Label

10 tahun tsunami. (1) 2013 (1) acehku (1) Adikku. (1) Aku (5) Among-among (1) Anak-anak (1) Anak-Anak Dikutuk (1) Angka ajaib (1) aqiqahku (1) Ayahku (1) babak baru (1) bakso (1) Barzanji (1) batu cincin (1) belimbing (1) Belut Loch Ness (1) Belut Sawah; Mancing Belut (1) Bibiku (2) bioskop misbar (1) birtdhday party (1) bisnis keluarga (1) busur dan panah (1) cafe (1) capung (1) Celengan bambu (1) China's Neighbords (1) Cibugel 1979 (1) Cibugel Sumedang (2) cinta bunda (1) coffee (1) cracker (1) Curek; Inflammation (1) Dapur nenek (1) dejavu (1) Dian Kurung (1) distant relatives (1) Dremolem Or Dream Of Land (1) es dogger (1) es goyang (1) es serut (1) Fried Sticky Rice (1) Gadis Kecil (1) gambar desain (1) gambarku (1) Gandrung Mangu (2) golek;nugget cassava (1) harmonika kecilku (1) Ibuku (11) Ibuku Atau Kakakku? (1) Ikan (2) ikan dan ular (1) iseng (1) jalan kolopaking (2) Jalan Kusuma (2) jangkrik Jaribang Jaliteng (1) Jenang Candil (1) jogging (1) Juadah (1) Juz Amma (1) kakek dan nenek (3) kakekku (3) kecelakaan fatal (2) kelahiranku (1) Kelas Terakhir; the last class (1) Kembang api (1) kenangan (1) Kerupuk Legendar (1) kilang padi (1) Klapertart Cake (1) kolam ikan masjid (1) koleksi stiker (1) koleksi unik (1) koplak dokar dan colt (1) kota kecil dan rumahku (1) Kue tape (1) Kutawinangun (1) Lanting (1) Lebaran (1) little cards (1) Loteng rumah (1) lotere (1) lottery (1) mainan anak-umbul (1) makan (1) makkah (1) Malam Jum'at (1) Mancing Belut (1) masa kecil (11) masa kecil. (1) masa lalu (3) masjid kolopaking (1) meatballs (1) Mengaji (1) menu berbuka (1) Mercon (1) Minum Dawet (1) morning walk (1) my (1) my birth (2) my first notes (6) my mom (4) my note (27) Nama ibuku (1) Nenek Sumedang (1) new round (1) new year (2) others notes (1) ours home (1) padi sawah wetan (2) pande besi (1) Papan Tulis (1) Pasar dan Ibuku (1) Penculik dan Bruk (1) Pencuri (1) Perayaan (1) Perjalanan 25 Tahun Bag. Pertama (1) personal (1) Puasa (3) radio transistor (1) ramadhan (1) Roti dan Meriam Kauman (1) Rumah Ban (1) Rumah Kakek dan Nenek (5) rumah karang sari (1) rumah kecil di pojok jalan (4) rumah kelinci (1) rumah kutawinangun (1) Rumah Pojok (1) rumahku (1) Sarapan Apa Sahur? (1) saudara jauh (1) sawah utara (1) sawah wetan (2) SD Kebumen (1) Sepeda dan Meteor (1) shake es (1) shalat jamaah (1) sintren (1) special note (1) Starfruit for Mom (1) Stasiun Kereta Api (2) Sumedang 1979 (1) Sungai Lukulo. (1) tahun awal (17) tahun baru (1) Taman Kanak-kanak (1) Tampomas I (1) tanteku (2) Tetangga Cina (1) The magic Number (1) tradisional (1) tsunami 2014 (1) Ulang tahun (1) Visionary grandpa (1) Wayang Titi (1)
Tampilkan postingan dengan label tahun awal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tahun awal. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Februari 2012

Cibugel, Sumedang 1979

Kurang lebih tiga atau empat bulan (sekitar agustus, hingga November atau menjelang akhir tahun 1979), aku tinggal di Cibugel, selama itu aku punya banyak kenangan, karena saat itu sebenarnya menjadi tahun-tahun terakhir aku bertemu dengan ibuku. Mungkin karena sejak awal ayahku tak mau membuatku banyak bertanya-tanya, jadi aku tak pernah dapat penjelasan dan alasan kenapa aku harus berada disana untuk waktu yang lama sebelum akhirnya aku berangkat ke Aceh, karena ayahku mendapat undangan dari Pak Ali Hasmy almarhum untuk menjadi salah seorang dosen di IAIN Ar-Raniry.

Tahun itu juga menjadi tahun kesedihanku yang paling dalam karena pada akhirnya aku menyadari betapa jauhnya aku dengan ibuku, karena aku harus melintasi banyak pulau dan melakukan perjalanan kapal hingga 3 hari 4 malam untuk sampai ke serambi mekkah. Aku tetap merasa sendirian, sekalipun saat itu aku ditemani nenek dari pihak ayahku yang memang punya kedekatan secara personal denganku. Pada akhirnya ketika kemudian nenek juga pulang ke Gandrungmangu aku benar-benar merasa bahwa aku memang dibiarkan sendirian.

Ada perasaan menyesal yang terlambat aku rasakan, terutama ketika apada akhirnya nenek dan kakek juga meninggal dan aku tak juga bisa hadir kesana untuk menjenguknya terakhir kali.

Aku membayangkan betapa berat ibuku menjalani semua kenyataan yang aku rasakan sendiri saja begitu berat, apalagi bagi seorang ibu yang harus kehilangan dan berjauhan dengan anaknya untuk waktu yang tak pernah bisa ditentukan. Kesedihan dan kenyataan itu yang membuatku pada akhirnya menjadi kebal rasa karena keinginan untuk bertemu ibuku yang tak pernah kesampaian.

Bahkan untuk waktu yang sangat lama, barulah kami memiliki cara untuk berkomunikasi melalui surat yang penuh rahasia. Meskipun di awal aku tak menyadari kenyataan betapa rumitnya memulai hubungan melalui surat itu karena persoalan menjaga hati orang lain. Aku juga kemudian menyadari mengapa komunikasi itu lama sekali baru kami lakukan, karena persoalan, barangkali karena aku masih anak-anak susah untuk menjaga rahasia dan berhati-hati, sehingga setelah beranjak dewasa barulah kami, maksudku aku dan ibuku memulai kemunikasi melalui surat tadi.

Cibugel dan Sumedang menjadi catatan sendiri buatku untuk waktu yang sangat panjang, karena sudah menjadi bagian kisah hidupku.

Cibugel, Sumedang 1978
by hans@acehdigest 

Approximately three or four months (about August, and November or the end of 1979), I lived in Cibugel, during which I have many memories, because when it's actually become the last years I met with my mother. Maybe because since the beginning of my father did not want to make many wonder, so I never could the explanation and the reason why I should be there for a long time before I finally went to Aceh, because my father received an invitation from Mr. Ali Hasmy the deceased to be one lecturer at IAIN Ar-Raniry.

That year also became the year's most in my grief because in the end I realized how far I was with my mother, because I have to cross many of the islands and ships to travel up to 3 days 4 nights to get to the porch mecca. I still feel alone, even when I accompanied my grandmother from my father's side who did have a personal closeness with me. In the end, when the then grandmother is also home to Gandrungmangu I really felt that I was alone.

There is a feeling of regret that late I'm feeling, especially when finally grandparents also died and I could also be present there to see him one last time.

I imagine how hard my mother had all the facts alone I feel so heavy, especially for mothers who have lost and far from his son for the time that could never be determined. The sadness and the realization that made me eventually become immune to feeling the desire to meet my mother who was never accomplished.

Even for a very long time, then we have a way to communicate through letters full of secrets. Although in the beginning I did not realize how complex reality to start a relationship through letters because the issue of keeping the hearts of others. I also then realized why communication is so new we do long, because the issue, perhaps because I was a child hard to keep secrets and be careful, so that after growing up before us, I mean me and my mother had started communication by mail.

Sumedang Cibugel and became its own record for me for a very long time, because it has become part of my life.

Sabtu, 24 Desember 2011

Jalan Kolopaking; Kolopaking Street 2

Ruas jalan itu memanjang hampir 500 meter, dan sebutan nama kolopaking tak jelas buatku., apakah nama pahlawan ataukah nama tokoh yang berjasa di daerah karesidenan Kebumen itu. Setahuku sejak kecil jalan itu adalah jalan paling sibuk, karena hampir separuh aktifitas kota berada dalam areal pertokoan itu. Hampir semua jenis bisnis ada di jalan kolopaking itu, terutama para pengusaha Cina yang menjadi grosir, sehingga daerah itu hampir mirip dengan dengan Cina town. Dibaris pertama pertokoan berjejer para grosir sembako, kemudian para penjual kain dan beberapa mini market dan kelontong kecil juga melengkapi keramaian jalan padat itu.

Di siang hari hampir dipastikan mobil akan kesulitan mencari tempat parkir. Tapi dulu mobil-mobil didaerahku juga masih jarang, paling juga mobil niaga seperti colt diesel, atau truk kecil pengangkut barang. Kebanyakan sepeda dan beberapa sepeda motor yang dimiliki para pedagang, yang digunakan juga sebagai kendaraan pengantar barang.

Di jalan kolopaking itu, juga terdapat lorong selebar 4 meter yang memiliki gerbang dari besi berukir yang terhubung langsung kemesjid besar kebumen. Sedangkan bagian paling ujung dari jalan itu terdapat jembatan dan pasar gerabah yang menjual barang pecah belah dan juga yoyo. Sebuah mainan tradisional anak-anak terbuat dari kayu dengan benang sebagai pengulur dan penarik mainan tersebut. Aku pernah beberapa melewati jalur itu dan membeli beberapa buah, karena grosir aku bisa mendapatkannya dengan harga paling miring.

Jembatan kecil sepanjang 7 meter dengan palang besi bulat tanpa cat di pinggirnya, sudah ada sejak aku mulai sekolah. Dibawahnya mengalir sungai yang berujung di desa karang Sari melewati pesantren di sana dan bagian tengahnya berada di jalan menuju alun-alun kota sedangkan bagian ketiga jembatan di kolopaking tadi, di daerah pinggiran kota yang baru tumbuh. Jika kita berbelok kekanan kita akan sampai dibagian ujung jalan utama jalan pahlawan.

Kolopaking dalam amatanku mirip dengan daerah pecinan lainnya, dengan deretan gedung tua yang kokoh. memiliki tiang besar berbentuk persegi panjang, umumnya bercat putih dengan trotoar yang menyatu dengan bagian depan pertokoan. Batas paling pinggir dari jalan sepenuhnya menjadi areal parkir yang berisi deretan mobil pick up dan sepeda motor, selebihnya berisi deretan sepeda kumbang besar berwarna hitam.

Bagian kiri jalan kolopaking terhubung langsung dengan terminal kecil minibus, dengan deretan toko dan warung nasi gudeg yang ramai dan sebuah kantor pos polisi berada di dekatnya. Areal itu biasanya dipakai juga untuk area pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk atau para pedagang obat keliling yang berusaha mempertunjukkan kemampuannya berakrobat atau sekedar bermain sulap. Areal itu berpagar besi jajar berbentuk siku, untuk membedakan areal jalan kolopaking dan areal perparkiran pasar.

Di jalan kolopaking aku punya seorang teman perempuan yang orang tuanya juga pemilik toko, sepulang sekolah biasanya dia membantu orang tuanya menjadi penjaga toko. Tokonya menjual sembako, aku lupa namanya, dia ramah, manis, dengan rambut sebahu, kalau tak salah Mailidar  atau syarifah namanya, aku tak ingat lagi. Gadis berperawakan kecil itu, kalo sudah bergabung dengan Mira, Eni dan Husnul, kerjanya selalu menggangguku, apalagi kalau aku sekolah dengan sepeda mini pinjaman bengkel sebelah yang ukuran sebenarnya tak lebih besar dari aku.

Bagi anak-anak seperti kami, jalan kolopaking tak begitu menarik betul karena selain tempat penjual yoyo, dan jalan ke mesjid kami tak bisa menggunakannya untuk bermain. Tapi aku punya kisah dengan kawasan niaga itu. Aku pernah mendapat kupon undian berhadiah dari penjual mie telur, berupa piring panci, ketika aku menukarnya dengan hadiah, aku pikir piring dan panci ternyata aku hanya mendapat sebuah piring logam berbahan panci berwarna hijau. Tapi sudahlah, itu juga sudah beruntung begitu kata ibuku membelaku ketika aku merasa berkecil hati karena salah sangka dengan hadiah yang kuterima itu.

Kamis, 22 Desember 2011

Tante Muhibah: My Auntie

Orangnya tinggi hampir seperti ibuku, orangnya cantik dengan rambut terurai lebat dan panjang. Tapi jika sekolah mengenakan jilbab, lincah dan suka berteman. Sekolahnya agak jauh di sebelah barat kota, melewati terminal dan Stasiun Kereta Api Kebumen, tepatnya di Madrasah Aliyah Negeri Kebumen.

Seingatku tanteku adalah orang yang paling sayang denganku, kami sering jalan-jalan  sore atau jalan-jalan pagi hingga ke alun-alun atau bersepeda hingga ke kota membeli ini dan itu. Terutama kue kesukaanku, klapertart tape, kue sejenis tar yang dibuat khusus dengan campuran tape. Tapi kuenya tidak lembek, justru kental dan kenyal, karena memang dibuat oleh ahli kulinari Cina yang juga pemilik toko itu, kalau tak salah namanya toko Gombong. Tokonya berada tepat di tengah kota disebelah timur bundaran tugu Lawet.

Karena tanteku cantik dan suka berteman tanpa pilah pilih, banyak teman yang seringkali datang atau mengantarnya pulang jika tante berangkat tak naik sepeda, sehingga beberapa kali ibuku dan tante ribut dan bertengkar. Sebenarnya ibuku yang juga kakak tanteku (karena tanteku adik yang paling bungsu) sangat sayang padanya, karena ibu kuatir jika salah bergaul tante nanti jadi tak jelas kelakuannya. Apalagi ibuku juga guru di Pendidikan Guru Agama Wanayasa, sehingga dengan ilmu agama yang ibu miliki beliau kuatir adik bungsunya salah bergaul.

Jika pertengkaran itu terjadi, aku biasanya berdiri mematung bingung tak tahu harus berbuat apa, karena aku tak tahu persis apa sebenarnya urusan para orang dewasa. Terlebih aku menyayangi keduanya ibuku dan tanteku juga. Yang aku dengar paling soal pacar dan pandangan tetangga yang tak enak melihat anak gadis masih sekolah, diantar pulang teman laki-lakinya itu saja. Lalu seperti biasa pertengkaran dimulai dan berakhir ketika ibu atau tante yang menangis, karena marah, sedih juga karena sayang.

Tanteku selain berteman dengan teman sekolahnya jarang keluar kecuali tak perlu sekali, karena ada tetangga sebelah rumah yang aku dengar diam-diam menaruh hati tetapi  kakek dan nenek menolak karena masih sekolah dan mungkin ada alasan lain yang aku tak tahu, masa tetangga makan tetangga.

Yang aku suka dari tanteku, pertama cantik, kedua sayang sama aku dan ketiga sering mengajak jalan-jalan kemana saja, Bahkan sampai ke Pantai Pangandaran, karena seingatku kami pernah kesana sekali dan ketika itu karena aku begitu gembira aku melompat-lompat dan akhirnya jariku mengenai dahan bambu dan terluka lumayan berat. Tanteku panik luar biasa dan hampir saja membatalkan acara jalan-jalannya. Tante juga suka mengajakku ke cafe kecil yang menjual ketan hitam manis yang di campur dengan kuah santan kental. Tempatnya di depan Bioskop Kebumen di arah sebelah kiri dari Jalan Kusuma. Dan di belakangnya ada bioskop yang biasanya memutar film India dan Mandarin, yang paling aku ingat adalah film "Tujuh Pendekar Sakti", kisah tujuh pendekar yang bisa berubah wujud menjadi beragam jenis binatang yang hebat, harimau, rajawali dan sebagainya.

Terakhir aku dengar tante menikah dengan seorang pengusaha marmar dan juga pemilik sasana tinju. Dan ketika aku berkunjung kesana setelah 25 tahun aku menjumpainya masih tetap ramah dan cantik seperti dulu, hanya lebih sehat dan sedikit gemuk, hampir mirip ibuku sekarang. Tapi sayangnya komunikasi itu akhirnya kurang jalan karena aku memang kurang bagus dalam membangun komunikasi dengan keluarga ibuku.

My Aunty
by hans@acehdigest

Almost like my mother's tall, beautiful women with bushy hair loose and long. But if the school wearing a headscarf, vivacious and gregarious. School some distance west of town, past the terminal and Railway Station Kebumen, precisely at the Madrasah Aliyah Kebumen Affairs.

I recall my aunt is the person most dear to me, we often walk the afternoon or morning walk down to the plaza or bike into town to buy this and that. Especially my favorite cake, klapertart tape, tar similar cake made specifically with a mix tape. But the cake is soft, thick and chewy instead, because it was made by the Chinese kulinari which also owns the store, I think his name Gombong stores. His store is right in the middle of town on the east side Lawet roundabout monument.


Because my aunt beautiful and gregarious without sorting choose, a lot of friends who often come or leave her home if the aunt did not ride a bike, so a few times my mother and aunts fussing and fighting. Actually my mother is also my aunt's brother (because my aunt is the youngest brother) is very dear to her, because she worried if one day mingle aunt so obscure his behavior. Especially my mother is also a teacher in the Teacher Education Wanayasa, so the science of religion that his mother worried about his youngest brother had one associate.


If the fight happens, I usually stood still confused do not know what to do, because I do not know exactly what the actual affairs of the adults. Especially I love both my mother and aunt as well. What I hear most about boyfriends and bad view of neighbors who saw the girls are in school, brought home her male friend that's all. Then as usual quarrel begins and ends when the mother or aunt who was crying, anger, sadness as well as affection.


Besides my aunt rarely make friends with fellow students do not need to come out except once, because there are next-door neighbor who I heard quietly put his heart but his grandfather and grandmother refused because it is still school, and there may be other reasons that I do not know, the neighbors feed neighbors.


What I liked about my aunt, the first beautiful, unfortunately the same second and third I often take a walk anywhere, even up to Pangandaran Beach, because I remember we used to go there once and when it was because I was so excited I jumped up and down and finally my finger on bamboo branches and injured quite heavy. Aunt panic extraordinary and almost canceled the event roads. Auntie also likes taking me to a small cafe that sells sweet black sticky rice mixed with coconut milk sauce. Place in front of Cinema Kebumen in the left direction of the Road Kusuma. And behind it there are theaters that usually plays Indian movies and Mandarin, the most I remember is the movie "Seven Swordsman", the story of the seven warriors who could change into a great variety of animals, tiger, eagle and so on.


Last I heard aunt was married to a businessman marble and also the owner of the boxing gym. And when I visit there after 25 years I see her still remain friendly and beautiful as ever, only healthier and less fat, almost like my mother now. But unfortunately it is ultimately less communication path because I was not good enough in establishing communication with my mother's family.

Sungai Lukulo; The Lukula River

Sungainya lebar dengan hamparan batu kerikil besar dan kecil di sepanjang alurnya yang meliuk hingga jauh tak terlihat pandangan mata. Dindingnya sebagian longsor terbawa erosi, karena banyak orang yang tinggal di sekitar sungai bekerja menjadi penggali pasir, mereka menggerus dinding dan dasar sungai, dan menumpuk serta menyaringnya untuk memisahkan menjadi butiran pasir dan kerikil. Aku tak tahu kenapa sungai besar dan lebar itu dinamai Lukula atau Lukulo, aku sendiri tak tahu apa artinya, bisa jadi dinamakan dengan nama itu karena ada kaitan dengan cerita tentang ular sungai, karena "Ula" kan artinya "Ular".

Aku tidak tahu dimana ujung sungai itu, apakah di gunung Slamet, gunung yang dekat dengan rumahku atau gunung lain yang letaknya agak jauh tapi masih terlihat puncaknya dari halaman depan rumahku juga, aku juga tak tahu persis apakah gunung itu masih masuk dalam wilayah kotaku, namanya Gunung Sumbing, mungkin karena bentuknya yang tak rata sehingga dinamai dengan nama itu. Aku bisa melihat kedua puncak gunung itu yang pada saat hari cerah tampak tinggi menjulang dan jika hari mendung atau pagi dipenuhi dengan kabut sehingga kita tak dapat melihatnya kecuali hamparan putih di puncaknya

Aku dan teman-teman biasanya main kesana untuk memancing, itupun harus secara diam-diam selain karena ibu melarang, tempatnya juga jauh dan berbahaya bagi yang tak bisa berenang, karena sebagian pinggiran sungai justru dalam. Belum lagi kalau tiba-tiba banjir bandang datang dan kita sedang berada di tengah sungai kan mengerikan. Di pinggiran sungai terdapat banyak "gethek", sebutan untuk rakit tradisional untuk penyeberangan dan alat angkut pasir galian. Rakitnya terbuat dari bambu yang panjangnya kurang lebih 10 meter, terdiri dari beberapa bilah bambu bulat yang disatukan dengan ikatan tali yang juga terbuat dari bambu dan tambang. Semuanya terbuat dari bambu karena disepanjang sungai itu memang dipenuhi tanaman bambu yang menjulang tinggi dan sebagiannya lagi terjuntai kesungai. Sehingga membuat suasana dingin dan sejuk , tapi juga menakutkan menurutku, karena ular suka tinggal dalam semak bambu.

Sungai itu juga punya cerita, entah benar atau tidak, kata orang-orang yang tinggal di sekitar sungai itu ada lubang ular raksasa, mereka bilang ular itu masih sering muncul. Tempatnya di sebuah lubang besar disisi kiri sungai dari jalan raya. Lubang itu dipenuhi dengan rumput liar yang memanjang. Bisa jadi cerita itu besar, karena bisa saja ular python yang sudah tua tinggal disana dan pernah dilihat orang. Pada saat air surut tempat itu sedikit menakutkan, tapi ketika air mulai menggenangi lubang itu lebih mengerikan lagi karena bisa saja ular itu keluar dari lubang dan menangkap siapa saja yang sedang di dekat lubang itu.

Soal sungai itu, seingatku aku mungkin cuma beberapa kali kesana karena memang jauh dari rumah, jika ada teman-teman yang punya sepeda mengajak aku biasanya ikut, tapi kalo harus berjalan kaki aku tak sanggup.  Dan anehnya yang biasanya kesana adalah anak-anak yang nakal, kalau aku ikut bukan karena itu, tapi karena rasa penasaran setiap kali ada teman-teman yang bercerita tentang sungai besar itu. Aku ingat pernah datang kesana pada saat sungai sedang pasang, airnya deras luar biasa  dan melihat dari pinggiran saja aku hampir lemas. Aku harus berpegangan kuat pada pohon bambu yang tumbuh lebat di pinggiran sungai, karena pinggirannya berupa tebing yang curam dan licin.

Kata orang-orang, sungai Lukulo itu juga tersambung dengan sungai besar Bengawan Solo, tempat asal muasal legenda Jaka Tingkir, seorang pendekar yang bisa menaklukkan kawanan buaya raksasa penunggu sungai. Cerita itu begitu terkenal, bahkan gambarnya dimasukkan kedalam umbul, sejenis kartu mainan anak-anak bersama tokoh terkenal lainnya Si Buta Dari Gua Hantu yang terkenal itu. Kalo orang-orang tua mengenal karena ada lagu terkenal Bengawan Solo yang dinyanyikan oleh Gesang.

Biasanya setiap kali kami akan ke sungai kami harus membuat janji dan persiapan, teman-teman bersepeda akan menunggu kami di samping terminal, barulah kami menyusul. Karena kalau sampai terlihat ibu pasti akan melarangnya. Aku biasanya pergi kesana sendirian tanpa adikku karena aku kuatir aku tak bisa menjaga mereka, apalagi ada cerita ular itu. Awalnya kami memancing dipinggiran sungai yang dalam ketika hari kemarau, jika tak juga mendapat ikan, kami memilih untuk mandi. Kami memilih tempat mandi di bebatuan yang dangkal, dalamnya tak lebih dari selutut dan sebisa mungkin didekatnya ada orang tua yang melihat sehingga kalau terjadi apa-apa masih ada orang yang menolong. Jika bajuku basah, aku harus berusaha mengeringkannya sebelum sampai ke rumah, kadang-kadang kami harus berputar-putar hingga Karang Sari, khusus agar baju kami kering sebelum sampai ke rumah dan tak membuat ibu curiga. Aku bukan takut ibu akan marah tapi lebih karena merasa kasihan kalau ibu kuatir.

Ketika hampir 25 tahun kemudian aku berkunjung ke Kebumen aku tak sempat main kesana, hanya ke beberapa tempat di sekitar rumah dan Jalan Kolopaking. Jadi aku masih penasaran seperti apa sekarang kondisinya. Bisa jadi sungai itu telah kering sama sekali karena bertambah lebar sehingga hanya bagian tengah sungai yang masih bisa menjadi tempat sisa air sungai dari hulu mengalir ke muara.

Mungkin aku akan mengambil beberapa foto, mungkin ratusan, untuk mengabadikan kisah masa kecilku dulu ke dalam gambar yang bisa kuceritakan kepada anak-anakku. Aku malah berniat untuk menyimpan gambar itu dirumah untuk kenang-kenangan.

The Lukula River
by hans@acehdigest

The river was wide with a large expanse of pebbles and small grooves along the winding up far unseen eyes. The walls were partly carried landslide erosion, because many people who live around the river diggers worked into the sand and grind the wall and bottom of the river, and stacking and filtering it to separate into grains of sand and gravel. I do not know why it's big and wide river named Lukula or Lukulo, I do not know what that means, it could be called by that name because there was a link to the story of the snake river, because "Ula" it means "snake".

I do not know where the end of the river, whether in Slamet mountain, the mountain which is close to my house or another mountain which was situated some distance away but still visible peak of my front page as well, I do not know exactly whether the mountain was still in the area of ​​my city, its name Sumbing, perhaps because of its uneven so named by that name. I can see both the top of the mountain on a sunny day which seemed tall and if the day was filled with clouds or fog in the morning so that we can not see it unless expanse of white on top

Me and my friends usually play there for fishing, and even then should be secretly but because her mother forbade, too remote and dangerous place for those who can not swim, because most of it in the riverside. Not to mention that sudden flash flood came, and we are in the middle of the river's dreadful. On the outskirts of the river there are many "gethek", a term for a traditional raft for crossing and conveyance of sand excavation. Raft made of bamboo about 10 feet in length, consisting of several round bamboo slats held together with rope which is also made of bamboo and coconut coir rope. Everything is made of bamboo along the river because it was filled with towering bamboo plants and partly dangling river. Thus making the atmosphere cool and cool, but also scary thought, because snakes like living in a bamboo bush.

The river also has a story, whether true or not, said the people who live around the river was there a giant snake pit, they said the snake was still frequent. Place in a large hole on the left of the river from the highway. The hole was filled with weeds that extends. Could be a big story, because it could have an old python snakes live there and never seen. At low tide it was a little scary, but when the water began to inundate the hole was more terrifying because it could snake out of the hole and arrested anyone who was near the hole.

Problem river, as I recall I might just get there a few times because it's far from home, if there are friends who have invited the bike I usually go, but if have to walk I could not. And oddly enough that usually there is a naughty child, if I go not because of it, but because every time there's the curiosity of friends who told me about the great river. I remember having come there when the river was high tide, the water was swift and remarkable view of the edge that I almost faint. I had to hold strong to the bamboo tree which grows thick on the edge of the river, because the rim of a steep and slippery cliff.

People said, the river was also connected with Lukulo great rivers Solo, where the origin of the legend Jake Tingkir, a warrior who can conquer the herd of giant crocodile river guardian. The story was so well known, even the picture is inserted into the pennant, a type of card is child's play with another luminary Of The Blind Cave's famous ghost. If the old people know because there is the famous song sung by Solo Gesang.

Usually every time we go to the river we had to make an appointment and preparation, cycling friends would wait for us in addition to the terminal, then we followed. Because if the mother will definitely look to ban it. I usually go there alone without my brother because I'm afraid I can not keep them, let alone the snake story. Initially we were fishing in a river sidelines when the dry days, if not also get fish, we chose to take a bath. We chose a bath in the shallow rocks, it is nothing more than knee-length and as much as possible close by some parents who see that if anything happens there are still those who helped. If my shirt is wet, I should try to dry it before it gets to the house, sometimes we have to spin in circles until Coral Sari, specifically so that our clothes dry before it gets to the house and did not make the mother suspicious. I'm not afraid of the mother would be angry but more because they feel sorry for that mother to worry.

When nearly 25 years later I visited Kebumen I do not have time to play there, just a few places around the house and Kolopaking Road. So I'm still curious as to what is now his condition. It may be that the river had dried up completely due to increased width so that only the middle of the river can still be a place of rest from the upstream river water flowing into the estuary.

Maybe I'll take some photographs, perhaps hundreds, to perpetuate the story of my childhood into a drawing for me to tell to my children. Instead I intend to keep that picture for a souvenir home.
 

Rabu, 21 Desember 2011

Sawah Wetan; Northern Fields

Sawah Wetan, begitu kami menyebutnya. Aku biasanya kesana melalui beberapa jalan, dari belakang rumah melalui jalan setapak, atau melalui pinggir bangunan besar seperti mall bentuknya disamping bengkel sepeda, tapi harus melewati pematang sawah dan lebih jauh. Atau dengan memotong jalan melalui lorong penjual gudeg dan lompat dari tembok rumah Haji Rohmat, agak berbahaya karena butuh kemahiran khusus karena dibelakang terdapat sumur umum yang dalam dan ada belut raksasanya (nanti akan aku tulis juga kisahnya, memburu belut lochness!), dan kami sudah terbiasa. Dan jalur terakhir melewati jalan besar, dari rumah pojok kami kearah utara.

Disana banyak pilihan tempat bermain,  sekedar mencari ikan dengan menyusuri sepanjang kalen atau parit, tak lupa harus bawa "seser", semacam alat penangkap ikan berbentuk segitiga menyerupai bentuk ikan, terbuat dari bambu dengan jala umumnya berwarna biru, mungkin maksudnya untuk bisa mengelabui ikan karena warnanya hampir sama dengan warna air?. tapi entahlah benar atau tidak. Atau alternatif lain main ke tempat penjual es dung-dung dan berharap masih ada es sisa dan kita bisa memintanya dengan leluasa, bahkan seringkali di tawarinya. Atau sekedar membeli jajanan sejenis makanan seperti dodol yang rasanya enak,berwarna coklat dan setahuku hanya dijual di warung kecil disana, di deretan warung nasi sebelah kiri jalan.

Jika kebetulan sedang musim panen padi kita bisa, berlarian disawah, bergelut dan meniup "damen", batang padi berwarna kuning gading, yang kita potong di ruasnya, kemudian tengahnya kita memarkan dan sedikit dikembungkan, sehingga bisa mengeluarkan bunyi manis, untuk sekedar bernyanyi ala kadar, bergembira dan  mengusir penat setelah lelah bermain. Atau bisa membuat rumah-rumahan dari sisa batang padi kering, menjadi gubug, untuk bermain seharian atau hingga beberapa hari sebelum dirobohkan oleh pemilik sawah karena tanah akan diolah lagi, daerah utara memang daerah pertanian yang luas membentang.

Dan jika kita bosan dengan semuanya, kami akan berlarian ke tempat di utara yang paling jauh hingga ke dalam pabrik penggilingan padi Wanayasa milik pak Badri, tidak lebih dari itu, karena menurut kami yang anak-anak dibelakang pabrik padi banyak jinnya bisa kemasukan nantinya. Walaupun semua cuma mitos dan tahyul. tapi kami anak-anak percaya dan sangat mematuhinya. Kami biasanya main di dalam areal tempat penjemuran padi, saat padi kosong, penjaga pabrik tak menghiraukan kami dan membiarkan kami bermain hingga puas hati, bermain balap mobil dari papan dengan roda lahar (nanti aku ceritakan juga kisah ini). 

Dan bila bosan kami main di dinding belakang, menunggu kumpulan burung gereja berebut makanan dan seringkali jika tak hati-hati burung-burung itu membentur dinding yang menjulang tinggi dan terjatuh. Lalu kami berebutan menangkapnya, karena untuk beberapa saat burung-burung malang itu pitam dan pingsan. Kami bisa menangkapnya hingga beberapa ekor setiap orang karena banyak sekali jumlah kawanan burung yang mencari peruntungan makanan di pabrik padi. Kami biasanya melakukan ritual meniup bagian belakang, maaf anus burung untuk membuatnya tersadar dan kemudian kami melepaskannya lagi dengan riang gembira. Kami pantang membawa pulang burung dan mengurungnya dalam sangkar, kecuali burunya itu sakit, karena kami terbiasa berbelas kasihan dengan burung yang baru terjatuh dari atas tembok tinggi, dengan badan lunglai dan wajah memelas. Kebiasaan itu terbawa hingga aku besar, aku tak menyukai memelihara burung dalam sangkar betapapun cantiknya burung itu. Kecuali memelihara ikan di dalam akuarium, menurut kami tak apa-apa.

Dan petualangan permainan kami terakhir adalah bermain petak umpet, namun yang kami takutkan adalah pabrik padi juga terkenal angker, beberapa kisah yang tak jelas asal-usulnya menceritakan, ada beberapa korban anak-anak yang terjerumus ke dalam tumpukan merang padi yang tengah di bakar, sehingga tak tertolong karena pada saat pembakaran, bagian atas tumpukan merang terlihat kuning, padahal didalamnya telah hangus menjadi abu, sehingga bagi yang tak hati-hati dan bergerak terlalu gesit bisa terjerebab dan terjerumus ke dalam bara sekam tadi. Kami biasanya kesana jika memang ada perintah dari ibu untuk membawa pula abu gosok yang kami gunakan untuk membantu membersihkan piring yang kotor, sebelum dibilas dengan  air bersih.

Begitulah anak-anak, selalu bisa saja memanfaatkan apa saja untuk membuatnya senang dan gembira, satu hal yang kami sukai dari sawah wetan adalah deretan pohon cemara yang bersuara khas jika tertiup angin kencang. Selainnya itu ada deretan pohon trembesi dan mahoni menjajari jalan, membuat jalanan utara itu teduh dan sejuk meski panjangnya hampir 1 kilometer, tapi kesemuanya dirimbuni dengan pepohonan terutama trembesi dan mahoni tadi yang juga menjadi rumah bagi burung-burung pemakan padi.

Udaranya yang sejuk dan luasnya hamparan sawah hingga berkilo-kilo ke arah gunung adalah pemandangan yang luar bisa indah dan dikejauhan, kata tanteku ada pemandian umum, kolam renang, gedungnya tinggi menjulang dan dari kejauhan terlihat berbentuk persegi panjang berwarna putih. Dan seingatku aku tak pernah bisa sampai kesana, meski pernah aku coba bersepeda, terasa sekali jauhnya. Jadi kami anak-anak cuma bisa memandangnya dari jauh dan mengira-ngira bagaimana sebenarnya tempat itu, bentuk dan kolamnya, barangkali seru juga bisa main dan mandi kesana. Tapi hingga aku pindah di tahun 1979, aku belum sekalipun menginjakkan kaki kesana. Tapi sudahlah itukan cuma kolam renang, mungkin suatu ketika aku bisa kesana lagi dan memastikan benar tidaknya tempat itu.

Northern Fields
by hans@acehdigest

Wetan rice fields, so we called it. I usually get there via several paths, from the back of the house through the path, or through the edge of a large building like malls shape beside a bicycle repair shop, but must pass through rice fields and beyond. Or by cutting their way through the hallway and jump gudeg seller of the house walls Rohmat Haji, a bit dangerous because it takes special skills because there are well behind in general and there is a giant eel (I would later write his story as well, chasing eels lochness!), And we've accustomed to. And the last lane road past the large, corner of our house towards the north.

There are many options to play, just looking for fish with Kalen or along the trenches, do not forget to have to take "seser", a kind of fishing gear shape resembles a triangle-shaped fish, with nets made of bamboo are generally blue, presumably to be able to fool the fish because color is almost the same as the color of water?. but I do not know true or not. Or another alternative to the main ice-dung-dung and ice remaining hope is still there and we can ask freely, often at her the. Or just buy snacks kind of food that tastes good like a lunkhead, brown and I understand only sold in small shops there, in the row of stalls rice left side of the road.


If it happened to the rice harvest season we can, running in the field, wrestling and blow "Damen", ivory yellow rice stem, which we cut in sections, then we crushed the middle and slightly inflated, so sweet a noise, to simply singing style levels, have fun and drive tired tired after playing. Or it could make a house of rest of dry rice stalks, a hut, to play all day or until a few days before it was demolished by the owner of the field because the soil will be processed again, the north's vast stretches of agricultural areas.


And if we get bored with everything, we will be running to the north of the most far up into the rice mill Wanayasa mister Badri Belongs, no more than that, because we think that the kids behind many djinn rice plant can take in the future. Despite all the myth and superstition. but we children believe and are obeyed. We usually play in the area where drying paddy, rice when empty, factory guards ignoring us and let us play until satisfied hearts, play car racing from a board with wheels lava (I'll also tell this story).


And when we get bored playing in the back wall, waiting for a collection of sparrows fighting over food and often if not careful the birds hit the towering wall and fell. Then we scramble to catch, because for some time that poor birds apoplexy and passed out. We could catch up to some tail every person because a lot of birds that seek his fortune in the food in the rice plant. We usually perform the ritual blowing the back, sorry bird anus to make it wake up and then we release it again with exuberant joy. We never bring home the bird and locked him in a cage, unless the bird was sick, because we used to take pity with a new bird fell off the high wall, with a body limp and pitiful face. The habit is carried over until I'm older, I can not keep you like a bird in a cage no matter how beautiful bird. Except to keep the fish in the aquarium, we think it's okay.


And our last adventure game is to play hide and seek, but we feared is also famous haunted mill rice, some tale of obscure origin told, there are several child victims who fell into the pile of rice straw was burned, so that can not be saved because at the time of combustion, the top of the pile of straw appears yellow, but in it was burnt to ashes, so for those who do not carefully and move too quick to fall and fall into the coals earlier chaff. We usually go there if there is a command from the mother to carry the ashes also rub that we use to help clean up the dirty dishes, before rinsing with clean water.
Kids, can always just use anything to make her happy and excited, one thing we like is a row of fields wetan pine distinctive voice if blown by strong winds. Otherwise there is a row of tamarind and mahogany trees fell into streets, making streets north of it shady and cool even though nearly a kilometer in length, but all overgrown with tamarind and mahogany trees, especially had also become home to birds eating rice.


The cool air and the extent of rice fields up to many miles in the direction of the mountain is extraordinary beautiful scenery and distant, my aunt said there are public baths, swimming pools, towering buildings and from a distance looks white rectangular. And as I remember I never could get there, though I've tried cycling, feels very distant. So our children can only see it from afar and wonder how exactly the place, form and the pool, perhaps also fun to play and bathe there. But until I moved in 1979, I have not even set foot there. But anyway it's just a swimming pool, maybe someday I can go there again and make sure whether or not the place.

Selasa, 20 Desember 2011

Jenang Candil ; porridge candil and marow

Meskipun namanya aneh,  yang ini juga salah satu makanan favoritku. Makanan tradisional memang kadang-kadang memiliki nama yang aneh dan lucu. Nama makanan yang satu ini disamakan dengan tempat memasaknya. Karena di masak dalam kuali tanah atau candil dan setelahnya pun diletakkan dalam candil, maka dinamakannya bubur atau jenang itu Jenang Candil.

Penjualnya seorang wanita tua yang ramah, bertubuh agak gemuk tapi masih kuat, aku sudah lupa namanya, beliau orang Karang sari dan kalau tak salah beliau istri dari salah seorang pekerja di tempat kakek juga. Beliau membawa dagangannya dengan kain selendang batik, dan tempat jajananya terbuat dari bambu bulat, berlapis tiga seperti laci berdiameter ukuran kurang lebih lima puluh sentimeter. Kelak jika aku berkesempatan untuk kembali, aku akan menyimpan maksudku membeli benda seperti itu, untuk sekedar kenang-kenangan. Kata nenek mereka sudah menjadi langganan  keluarga kami sejak lama, bahkan sejak kami belum lahir. Barang dagangan yang dijajakannya bermacam,-macam ,selain jenang candil juga ada bubur sumsum, berwarna putih dengan taburan gula cair encer di atasnya. Jenang candil sendiri, berwarna agak kemerahan karena dicampur dengan gula merah, dan berisi bulatan-bulatan seperti bakso, terbuat dari campuran tepung beras dan tepung ketan yang direbus, lalu dimasukkan dalam cairan Jenang tadi.

Yang unik adalah tempat sajiannya, karena tidak menggunakan  piring atau mangkuk, melainkan menggunakan daun pisang yang dibentuk sedemikian rupa sehingga berbentuk seperti mangkuk kecil berbentuk kotak. Setiap kali nenek penjual itu datang aku selalu dibelikan baik oleh ibu maupun nenek, karena aku paling suka dengan kedua jenis bubur tadi.

Sebenarnya ada beberapa jenis makanan lain yang dijual, tapi yang masih kuingat adalah bentuknya bukan namanya, salah satunya makanan kecil berbentuk segitiga dibuat dari ketan dengan balutan seukuran daun bambu. Setiap kali kita membelinya penjualnya akan membuka lilitan tadi satu persatu, bentuknya kurang lebih sebesar ibu jari tak begitu besar jadi harus rajin dan sabar membukanya. Jumlahnya tergantung maunya kita, setelahnya barulah ditaburi dengan bubuk gula aren, bukan dengan taburan gula cair. Namun ada juga yang menyukai campuran dengan gula cair.Meskipun aslinya makanan tersebut dengan gula panir/bubuk gula merah tadi. Rasanya khas, legit dan enak.

Ada juga "oyek", makanan dari ubi yang diolah menjadi butir-butir tak beraturan, berwarna coklat, bercampur hitam dan putih dan dimakan dengan campuran ampas kelapa yang dicapur sedikit garam dan gula pasir putih. Satunya lagi yang juga tak kalah aneh tapi juga menarik, adalah "Canil", makanan bernama aneh ini berbentuk, maaf, seperti lintah berwarna-warni. Dibuat dari tepung ketan yang dipilin dan dikukus, dan diberi warna-warna dengan daun pandan dan pewarna makanan sederhana (aku ingat biasanya dikemas dalam kertas seperti amplop kecil berwarna agak transparan sehingga kita bisa melihat warnanya dari luar, dengan ukuran sachet kecil kurang lebih lima sentimeter). Aku sedikit tahu karena ibuku pernah membuat cendol untuk es campur berwarna hijau dengan pewarna itu, kata ibu tak berbahaya. Tapi entahlah, tapi seingatku di tahun-tahun itu tak banyak hal-hal aneh tentang makanan, apalagi makanan berpengawet.

Hal lain yang juga aku ingat tentang jajanan itu, aku merasa ketika jajanan itu kami makan, tak hanya sekedar jajan, tapi kami merasa diperhatikan terutama oleh ibu dan nenek. Pokoknya asal penjaja itu datang, kami pasti langsung memesannya tak peduli ada uang atau tidak. Paman pernah bercanda, enak saja panggil-panggil penjual, memangnya ada duit?. Kami hanya tertawa dan tak peduli, tinggalah nenek penjual yang kebingungan, ini jadi beli apa tidak, jangan-jangan tak serius. Tapi nenek selalu membelanya, jadi aku dan adik-adikku pasti jadi menyantapnya. Kenangan itu pula yang seringkali membuat kami kangen dan terkenang dengan nenek, karena sejak kepindahanku hingga nenek tiada, aku tak pernah menemuninya lagi. Itu di tahun 1978 kalau tak salah.

Aku juga teringat (bila aku mengingat itu aku merasa bersalah, karena bisa jadi itu membuat ibu malu) ibu kadang-kadang berkecil hati dan merasa tidak enak, karena hampir setiap kali nenek selalu membelikannya untuk kami, sedangkan ibu kadang-kadang juga tak tahu dengan ulah kami yang sedikit nakal. Jika melihatnya juga ibu tak berkomentar apa-apa selain diam, dengan wajah sedikit muram. Mungkin karena tak enak dan kasihan kepada anak-anaknya, meski kami nakal sekalipun.


Porridge Candil and Marow
by hans@acehdigest

Despite the strange name, which is also one of my favorite foods. Traditional food does sometimes have a strange and funny names. Name one food that is equated with place to cook. Because the cook in the cauldron of land or Candil and thereafter was placed in Candil, then he called gruel or porridge was Jenang Candil.

The seller was a friendly old woman, was rather plump but still strong, I've forgotten her name, she is the Karang Sari and  if not mistaken hers wife of one of the workers at the grandparents as well. She brought hers wares with batik cloth shawl, and a snack made of bamboo round, three-layered like a drawer in diameter size of approximately fifty centimeters. Later, if I had a chance to come back, I'll keep buying things like that mean, to just a memento. Grandmother said they already subscribed to our family for a long time, even since we were not yet born.  Sell merchandise in addition to a variety of porridge marow  also there, white with a sprinkling of sugar on top of it diluted liquid. Candil own porridge, slightly reddish in color because it blended with brown sugar, and contains the dots like meatballs, made from a mixture of rice flour and glutinous rice flour is boiled, then put in a liquid Jenang earlier.

What is unique is the place of grain, because it does not use a plate or bowl, but instead use banana leaves are formed in such a way that is shaped like a small bowl-shaped box. Each time the seller's grandmother came I always bought either by the mother and grandmother, because I most liked by both types of porridge earlier.

Actually there are several other types of food are sold, but who still remember the shape rather than by name, one triangle-shaped snack made of glutinous rice wrapped with bamboo leaf size. Every time we buy the seller will remove the coil had one by one, more or less the shape of your thumb was not great so it should be diligent and patient open. The amount depends wants us, after that then sprinkled with powdered sugar palm, with a sprinkling of sugar instead of liquid. But there is also a love mixed with liquid sugar. Although the original food with sugar panir / powdered sugar earlier. It was typical, sticky and delicious.

There are also "oyek", the food of sweet cassava processed into grains of irregular, brown, black and white mixed and eaten with a mixture of coconut pulp is mixed with a little salt and sugar white sand. The other that is equally bizarre but also interesting, is "Canil", this oddly named food-shaped, sorry, like leeches colorful. Made from sticky rice flour and steamed twisted, and given the colors with pandan leaves and simple food coloring (I remember usually packaged in small paper envelopes colored somewhat transparent so that we can see the color from the outside, with a small sachet size of about five centimeters ). I know a little because my mom never made cendol for ice mixed with green dye, the mother said was harmless. But I do not know, but I remember in those years was not a lot of strange things about the food, especially food berpengawet.

Another thing I remember about the snacks, the snacks that I feel when we eat, not just a snack, but we feel cared for primarily by his mother and grandmother. Anyway, it comes from vendors, we would immediately order it no matter there is money or not. Uncle used to joke, good call just dial-seller, Do they have money?. We just laughed and did not care, stay distraught grandmother sellers, so buy what is not, lest not serious. But grandma always defend us, so I and my brothers would be eating it. The memory also often makes us miss and fond memories with my grandmother, because since my move to grandma's gone, I never see him again. That was in 1978 I think.

I also remember (if I remember that I felt guilty, because it could be make mothers ashamed) mothers sometimes get discouraged and feel bad, because almost every time grandma always bought him for us, while the mother is sometimes also do not know with caused us a bit naughty. If the mother also saw no comment nothing but silence, with faces a little grim. Perhaps because of bad and sorry for his children, even though we were naughty.

Rumah karang Sari; karang sari house

Sebenarnya aku tak tahu dengan pasti bagaimana kepemillikan rumah itu. Apakah benar memang rumah kakek atau bekas rumah kakek, karena tempatnya sangat terbengkalai dan rumputnya tinggi memanjang. Bagian-bagian bangunannya masih jelas, hanya saja dinding-dindingnya sebagian sudah roboh.  Aku lebih senang menyebutnya dengan tanah bukan rumah, karena bangunannya sendiri sudah tinggal reruntuhan bangunan. Lokasinya persis di samping masjid Karang Sari, dan dibelakang tanah itu juga terdapat rumah pekerja kakek.

Jika melihat bekas bangunannya, rumah itu lumayan luas, aku sebenarnya penasaran dengan kisah rumah itu, karena beberapa kali ibu bercerita tentang masa kecilnya di daerah itu, atau barangkali di rumah itulah ibuku pernah tinggal. Pernah ibuku menceritakan satu kisah yang katanya bertempat di dekat rumah itu. Kisahnya lucu, Ibu menceritakannya dengan riang, sehingga kami tertawa keras tak berkesudahan. Ibu membeberkan kisahnya dikejar kawanan lebah, ketika melempari pohon mangga di sebelah kanan rumah itu, sehingga harus masuk ke sumur.

Kembali ke soal rumah tadi, persisnya rumah itu berada di  desa karang sari, berbelok ke arah kanan, kemudian berbelok lagi ke kiri, kurang lebih 50 meter, kita akan menemukan disebelah kanannya tanah luas kurang lebih 2000 meter persegi, dengan jalan setapak disebelah kanannya menuju ke arah masjid.
Tak jauh dari situ, ada rumah sahabat ibu, orangnya cantik dan baik. Dulu aku seringkali diajak ibuku berkunjung kerumahnya. Rumahnya berberanda besar terbuka khas rumah besar warisan Belanda. dengan deretan bunga-bunga sejenis "keladi atau lumbu", disepanjang berandanya. Kami biasanya duduk bertiga, berbasa-basi, lalu bercerita tentang apa saja, berjam-jam lamanya. Aku biasanya bersandar di punggung ibuku, sehingga aku bisa mendengar dengung suaranya, bahkan ketika menangis dan bersedu sedan. Begitulah setidaknya yang bisa kuingat dari rumah karang sari. Kisah ini adalah salah satu kisah yang paling aku ingat dalam hidupku.(aku berkeinginan menuliskannya sendiri kisah ini dalam waktu lain).

Ada sebuah rahasia yang dulu tak pernah aku sampaikan ke ibu, kenapa aku begitu bersemangat untuk berkunjung ke rumah karang sari. Sebenarnya ada seorang gadis kecil yang begitu baik dan ramah, salah seorang temanku di desa itu, biasanya kami bertemu di masjid, tapi jika aku  dan ibuku kebetulan main kesana, kami pasti akan melewati rumahnya, dia selalu berada di depan rumahnya, mungkin ini cuma kebetulan saja. Dan bila berpapasan kami akan saling tertawa, kami bersahabat baik.


Karang Sari House
by hans@acehdigest

Actually I do not know exactly how the house property. Does it really was an old home or former home of my grandfather, because the place is very derelict and long high grass.  Parts of the building is still unclear, except that the walls were already partially collapsed. I prefer to call it with soil not a house, because the building itself was in ruins of buildings. Location right next to the mosque Karang Sari, the land behind the house there is also a grandfather of workers.

If you see the former building, the house was fairly broad, I'm actually intrigued by the story of the house, because some times mom told me about the mother's childhood in the area, or perhaps at home that my mother had lived. My mother once told a story that said the mother took place near the house. Her story is funny, she told it with cheerful, so we laughed loudly endless. Mother revealed the bees chased her story, when throwing a mango tree on the right side of the house, so it must go into the well.

Returning to the house earlier, exactly the house was located in the village of karang sari, turn to the right, then turned again to the left, about 50 meters, we will find the ground right next to an area of ​​approximately 2000 square meters, with a footpath on his right to toward the mosque.

Not far away, there is a friend's mother's house, beautiful and good person. I was often invited her to visit his house. His house with a large open veranda typical Dutch heritage mansion. with rows of flowers, a kind of "palladium, taro or lumbu", along the porch. We usually sit three, small talk, then talk about anything, for hours. I usually rely on my mother's back, so I could hear the hum of his voice, even when crying and sobbing. That's at least as I can remember from the house reef juice. This story is one story I remember most of my life.
(I wanted to write his own story in another time).

There is a secret that I never used to convey to the mother, why I was so excited to visit the house karang sari. There are actually a little girl who was so kind and friendly, one of my friends in the village, we usually meet at the mosque, but if my mom and I happened to play there, we will definitely pass her house, she was always in front of his house, maybe it's just a coincidence only. And when we bumped into each other laugh, we were good friends.

Jumat, 16 Desember 2011

Harmonika kecilku ; My Little Hamonica

Kisah ini selalu membuatku terharu setiap kali aku berusaha mengingat, atau tanpa sengaja teringatkan karena aku membelikan sebuah harmonika untuk anakku. Bagiku saat itu, membeli harmonika adalah sesuatu yang luar biasa. Tapi begitulah anak-anak, meski telah diingatkan untuk membeli hanya yang perlu saja, aku tetap saja membelinya. Aku tak tahan dengan suara rengekan harmonika yang mendayu dan sepertinya mudah sekali memainkannya.

Seorang temanku membelinya, dan setiap kali aku berusaha meminjamnya selalu ada saja alasan untuk menolaknya. Dan rasa penasaran itu menjadi makin besar dan tak tertahankan. Lalu mulailah aku mengumpulkan uang, aku mencoba banyak hal. salah satunya mencari potongan kawat tembaga di depan bengkel, dengan mengorek tanah  karena biasanya potongan itu tersembunyi di dalamnya. Meskipun kadang-kadang dihardik pemilik bengkel kalau galian kami terlalu dalam atau membuat halaman bengkel jadi berantakan. Lalu kumpulan remah kawat aku jual, hasilnya aku tambahkan dengan sebagian uang jajan yang kusisihkan.

Akhirnya setelah uangku cukup, aku membelinya sendiri harmonika itu di toko buku di dekat jalan Kolopaking. Harmonika berwarna biru, dengan gambar boneka atau bunga di permukannya agak lupa aku dengan gambar itu, ukurannya tak begitu besar, kurang lebih 10 sentimeter, dengan bungkus kotak karton yang bisa dibuka tutup bergambar tulisan Cina dengan les biru diluarnya. Luar biasa, aku akhirnya bisa membelinya, aku terus membunyikannya sepanjang jalan begitu aku selesai membayarnya. Terus begitu, ketika mendekati rumah barulah terpikirkan olehku bagaimana reaksi ibu kalau melihat aku membeli harmonika dan bukannya buku Himpunan Pengetahuan Umum yang selalu diceritakannya.Ibu tak pernah memaksaku, hanya saja aku sebenarnya merasa kasihan dengan kondisi keuangannya. Jadi aku berusaha untuk bisa menjaga hatinya. Aku tak bisa menyalahkan siapapun, karena memang begitulah kondisi keluargaku saat itu.

Akhirnya kuputuskan aku menyembunyikannya dengan menyelipkan di pinggangku, bukan dikantong celana karena aku kuatir akan terlihat bentuknya dan akan mencurigakan ibu. Lalu aku naik ke atas loteng kakek dan kusembunyikan di atas balok semen tepat di atas kamar tidurku. Kebetulan kamar tidurku, lebih tepatnya kamar tidur aku, adikku dan ibuku tepat di samping loteng kakek. Jadi aku masih bisa melihat harmonika itu, meskipun aku sambil tiduran. Sebelum tidur aku melihat kepersembunyian harmonikaku, dan berjanji besok akan memainkannya lagi dengan tak sabar, tentu sambil sembunyi, karena adik-adikku sendiri tak tahu  juga tentang harmonika itu.

Meskipun pada akhirnya ketahuan juga, karena suara lembut dan khas harmonika memang tak bisa disembunyikan. Adikku ribut dan akhirnya kami bergantian memainkannya. Dan ternyata ibuku tak marah sedikitpun kecuali hanya menanyakan kapan dan darimana uangnya. Mungkin ibu merasa sedih dan berkecil hati karena kami berusaha menyenangkan diri kami sendiri dengan membeli apa saja yang kami mau tanpa harus merepotkan ibu. Aku lega, sekaligus juga gembira, karena aku dan adik-adikku akhirnya bisa juga memainkan harmonika, tanpa harus meminjam dari temanku yang pelit itu!.

My Little Harmonica
by hans@acehdigest

This story always makes me thrilled every time I try to remember, or recall because I accidentally bought a harmonica for my son. To me then, buy harmonica is something extraordinary. But that's the children, despite having to be reminded to buy only what's necessary, I still bought it. I can not stand the whining sound of mournful harmonica and it seems easy to play.

A friend of mine bought it, and every time I try to borrow it there's always a reason to reject it. And it's curiosity becomes increasingly large and intolerable. Then I began to collect the money, I tried many things. one of them looking for pieces of copper wire in front of the garage, with a scrape piece of land because it's usually hidden in it. Although sometimes rebuked the owner if we dug too deep or make the page messy garage. Then a collection of crumbs wire I sell, I add the result to set aside some money for snacks.

Finally after enough money, I buy it myself harmonica was in a bookstore near the road Kolopaking. Blue harmonica, with a picture of a doll or a flower on the surface rather forget me with picture, size is not very large, about 10 centimeters, with a pack of cardboard boxes that can open the lid with the picture of the Chinese writing lessons  with blue line. Fabulous I was finally able to buy it I kept tolling all the way as soon as I finish paying for it. Continue to do so, when approaching the house then occurred to me how the mother's reaction when they see I bought the book instead of the harmonica than the Association of Public Knowledge are always told by the mother. Mother never forced me, it's just that I actually felt sorry for the financial condition of my mother. So I tried to keep his heart. I can not blame anyone, because that was the condition of my family at that time.

Finally I decided I hide it by slipping on my waist, not in the pockets of pants because I worry about its shape and will look suspicious mother. Then I went upstairs and hid grandfather's attic on a cement block just above my bedroom. Incidentally my bedroom, bedroom I be more precise, my brothers and my mom right next to the grandfather's attic. So I can still see the harmonica, though I was while sleeping. Before bed I looked over to where I hid the harmonica, and promised to play it again tomorrow with impatience, of her hide, because my brothers did not know well about the harmonica.

Although in the end caught, too, because the typical harmonica soft voice and can not be hidden. My brother turns noisy and we finally played it. And my mother was not angry at all but just ask when and where his money. Perhaps mom feel sad and discouraged because we try to please ourselves by buying whatever we want without having to bother the mother. I was relieved, at the same time happy, because I and my brothers could eventually also plays harmonica, without having to borrow from my friend who's stingy!.

Golek ; Nugget Cassava

Aneh sekali kedengarannya, tapi tidak buatku dulu. Karena makanan ringan jenis ini memang khas dan tradisional sekali. Berbahan baku ubi kayu dengan sedikit tambahan tepung dan bumbu. Berbentuk angka delapan dan besarnya tak lebih besar dari jari kelingking, berwarna kuning matang, dan diuntai dengan menggunakan tali dari bilah bambu. Cara menggorengnya juga unik, karena langsung dengan memasukkan golek yang diuntai tadi dengan bambunya sekalian. Golek rasanya hanya renyah dan gurih tak pernah disajikan dengan tambahan sambal atau saus dan harus dimakan begitu selesai digoreng sehingga akan terasa gurihnya. Jika kita membelinya dan kemudian membawanya pulang, begitu kena angin, golek akan dingin dan rasanya jadi kenyal. Begitulah makanan yang satu ini. Saat ini mungkin masih ada, atau justru hilang tergusur dengan jenis makanan yang lain yang makin beragam.

Snack itu menjadi makanan favoritku juga, selain kerupuk kuning yang dijual dipinggir koplak dokar. Aku bisa menghabiskan beberapa untai, ibuku paling hanya tersenyum senang melihatku rakus memakannya. Begitupun dengan kakek atau tante Muhibbah, adik ibuku setiap kali mengajakku jalan pasti membelikannya untukku, harganyapun tidak terlalu mahal untuk makanan tradisional sederhana tapi lezat itu.

Biasanya ibuku  jika berkesempatan jalan-jalan meski hanya sekedar cuci mata atau mencari angin segar, sambil bercerita tentang banyak hal, terutama tentang rumah, aku ,adikku dan kisah ibuku sendiri, pasti disempatkannya membelinya beberapa untai. Dalam ingatanku, jarang ketika jalan-jalan kami mengajak adikku, biasanya paling juga aku dan ibuku, aku tak tahu dimana adik-adikku ketika itu, paling juga dirumah nenek. Karena ketika itu kami tinggal di rumah pojok jalan di utara.

Kenangan paling manis dengan makanan ini sebenarnya bukan hanya pada snacknya, tapi karena setiap kali membelinya aku berkesempatan jalan dengan ibuku, aku biasanya cerewet bercerita tentang apa saja, sekolah, teman, rumah dan keinginan-keinginanku seperti untuk punya tivi sendiri, setiap kali melewati deretan toko elektronik, atau buku tertentu ketika melewati toko buku. Begitupun ibuku juga, kami bercanda dengan wajah berbinar karena bisa lepas dari rutinitas rumah yang kadang-kadang membosankan.

Golek; Nugget Cassava
By hans@acehdigest

How strange it sounds, but not for me first. Because this type of snack food is typical and very traditional. Made from raw cassava with a little extra flour and seasonings. Figure of eight and magnitude no larger than your little finger, ripe yellow, and using a rope strung from bamboo.How to fry also unique, because it directly by entering a nugget that had been strung with bamboo as well. Find a crunchy and savory taste just was never served with extra sauce or gravy, and should be eaten immediately after being fried so it will taste delicious. If we buy it and then take it home, so got wind, the nugget will be cold and it feels so supple. That food on this one. While this may still exist, or even lost displaced by other types of food that an increasingly diverse. 

It became my favorite snack foods as well, in addition to being sold alongside a yellow crackers koplak gig. I could spend a few strands, my mom just smiled most pleased to see me eat it greedily. Likewise with the grandfather or aunt Muhibah, whenever my mother's sister took the road definitely bought it for me, price is not too expensive for traditional food was simple but delicious.

Usually my mother if the opportunity to walk even just wash the eyes or looking for a fresh breeze, as he talked about many things, especially about the house, me, my brother and my mother's own story, surely the mother had bought a few strands. In my memory, rarely when the roads we took my brother, usually the most well me and my mother, I do not know where my brother at the time, most also home grandmother. Because when we lived in a house in the northern corner

The sweetest memories with this food is actually not only on snack, but because every time I had a chance to buy the road with my mother, I usually chatty talk about anything, school, friends, home and desire-my desire to have a television as his own, every time he passed a row of electronics store, or a particular book as it passes through the bookstore. So is my mother too, we joked with his face lit up because it can escape the routine of the house which is sometimes tedious.


Klik untuk terjemahan alternatif
Seret dengan menahan tombol shift untuk menyusun ulang.