Label

10 tahun tsunami. (1) 2013 (1) acehku (1) Adikku. (1) Aku (4) Among-among (1) Anak-anak (1) Anak-Anak Dikutuk (1) Angka ajaib (1) aqiqahku (1) Ayahku (1) babak baru (1) bakso (1) Barzanji (1) batu cincin (1) belimbing (1) Belut Loch Ness (1) Belut Sawah; Mancing Belut (1) Bibiku (2) bioskop misbar (1) birtdhday party (1) bisnis keluarga (1) busur dan panah (1) capung (1) Celengan bambu (1) China's Neighbords (1) Cibugel 1979 (1) Cibugel Sumedang (2) cinta bunda (1) cracker (1) Curek; Inflammation (1) Dapur nenek (1) dejavu (1) Dian Kurung (1) distant relatives (1) Dremolem Or Dream Of Land (1) es dogger (1) es goyang (1) es serut (1) Fried Sticky Rice (1) Gadis Kecil (1) gambar desain (1) gambarku (1) Gandrung Mangu (2) golek;nugget cassava (1) harmonika kecilku (1) Ibuku (11) Ibuku Atau Kakakku? (1) Ikan (2) ikan dan ular (1) iseng (1) jalan kolopaking (2) Jalan Kusuma (2) jangkrik Jaribang Jaliteng (1) Jenang Candil (1) jogging (1) Juadah (1) Juz Amma (1) kakek dan nenek (3) kakekku (3) kecelakaan fatal (2) kelahiranku (1) Kelas Terakhir; the last class (1) kenangan (1) Kerupuk Legendar (1) kilang padi (1) Klapertart Cake (1) kolam ikan masjid (1) koleksi stiker (1) koleksi unik (1) koplak dokar dan colt (1) kota kecil dan rumahku (1) Kue tape (1) Kutawinangun (1) Lanting (1) little cards (1) Loteng rumah (1) lotere (1) lottery (1) mainan anak-umbul (1) makan (1) makkah (1) Malam Jum'at (1) Mancing Belut (1) masa kecil (9) masa kecil. (1) masa lalu (2) masjid kolopaking (1) meatballs (1) Mengaji (1) Minum Dawet (1) morning walk (1) my (1) my birth (1) my first notes (6) my mom (4) my note (25) Nama ibuku (1) Nenek Sumedang (1) new round (1) new year (2) others notes (1) ours home (1) padi sawah wetan (2) pande besi (1) Papan Tulis (1) Pasar dan Ibuku (1) Penculik dan Bruk (1) Pencuri (1) Perjalanan 25 Tahun Bag. Pertama (1) personal (1) Puasa (1) radio transistor (1) Roti dan Meriam Kauman (1) Rumah Ban (1) Rumah Kakek dan Nenek (5) rumah karang sari (1) rumah kecil di pojok jalan (4) rumah kelinci (1) rumah kutawinangun (1) Rumah Pojok (1) rumahku (1) Sarapan Apa Sahur? (1) saudara jauh (1) sawah utara (1) sawah wetan (2) SD Kebumen (1) Sepeda dan Meteor (1) shake es (1) shalat jamaah (1) sintren (1) Starfruit for Mom (1) Stasiun Kereta Api (2) Sumedang 1979 (1) Sungai Lukulo. (1) tahun awal (17) tahun baru (1) Taman Kanak-kanak (1) Tampomas I (1) tanteku (2) Tetangga Cina (1) The magic Number (1) tradisional (1) tsunami 2014 (1) Visionary grandpa (1) Wayang Titi (1)
Tampilkan postingan dengan label Rumah Kakek dan Nenek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah Kakek dan Nenek. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 September 2012

Rumah Besar Kusuma 31; Big House

Jalan besar itu tepat di depan rumah, memanjang hingga ke Karang Sari di utara dan di titik timurnya berupa bundaran dengan sebuah patung besar gua dengan beberapa burung walet beterbangan di sisi-sisinya. Di bawahnya terdapat taman dengan lampu hias warna-warna yang memancarkan cahaya memenuhi monumen itu. Indah! meskipun sederhana. Di kanan kiri jalan dipenuhi deretan pertokoan.

sedangkan di deretan nomor 31 adalah rumah kakekku, besar tapi bersahaja, karena dipenuhi dengan barang dagangan yang teronggok begitu saja di halaman depannya. Tak ada taman sama sekali, bahkan di kemudian hari nenekku malah menambahnya dengan sebuah warung nasi ala warung tegal.

Sebagian besar bangunan itu terdiri dari bilah papan yang dipaku menjadi gudang, dengan pintu bukaan juga menggunakan bahan karet dan engsel besar. Sedangkan bagian lainnya berisi bilah papan yang bisa dibongkar pasang., dengan sebagiannya lagi dibiarkan ditempatnya tertutup, untuk menghalangi orang dari arah luar ke deretan lemari pajang yang dipenuhi perabot dan alat dari karet bekas.

Dan disisi paling kiri dibuat persis warung dengan bagian tengah memiliki bukaan papan yang dibuka sebagian lalu dijarangkan sehingga menjadi mirip terali papan, sedangkan di kanan kirinya terdapat pintu yang terbuka.

Bagian dalamnya terdiri dari deretan bangku panjang, dengan meja makan yang menjadi satu dengan meja pajangan keripik, telur asin, makanan sejenis kerupuk. dan sebuah kaleng persegi dengan tutup berbahan baku kaleng berisi kerupuk udang terkadang legendar, sejenis kerupuk dari bahan tepung dengan campuran ragi yang membuatnya agak terasa pahit di lidah.

Hampir seluruh ruangan dipenuhi meja dan kursi hampir melingkar memenuhi seluruh sudut, kecuali disudut selatan yang berisi kursi bambu sejenis "amben" dengan pegangan tangan di setiap pinggirnya. Setiap pengunjung yang masuk harus melangkah ke dalam bagian dalam kursi untuk dapat memilih tempat di tengah, kemudian akan memilih panganan ringan, juadah dan lainnya sebelum diantar teh manis dan nasi dengan sayur tumis kacang atau labu jepang.

Bagian paling belakang dari warung terdapat lemari, untuk pembatas ruang dan di depannya di letakkan bakul nasi dibuat dari anyaman bambu, yang selalu ditutup dengan kain kotak untuk menjaga tetap hangat dan terutama dari debu yang bisa terbang dari jalanan besar di depan rumah. sedangkan sayuran tumis diletakkan nenek di bagian belakang dari meja pengunjung.

Meja kasir juga terdapat di bagaian belakang meja dekat tempat saji sayur tumis, berupa laci kayu.

Bagian belakang warung langsung tembus ke ruang samping rumah, berbatas dengan ruang kerja karyawan barang olah bekas karet. Di ruangan itu terdapat meja dan kursi terbuat dari karet, tempat tukang beristirahat sambil makan siang. terkadang menjadi tempat kami bermain, atau kakek bermain gaple dengan teman sebayanya di hari minggu .

Bagian belakang itu memiliki batas genteng yang tidak penuh hingga ke rumah belakang, sehingga di hari hujan ketika kita hendak masuk ke bagian tengah rumah harus berbasah-basah terguyur hujan, kakek tak pernah berinisiatif untuk membuat sekedar penutup rumah. Disiang hari terik matahari langsung masuk kedalam beranda rumah dan dimalam hari dingin malam terasa langsung menembus kulit. Namun begitulah uniknya rumah kakeh. Sebagian beratap beton, sebagian lainnya beratap langit. Mirip rumah jepang yang asri.

The Big House Kusuma 31
by hans-acehdigest

"The main road is right in front of the house, stretching all the way to Karang Sari in the north and ending in a roundabout with a large cave statue and several swifts flying around it in the east. Beneath it is a garden with colorful decorative lights illuminating the monument. Beautiful! although simple. The road is lined with shops on both sides.

Number 31 is my grandfather's house, big but unpretentious, as it is filled with merchandise piled up haphazardly in the front yard. There is no garden at all, and later on my grandmother even added a small warung (Indonesian-style food stall) like those in Tegal.

Most of the building consists of wooden planks nailed together to form a warehouse, with doors made of rubber and large hinges. The other part consists of wooden planks that can be disassembled, with some left in place and closed to block people from the outside from seeing the display cases filled with old rubber furniture and tools.

And on the far left, it is made exactly like a warung with a central section that has a wooden plank opening that is partially opened and spaced out to resemble a wooden lattice, while on the left and right sides there are open doors.

The inside consists of long benches, with a dining table that is combined with a display table for chips, salted eggs, cracker-like foods, and a square tin with a tin lid containing legendary shrimp crackers, a type of cracker made from flour with yeast that gives it a slightly bitter taste.

Almost the entire room is filled with tables and chairs that are almost circularly arranged in every corner, except in the southern corner where there is a bamboo chair like an "amben" with handrails on each side. Every visitor who enters must step into the inner part of the chair to choose a seat in the middle, then they will choose snacks, side dishes, and others before being served sweet tea and rice with stir-fried vegetables or winter melon.

At the back of the warung, there is a cupboard, to separate the room, and in front of it there is a rice basket made of woven bamboo, which is always covered with a checkered cloth to keep it warm and especially from dust that can fly from the main road in front of the house. While the stir-fried vegetables are placed by my grandmother at the back of the visitor's table.

The cash register is also located at the back of the table near the vegetable serving area, in the form of a wooden drawer.

The back of the warung leads directly to the side room of the house, bordering the workspace of the used rubber goods employees. In that room, there is a table and chairs made of rubber, where the workers take a break to eat lunch. Sometimes it becomes our playground, or my grandfather plays gaple (a card game) with his peers on Sundays.

The back part has a roof that does not extend all the way to the back house, so on rainy days when we want to enter the middle part of the house we have to get wet in the rain, my grandfather never took the initiative to make even a simple cover for the house. In the hot sun, the sunlight directly enters the porch of the house and at night the cold night feels like it penetrates the skin. But that's the unique thing about my grandfather's house. Part of it has a concrete roof, the other part has a sky roof. It's like a Japanese house, which is so serene."

Rabu, 20 Juni 2012

Rumah dan Isinya; Home and contents

Yang kumaksud adalah semua koleksi unik didalamnya. Ketika belum dikenal galon, kakek ternyata telah memiliki galon kaca berjumlah puluhan yang entah di dapat darimana dan diperuntukkan untuk apa. Galon kaca itu disimpan di lantai dua, dibiarkan terbuka terbakar matahari dan jika hujan sebagian galon akan berisi air dan menyebabkan sebagiannya berlumut karena air yang masuk ke dalam galon tergenang cukup lama dan matahari kemudian menyuburkan ganggang yang berada dalam galon kaca itu.

Piring-piring keramik juga cukup banyak memenuhi lemari kuno yang juga dijadikan pajangan televisi di ruang tamu utama yang berbentuk perahu raksasa. piring-piring itu memenuhi hampir seluruh bagian rak bawah, dengan sedikit bagian kaca sehingga deretan koleksi piring keramik kuno itu bisa sedikit terlihat dari luar.

Kakek juga memiliki koleksi kesukaanku, yang pada akhirnya juga aku rusakkan, karena aku tak memahami bahwa bagian belakang radio transistor raksasa itu berisi, tabung transistor yang sangat rapuh dan mudah pecah dan sialnya lagi barang itu tak lagi diproduksi pada masa itu, sehingga jika rusak maka tak akan ada lagi suku cadang penggantinya. Maka radio transistor super besar itu pada akhirnya hanya menjadi meja pajang di bagian rumah belakang dan diatasnya diletakkan radio transistor baru yang dibeli kakek sebagai pengganti radio lama, dan menjadi hiburannya di kala malam ketika membersihkan halaman dengan memilih setelah siaran wayang kulit atau wayang orang, yang seolah-olah dapat dinikmati  visualnya. Karena radio transistor itu pulalah, televisi di rumah menjadi tontonan yang tidak menarik ditambah tak ada anggota keluarga lain yang tertarik untuk menonton televisi kecuali "Dunia Dalam Berita" , klop dengan aturan larangan menonton yang selalu diributkan oleh ibuku, jika malam belajar, belajar, belajar dan tak ada nonton televisi, akibatnya aku menjadi penggila televisi liar yang selalu harus kupuaskan dengan menonton tivi di rumah tetangga, jika tidak dirumah pak haji yang terbatas waktunya cuma hingga sore hari, maka aku main hingga larut malam dan terpaksa harus kucing-kucingan di rumah subekti di deretan toko dekat jalan Kolopaking.

Rumah itu juga punya koleksi, sebenarnya sih bukan koleksi, tapi bisa disebut barang rongsokan, tapi bukan barang sembarangan karena ini jenis mobil mewah pada masanya dulu. Karena kakek berbisnis barang daur ulang berbahan baku karet, sehingga kadang-kadang mendapatkan bukan cuma ban mobil tapi dengan mobilnya sekalian, menurut kakek mobil bisa dimanfaatkan bagian per bagian. tapi entah kenapa khusus yang satu ini mobil itu dibiarkan untuk waktu yang lama dibiarkan utuh. Aku menyukainya setengah mati, karena aku bisa langsung bermain mobil-mobilan dengan mobil asli, holden lagi. Mungkin tak akan ada duanya karena jenis mobil ini memang langka.

Home and contents
by hans-acehdigest

I mean all the unique collection in it. When the unknown gallon, grandfather turned out to have had tens of gallons of glass that can be either on where and destined for nothing. Gallon glass was deposited on the second floor, left open burning sun and if the rain will contain most of gallons of water and caused in part because of mossy water into gallons of stagnant long enough and the sun and fertilize algae in glass gallon.

Ceramic plates is also enough to meet the old cabinets are also used as a display of the main television in the living room in the form of a giant boat. plates that meet almost every part of the bottom shelf, with a bit of the glass so that the rows of a collection of ancient ceramic plates that can be slightly visible from the outside.

Also has a collection of my favorite grandfather, who in turn also I rusakkan, because I do not understand that the back of the giant transistor radio shows, tube transistors that are very fragile and easily broken again and unfortunately it is no longer manufactured goods at the time, so if it breaks then there will be no replacement parts. Then the transistor radio was super great in the end only a counter at the back of the house and laid on top of a new transistor radio that my grandfather bought as a replacement for the old radio, and a consolation in times of night when the cleaning page by selecting the broadcast shadow puppets or wayang people, who as if to enjoy the visual. Because the transistor radio that also, television in the home becomes an unattractive spectacle plus there was no other family members who are interested to watch television except for "The World In The News", fit the rules that ban watching my mother always fuss, if the night studying, learning, learning and no watching television, television as a result I became a wild enthusiast who always have to kupuaskan by watching a television at a neighbor's house, if not at home pack pilgrimage limited time only until late afternoon, so I was playing late into the night and forced to cat and mouse in the house subekti in a row of shops near the Kolopaking.

The house also has a collection, actually, not a collection, but it could be called a junkyard, but not things haphazardly as this type of luxury cars in his time first. Because grandparents do business goods made from recycled rubber, so that sometimes get not just tires but with all the car, the car can be utilized by grandparents parts. but somehow this one particular car was left for a long time is left intact. I love it to death, because I can just play with the cars original car, holden again. May not be second to none because this is a rare type of car.

Dapur Aneh? Weird Kitchen?

Dapurnya berbentuk ruangan kecil, mungkin lebih tepat jika disebut gudang. Aku tak tahu persis mengapa kakek dan nenek tak melengkapi dapurnya dengan sesuatu yang menarik sebagai sebuah dapur. Padahal nenek kemudian juga berbisnis warung nasi pada akhirnya. Tapi tetap saja dapur itu tak banyak berubah kecuali bertambah banyak alat dapurnya. Bagian belakang dapur langsung berbatas dengan kamar tante muhibah, sementara bagian depannya berbatas dengan sebuah mobil sejenis lamborgini berwarna hitam yang sangat menawan. dan dalam hidupku kemudian aku menyesalkan hilangnya mobil itu menjadi barang rongsokan tak berharga sama sekali.

Aku pernah bereksperimen di dapur aneh itu, untuk memasak mie instant, kejadiannya  justru aku dimarahi habis-habisan, karena dianggap main api. Aku cuma ingin sedikit membantu ibuku, mencoba memasak dan berharap akan sedikit meringankan beban ibuku tanpa perlu merengek untuk minta dimasakkan, ternyata malah sebaliknya.

Ada benarnya barangkali, karena jika terbakar bukan cuma dapur yang akan ludes terbakar, tapi juga seluruh bagian kamar tante, dan terutama rumah tetangga sebelah karena bagian dinding samping dapur langsung berbatas dengan dinding rumah tetangga yang beratap genteng.

Tentang dapur itu, anehnya aku tak pernah bisa mengingat dengan baik, bagaimana prosesi nenek memasak atau ibuku memasak untuk anak-anaknya, apakah memang benar mereka menggunakan dapur itu atau ada bagian lain dari rumah yang dapat dimanfaatkan untuk urusan masak-memasak. Setahuku masakan selalu sudah siap saji, bisa jadi karena sebagai anak laki-laki aku terlalu dimanjakan, maksudku itu pula yang menyebabkan aku tak pernah begitu peduli pada proses tapi pada hasil. Baik Kakek atau nenek dan mungkin juga ibu membiarkanku banyak main. Tepatnya aku yang berinisiatif untuk selalu bermain dan berusaha untuk tak berlama-lama di rumah.

Kisah dapur itu adalah kisah dua generasi di masaku, nenek, ibu dan tanteku. Selanjutnya aku tak tahu persis apakah dapur itu masih berfungsi dengan baik sebagai dapur atau malah menjadi gudang?. entahlah!.

Weird Kitchen?
by hans-acehdigest


shaped kitchen was a small room, perhaps more accurately called the warehouse. I do not know exactly why the grandparents did not equip the kitchen with something interesting as a kitchen. Though grandmothers rice stall then also do business in the end. But still, the kitchen was not much change except to grow a lot of kitchen tools. The back of the kitchen directly adjacent with auntie room goodwill, while the front is adjacent to a car with a black lamborgini very charming. and in my life and I regret the loss of the car becomes worthless junk at all.

I've experimented in the kitchen it's strange, to cook instant noodles, it happened I yelled it out, because they are playing with fire. I just want a little help my mother, trying to cook and hopes to slightly ease the burden of my mother without the need to whine to ask cooked, it turns out opposite.

There's probably true, because if the fire is not just a kitchen that will be sold on fire, but also throughout the room aunt, and especially the house next door neighbor because of the side wall of the kitchen directly adjacent with a neighbor's wall tile-roofed houses.

On the kitchen was, oddly enough I can never remember it well, how the procession grandmother or my mother's cooking cooking for children, whether it is true that they use the kitchen or any other part of the house that can be used for cooking affairs. As far as food is always readily available, it could be because as a boy I was too spoiled, I mean that is what cause I never really care about the process but on results. Both the grandfather or grandmother and mother may also let a lot of play. I am exactly who took the initiative to always play and try not to linger in the house.

The story of the kitchen is the story of two generations in my day, grandmother, mother and aunt. Furthermore I do not know exactly whether the kitchen was still functioning well as a kitchen or even a barn?. I do not know!.

Jumat, 20 Januari 2012

Pencuri Di Rumah Sendiri; Burglar in your own home

Ada kebiasaan jelekku sewaktu kecil, selalu menonton televisi dimalam hari. Ini terjadi karena aku terobsesi dengan film, apapun jenisnya. Aku selalu dibuat penasaran dengan semua jenis film, baik anak-anak maupun film dewasa. Kadang-kadang, aku sudah mendapatkan berita tentang film apa yang akan tayang nanti malam. Karena aku tahu dengan tepat jamnya, maka aku menjadi gelisah ketika jamnya hampir tiba sementara aku masih berada di rumah. Maka dengan sembunyi-sembunyi setelah aku pastikan filmnya akan dimulai dengan mengintipnya dari lantai dua rumahku kearah rumah Incung temanku. Aku langsung bergegas dengan apapun caranya untuk pergi dari rumah dan menonton televisi di rumah siapapun yang bisa kutonton. Biasanya aku nonton di rumah Subekti, karena rumahnya di jadikan tempat bisnis menjahit, jadinya sampai malam hari tetap buka sambil menunggu pelanggan yang janji mengambil jahitan pada malam harinya.

Kebiasaan itu menjadi candu buatku, sehingga aku tak pernah peduli jika setiap malam aku pergi keluar, meskipun dimarahi ibuku hampir setiap hari dengan berbagai hukuman. Termasuk juga dengan cara menyelinap, ketika aku berpura-pura tidur dan ketika ibuku serta adik-adikku telah tidur, aku akan bangun dan memanjat pagar rumah yang tingginya hampir dua meter. Dindingnya bisa kupanjat karena ada deretan susunan ban yang memang di tempatkan di pinggir pagar agar tidak mudah jatuh, yang justru menjadi keuntungan buatku karena menjadi tangga yang membantuku bisa keluar.

Ibuku sudah kehabisan cara untuk melarangku, dengan segala macam hukuman tak membuatku jera dan menyerah. Biasanya jika aku ketahuan karena meskipun aku menyelinap, diam-diam ibuku sudah menungguku di dalam rumah di tempat gelap dan membiarkan aku masuk ketika mendengar suara langkah kakiku, maka ibuku akan marah besar dan aku biasanya cuma bisa menangis meminta ampun, dan disaat itulah ibuku biasanya akan luluh hatinya, karena tak tega memarahi anaknya sendiri. Besoknya aku diceramahi dan diminta tak lagi mengulangi kejadian itu, tapi aku selalu melanggarnya, setiap malam apalagi ketika filmnya bagus.

Sebenarnya, kami bukan tak punya televisi, tapi karena ada aturan ketat yang mengharuskan aku belajar dan tidak menonton film, makanya televisi di rumah tak pernah dinyalakan, kecuali untuk menonton "dunia dalam berita". Dan setelahnya televisi akan dimatikan, dengan rasa penasaranku yang tak bisa disembuhkan karena aku sudah mengetahui dengan persis apa film yang tengah diputar malam itu.

Seperti biasa malam itu, aku melakukan ritual kebiasaanku memanjat dinding rumah dan keluar menonton televisi, dan tanpa disadari malam telah larut, dan tak seperti biasanya ibuku atau tanteku tak menjemputku dan memintaku pulang jadi aku benar-benar terlambat pulang. Seluruh pintu warung telah ditutup, pintu yang biasanya kuganjal dengan sesuatu agar bisa kubuka ketika pulang malam juga telah terkunci. Dan tak ada jalan lain untuk masuk, satu-satunya pilihan adalah memanjat dinding, maka aku mencari jalan dari semua arah agar bisa masuk. Jika melalui jalan belakang tidak mungkin karena aku tak berani, maka aku mulai berusaha memanjat papan pembatas gudang. Ketika tengah bersusah payah memanjat, datanglah petugas keamanan keliling, ketika melihat sosok di kegelapan malam tengah berusaha memasuki rumah  kakek maka ributlah mereka berteriak dan menyoroti aku dengan lampu senter karena di sangka pencuri, bergegas mereka menarikku turun. Maka terjadilah keributan itu, aku bilang aku cucunya kakek, dan kebetulan mereka mengenali aku, maka dengan bantuan mereka yang sebenarnya tidak aku butuhkan aku dibukakan pintu oleh ibuku. Maka mulailah ibuku memarahi aku, hingga tengah malam dan aku mendapat hukuman hingga paginya aku bangun kesiangan dan hampir tak masuk sekolah.

Paginya kisah malam itu menjadi bahan cerita semua orang di rumah dan juga para pekerja yang menertawakan kenakalanku, yang hampir ditangkap petugas jaga malam gara-gara di sangka pencuri di rumahku sendiri. Dan anehnya, kisah tadi tak membuatku jera, karena beberapa malam kemudian aku memulai lagi petualanganku memanjat dinding, mengakali pintu rumah untuk tetap bisa menonton televisi.

Burglar in your own home
by hans@acehdigest

There is my bad habits as a child, always watching television at night. This happens because I'm obsessed with movies, any kind. I always made curious by all kinds of movies, well kids and adult films. Sometimes, I've got news about the movie that will appear later tonight. Because I knew the exact hour, then I became restless when the hour is at hand while I was still in the house. Then furtively after I make sure the film will begin with a glimpse of the second floor of my house towards my friend's Incung house. I immediately rushed in any way to get from home and watch television at home anyone who can I watch. Usually I watch at home Subekti, since made his home in the tailoring business, so it stays open until late at night while waiting for customers who promise to take the stitches in the evening.

Habits become addictive for me, so I never cared if I go out every night, though scolded by my mother almost every day with different penalties. Included is also a way to slip, when I pretended to sleep and when my mother and my brothers had been sleeping, I'll wake up and climb the fence nearly two meters tall. The walls can be climbed up the order because there is a row of tires that are placed on the edge of the fence so as not to easily fall, which was an advantage for me because of a ladder that can help me out.

My mother had run out of ways to not let me, with all sorts of punishment and deterrence do not make me give up. Usually if I got caught because even though I slipped, quietly waiting for me in my mother's house in a dark place and let me in when she heard my footsteps, then my mother will be furious and I usually can only crying for mercy, and that's when my mother usually will melt her heart, because no heart to scold her own son. The next day I talked to and asked to no longer repeat the incident, but I always break them, every night especially when a good film.

Actually, we do not have no television, but because there are strict rules that require me to learn and do not watch movies, so the television at home was never turned on, except to watch "world in news". And after that television will be turned off, with my curiosity that can not be cured because I already know exactly what movie that was playing that night.

As usual that night, I perform the ritual habit of climbing the walls of the house and came out to watch television, and without realizing it was late at night, and not as usually my mom or my aunt did not pick me up and asked me to come home so I came home really late. The entire stall door is closed, the door is usually I prop with something that can be opened when I got home the night has also been locked. And there's no other way to go, the only option is to climb the wall, so I find a way from all directions in order to enter. If the road back is not possible because I do not dare, so I started try climbing warehouse divider board. When it was struggling to climb, security guards came around, when he saw a figure in the darkness of the night my grandfather was trying to enter the house then they scream and highlight me with a flashlight because the suspected thieves, they rushed to pull me down. Then there was the noise, I said I was his grandson my grandpa and they happen to recognize me, then with their help I do not really I need the door opened by my mom. Thus began my mother scolded me, until the middle of the night and I got a sentence of up to morning I woke up late and almost did not go to school.

The next morning the story of the night it was the story everyone in the house and also the workers who laugh at my
delinquency, a night watchman almost arrested because of the suspected thief in my own house. And oddly enough, the story did not make me wary, because a few nights later I started again my adventures climbing wall, door to outsmart can still watch

Kamis, 29 Desember 2011

Rumah Kakek dan Nenek; Grandma and Grandpa House

Rumah kakek memang unik, dibangun dengan bentuk seperti perahu. Ada buritan dengan bagian depan dipasang kaca mobil bekas sedan holden. Dikanan kirinya dihiasai dengan pelak ban dari besi, ada dua didepan disamping kaca dan enam lagi di sebelah kirinya. Kata kakek  pelak tadi bisa menjadi ventilasi udara. Kakek memang selalu memanfaatkan barang bekas menjadi seni. Begitu juga dengan ban-ban bekas yang memenuhi rumah yang diolah menjadi bermacam-macam barang, mulai dari timba sampai sandal karet. 

Aku ingat teman-teman kakek sering main dan berkumpul di rumah, sekedar bermain gaplek atau bernostalgia, kadang-kadang sampai tengah malam. Rumah kakek tak perlu kipas atau AC karena udara terbuka akan bertambah dingin dengan bertambah larutnya malam. Teman-teman kakek juga bebas merokok. Kami biasanya dilarang mendekat karena tak sehat dan membuat baju kami bau tembakau. 

Rumah kakek itu dilengkapi dengan beberapa lampu tapi bukan listrik,  aku tak tahu kenapa kakek tetap saja memasang petromak atau strongking, aku biasa menyebutnya begitu, mungkin itu juga bahasa Belanda. Kata kakek, karena selama penjajahan belanda kakek sudah ada jadinya sedikit-sedikit kakek tahu bahasa Landa (sebutan untuk belanda). Soal listrik tadi rumah kami juga punya televisi, tapi aku tak ingat apakah memakai baterai kering atau pakai listrik. Kakek juga punya beberapa benda sejarah seperti radio transistor yang sangat besar sehingga aku bisa masuk kedalamnya. Tapi tetap saja yang membuat aku penasaran soal listrik  dan strongking tadi, kenapa harus ada keduanya jika mau hemat?. Bisa jadi saat itu listrik masih mahal, sehingga kakek hanya menggunakannya untuk menyalakan televisi, menonton Dunia Dalam Berita dan Siaran Niaga, itupun cuma satu saluran TVRI, dan hiburan lainnya selain itu cuma RRI, selalu berita dan wayang orang.

Bagian rumah yang disukai kakek adalah, halaman tengah yang menghubungkan rumah depan dan belakang. Setiap hari sehabis magrib, kakek selalu meratakan butiran pasir, yang lebarnya hampir seluas lapangan badminton, menjadi rata bersih dan tak sebutirpun sampah yang tersisa. Setelahnya barulah dilanjutkan dengan ritual merokok “sigaret sintren”, sambil melamun memandangi langit, santai luar biasa. Aku tak ingat apakah kakekku juga menyukai kopi?. Tapi yang juga kuingat dari rumah dan kakek adalah kesehatannya yang luar biasa, jarang aku melihat kakek sakit, bahkan kacamatapun tak pernah dikenalnya. 

Rumah kakek juga semacam rumah singgah, meriah jika sudah dikunjungi tamu, baik itu sekedar teman lama atau rekanan bisnis. Jadi rumah itu berfungsi ganda, rumah dan kantor sekaligus, karena kakek memang suka bisnis dan mewariskan darah bisnis, kepada anak-anaknya, karena hampir semua anaknya kemudian meneruskan jejak kakek menjadi pengusaha.


Grandma and Grandpa House
by hans@acehdigest 

Grandfather's home is unique, built in the shape like a boat. There was stern with the front mounted glass used cars holden sedan. Decorated with doubt left on the right tire of the iron, there are two front and six more in addition to the glass to his left. Inevitably grandfather had said could be the air vents. Grandpa was always utilize the junk into art. Likewise with tires that meet the home that is processed into many kinds of goods, ranging from buckets to flip-flops.


I remember my friends and my grandfather used to play together at home, just playing card or nostalgic, sometimes until midnight. Grandpa did not need a fan or air conditioner because of the open air will increase with increasing cold night wore on. My friends grandfather also smoke free. We usually are prohibited from approaching due to unhealthy and makes our clothes smell of tobacco.


Grandfather's house was equipped with several lights but not electricity, I do not know why my grandfather still
installing the lights petromak or strongking, I used to call it, maybe it's also the Dutch language. Grandfather said, because during the Dutch colonial rule would grandfather existing grandfather knew little "Landa" language (call for dutch). The electricity was home we also have television, but I do not remember whether to use disposable dry batteries or electricity. Grandpa also had a few things like the transistor radio history is very large so I could enter into it. But it still makes me curious about electricity and strongking before, why there should be both if you want to save?. It could be the time electricity is still expensive, so the grandfather only use it for powering television, watching the World in Commerce News and Press, and even then only one channel TVRI, other entertainment moreover only RRI, always news and puppet people.

Part of the house is like my grandfather, central courtyard that connects the home front and rear. Every day after sunset, grandfather always flatten the grains of sand, of a width almost as badminton court, a flat clean and no rubbish is left a course. Afterwards then continued with the ritual of smoking "cigarettes Sintren", dreamily looking at the sky, relaxing remarkable. I do not remember if my grandfather also liked the coffee?. But it is also remembered from home and the grandfather is great health, I saw my grandfather rarely sick, even glasses ware never know.


Grandfather's house is also a kind of halfway house, the merrier when it is visited by guests, whether it's just an old friend or business partner. So it serves a double house, home and office all at once, because my grandfather like business and did pass on the business of blood, to his children, because almost all of his grandfather's footsteps and continue to be an entrepreneur.