik
(1)
koplak dokar dan colt
(1)
kota kecil dan rumahku
(1)
Kue tape
(1)
Kutawinangun
(1)
Lanting
(1)
little cards
(1)
Loteng rumah
(1)
lotere
(1)
lottery
(1)
mainan anak-umbul
(1)
makan
(1)
makkah
(1)
Malam Jum'at
(1)
Mancing Belut
(1)
masa kecil
(9)
masa kecil.
(1)
masa lalu
(2)
masjid kolopaking
(1)
meatballs
(1)
Mengaji
(1)
Minum Dawet
(1)
morning walk
(1)
my
(1)
my birth
(1)
my first notes
(6)
my mom
(4)
my note
(25)
Nama ibuku
(1)
Nenek Sumedang
(1)
new round
(1)
new year
(2)
others notes
(1)
ours home
(1)
padi sawah wetan
(2)
pande besi
(1)
Papan Tulis
(1)
Pasar dan Ibuku
(1)
Penculik dan Bruk
(1)
Pencuri
(1)
Perjalanan 25 Tahun Bag. Pertama
(1)
personal
(1)
Puasa
(1)
radio transistor
(1)
Roti dan Meriam Kauman
(1)
Rumah Ban
(1)
Rumah Kakek dan Nenek
(5)
rumah karang sari
(1)
rumah kecil di pojok jalan
(4)
rumah kelinci
(1)
rumah kutawinangun
(1)
Rumah Pojok
(1)
rumahku
(1)
Sarapan Apa Sahur?
(1)
saudara jauh
(1)
sawah utara
(1)
sawah wetan
(2)
SD Kebumen
(1)
Sepeda dan Meteor
(1)
shake es
(1)
shalat jamaah
(1)
sintren
(1)
Starfruit for Mom
(1)
Stasiun Kereta Api
(2)
Sumedang 1979
(1)
Sungai Lukulo.
(1)
tahun awal
(17)
tahun baru
(1)
Taman Kanak-kanak
(1)
Tampomas I
(1)
tanteku
(2)
Tetangga Cina
(1)
The magic Number
(1)
tradisional
(1)
tsunami 2014
(1)
Visionary grandpa
(1)
Wayang Titi
(1)
Kamis, 27 Desember 2012
Kamis, 20 Desember 2012
Ibuku dan Ketabahan ;Mother and fortitude
Sungguh yang tak pernah bisa kubayangkan adalah ketabahan ibuku, aku tak bisa dengan pasti memilih kata apa yang tepat untuk menggambarkan ketabahannya. Mungkin bagi banyak orang tak ada yang bisa sebaik ibuku, mungkin banyak hal yang dipertimbangkannya sehingga beliau menjadi begitu kuat. Mungkin juga ada harapan di hati kecilnya bahwa semua hal yang sedang terjadi adalah cuma mimpi dan tak sungguh-sungguh sedang terjadi padahal sedang dirasakan dan dialaminya langsung.
Menurut yang bisa kuingat, dari cerita ibukku, ketika adikku yang ketiga lahir dan ayahku harus meninggalkan ibuku untuk "sekolah" dan kemudian aku ketahui menjadi perjumpaannya yang terakhir karena "perpisahan" yang tak kuketahui alasannya. Aku tak bisa bayangkan bagaimana perasaanya, sendiri, tanpa teman kecuali ketiga anak yang pastinya juga sangat merepotkan, karena masih kecil. rumah juga sebenarnya tak nyaman betul karena kondisinya yang sederhana dan serba kekurangan. Aku bayangkan tak ada satupun hal yang bisa diharapkan dari rumah dan kemungkinan masa depannya, kecuali kekuatan dan ketabahan dari ibuku demi ketiga anak laki-lakinya.
Tapi dengan semua beban itu ibuku masih mengangkatkan koper-kopernya ke becak yang juga diusahakan dicarinya untuk mengantarkan suaminya berangkat jauh. Hari masih gelap, karena baru usai subuh, bahkan menurut kisah yang lain ibuku bahkan mengantarkan ayahku ke stasiun untuk perjumpaannya yang terakhir. Aku tak pernah bisa membayangkan bagaimana kesedihan, suasana hati dan pikiran ibuku. Apakah sungguh-sungguh akan bisa hidup dengan ketiga anaknya?, bagiku karena ibuku sebaik malaikat semuanya bisa dilaluinya dengan hati yang keras atau dipaksakan agar keras menghadapi cobaan.
Aku bayangkan seandainya aku besar ketika itu, aku akan membantunya dengan apapun yang aku bisa, sayangnya ketika itu aku kecil dan aku justru yang mengganggu pikiran karena tingkah lakuku yang belum memahami bagaimana hidup getir yang sedang berlaku. Begitupun aku mengalami kisah sedih dan dapat merasakannya, makan sebungkus bersama, membeli susu sapi segar untuk menjaga adik-adik tetap sehat dan banyak hal yang dilakukan ibuku agar membuat kami tetap membuatnya bahagia dan sehat.
Menurutku itu adalah saat yang paling menggetarkan dari seluruh kisah ibuku karena dihari-hari sesudahnya kami menghadapi banyak kisah dan rasa yang sulit kami harapkan bisa kami ingat dengan baik, bahkan jika bisa kami lupakan dan buang jauh. Tapi itulah masa lalu, tempat dimana kita pernah berpijak, sehingga kita bisa terus melangkah menciptakan hari-hari baru satu demi satu hingga kita sampai di masa depan yang sungguh sangat berbeda.
My mother and fortitude
by hans-acehdigest
It could never imagine was grit my mother, I can not exactly choose what the right words to describe perseverance. Perhaps for many people there's nothing can be as good mother, maybe a lot of things into consideration that he is so strong. There may also be hope in his heart that everything that is happening is just a dream and not actually happening when being felt and experienced directly.
According as I can remember, from the story ibukku, when the third sister was born and my father had left my mother for a "school" and then I know to be the last encounter as "farewell" I did not know why. I can not imagine how her feelings, alone, with no friends except the three children must also be very troublesome, because it is still small. the uncomfortable truth is also true because the condition is simple and underprivileged. I imagine there was no single thing that can be expected from the home and possible future, but the strength and fortitude of the mother for the sake of three sons.
But with all that she still mengangkatkan load his luggage into the rickshaw which also attempted to deliver her husband left looking away. It was still dark, as new after dawn, even according to another story that my mom even drove my father to the station for the last encounter. I never could imagine how sadness, mood and thoughts of my mother. Was this really going to be able to live with her three children?, As an angel to me because my mom has taken to heart everything can be harsh or forced to be hard to face trial.
I imagine if I was big at the time, I'll help with whatever I can, unfortunately, but I was small, and it bothers her because of the behavior of children who do not understand how bitter life is valid. Likewise I had a sad story and can feel it, eat a pack together, buy fresh milk for guard brothers stay healthy and a lot of things my mother did to make us keep him happy and healthy.
I think it was the most thrilling moment of the whole story of her early days afterward because we face many difficult stories and flavors that we hope we can remember it well, even if we could forget and throw away. But that's the past, the place where we never rests, so that we can continue to step creates a new day one by one until we get to the future that it is very different
Menurut yang bisa kuingat, dari cerita ibukku, ketika adikku yang ketiga lahir dan ayahku harus meninggalkan ibuku untuk "sekolah" dan kemudian aku ketahui menjadi perjumpaannya yang terakhir karena "perpisahan" yang tak kuketahui alasannya. Aku tak bisa bayangkan bagaimana perasaanya, sendiri, tanpa teman kecuali ketiga anak yang pastinya juga sangat merepotkan, karena masih kecil. rumah juga sebenarnya tak nyaman betul karena kondisinya yang sederhana dan serba kekurangan. Aku bayangkan tak ada satupun hal yang bisa diharapkan dari rumah dan kemungkinan masa depannya, kecuali kekuatan dan ketabahan dari ibuku demi ketiga anak laki-lakinya.
Tapi dengan semua beban itu ibuku masih mengangkatkan koper-kopernya ke becak yang juga diusahakan dicarinya untuk mengantarkan suaminya berangkat jauh. Hari masih gelap, karena baru usai subuh, bahkan menurut kisah yang lain ibuku bahkan mengantarkan ayahku ke stasiun untuk perjumpaannya yang terakhir. Aku tak pernah bisa membayangkan bagaimana kesedihan, suasana hati dan pikiran ibuku. Apakah sungguh-sungguh akan bisa hidup dengan ketiga anaknya?, bagiku karena ibuku sebaik malaikat semuanya bisa dilaluinya dengan hati yang keras atau dipaksakan agar keras menghadapi cobaan.
Aku bayangkan seandainya aku besar ketika itu, aku akan membantunya dengan apapun yang aku bisa, sayangnya ketika itu aku kecil dan aku justru yang mengganggu pikiran karena tingkah lakuku yang belum memahami bagaimana hidup getir yang sedang berlaku. Begitupun aku mengalami kisah sedih dan dapat merasakannya, makan sebungkus bersama, membeli susu sapi segar untuk menjaga adik-adik tetap sehat dan banyak hal yang dilakukan ibuku agar membuat kami tetap membuatnya bahagia dan sehat.
Menurutku itu adalah saat yang paling menggetarkan dari seluruh kisah ibuku karena dihari-hari sesudahnya kami menghadapi banyak kisah dan rasa yang sulit kami harapkan bisa kami ingat dengan baik, bahkan jika bisa kami lupakan dan buang jauh. Tapi itulah masa lalu, tempat dimana kita pernah berpijak, sehingga kita bisa terus melangkah menciptakan hari-hari baru satu demi satu hingga kita sampai di masa depan yang sungguh sangat berbeda.
My mother and fortitude
by hans-acehdigest
It could never imagine was grit my mother, I can not exactly choose what the right words to describe perseverance. Perhaps for many people there's nothing can be as good mother, maybe a lot of things into consideration that he is so strong. There may also be hope in his heart that everything that is happening is just a dream and not actually happening when being felt and experienced directly.
According as I can remember, from the story ibukku, when the third sister was born and my father had left my mother for a "school" and then I know to be the last encounter as "farewell" I did not know why. I can not imagine how her feelings, alone, with no friends except the three children must also be very troublesome, because it is still small. the uncomfortable truth is also true because the condition is simple and underprivileged. I imagine there was no single thing that can be expected from the home and possible future, but the strength and fortitude of the mother for the sake of three sons.
But with all that she still mengangkatkan load his luggage into the rickshaw which also attempted to deliver her husband left looking away. It was still dark, as new after dawn, even according to another story that my mom even drove my father to the station for the last encounter. I never could imagine how sadness, mood and thoughts of my mother. Was this really going to be able to live with her three children?, As an angel to me because my mom has taken to heart everything can be harsh or forced to be hard to face trial.
I imagine if I was big at the time, I'll help with whatever I can, unfortunately, but I was small, and it bothers her because of the behavior of children who do not understand how bitter life is valid. Likewise I had a sad story and can feel it, eat a pack together, buy fresh milk for guard brothers stay healthy and a lot of things my mother did to make us keep him happy and healthy.
I think it was the most thrilling moment of the whole story of her early days afterward because we face many difficult stories and flavors that we hope we can remember it well, even if we could forget and throw away. But that's the past, the place where we never rests, so that we can continue to step creates a new day one by one until we get to the future that it is very different
Langganan:
Komentar (Atom)