Label

10 tahun tsunami. (1) 2013 (1) acehku (1) Adikku. (1) Aku (4) Among-among (1) Anak-anak (1) Anak-Anak Dikutuk (1) Angka ajaib (1) aqiqahku (1) Ayahku (1) babak baru (1) bakso (1) Barzanji (1) batu cincin (1) belimbing (1) Belut Loch Ness (1) Belut Sawah; Mancing Belut (1) Bibiku (2) bioskop misbar (1) birtdhday party (1) bisnis keluarga (1) busur dan panah (1) capung (1) Celengan bambu (1) China's Neighbords (1) Cibugel 1979 (1) Cibugel Sumedang (2) cinta bunda (1) cracker (1) Curek; Inflammation (1) Dapur nenek (1) dejavu (1) Dian Kurung (1) distant relatives (1) Dremolem Or Dream Of Land (1) es dogger (1) es goyang (1) es serut (1) Fried Sticky Rice (1) Gadis Kecil (1) gambar desain (1) gambarku (1) Gandrung Mangu (2) golek;nugget cassava (1) harmonika kecilku (1) Ibuku (11) Ibuku Atau Kakakku? (1) Ikan (2) ikan dan ular (1) iseng (1) jalan kolopaking (2) Jalan Kusuma (2) jangkrik Jaribang Jaliteng (1) Jenang Candil (1) jogging (1) Juadah (1) Juz Amma (1) kakek dan nenek (3) kakekku (3) kecelakaan fatal (2) kelahiranku (1) Kelas Terakhir; the last class (1) kenangan (1) Kerupuk Legendar (1) kilang padi (1) Klapertart Cake (1) kolam ikan masjid (1) koleksi stiker (1) koleksi unik (1) koplak dokar dan colt (1) kota kecil dan rumahku (1) Kue tape (1) Kutawinangun (1) Lanting (1) little cards (1) Loteng rumah (1) lotere (1) lottery (1) mainan anak-umbul (1) makan (1) makkah (1) Malam Jum'at (1) Mancing Belut (1) masa kecil (9) masa kecil. (1) masa lalu (2) masjid kolopaking (1) meatballs (1) Mengaji (1) Minum Dawet (1) morning walk (1) my (1) my birth (1) my first notes (6) my mom (4) my note (25) Nama ibuku (1) Nenek Sumedang (1) new round (1) new year (2) others notes (1) ours home (1) padi sawah wetan (2) pande besi (1) Papan Tulis (1) Pasar dan Ibuku (1) Penculik dan Bruk (1) Pencuri (1) Perjalanan 25 Tahun Bag. Pertama (1) personal (1) Puasa (1) radio transistor (1) Roti dan Meriam Kauman (1) Rumah Ban (1) Rumah Kakek dan Nenek (5) rumah karang sari (1) rumah kecil di pojok jalan (4) rumah kelinci (1) rumah kutawinangun (1) Rumah Pojok (1) rumahku (1) Sarapan Apa Sahur? (1) saudara jauh (1) sawah utara (1) sawah wetan (2) SD Kebumen (1) Sepeda dan Meteor (1) shake es (1) shalat jamaah (1) sintren (1) Starfruit for Mom (1) Stasiun Kereta Api (2) Sumedang 1979 (1) Sungai Lukulo. (1) tahun awal (17) tahun baru (1) Taman Kanak-kanak (1) Tampomas I (1) tanteku (2) Tetangga Cina (1) The magic Number (1) tradisional (1) tsunami 2014 (1) Visionary grandpa (1) Wayang Titi (1)

Selasa, 03 April 2012

Sintren, Magic Dancers

Pernah sekali waktu datang rombongan para penari sintren ini ke depan rumah nenek di gandrung mangu. Aku tak ingat dengan pasti bagaimana awal mulanya aku menjadi begitu penakut dengan jenis tari ini. Bisa jadi karena hampir setiap kali aku dijejali dengan kisah yang tak masuk akal termasuk semuanya yang berbau hantu, akibatnya aku menjadi trauma setiap kali mendengar bunyi-bunyian yang menandai para penari sedang melintas di depan rumah ke tempat pementasan.

Kabarnya para penari memang akan kerasukan, dan berlaku seolah-olah menjadi kuat dan bertingkah aneh. Aku pernah memaksa diri melihat karena diliputi rasa penasaran yang meluap, para penari yang tadinya cantik, kemudian akan dimasukan kedalam sebuah kurungan ayam bertutup kain berwarna merah, kemudian seorang tua membacakan sesuatu mungkin mantra yang konon katanya untuk memanggil arwah,  menurut temanku siapapun yang berjantung lemah dan pikirannya kosong bisa jadi menjadi tempat singgah arwah yang seharusnya masuk ke tubuh penari bisa malah masuk ke tubuh orang lemah tadi, inilah yang kutakutkan. Karena aku merasa lemah hati dengan segala hal terkait hantu makanya aku pikir bisa saja ada arwah iseng masuk ke tubuhku maka bukan para penari yang kesurupan bisa jadi malah aku. membayangkan saja takut, makanya aku tak pernah mendekat kecuali sekali itu.

Begitu kurungan ayam bertutup kain merah itu dibuka, maka tiba-tiba saja para penari dengan mata yang tak terkendali mulai memutar, menari tidak beraturan. Bahkan jika kita memukulnya dengan cemeti mereka biasa saja, malah makin menjadi tariannya, makin aneh gerakan, musik juga makin cepat. Kelihatannya para arwah itu menyukai betul musik jenis itu. Dan ketika aku kemudian kembali ke Kebumen aku sadari aku menjadi pribadi yang begitu shock setiap kali mendengar bunyi-bunyian tetabuhan yang mirip dengan musik pengiring sintren tadi.

Aneh juga kupikir, tapi begitulah. Para penari sintren mengenakan busana berwarna merah, biru atau hijau menyala atau hitam, aku paling benci melihatnya karena belum apa-apa sudah menunjukkan niat bahwa pertunjukkan ini memang mistis adanya. Hal lain yang bisa kuingat dari sintren adalah lucu juga para penari yang cantik mau menarikan jenis tarian yang harus melibatkan arwah orang mati segala. Padahal banyak jenis tarian yang lebih anggun yang bisa dilakukan. Bisa jadi karena memang sudah begitu kenyataannya, barangkali juga memang dengan cara itu satu-satunya ketika itu yang bisa menghasilkan banyak orang, karena bisa memancing rasa penasaran.

Dan pertunjukkan paling fantastis adalah ketika gadis-gadis belia cantik tadi mulai bermain api, memakan pecahan kaca, mengupas kelapa dengan gigi dan kebal dengan berbagai senjata, aku melihatnya hampir seperti Debus, hanya saja ini lebih mistis, karena membawa-bawa nama jin, setan dan arwah.

Ketika itu aku masih belum sekolah, aku masih tinggal dengan nenekku di Gandrung Mangu. Adikku sesekali akan menemuiku di hari libur atau dalam sebulan beberapa kali akan diantar untuk bertemu denganku. Aku menjadi terbiasa dengan suasana di kampung, termasuk dengan jenis kesnian yang aneh tadi. Aku pernah begitu takut, sehingga setiap kali sintren datang aku akan sembunyi dengan cepat, tapi lama-lama aku pikir karena sembunyi sendirian, jangan-jangan arwahnya mungkin akan main denganku tidak dengan orang lain di keramaian. Dan malamnya aku tetap tak bisa lupa dan berpikir arwah itu masih tinggal disekeliling rumah, dihalaman, terutama di tempat sintren tadi dipertunjukkan. hasilnya aku mengurung diri di rumah sampai anak-anak mengaji datang dan kami mengobrol ramai-ramai, sambil sesekali menjahili aku setiap kali aku mendesak untuk duduk di bagian tengah diantara anak-anak mengaji. Mereka akan berhamburan dan kemudian berebut menempati kursi semula dan posisi aku jadi tidak jelas mau duduk dimana karena sudah dipenuhi oleh mereka, setiap kali aku mendesak duduk di bagian tengah, setiap kali mereka akan berhamburan begitu seharusnya, barulah ketika aku mulai merengek dan menangis  mereka ketakutan, apalagi nenek sudah mulai turun tangan.

Magic Dancers
by hans-acehdigest

Once the time comes this troupe of dancers sintren forward infatuated grandmother in Mangu. I do not remember exactly how it started I was so scared by this kind of dance. It could be because almost every story kai I'm overwhelmed by the absurdity of including everything that smells of ghosts, as a result I became traumatized every time I hear the sounds that mark the dancers crossing in front of the house to the staging.

Reportedly the dancers would indeed possessed, and applies as if a strong and acting strangely. I've forced myself to see because it was filled with an overwhelming curiosity, the dancers who was beautiful, and then be put into a cage of chicken covered in red cloth, then an old man's mantra might read something that supposedly said to summon the spirits, according to my weak berjantung anyone and an empty mind may become a haven spirit that should go into a dancer's body can actually get into the body of the poor before, this is what I feared. Because I feel weak heart with all things related to ghosts so I think there may be fraudulent entry into my soul it is not trance dancers who may actually be me. Just imagine the fear, so I never approached it except once.

Once a red cloth-covered cage chicken was opened, then suddenly the dancers with an uncontrollable eye began to play, dance irregular. Even if we beat him with whips they used to be, even more into the dance, the odd movement, music and more quickly. Apparently the spirits that love that type of music really. And when I then go back to Kebumen I'm aware I become a person who is so shocked every time I hear the drumming sounds similar to a musical accompaniment sintren earlier.

I thought it odd that, but that's it. Sintren dancers dressed in red, blue or light green or black, I hate to see anything because it has not been demonstrated intention that this show is a mystical presence. The other thing I could think of sintren is funny too beautiful dancers who would dance to this type of dance that must involve all the spirits of the dead. Though many types of dance that can be done more gracefully. It could be because it is so in fact, probably did it that way only when it can produce a lot of people, because it evokes a sense of curiosity.

And the most fantastic performances is when a beautiful young girls had begun to play with fire, eating broken glass, peeling coconuts with his teeth and resistant to a variety of weapons, I see it almost like Debus, only this is more mystical, because it carry the name of the jinn, demons and spirits.

When I was a school yet, I still live with my grandmother in Gandrung Mangu. My brother would occasionally meet on holidays or several times a month will be escorted to meet with me. I became accustomed to the atmosphere in the village, including a strange kind kesnian earlier. I never was so scared, so every time I would hide sintren come quickly, but after a long time I think because of hidden himself, lest his spirit will probably not play with other people in the crowd. And that night I still can not forget and think it's spirit still lives around the house, yard, especially in places sintren was performed. the result I shut myself in the house until the children came and we talked Koran busy, while occasionally menjahili me every time I insisted on sitting in the middle between the children chant. They will be scattered and then vying for seats and the position I was originally obviously not going to sit where because it was full of them, every time I was urged to sit in the middle, they'll jump whenever it should be, then when I started to whine and cry their fears, especially the grandmother had begun to intervene

Rabu, 21 Maret 2012

Adik-adikku dan Aku; My Brothers and Me

Tinggal dengan adikku setelah sekian lama tak ketemu membuatku canggung, sebagai anak paling besar ternyata aku juga mengalami kesulitan untuk segera akrab dengan mereka. Aku memikirkan banyak hal, memikirkan nasib mereka, memikirkan ibuku, memikirkan menjadi apa kami kelak, dan bagaimana seharusnya aku bersikap terhadap ibuku dengan adanya adikku dan jauhnya jarak yang memungkinkan aku bisa ketemu ibuku.

Perasaan bersalah itu terus ada untuk waktu yang lama, sama lamanya dengan waktu kami berpisah. Dan setiap kali mengingat kenakalan, dan ketidak perhatianku kepada adikku aku terus merasa berkecil hati seolah-olah aku juga ikut andil dalam kesalahan itu.

Tapi kemudian, seiring waktu aku terus berusaha menjaga hati, dan aku berusaha membuat harapan-harapan baru untuk membuat semuanya menjadi lebih baik, meskipun kemudian aku menyadari adik-adikku lebih maju dalam soal itu, dan aku tertinggal dibelakang, tapi aku justru merasa bangga.

Keputusan adikku untuk bersekolah jauh dariku dengan harapan dan cita-cita yang tinggi membuatku selalu terharu setiap kali mengingat, karena pada akhirnya aku juga berkorban untuk memuluskan semua itu. Maksudku aku tak pernah menyesali keputusan yang aku ambil itu. Aku justru merasa apa yang sudah kulakukan sudah benar dan pastinya begitulah Allah membawa takdir nasibku.

My Brothers and Me
by hans-acehdigest

Staying with my brothers could not find it after so long makes me awkward, as most of the kids I was also having trouble to get familiar with them. I think a lot of things, thinking about their fate, thinking of my mother, become what we think of the future, and how should I behave towards my brothers and my mother with a distance that allows me to meet my mother.

Guilt that continues to exist for a long time, as long a time we were apart. And each time given the delinquency, and lack of attention to my brothers I continue to feel discouraged as if I also took part in the mistake.

But then, over time I kept trying to keep the heart, and I'm trying to create new expectations to make things better, though later I realized my brothers are more advanced in that, and I lagged behind, but I just feel proud.

My brother's decision to attend school away from me with hope and high ideals are always thrilled me every time to remember, because in the end I also sacrificed to smooth it all. I mean I never regret the decision that I took it. I just feel what I've done is correct, and certainly that's how God brought my fate destiny

Minggu, 12 Februari 2012

Anak Pertama; The First Boy

Aku memang tak pernah menyadari konsekuensi sebagai anak pertama, kenyataannya ibu dan semua keluarga berharap banyak dengan kehadiranku. Dan barangkali kehadiranku memang menjadi pelipur lara tentu bagi ibu yang telah bersusah payah melahirkan dengan taruhan nyawa, begitupun buat ayahku kehadiran bayi pertama di kelurga menjadi sesuatu yang seru.

Aku tak tahu persis bagaimana kisah masa bayiku, kecuali satu hal aku dilahirkan disebuah dusun kecil di kaki gunung. Mungkin ibuku memahami persis bagaimana seharusnya aku dilahirkan, maksudku di tempat yang sehat, dibantu oleh ahlinya dan berada disana untuk waktu yang agak lama sampai memungkinkan aku dibawa kembali ke rumah.

Kami memang tinggal dipinggiran kota, di tepi jalan yang berseberangan dengan terminal bendi atau dokar pada awalnya yang kemudian beralih fungsi menjadi terminal semacam labi-labi. Barangkali karena alasan itulah ibuku kuatir, udara dan suasana bising kota akan menggangguku, sehingga ibuku memutuskan memilih dusun kecil yang asri begitu menurut ibuku, karena aku sendiri tak pernah tahu dan ingat apakah aku pernah menginjakkan kaki kesana setelah kelahiranku dan setelah aku besar kemudian.

Ibuku hanya menunjukkan, tempatnya dari jauh kearah sebuah gunung besar disebelah utara rumah yang katanya adalah gunung yang dikakinya aku dilahirkan.

Dan sebagai anak pertama aku memang dibiarkan tumbuh bermain mungkin dengan sedikit larangan, sehingga membuatku manja dan nakal, maksudku berlarian didalam rumah, bermain kejalanan, sawah, bermain tak kenal waktu dan terlambat pulang untuk mandi dan mengaji. Begitupun aku tak bodoh, disekolah aku mendapatkan nilai bagus, dengan minat dipenuhi rasa penasaran terhadap banyak hal, terutama tentang sejarah dan pengetahuan umum. Eksakta, meskipun aku tak pernah punya nilai jelek, namun kurang memenuhi minatku, sehingga aku sadari ketika besar aku kurang berminat dengan bidang eksakta itu.

Sebagai anak pertama, aku menjadi tumpuan ibuku, menjadi teman dikala senang susah, dan dalam umurku yang masih belia aku menjadi bagian dari curahan hati ibuku ketika mengalami kesedihan yang teramat besar. Barangkali seperti yang biasa dilakukan oleh orang tua, maksudku seorang ibu, memandangi anaknya ketika tidur menjadi kebahagiaan tersendiri dalam apapun situasi dan kondisi.

Namun aku juga menjadi orang pertama yang mulai memahami kesedihan dan kesusahan keluargaku, berusaha memahami bagaimana ibuku,ayahku dan semua masalah yang melingkupi mereka berdua. Aku meskipun tak paham betul, tapi selalu merasa ada kesedihan yang berat dengan ibuku. Beberapa kali bahkan hampir sering aku diajak ibuku berjalan berdua, mengunjungi teman baiknya, bercerita panjang lebar tentang keluarga, yang tak aku pahami, menangis, berkeluh kesah, dan aku seringkali juga menjadi pendengar yang baik.

Tapi setidaknya aku telah membantu ibuku, mengurangi kesedihan setelah bercerita denganku tentang banyak hal yang menyesakkan hatinya, karena itu yang bisa kulakukan, menemaninya, mendengarkan apapun kesedihannya.

The First Boy
by hans@acehdigest 

I was never aware of the consequences as the first child, mother and all the family in fact expect a lot with my presence. And perhaps my presence was a solace of course for mothers who have given birth pains for her life, as did my dad make a baby's first families to be something exciting. 

I do not know exactly how the story of me when I am baby, but one thing I was born at the small hamlet at the foot of the mountain. Maybe mom understands exactly how I should have been born, I mean in a healthy place, assisted by experts and are there for a long time to allow me brought back to the house. 

We are suburban living, on the edge of the road opposite the terminal gig at first and then converted to a kind of Labi-Labi terminal. Perhaps for that reason my mother worried, air and atmosphere of the city will noise me and my bothers, so my mom decided to choose a beautiful small hamlet so according to my mom, because I never got to know and remember if I ever set foot there after the birth and after I was big then. 

My mom just showed, the place from afar towards a large mountain to the north which she says is a mountain home that I was born at mountain feet. 

And as the first child I was allowed to grow to play maybe with a bit of a ban, so that makes me spoiled and mischievous, I mean running in the house, playing to the road, fields, playing countless hours and late home to shower and study. Likewise I'm not stupid, I get good grades in school, filled with interest the curiosity of many things, especially about history and general knowledge. Exact, even though I never had a bad value, but does not meet my interest, so I realized when I was less concerned with the large area of ​​the exact sciences. 

As the first child, I become the foundation of my mom, be pleased when her friend hard, and I was still young in me to be any part of the outpouring of my mother's heart when subjected to a very great sadness. Perhaps as was done by the parents, I mean a mother, watching her son when sleep becomes its own happiness in any situation and condition. 

But I also became the first to begin to understand the grief and distress of my family, trying to understand how my mother, my father and all the problems that surround them. I even do not understand very well, but always felt there was a heavy sorrow to my mother. Several times I almost asked my mother often walked together, to visit her good friend, talk at length about the family, which I do not understand, crying, complaining, and I often also be a good listener. 

But at least I have helped my mom, reducing distress after the talk with me about many things that stifling her heart, because that's what I can do, with her, listen to any grief.

Sabtu, 04 Februari 2012

Cibugel, Sumedang 1979

Kurang lebih tiga atau empat bulan (sekitar agustus, hingga November atau menjelang akhir tahun 1979), aku tinggal di Cibugel, selama itu aku punya banyak kenangan, karena saat itu sebenarnya menjadi tahun-tahun terakhir aku bertemu dengan ibuku. Mungkin karena sejak awal ayahku tak mau membuatku banyak bertanya-tanya, jadi aku tak pernah dapat penjelasan dan alasan kenapa aku harus berada disana untuk waktu yang lama sebelum akhirnya aku berangkat ke Aceh, karena ayahku mendapat undangan dari Pak Ali Hasmy almarhum untuk menjadi salah seorang dosen di IAIN Ar-Raniry.

Tahun itu juga menjadi tahun kesedihanku yang paling dalam karena pada akhirnya aku menyadari betapa jauhnya aku dengan ibuku, karena aku harus melintasi banyak pulau dan melakukan perjalanan kapal hingga 3 hari 4 malam untuk sampai ke serambi mekkah. Aku tetap merasa sendirian, sekalipun saat itu aku ditemani nenek dari pihak ayahku yang memang punya kedekatan secara personal denganku. Pada akhirnya ketika kemudian nenek juga pulang ke Gandrungmangu aku benar-benar merasa bahwa aku memang dibiarkan sendirian.

Ada perasaan menyesal yang terlambat aku rasakan, terutama ketika apada akhirnya nenek dan kakek juga meninggal dan aku tak juga bisa hadir kesana untuk menjenguknya terakhir kali.

Aku membayangkan betapa berat ibuku menjalani semua kenyataan yang aku rasakan sendiri saja begitu berat, apalagi bagi seorang ibu yang harus kehilangan dan berjauhan dengan anaknya untuk waktu yang tak pernah bisa ditentukan. Kesedihan dan kenyataan itu yang membuatku pada akhirnya menjadi kebal rasa karena keinginan untuk bertemu ibuku yang tak pernah kesampaian.

Bahkan untuk waktu yang sangat lama, barulah kami memiliki cara untuk berkomunikasi melalui surat yang penuh rahasia. Meskipun di awal aku tak menyadari kenyataan betapa rumitnya memulai hubungan melalui surat itu karena persoalan menjaga hati orang lain. Aku juga kemudian menyadari mengapa komunikasi itu lama sekali baru kami lakukan, karena persoalan, barangkali karena aku masih anak-anak susah untuk menjaga rahasia dan berhati-hati, sehingga setelah beranjak dewasa barulah kami, maksudku aku dan ibuku memulai kemunikasi melalui surat tadi.

Cibugel dan Sumedang menjadi catatan sendiri buatku untuk waktu yang sangat panjang, karena sudah menjadi bagian kisah hidupku.

Cibugel, Sumedang 1978
by hans@acehdigest 

Approximately three or four months (about August, and November or the end of 1979), I lived in Cibugel, during which I have many memories, because when it's actually become the last years I met with my mother. Maybe because since the beginning of my father did not want to make many wonder, so I never could the explanation and the reason why I should be there for a long time before I finally went to Aceh, because my father received an invitation from Mr. Ali Hasmy the deceased to be one lecturer at IAIN Ar-Raniry.

That year also became the year's most in my grief because in the end I realized how far I was with my mother, because I have to cross many of the islands and ships to travel up to 3 days 4 nights to get to the porch mecca. I still feel alone, even when I accompanied my grandmother from my father's side who did have a personal closeness with me. In the end, when the then grandmother is also home to Gandrungmangu I really felt that I was alone.

There is a feeling of regret that late I'm feeling, especially when finally grandparents also died and I could also be present there to see him one last time.

I imagine how hard my mother had all the facts alone I feel so heavy, especially for mothers who have lost and far from his son for the time that could never be determined. The sadness and the realization that made me eventually become immune to feeling the desire to meet my mother who was never accomplished.

Even for a very long time, then we have a way to communicate through letters full of secrets. Although in the beginning I did not realize how complex reality to start a relationship through letters because the issue of keeping the hearts of others. I also then realized why communication is so new we do long, because the issue, perhaps because I was a child hard to keep secrets and be careful, so that after growing up before us, I mean me and my mother had started communication by mail.

Sumedang Cibugel and became its own record for me for a very long time, because it has become part of my life.

Rabu, 01 Februari 2012

Nama Ibuku; My Mom Name

Kata orang-orang aku punya kebiasaan aneh dengan cara aku memanggil ibuku, dengan panggilan "kakak", meskipun sebenarnya itu hanya ulah anak kecil yang suka meniru kebiasaan orang lain memanggil ibuku, sehingga selalu terbawa menjadi kebiasaan "anehku".

Orang memanggil nama ibuku dengan Siti Maryam, ibuku memiliki wajah sedikit keras, dengan senyum yang hangat. Aku tahu ibuku sangat mencintai aku dan adik-adikku, meskipun terkadang tak sabaran melihat ulah nakalku, dan sesekali berlaku keras.

Aku selalu membayangkan ibuku, dengan jilbab putih ketika sekolah dulu di PGAN Wanayasa, berambut ikal yang biasanya diikat begitu saja dengan sederhana, dan jarang membiarkannya terurai, kecuali sesekali karena akan membuatnya susah bergerak. Karena ibuku selalu bekerja, tak pernah berhenti, ada saja yang dilakukan dirumah, setiap kali ada waktu luang.

Tapi kemudian, ketika aku besar, ibuku selalu menyebutkan namanya dengan Siti Halimah, aku tak tahu kenapa nama itu berubah?, atau memang itulah nama ibuku yang sebenarnya dan apa yang kudengar dan kuingat sejak kecil, itu hanya nama kecil atau nama panggilan lainnya. Meskipun menurutku kedua nama itu punya arti yang baik. Hanya saja nama ibuku yang kudengar waktu kecil, selalu memiliki kenangan tersendiri. Jadi dengan berubahnya nama barangkali begitulah nasib juga berubah, meskipun kemudian ibu jauh dari aku, juga tinggal di tempat yang sangat jauh, tapi kehidupannya kemudian menjadi lebih baik. Ibuku menjadi pribadi yang lebih lincah dan bersemangat, dengan kasih sayang kepadaku dan adik-adikku yang bertambah besar.

Jadi aku pikir tak ada salahnya, jika orang mengganti nama, seperti juga nama adikku yang sewaktu kecil pernah berganti namanya. Karena alasan orang tua, nama juga bisa memberatkan pemiliknya. Maksudnya, anak dengan tubuh yang lemah dan kurang kuat jika punya nama dengan arti yang berat akan membuatnya bisa mudah jatuh sakit. Apakah keduanya ada kaitan persisnya aku tak tahu,  bisa jadi itu benar atau hanya mitos para orang tua. Tapi kata ibuku, sejak adikku berganti nama, kesehatannya cenderung membaik, padahal hanya mengganti huruf terakhir namanya dari "huruf Q, menjadi huruf K", hanya itu dan kemudian adikku menjadi lebih sehat?. Alangkah luar biasanya!.

Tapi barangkali ada kearifan dibalik nama orang, sehingga orang tuaku juga berkeyakinan begitu, atau ada semacam sugesti, ketika nama diganti pasti akan ada perubahan meski sekecil apapun.

My Mom Name
by hans@acehdigest

People say I have a strange habit in a way I'm calling my mother, with the call "sister", even though it only caused a small child who likes to imitate the habits of other people calling my mother, so it is always carried into the habit of "my strange".

People calling her name by Siti Maryam, she has the face of a little hard, with a warm smile. I know my mother loves me and my sisters, though sometimes impatient to see my naughty act, and occasionally harsh effect. 


I always imagined my mom, with a white veil when the first school in PGAN Wanayasa, curly hair usually tied it with a simple, and rarely let it loose, but once in a while because it will make it hard to move. Because my mother always worked, never stops, there is only done at home, whenever there is spare time.

But then, when I'm older, my mother always gave her name with Siti Halimah, I do not know why the name was changed?, Or indeed that was the name my mother's real and what I heard and remember from childhood, it's just a name or other nickname. Although I think the two names that have a good meaning. It's just that I heard my mother's name as a child, always have special memories. So by changing the name of fate perhaps that's also changed, although later mom away from me, also lived in a place very far away, but her life became better. My mom become more lively and vibrant, with affection to me and my brothers are getting bigger.

So I think there's nothing wrong, if people change the name, as well as the name of my brother as a child had changed his name. For this reason the parents, the name can also be burdensome owners. That is why children with a body that is weak and less powerful if it had a name with meaning that the weight will make could easily fall ill. Are both there is a connection I do not know exactly, it could be true or just myth parents. But my mother said, since my brother changed the name, their health tends to improve, but just replace the last letter of the name "the letter Q, the letter K", just that and then my brother become healthier?. How wonderful!.

But perhaps there is wisdom behind the name of the person, so my parents also believe that, or any kind of suggestion, when the name changed there would be a change in the slightest though.

Sulap Angka; The Magic Numbers

Sewaktu SD kelas satu, aku punya lima lembar kartu berisi angka-angka yang diacak, kartu itu aku buat sendiri, maksudku dengan menconteknya dari teman yang punya kartu aslinya. Dengan lima lembar kartu tadi aku bisa menjawab, angka yang telah dipilih oleh temanku, tanpa perlu menyebutkannya kepadaku, cukup dengan mengingatnya dalam hati. Aku dan teman-temanku menyebutnya "angka pintar" atau sulap angka.

Aku luar biasa takjub dengan permainan sederhana tadi, ajaibnya menurutku karena ada orang yang dapat menciptakan permainan anak-anak yang membuat kita jadi seperti orang pintar.

Kata ibuku, aku memang suka belajar, rajin membuat catatan pelajaran terutama sains, dan aku juga selalu mendapat rangking bagus disekolah. Jadi minatku untuk soal-soal angka juga tinggi, makanya aku menyukai permainan sulap sederhana yang ajaib tadi. Sayangnya aku tak menyimpan lembar kertas itu, karena seperti juga permainan lain, ada saatnya kami mengganti dengan mainan baru dan mainan lama hilang begitu saja. Tapi aku masih mencoba mencarinya, siapa tahu aku bisa mendapatkan kembali.

Cara bermainnya sederhana, karena cukup menunjukkan kelima lembar kartu kepada teman yang telah memilih angka, dan menanyakan apakah angka yang telah dipilihnya ada disetiap lembar tadi jika ada aku akan menjumlahkan atau cukup melihatnya, di bagian ini aku betul-betul tak bisa mengingatnya lagi. Tapi begitulah, dengan tiba-tiba aku bisa menyebutkan angka yang dimaksud temanku tadi. Dan reaksi teman-teman biasanya terheran-heran, bagaimana bisa, kertas dengan angka acak bisa mengarahkan pikiran manusia kepada sebuah kesimpulan?. Luar biasa!.

The Magic Numbers?
by hans@acehdigest 

While elementary class, I have five pieces of cards containing the numbers who were randomized, the card I made ​​for myself, I mean with imitate from friends who have the original card. With five sheets of cards before I could answer, a figure that has been chosen by my friend, without the need to mention it to me, enough with it by heart. Me and my friends call it "smart number" or the magic numbers.

I was amazed by the incredible simple game was, miraculously I think because there are people who can create a children's game that makes us look like smart people. 

Said my mom, I really love learning, diligently taking notes, especially science lessons, and I also always get a good ranking in school. So my interest for problems numbers are also high, so I liked the simple legerdemain magic earlier. Unfortunately I did not save the sheet of paper, because as well as other games, there are times when we replace with new toys and old toys or games just disappear. But I still tried to find its, maybe I could get back. 

How to play simple, because it just shows the five pieces of card to friends who have chosen a number, and ask if there are numbers that have been chosen in each sheet was if there is I would add, or enough to see, in this part I really can not remember anymore. But that's it, with a sudden I could recite the numbers in question had been my friend. And reactions of friends are usually surprised, how could, the paper with random numbers can direct the human mind to a conclusion?. Fabulous!.

Senin, 30 Januari 2012

Belut Sawah; Paddies Eel Fishing

Bagi anak-anak yang tinggal dipinggiran kota seperti aku, sawah dan belut adalah bagian dari permainan. Begitulah, mencari belut di pematang sawah aku lakukan setiap kali di musim awal tanam padi, meskipun sebenarnya ini cuma pekerjaan iseng sambil menunggu saat panen tiba.

Diantara kami semua yang tak begitu bergembira ketika musim belut tiba adalah ibuku. Ibuku orang yang agak geli dengan belut, meski aku membawa pulang banyak belut sekalipun, beliau tak begitu senang, apalagi kalau belutnya kecil-kecil, karena susah membersihkannya. Kalaupun senang barangkali cuma untuk menghargai pengorbananku yang sudah bersusah payah menangkapnya. Bahkan jika hari minggu, mulai dari pagi sampai sore aku akan menghilang dari rumah, barulah menjelang maghrib aku pulang dengan jinjingan belut yang kami "sudat" dengan tali rumput atau jerami yang kami buat untuk menggantung kumpulan belut yang kami tangkap. Kebiasaan ini pula yang membuat aku juga sering telat pergi mengaji ke mesjid atau ke rumah haji Rohmat di sebelah rumah.

Padahal kalau cuma mau mencicipi rasa belut, asinan belut atau belut goreng banyak dijual orang, tak perlu bersusah payah bermain lumpur. Tapi beda rasanya kalau menangkap sendiri, selain bisa main lumpur, menarik belut saat mancing adalah saat paling seru dan mendebarkan, bahkan bisa dapat bonus jatuh kedalam sawah dan dikejar-kejar pemiliknya. Untuk yang satu ini ibuku juga cukup cerewet menasehati, bisa jadi karena takut dengan para pemilik sawah yang mengejar kami atau kemarahan para pemilik sawah disampaikan langsung ke ibu dan bukan ke kami langsung. Jadi ibu yang tak tahu apa-apa dengan urusan sawah dan belut tiba-tiba di omeli orang karena anaknya yang jahil di sawah orang. Bahkan di waktu-waktu tertentu, ibu akan mencari kami langsung kesawah di belakang rumah dan ibuku akan memanggil kami pulang, dengan alasan untuk makan siang, padahal kalau sudah sampai dirumah maka semua kail kami akan disitanya, sehingga kami tak lagi bisa kembali memancing dan jika tetap nekat juga pergi lagi, maka aku hanya akan menjadi penonton orang mancing dan penggembira sewaktu mereka dikejar pemilik sawah.

Memancing belut buatku tak susah karena sejak kecil, sudah terbiasa melihat orang-orang memancing, kecuali cara membuat kailnya dengan benar yang tak pernah bisa aku lakukan, tapi bisa dibantu teman-teman lain. Biasanya dimulai dengan "mengintai" belut, dengan mencari lubang di pinggir sawah, melihat gelembung udara di lubang. Jika sudah dapat, tinggal memasukkan kail khusus, kail dengan mata kail dan senar sepanjang tigapuluh senti yang dipilin dua lapis dan diujungnya ditambah dengan tangkai kayu untuk memegang senar agar jangan licin. Karena selain licin, tali juga akan dililitkan di tangan waktu menarik belut keluar, karena perlawanan belut lumayan keras sebelum betul-betul keluar dari air.

Aku suka mencarinya di daerah Wanayasa daripada Karang Sari yang jauh, karena selain sawahnya lebih luas dan dekat rumah, pada waktu pagi biasanya sawah Wanayasa lebih ramai. Tapi harus hati-hati, karena ada pemilik sawah yang tak suka pematang sawahnya diinjak atau dilewati, karena kalau sering dilewati apalagi ramai orang, pematang bisa longsor dan gugur sehingga petani harus membuatnya ulang atau pematang jebol dan air dari sawahnya akan masuk ke sawah orang. Karena menanam padi ada aturannya, jumlah air, tinggi air, waktu air masuk dan dibagikan ke semua sawah juga tidak tiap hari, apalagi yang punya sawah di tengah, harus minta izin mengalirkan air melalui sawah orang yang dekat dengan irigasi dan begitu sudah cukup harus ditutup kembali pematang-pematangnya, rumit juga kan. Jadi menurut aku wajar kalau ada petani yang ngamuk gara-gara ulah aku dan teman-teman yang tak sengaja merusak pematang, karena mengorek sarang belut atau berlarian beramai-ramai di atas pematang yang sempit, bahkan kadang-kadang kami tak sengaja jatuh kedalam sawah karena tak hati-hati atau bermain-main.

Karena ulang iseng kami, biasanya kami dikejar oleh pemilik sawah sambil mengancam dengan parangnya, padahal mereka cuma bermaksud menakuti. Ada juga pemilik sawah yang iseng, menunggu kami dengan bersembunyi di sawah "daerah terlarang", begitu kami mendekat pak tani itu akan bangun dan berteriak menakuti kami. Aku dan teman-teman yang kaget akan berhamburan tak jelas arah larinya, yang tak sabar dibelakang menunggu temannya yang tak bisa lari cepat akan memotong jalan dengan melewati sawah. Akibatnya anak-anak padi terinjak. Dan jika kami tertangkap, hukumannya adalah mencabuti rumput yang ada di sawahnya atau membetulkan pematang dan mengganti dengan tanaman baru anak-anak padi yang terinjak, pekerjaan ini menjengkelkan karena bisa seharian, sambil ditunggui pemiliknya yang mondar-mandir dengan parangnya. Jika sedang sial begitulah, niat memancing belut menjadi acara menanam padi di sawah orang. Meskipun beberapa kali kami berusaha kabur, menunggu pemiliknya lengah. Tapi di lain hari kami harus betul-betul hati-hati jika berpapasan di jalan dan mereka mengenali wajah kami, tetap saja kami akan kena "semprot" dengan makian.

Begitulah belut menjadi ritual bagi aku dan anak-anak lain di daerahku, meskipun kami tinggal dipinggiran kota yang setiap harinya bermain di pinggir jalan besar, dengan deretan toko disepanjang jalan Kusuma, tapi kami masih punya tanah sawah luas membentang hingga jauh tak terjangkau mata.Jadi jika bosan dengan satu jenis mainan "kota", kami masih punya pilihan mainan "kampung", mancing belut, membuat rumah dari jerami atau main bola di tanah bekas panen padi dan pulang dengan badan gatal-gatal dan bekas sayatan kecil jerami hampir di sekujur badan, tapi tetap saja kami tak pernah jera.

Paddies Eel Fishing
by hans@acehdigest

For me, children who lives in suburban living, fields and eel is part of the game. Looking for eels in the dike was I doing a routine at the beginning of each season rice planting. Actually this is our job fun, while waiting for harvest time arrived.

Among all of us are not so happy when the season arrives eel is my mother. My mother who is rather amused with eel, although I brought home a lot paddies eel, mom was less happy, moreover if the small eel, because it is difficult to clean. Even if perhaps just happy to appreciate the sacrifice that had bothered me. Even if the day of the week from morning until evening I'll be gone from home, then I went home before maghrib object carried in the hand of our eel "sudat" with grass or straw rope that we made to hang a collection of eels that we capture. This habit also makes me too often late to go to the mosque chanting or Haji Rohmat to the house next door. 

If you just want to taste the flavor of eels, or a menu of fried eels are sold people, need not bother to play in mud. But it's different if you catch yourself, but can play in mud, pulled eel fishing is a time when the most exciting and thrilling, it can even be a bonus falls into the fields and hunted down the owner. For this one is also quite fussy mother advised, it could be because of fear with the owners of the fields in pursuit of us, or anger the owners of rice delivered directly to the mother and not to us directly. So mothers who do not know what to do with the affairs of rice and eel suddenly in scolded people because their children are ignorant people in the rice fields. Even at certain times, the mother will find us directly to the paddies field behind the house and mom asked us would back, arguing for lunch, but when we get home then we'll all hook confiscation, so we no longer can go back fishing and if it remains too desperate to go again, so I will just be a spectator of people fishing and cheerleaders as they chased the owner field. 

Eel fishing was difficult for me because since childhood, been accustomed to see people fishing, except how to make a right hook that never could I do, but can be assisted by other friends. Usually begins with "stalking" eel, by looking for holes in the edge of the field, seeing the air bubbles in the hole. If you have its, just insert a special hook, a hook with hook and string along the thirty inches of twisted two layers and at the end coupled with the wooden handle to hold the strings in order not slippery. Because in addition to slippery rope wrapped around our hands will also attractive eels out of time, because the resistance of eels pretty hard before I really get out of the water. 

I like to look at Wanayasa than Karang Sari because a distant, near from our home and the more vast rice fields and rice paddies in the morning usually become more crowded. But be careful there are owners who do not like rice field dike fields trampled or skipped, as if often bypassed especially busy people, dikes could collapse and fall so that farmers have to make repeated or broken dikes and water from the fields will go into those fields. Because there are rules to plant rice, the amount of water, high water, when water enters and is distributed to all the fields are also not every day, let alone have any rice in the middle, had to ask someone pouring water through the rice fields close to the irrigation and so is enough to be closed re-embankment, it is also complicated. So according to me is normal that there are farmers who go rampage because me and my friends who do not accidentally damage the dike, because the eel's nest scrape or running abuzz over a narrow causeway, sometimes even we do not accidentally fall into the field because not careful or playing around. 

Because of our fun, we usually field while being chased by the owners threatened with machete, when they only meant to scare. There is also the owner of the idle rice fields, waiting for us to hide in the fields "restricted areas", so we approached the farmer would pack up and shout to scare us. Me and my friends are surprised at the direction of flight of scattered incoherently, who waited impatiently behind a friend who could not run fast to cut the road through the rice fields. As a result of rice seedlings. And if we were caught, the penalty is pulling the grass in the fields or correct the causeway and replace with a new crop of rice seedlings, this work is annoying because it can be all day, while their owners attended the pacing with the machete. If you're unlucky so, the intention of fishing eels into the show grow rice in the rice fields. Although we tried to escape several times, waiting for unsuspecting owners. But the other day we should really be careful if you pass on the street and they recognize our faces, still we will be subject to "scolded" with roughly. 

That eel became a ritual for me and other children in the county, although our suburban living that every day playing in the big roadside, with a row of shops along the kusuma road, but we still have vast land of paddy fields stretching far out of reach until the eye. So if you get bored with one type of toy "city", we still have a choice of toys "village", eel fishing, make a house of straw or play ball on the ground marks the rice harvest and returned with the body hives and hay almost small incision in the whole body, but still we never deterrent.