Kunjunganku kali inipun sebenarnya juga tak berencana, hanya saja aku mendapat titipan pesan dari ibu mertuaku untuk mengantar surat penting, maka jadilah aku memulai sebuah perjalanan panjang. Dimulai dari pesawat, taksi, kereta api, hingga becak yang di dorong pengemudinya dari belakang bukan dari depan seperti di tempatku di Aceh.
Setelah mengikuti kunjungan kegiatan, lepas dari acara aku langsung menuju stasiun kereta api gambir, memesan tiket, setelah sebelumnya dipusingkan dengan kesana-kemari mencari stasiun, karena takut dibohongi para tukang becak aku memilih angkot, sialnya aku justru tertipu oleh perasaan takutku sendiri. Aku sengaja memilih kereta api bisnis, sialnya lagi,aku kehabisan tiket dan harus rela antri di kelas ekonomi. bayangan buruk kelas itu memang tergambar betul, bukan cuma soal ketidaknyamanan, tapi lebih soal keamanan. kalau semrawut, barangkali cuma sekedar bumbu dari begitu banyak dan panjangnya persoalan di kelas ekonomi.