Label

10 tahun tsunami. (1) 2013 (1) acehku (1) Adikku. (1) Aku (4) Among-among (1) Anak-anak (1) Anak-Anak Dikutuk (1) Angka ajaib (1) aqiqahku (1) Ayahku (1) babak baru (1) bakso (1) Barzanji (1) batu cincin (1) belimbing (1) Belut Loch Ness (1) Belut Sawah; Mancing Belut (1) Bibiku (2) bioskop misbar (1) birtdhday party (1) bisnis keluarga (1) busur dan panah (1) capung (1) Celengan bambu (1) China's Neighbords (1) Cibugel 1979 (1) Cibugel Sumedang (2) cinta bunda (1) cracker (1) Curek; Inflammation (1) Dapur nenek (1) dejavu (1) Dian Kurung (1) distant relatives (1) Dremolem Or Dream Of Land (1) es dogger (1) es goyang (1) es serut (1) Fried Sticky Rice (1) Gadis Kecil (1) gambar desain (1) gambarku (1) Gandrung Mangu (2) golek;nugget cassava (1) harmonika kecilku (1) Ibuku (11) Ibuku Atau Kakakku? (1) Ikan (2) ikan dan ular (1) iseng (1) jalan kolopaking (2) Jalan Kusuma (2) jangkrik Jaribang Jaliteng (1) Jenang Candil (1) jogging (1) Juadah (1) Juz Amma (1) kakek dan nenek (3) kakekku (3) kecelakaan fatal (2) kelahiranku (1) Kelas Terakhir; the last class (1) kenangan (1) Kerupuk Legendar (1) kilang padi (1) Klapertart Cake (1) kolam ikan masjid (1) koleksi stiker (1) koleksi unik (1) koplak dokar dan colt (1) kota kecil dan rumahku (1) Kue tape (1) Kutawinangun (1) Lanting (1) little cards (1) Loteng rumah (1) lotere (1) lottery (1) mainan anak-umbul (1) makan (1) makkah (1) Malam Jum'at (1) Mancing Belut (1) masa kecil (9) masa kecil. (1) masa lalu (2) masjid kolopaking (1) meatballs (1) Mengaji (1) Minum Dawet (1) morning walk (1) my (1) my birth (1) my first notes (6) my mom (4) my note (25) Nama ibuku (1) Nenek Sumedang (1) new round (1) new year (2) others notes (1) ours home (1) padi sawah wetan (2) pande besi (1) Papan Tulis (1) Pasar dan Ibuku (1) Penculik dan Bruk (1) Pencuri (1) Perjalanan 25 Tahun Bag. Pertama (1) personal (1) Puasa (1) radio transistor (1) Roti dan Meriam Kauman (1) Rumah Ban (1) Rumah Kakek dan Nenek (5) rumah karang sari (1) rumah kecil di pojok jalan (4) rumah kelinci (1) rumah kutawinangun (1) Rumah Pojok (1) rumahku (1) Sarapan Apa Sahur? (1) saudara jauh (1) sawah utara (1) sawah wetan (2) SD Kebumen (1) Sepeda dan Meteor (1) shake es (1) shalat jamaah (1) sintren (1) Starfruit for Mom (1) Stasiun Kereta Api (2) Sumedang 1979 (1) Sungai Lukulo. (1) tahun awal (17) tahun baru (1) Taman Kanak-kanak (1) Tampomas I (1) tanteku (2) Tetangga Cina (1) The magic Number (1) tradisional (1) tsunami 2014 (1) Visionary grandpa (1) Wayang Titi (1)

Kamis, 06 Juni 2013

Selamat Jalan Sahabat Kecilku; bye my little best friend

Sudah lama aku mengenalnya, mungkin hampir 35 tahun yang lalu. perkenalan kami pertama kali ketika aku menginjakkan kakiku pertama kali di bumi parahiyangan. seperti anak-anak lain kami berkenalan, berteman kemudian, bahkan menjadi karib. Dan diantara sekian banyak anak-anak yang tak sepenuhnya mau menerima aku berteman, dia justru ramah dan sangat baik. Bisa jadi alasannya karena, aku anak baru, di lingkungan baru dan juga saudara paling baru diantara mereka. Jadi semua orang berusaha menjaga jarak sampai situasinya menjadi aman terkendali.

Empat bulan lebih kurang lamanya kami menjalin persahabatan, akhirnya kami berpisah, aku berlayar menuju tempat tugas baru ayahnku di Aceh, nun jauh di ujung Indonesia. Noktah itu ditandai dalam peta paling barat, diujung pulau sumatera dengan sekelilingnya dipenuhi laut membentang luas, meliput Selat Malaka dan samudera luas di sebelahnya, begitulah, kami kemudian lama tak bertemu.

Di tahun ketika aku bekerja dengan sebuah NGO Internasional World Wide Fund for Nature Indonesia, aku berkesempatan untuk berkunjng ke Bandung dan bertemu lagi dengannya, tentu sebagai saudara jauh dan sahabat lama.

Namun seminggu kemarin, aku menerima telepon mendadak dari adikku yang mengabari bahwa sahabatku itu telah pergi, sangat mendadak, karena pagi itu sebuah kecelakaan maut merenggut sisa hidupnya dan dua orang putra-putrinya tiba-tiba harus kehilangan ibu sandarannya, begitupun dengan kami semua kehilangannya sebagai  anak, keponakan, ipar, teman, sahabat dan bahkan tetangga. Aku tak tahu persis bagaimana kejadiannya, namun menurut kabar berita, sebuah tabrak lari telah menghentikan hidupnya tuntas di hari naas itu.

Dan tiba-tiba kami semua kehilangannya.

Lalu terlintas, semua kenangan aku dan kami semua, hari-hari ceria di Cibugel, di balong kakek, nenek, memburu ikan, menikmati comro sambil berebutan, dan masih aku ingat salah satu senyum lucunya di sebuah foto tak bertanggal, semasa kanak-kanaknya dan sebuah foto narsis dengan lolipop, yang hampir tak pernah lepas dari kebiasaannya sewaktu di sekolah menengah.

Begitulah, kenangan tiba-tiba terlepas, terenggut dari kisah hidup kita dan sebagian potongan puzzle itu larut dengan waktunya sendiri, terbang ke tempat antah berantah, jauh di dunia lain. dan pastinya semua kita akan kesana menyusulnya.

Lalu tinggalah kami , memohon, bermunajat, berdoa mendoakan kebaikan atas amal baiknya dan ampunan atas khilaf dan salahnya. Selamat jalan sahabat kecilku, semoga Allah menyayangimu seperti kami semua disini. Allahuma firlaha, warhamha, Wa'afaha Wa'fua'anha.

Kamis, 30 Mei 2013

Tujuh Pendekar Sakti; Seven Warriors

Bangunan bioskop besar terbuat dari papan itu berdiri persis di sebelah kiri tugu lawet. berbatas dengan sungai kecil, yang cukup dalam. setiap kali melintas kesana aku pasti harus melongok ke dalam untuk melihat setidaknya pasti ada beberapa ekor ikan yang berkeliaran, meskipun di siang terik.

Di sampingnya, berbatas dengan tembok berdiri sebuah warung juga terbuat dari bambu dengan bagian samping dan depannya dibiarkan terbuka. Menunya ketan hitam, di hidang di sebuah piring kecil, urutannya ketan hitam dimasukan ke piring ditambahkan santan kental, kata nenek itu sari santan, biasanya diperas dari kelapa tanpa dicampur dengan air, jadi betul-betul kental.

Seingatku ibuku beberapa kali mengajakku ke warung itu, aku lupa namanya. menurutku harganya sedikit mahal buat kantong kami yang pas-pasan. jadi setiap kali berkunjung kesana menjadi moment sangat spesial buatku. di tahun-tahun setelah aku menjadi rindu untuk mencicipi menu itu lagi. dan begitupun ketika lama kemudian, aku begitu menyukai ketan hitam dan bermacam jenis bubur.

Kembali ke soal bioskop tadi, sebenarnya bangunan itu bangunan tua, dari luar tampak depan seperti bangunan besar, tapi dikiri kananya hanya ditutup lembaran seng dan panjang dinding hanya sebatas panjang seng itu. dan uniknya bangku didalamnya bukan berupa bangku duduk yang berlapis jok, tapi hanya bilah papan panjang yang dipaku dengan potongan kelapa. dan bagian atasnya langsung berbatas dengan langit, jadi selagi menonton bioskop kita masih bisa menikmati bintang dan bulan. dan lebih parah lagi jika hari hujan maka berrhamburanlah para penonton dari guyuran hujan. makanya dinamakan juga gerimis bubar alias misbar.

Dan kenangan pertamaku ketika diajak kakek menonton misbar itu, kami menonton film mandarin, tujuh pendekar sakti, film itu berkisah tentang para pendekar dengan beragam jurus sesuai dengan jenis binatang yang disukainya, maka diantara tujuh pendekar itu ada yang mengusai jurus harimau, jurus bangau, jurus elang dan bermacam jurus lainnya.

Kenangan itu terus membekas, karena sebenarnya kunjungan itu bukan sekedar kunjungan biasa, karena disaat-saat istimewa itu, aku bisa bersama-sama dan berakrab-akrab dengan kakek, dengan ibuku dan menikmati jalan-jalan untuk membebaskan penat dan jenuh setelah seharian dipenuhi dengan bermacam aktifitas yang melelahkan hati dan pikiran.

Kamis, 11 April 2013

Menunggu Telepon Ibuku

dalam beberapa hari di bulan ini, aku tak mendapat kabar apapun dari ibu, barangkali karena kesibukannya mengantar jamah umrah yang tak pernah berhenti. ritual sekaligus membantu mengisi dan membunuh sepinya sendiri.

jauh dari kami, dekat anak angkat dan keluarga barunya di tanah yang jauh, di tanah suci. kadang-kadang muncul kerinduan tiba-tiba, sekedar mengatakan halo, dan bercerita seperti biasa.

Dan seperti biasa ibu akan selalu bilang, dengar...hanif!! berulang-ulang, ketika itu semuanya begitu dekat seperti tiba-tiba akan datang dan bisa bertemu. mungkin beberapa hari ini tak sempat dan belum ada waktu mengobrol, atau lelah setelah seharian thawaf, Sa'i, melempar jumrah, hari-hari yang dipenuhi berkah dan kebaikan.

waiting Phone
by hansacehdigest


I haven't heard from Mom in a few days. I imagine she's been quite busy guiding pilgrims on their spiritual journey.

Being so far away from her, I often find myself missing her voice. There's something comforting about her familiar greeting, "Hanif!"

I know she's probably been very busy with the rituals and prayers. Perhaps she's simply too tired to chat.

Jumat, 01 Maret 2013

Selamat Jalan Nek....

kabar duka itu masuk ke ponselku menjelang magrib. kemudian semuanya tiba-tiba melayang ke masa 35 tahun lalu, ketika mula sekali aku menginjakkan kakiku di bumi pasundan dan berinteraksi dengan kisah panjang yang mengantarkanku hari ini.

hari-hari itu beragam rasa, untuk mula sekali aku jauh dari ibuku, menemukan keluarga baru yang aku rasakan juga menyayangi atau setidaknya berusaha mencoba mengenal dan mendekati aku agar menjadi sebuah keluarga. barangkali memang ada pesan sponsor atau memang begitulah dorongan dan naluri orang tua terutama perempuan dalam memahami realitas kesedihan anak-anak

dalam hari-hari baru itu aku diterima menjadi bagian dari sebuah keluarga besar. bagiku yang hanya bocah tak ada urusan dengan bagaimana hati orang lain akan terluka, kesal, marah dengan kondisi dan apapun yang kulakukan. maka dimulailah hari-hari itu tak kurang dari 3 bulan lamanya.

namun waktu singkat kemudian ikut menggoreskan kenangan, tentang sosok manis nenek Sumedang, yang kemudian aku tahu nama akrab pangilan beliau Mak Enoh. aku berusaha menjadi salah seorang cucunya dengan caraku sendiri, dimusuhi, dijengkeli, dan mungkin hendak dibenci tapi karena bocah tak ada tempat semestinya untuk menempatkan perasaan model begitu, jadilah aku menikmati hari-hariku dengan cara dan kesukaanku.

kemudian hari aku meninggalkannya hingga berpuluh tahun, dan ketika kembali mereka terheran-heran dengan tinggi tubuhku dengan keluarga kecil dan terutama istri cantikku. kami seketika lebur menjadi cucu dan nenek, dengan cerita-cerita dulu yang terdengar aneh tapi justru menjadi pusat canda tawa kami. aku masih sempat menyalaminya, entah apa aku pernah juga memeluknya, jika iya maka beruntung dalam satu bagian kisah hidupku aku pernah memeluk nenek yang sungguh-sungguh baik hati.

terbayang kue simpanan yang kuambil diam-diam, terbayang panganan kue pagi yang selalu tersaji, kencing ala ninja di dinding ruang tamu yang kusangka tak seorangpun tahu ternyata justru mereka berupaya untuk menunjukkan kedewasaan dengan memahami ketakutan dan kesalahanku dengan tak pernah menanyakan siapa sesungguhnya yang pernah "jahil" melakukannya.

dimasaku kemudian aku merantau jauh dan meninggalkan semua kenangan yang aneh dan indah menjadi sesuatu yang biasa. dan ketika aku menyadarinya kemudian aku memimpikannya seperti sebuah nostalgia yang tak mungkin bisa dihentikan dan dilupakan.

kolam ikan dengan padi menguning, pondok yang dipenuhi lauk ikan dan sambal terasi, irigasi gemericik menyusur hingga jauh di kali kecil di kaki bukit, lumpur yang sengaja dikeringkan kakek dan nenek untuk menyenangkan aku salah satunya yang dalam hidupku tak pernah dengan sungguh-sungguh diminta untuk boleh bermain lumpur. mungkin mereka juga berniat dan bermaksud mengusir sedihku yang jauh dari bunda dan akan mengalami hari-hari yang belum tahu akan seperti apa. semua bercampur aduk dalam kisah yang akan aku alami kemudian dan sendirian dari pihakku, maksudku tanpa ibu dan adik-adik yang biasanya menjadi pusat pengobat segala kerinduanku meski dalam hidup berukuran sederhana.

aku merasa disayangi, meskipun tetap dibalut sepi dan rindu, bermain tak kenal waktu seolah mengisi satu liburan diantara empat musim. kenal dengan anak saudara yang baik dan sebagian lagi aku terjemahkan sebagai sayang. sebagiannya lain merasa aku menjadi musuh baru dalam keseharian dan mungkin potongan jatah kasih sayang nenek Sumedang yang setidaknya harus disisihkan untuk aku si pendatang baru dalam keluarga besar mereka.

dengan apapun model nya aku merasakan kasih nenek, pun ketika kemudian nenek juga ternyata merasa kehilangan dengan ketidakhadirankaku, dengan kisah sedihku yang mungkin kemudian di dengar atau sesekali muncul kesal dan kecil hati melihat "pemberontakanku" terhadap perlakuan dan masa depanku yang tiba-tiba direnggut dari ibuku dan adikku. kiranya semua orang dewasa dapat memaklumi itu, karena mereka telah sungguh-sungguh menggunakan rasa dan hatinya untuk merasakan kesepian, kesendirian, ditinggalkan, terasing di keramaian. kecuali aku sendiri yang ketika itu bocah dan terisak sendirian membayangkan dan menerjemahkan kenyataan yang sedang aku alami.

dibalik semua itu sepotong puzzle itu telah aku tinggalkan dalam gumpal kasih sayang, kerinduan setiap kali melihat senyum nenek Sumedang yang selalu sama, murah dan tulus. beruntung aku pernah punya kisah dan mengenal beliau, karena di hari-hari kemudian ketika lama kami berpisah. aku hanya mendapatkan kabar duka dan tak bisa mengunjunginya di akhir hayatnya. meskipun langkahku terlalu jauh kesana, tapi doa panjang kupanjatkan kepadaNya, agar nenek diberi syurga yang selalu kami rindukan sejak kecil dipenuhi kasih sayang, kecintaan, bidadari cantik yang tak pernah membuat kesepian. Innalillahiwainna illaihi rajiun. Selamat jalan nek, semoga kasih sayang Allah azza wajala selalu menyertai hari-harimu. Salam dan doa dari kami semua, anak dan cucu, selalu. Amin ya Rabbal Alamin.

Rabu, 02 Januari 2013

Tahun baru, optimis dan pesimis!; New Year, optimistic and pessimistic!

Aku tak tahu apakah masih penting tahun baru bagiku?, setiap kali ada optimis dan pesimis sekaligus, berharap lalu pelan-pelan melaju menjadi tak berarti lagi. Tapi tahun ini menjadi tahun tersulit dalam hidupku, karena harapan dan pertarungan berjalan saling melaju, aku yang berlari menjadi selalu tertinggal di belakang. Tapi aku menemukan tantangan baru dalam perjuangan paling besar dalam hidupku, berubah menjadi diri sendiri, raja bagi diriku sendiri.

Sungguh waktu telah mengajarkan begitu banyak hal, yang tak pernah aku sadari sejak dulu. tapi tak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik, aku pasti di tahun ular air penuh kehati-hatian dan tantangan ini. Aku akan mencoba seluruh upayaku untuk berhasil. Aku mempertaruhkan seluruh harga diriku dalam masa depan yang kuciptakan sendiri, tidak untukku, tapi untuk istriku dan anak-anakku yang sangat aku cintai. Demi mereka dengan ridha Allah aku berjuang.

Aku hanya punya waktu 9 bulan dari saat ini untuk bisa menentukan masa depanku akan menjadi apa. Aku berharap pada keajaiban kerja kerasku, doa yang kupanjatkan tiada henti pada Allah yang memberikan semua kekuatan dan kelemahan, dan memastikan apakah aku menjadi slah satu umat terpilih untuk bisa menunjukkan kasih sayangku dalam cara yang diamanahkan Nabiku. Aku sungguh berharap pada usaha dan masa depan yang sedang aku ciptakan, aku berharap dalam bebrapa hari dan minggu ke depan aku bisa memutuskan akan menjadi apa diriku kelak.

Saat ini langkah itu semakin baik, tapi aku ingin melompat tinggi dan menjangkau mimpi yang masih tergantung di awang sana. Aku memang mengharapkan ada keajaiban yang bisa mendorongku melompat, dan aku sedang menciptakan keajaibanku sendiri, dengan bantuan diriku sendiri dan tentu doa tak berhenti.

Aku tak tahu apakah sungguh-sungguh 2013 akan memberikanku harapan lebih baik?, dengan seluruh upaya yang sedang aku coba?. hatiku selalu bilang aku pati bisa, dan aku cuma punya waktu sembilan bulan. itu saja.

New Year, optimistic and pessimistic!
by hans-acehdigest

I do not know if the new year is still important to me?, Whenever there is optimistic and pessimistic at the same time, hope and slowly drove into meaningless. But for this year, the hardest of my life, because of the hope and fight each other to walk through, I'm running into is always lagging behind. But I found a new challenge in the biggest fight of my life, turned into himself, the king of my own.

It's time has taught so many things, that I never realized long ago. but it is never too late to be better, I'm definitely in the water snake prudent and challenges. I will try all my efforts to succeed. I bet all my pride that I put myself in the future themselves, not for me, but for my wife and my children who I love very. For them the pleasure of God I fought.

I only have 9 months from now to be able to determine what my future will be. I hope the magic of my hard work, relentless kupanjatkan prayer to God who gives all the strengths and weaknesses, and see if I become a people that choice could show my affection in a manner mandated by the Prophets. I really wish the business and the future of what I'm creating, I'm hoping in the next and weeks miraculous day I can decide what I am going to be someday.

At this step it is getting better, but I wanted to jump higher and reach the dream that is still hanging in there in the sky. I really expecting any miracle can push me jump, and I'm create my miracle own, with the help of myself and would not stop praying.

I do not know if sincerely hope 2013 will give me better?, With all the effort I was trying?. my heart always told me I could starch, and I only have nine months. that's it.

Kamis, 27 Desember 2012

Aku dan Ibuku; me and my mom

Aku selalu merindukan waktu untuk bisa menuliskan banyak hal tentang ibuku, sosok yang selalu kukagumi dalam hati dan raganya. Ibuku berhati baja, namun juga lembut, aku mengaggumi luar biasa. Aku pernah melalui hari-hari dan waktu yang panjang dengan ibuku, meskipun kemudian jarak dan waktu memisahkan raga tapi bukan hatiku.

Jika aku boleh meminta aku ingin menyayangi selalu, membalas kasih sayang yang tak pernah bisa kubalas, tapi setidaknya harapan dan mimpi untuk membahagiakannya adalah salah satu harapan terbaikku.

Aku pernah merasakan suka dan duka yang mendalam ketika bersama dalam ruang dan waktu. Merasakan hangatnya air mata yang menetes setiap kali kesedihannya tertumpah dari tuturannya. Jatuh di pipiku yang sedang memandangnya dari bawah dagunya, sambil bertanya-tanya sebesar dan sesedih apa sesungguhnya hatinya. Dan betapa takjubnya aku mendapati bahwa dalam kesedihan yang dalam aku masih mendapatkan kasih sayang yang tiada taranya.

Sungguh benar, bahwa kasih sayang ibu seperti udara yang tak tergantikan, sinar matahari pagi yang menghangatkan. Aku selalu merindukan saat-saat itu, bersepeda berdua, berjalan-jalan berdua menyusuri malam di pinggiran kota tanpa tujuan apa-apa kecuali saling berbagi rasa, hati dan kegundahan, agar jatuh terlepas dari dalam hati yang berat.

Aku memang tak bisa mengulang waktu dan memberinya jalan terbaik, tapi setidaknya sebagai teman, dan anak yang selalu dekat aku bangga bisa membagi waktu dan ruang agar dapat merasakan kesedihannya yang dalam dan bisa sedikit meluruhkannya. Aku menjadi orang paling beruntung dan bahagia ketika bisa melihat senyum mengembang di wajah ibuku, mungkin bisa jadi itu karena aku, jika iya betapa bahagianya, di masa kecilku yang tak panjang bersamanya aku bisa memberikannya kenangan dan bisa menyimpan kenangan bersamanya.

Aku pernah berharap bisa mengulang waktu, bertemu dengan ibuku, menemaninya sepanjang yang aku bisa, memberinya apa saja yang bisa kubagi dan kupersembahkan untuk membuatnya bahagia dan tersenyum. Meskipun itu hanya mimpi tapi aku bahagia karena sebagian mimpiku itu pernah terwujudkan.

Hari ini aku menyadari bahwa aku ternyata belum sungguh-sungguh bisa membuatnya bangga, kecuali ketika seluruh pilihan hidupku ternyata adalah salah satu harapan dalam doanya, seorang istri dan seorang ibu yang sangat baik bagi anak-anakku. Sesederhana itulah harapan seorang ibu, sebuah kebaikan bagi anak-anaknya adalah kebahagian dalam kehidupannya. Sungguh aku masih ingin terus belajar tentang kecintaan, kasih sayang, berbagai, menggunakan hati untuk menyayangi orang lain, dan sesederhana apapun sebuah kebaikan bisa menjadi harapan bagi orang lain.

Dalam wajah keras ibuku, aku menemukan kasih sayang yang tak terbalas, kasih sayang ibu yang tak bisa kuukur dengan apapun untuk membalasnya. Pada waktunya aku menyadari bahwa ibuku adalah orang terbaik yang aku punya dalam hidupku, pun hingga sekarang, ketika kita dewasa dan berharap untuk menyayanginya ternyata kita justru selalu mendapatkan limpahan kasih sayangnya. Ternyata kita dan hati kita tak pernah bisa jauh dari ibu. Sebuah paket sempurna ciptaan Allah, yang didalam tangis dan peluk kasihnya kita mendapatkan kehangatan yang jauh melebihi seribu matahari jumlahnya.

Semogalah Allah selalu menaburkan kasih sayang dan kecintaanNya untuk memberkati para ibu dan ibuku, agar dipenuhi hatinya dengan kebahagiaan setiap detik, setiap menit, setiap jam dan setiap waktu dalam nafas hidupnya. Salam sayang ananda.

Me and My Mom
by hans-acehdigest


I always longed for the time to be able to write a lot about my mother, who always admired figure in your heart and body. My mom take steel, but soft, I admires incredible. I've been through the days and the length of time with my mom, though later time and distance separating the body but not my heart.

If I may ask I always wanted love, affection reply that will never be cleansed, but at least the hopes and dreams for her happy is one of the best hopes.

I never felt a love and deep sorrow when together in space and time. Feel the warmth of the tears that dripped from every grief spilled words. Falling down my face looking at her from under his chin, wondering what the real amount and sad heart. And amazement I found that in a deep sadness I still get the love unequaled.

It's true that a mother's love is irreplaceable, such as air, the warm morning sun. I always miss those moments, cycling together, walk together through the night on the outskirts of the city without any purpose except sharing their feeling, heart and anxiety, to fall in spite of a heavy heart.

I was not able to repeat time and gave him the best, but at least as a friend, and a child who was always near me proud to be able to share time and space in order to feel a deep sadness and can be a bit drop. I became the luckiest and happiest when able to see a smile on her face, maybe it could be because of me, if so very happy, in my childhood that I can not give it with long memories and can store memories with him.

I had hoped to repeat the time, met my mother, with her as long as I can, give what can I shared and I have offered to make him happy and smiling. Although it was just a dream but I'm happy because most of my dream never realized.

Today I realized that I had not yet truly be proud, except when the entire option life turns out is one of hope in prayer, a wife and a mother who was very good for my children. Simple as that's the hope of a mother, a kindness to her children is happiness in life. Indeed, I still want to continue to learn about love, love, share, use the heart to care for others, and no matter how straight a good can be hope for others.

In my mother's stern face, I find unrequited love, a mother's love can not I measure with anything to give in return. In time I realized that my mother was the best I've had in my life, even until now, when we grow up and expect to love it always turns out we get an abundance of affection. Apparently we and our hearts could never far from the capital. A perfect package creation God, in tears and embraced his love for us to get the warmth of a thousand suns were far exceeded in number.

Hopefully God always sow love and love to bless the mothers and mother, so that her heart was filled with happiness every second, every minute, every hour and every time in the breath of life. Love Yours Childs.

Kamis, 20 Desember 2012

Ibuku dan Ketabahan ;Mother and fortitude

Sungguh yang tak pernah bisa kubayangkan adalah ketabahan ibuku, aku tak bisa dengan pasti memilih kata apa yang tepat untuk menggambarkan ketabahannya. Mungkin bagi banyak orang tak ada yang bisa sebaik ibuku, mungkin banyak hal yang dipertimbangkannya sehingga beliau menjadi begitu kuat. Mungkin juga ada harapan di hati kecilnya bahwa semua hal yang sedang terjadi adalah cuma mimpi dan tak sungguh-sungguh sedang terjadi padahal sedang dirasakan dan dialaminya langsung.

Menurut yang bisa kuingat, dari cerita ibukku, ketika adikku yang ketiga lahir dan ayahku harus meninggalkan ibuku untuk "sekolah" dan kemudian aku ketahui menjadi perjumpaannya yang terakhir karena "perpisahan" yang tak kuketahui alasannya. Aku tak bisa bayangkan bagaimana perasaanya, sendiri, tanpa teman kecuali ketiga anak yang pastinya juga sangat merepotkan, karena masih kecil. rumah juga sebenarnya tak nyaman betul karena kondisinya yang sederhana dan serba kekurangan. Aku bayangkan tak ada satupun hal yang bisa diharapkan dari rumah dan kemungkinan masa depannya, kecuali kekuatan dan ketabahan dari ibuku demi ketiga anak laki-lakinya.

Tapi dengan semua beban itu ibuku masih mengangkatkan koper-kopernya ke becak yang juga diusahakan dicarinya untuk mengantarkan suaminya berangkat jauh. Hari masih gelap, karena baru usai subuh, bahkan menurut kisah yang lain ibuku bahkan mengantarkan ayahku ke stasiun untuk perjumpaannya yang terakhir. Aku tak pernah bisa membayangkan bagaimana kesedihan, suasana hati dan pikiran ibuku. Apakah sungguh-sungguh akan bisa hidup dengan ketiga anaknya?, bagiku karena ibuku sebaik malaikat semuanya bisa dilaluinya dengan hati yang keras atau dipaksakan agar keras menghadapi cobaan.

Aku bayangkan seandainya aku besar ketika itu, aku akan membantunya dengan apapun yang aku bisa, sayangnya ketika itu aku kecil dan aku justru yang mengganggu pikiran karena tingkah lakuku yang belum memahami bagaimana hidup getir yang sedang berlaku. Begitupun aku mengalami kisah sedih dan dapat merasakannya, makan sebungkus bersama, membeli susu sapi segar untuk menjaga adik-adik tetap sehat dan banyak hal yang dilakukan ibuku agar membuat kami tetap membuatnya bahagia dan sehat.

Menurutku itu adalah saat yang paling menggetarkan dari seluruh kisah ibuku karena dihari-hari sesudahnya kami menghadapi banyak kisah dan rasa yang sulit kami harapkan bisa kami ingat dengan baik, bahkan jika bisa kami lupakan dan buang jauh. Tapi itulah masa lalu, tempat dimana kita pernah berpijak, sehingga kita bisa terus melangkah menciptakan hari-hari baru satu demi satu hingga kita sampai di masa depan yang sungguh sangat berbeda.

My mother and fortitude
by hans-acehdigest

It could never imagine was grit my mother, I can not exactly choose what the right words to describe perseverance. Perhaps for many people there's nothing can be as good mother, maybe a lot of things into consideration that he is so strong. There may also be hope in his heart that everything that is happening is just a dream and not actually happening when being felt and experienced directly.

According as I can remember, from the story ibukku, when the third sister was born and my father had left my mother for a "school" and then I know to be the last encounter as "farewell" I did not know why. I can not imagine how her feelings, alone, with no friends except the three children must also be very troublesome, because it is still small. the uncomfortable truth is also true because the condition is simple and underprivileged. I imagine there was no single thing that can be expected from the home and possible future, but the strength and fortitude of the mother for the sake of three sons.

But with all that she still mengangkatkan load his luggage into the rickshaw which also attempted to deliver her husband left looking away. It was still dark, as new after dawn, even according to another story that my mom even drove my father to the station for the last encounter. I never could imagine how sadness, mood and thoughts of my mother. Was this really going to be able to live with her three children?, As an angel to me because my mom has taken to heart everything can be harsh or forced to be hard to face trial.

I imagine if I was big at the time, I'll help with whatever I can, unfortunately, but I was small, and it bothers her because of the behavior of children who do not understand how bitter life is valid. Likewise I had a sad story and can feel it, eat a pack together, buy fresh milk for guard brothers stay healthy and a lot of things my mother did to make us keep him happy and healthy.

I think it was the most thrilling moment of the whole story of her early days afterward because we face many difficult stories and flavors that we hope we can remember it well, even if we could forget and throw away. But that's the past, the place where we never rests, so that we can continue to step creates a new day one by one until we get to the future that it is very different