Label

10 tahun tsunami. (1) 2013 (1) acehku (1) Adikku. (1) Aku (4) Among-among (1) Anak-anak (1) Anak-Anak Dikutuk (1) Angka ajaib (1) aqiqahku (1) Ayahku (1) babak baru (1) bakso (1) Barzanji (1) batu cincin (1) belimbing (1) Belut Loch Ness (1) Belut Sawah; Mancing Belut (1) Bibiku (2) bioskop misbar (1) birtdhday party (1) bisnis keluarga (1) busur dan panah (1) capung (1) Celengan bambu (1) China's Neighbords (1) Cibugel 1979 (1) Cibugel Sumedang (2) cinta bunda (1) cracker (1) Curek; Inflammation (1) Dapur nenek (1) dejavu (1) Dian Kurung (1) distant relatives (1) Dremolem Or Dream Of Land (1) es dogger (1) es goyang (1) es serut (1) Fried Sticky Rice (1) Gadis Kecil (1) gambar desain (1) gambarku (1) Gandrung Mangu (2) golek;nugget cassava (1) harmonika kecilku (1) Ibuku (11) Ibuku Atau Kakakku? (1) Ikan (2) ikan dan ular (1) iseng (1) jalan kolopaking (2) Jalan Kusuma (2) jangkrik Jaribang Jaliteng (1) Jenang Candil (1) jogging (1) Juadah (1) Juz Amma (1) kakek dan nenek (3) kakekku (3) kecelakaan fatal (2) kelahiranku (1) Kelas Terakhir; the last class (1) kenangan (1) Kerupuk Legendar (1) kilang padi (1) Klapertart Cake (1) kolam ikan masjid (1) koleksi stiker (1) koleksi unik (1) koplak dokar dan colt (1) kota kecil dan rumahku (1) Kue tape (1) Kutawinangun (1) Lanting (1) little cards (1) Loteng rumah (1) lotere (1) lottery (1) mainan anak-umbul (1) makan (1) makkah (1) Malam Jum'at (1) Mancing Belut (1) masa kecil (9) masa kecil. (1) masa lalu (2) masjid kolopaking (1) meatballs (1) Mengaji (1) Minum Dawet (1) morning walk (1) my (1) my birth (1) my first notes (6) my mom (4) my note (25) Nama ibuku (1) Nenek Sumedang (1) new round (1) new year (2) others notes (1) ours home (1) padi sawah wetan (2) pande besi (1) Papan Tulis (1) Pasar dan Ibuku (1) Penculik dan Bruk (1) Pencuri (1) Perjalanan 25 Tahun Bag. Pertama (1) personal (1) Puasa (1) radio transistor (1) Roti dan Meriam Kauman (1) Rumah Ban (1) Rumah Kakek dan Nenek (5) rumah karang sari (1) rumah kecil di pojok jalan (4) rumah kelinci (1) rumah kutawinangun (1) Rumah Pojok (1) rumahku (1) Sarapan Apa Sahur? (1) saudara jauh (1) sawah utara (1) sawah wetan (2) SD Kebumen (1) Sepeda dan Meteor (1) shake es (1) shalat jamaah (1) sintren (1) Starfruit for Mom (1) Stasiun Kereta Api (2) Sumedang 1979 (1) Sungai Lukulo. (1) tahun awal (17) tahun baru (1) Taman Kanak-kanak (1) Tampomas I (1) tanteku (2) Tetangga Cina (1) The magic Number (1) tradisional (1) tsunami 2014 (1) Visionary grandpa (1) Wayang Titi (1)

Kamis, 29 Desember 2011

Wayang Titi; Puppets Titi

Panggung wayang ini berukuran kecil, mungkin sekitar satu meteran, dengan hiasan berupa panggung warna-warni. Pemain wayang berdiri di tengah dengan kedua tanga memegang berbagai jenis tokoh yang sedang dimainkan. Boneka dimainkan berjalan dari pinggir ke tengah panggung lalu berputar dan muncul lagi dengan plot cerita yang terus berganti-ganti. 

Anak-anak duduk setengah lingkaran di depan panggung, dengan kepala mendongak ke atas, dengan wajah antusias menunggu lakon apa yang sedang dimainkan. Biasanya cerita berkisar pada sesuatu yang lucu tapi juga memberi banyak pelajaran seperti kisah maling kundang dengan dibumbui kejadian konyol dan lucu ala anak-anak. Sebenarnya wayang titi ini miniatur dari wayang golek, hanya saja boneka yang digunakannya benar-benar mirip bentuk manusia, yang terbuat dari kain, ada yang seperti putri dan pangeran .

Aku tak tahu bagaimana pemain wayang menarik tarifnya, apakah anak-anak diminta membayarnya diawal baru mereka mainkan wayangnya atau memang baru diminta belakangan dengan bayaran sekedar dan seikhlasnya.

Panggung itu tempatnya terbuka diantara hilir mudik orang belanja, dengan diberi sedikit pagar pembatas, dan karena berada di sudut pasar jadi tak terlalu menganggu orang lewat. Bisa jadi wayang ini, seperti tempat penitipan anak, sementara orang tua berbelanja anak-anak dibiarkan bermain dengan santai bergembira sambil menunggu ibunya pulang berbelanja. Aku justru sebaliknya,  senang menemani ibuku belanja, sesekali jika melintas  di wayang titi aku akan mengintip sedang bermain lakon apa?. Ibuku biasanya menarikku sambil berbisik, menontonnya lain kali saja, begitu biasanya ibu menasehatiku biar tak lalai.

Wayang titi terakhir aku lihat di tahun 1977 atau 1976 ketika aku berumur 5 atau 6 tahun di kelas nol atau kelas satu, sesudahnya aku tak begitu ingat. Kadangkala aku berusaha keras untuk mengingatnya dan berusaha untuk menggambar sketsanya berharap bisa mengenangnya sedikit tentang kegembiraan dengan cara yang sederhana. Meskipun televisi saat itu sudah mulai dikenal luas,  terutama dengan TVRI-nya tetap saja banyak hiburan tradisional yang menempel lekat pada anak-anak, salah satunya wayang titi itu.

Aku dulu pernah bertanya bagaimana wayang titi itu dimainkan, karena aku melihat selintas seperti, menggunakan magnit pada bagian bawah wayang, yang itu berjalan hilir mudik dari luar ke dalam panggung melalui bagian samping tanpa pernah terangkat, bisa jadi benar mereke menggunakan magnit untuk menjalankan seluruh boneka wayang itu. Pastinya magnitnya harus kuat untuk bisa menggerakan boneka yang imut dan lucu itu. Aku tak ingat apakah wayang itu selalu ada atau hanya ada pada hari tertentu seperti hari pasar, hari ketika para pengunjung dan penjual lebih banyak dari biasanya karen memang sudah disepakati sebagai hari Berbelanja”.

Begitulah, menikmati pasar selalu membawa kegembiraan bagi aku dan juga ibuku dan setiap kali ibu mengajakku ke pasar aku dengan cepat mengiyakan tanpa pernah menolaknya walaupun aku sedang main dengan temanku.


Puppets Titi 
by hans@acehdigest 

This puppet stage is small, probably about one meter, with the ornament of a colorful stage. Puppeteer standing in the middle with both tanga holding various kinds of figures that are being played. Puppet play runs from edge to center stage and then turn around and come back with a story plot that kept changing.

The children sit in front of the stage a half circle, with his head up to the top, with eager faces waiting for the play what is being played. Usually the story revolves around something that is funny but also gives a lot of lessons like the story of Malin Kundang embellished with silly and funny scene kids style. Titi is actually a miniature puppet of the puppet show, it's just a doll he used exactly like the human form, made of cloth, there are like a princess and prince.


I do not know how to draw the charge puppet players, whether the children were asked to pay for a new beginning, or did they play a new puppet was asked just recently paid.


The stage was an open place and forth between the shopping, with a little fence, and because it is located at the corner of the market so not too annoying passers-by.Could be this puppet, such as daycare centers, while parents shop the children allowed to play with a relaxed fun while waiting for his mother's home shopping. I'm just the opposite, happy shopping with my mother, occasionally if passing in titi puppet I will peek at what the play was playing?. My mother usually pulls me in a whisper, other times only to watch it, so typically the mother menasehatiku not let negligent.


Puppet titi I last saw in 1977 or 1976 when I was 5 or 6 years in the zero class or first class, afterwards I do not really remember. Sometimes I try hard to remember it and try to draw a sketch hoping to relive a bit of excitement in a simple manner. Although television was already widely known, especially with his TVRI still many traditional entertainment that sticks closely to the children, one of which titi's puppet.


I was once asked how the puppet titi was played, because I saw a glimpse of such, using a magnet on the bottom of the puppet, who was walking back and forth from outside to inside through the side of the stage without ever lifted, it could be true nominally uses magnets to run the entire doll puppet that. Surely magnets must be strong to be able to move the doll that was cute and funny. I do not remember whether the puppet was always there or only on certain days such as market days, days when the visitors and vendors more than usual karen had been agreed upon as a day of "shopping".


Anyway, enjoy the market always brings joy to me and also my mom and every time my mother took me to the market I quickly said yes without ever reject it even though I'm playing with my friends.

Aku, Pasar dan Ibuku; Me, My Mom and Market

Salah satu cara ibuku menghibur dirinya adalah dengan berbelanja, maksudku bukan menghamburkan uang, tapi berkeliling pasar  membeli beberapa kebutuhan rumah sambil cuci mata.

Ibuku paling bersemangat jika mengajakku berbelanja ke pasar, berkeliling mencari ini itu, meskipun akhirnya kembali juga ke penjual ayam dan ikan pindang. Biasanya aku dibiarkan melihat seisi pasar, salah satu kesukaanku selain melihat “Wayang Titi adalah melihat aksi penjual gelas hias. Mereka langsung membakar gelas-gelas mentah berbentuk batangan, dan membentuknya menurut pesanan para pembelinya. Bisa berbentuk bunga atau bentuk binatang seperti angsa. Mereka bekerja sangat mahir dan cepat, begitu batang-batang kaca melunak ketika dibakar, secepat itulah mereka kemudian membentuknya menjadi bermacam-macam gelas hias.

Aku senang melihat bagaimana para penjahit memainkan mesin jahit tua dengan menghentak-hentak kaki teratur, seperti music. Seingatku, dipasar lama yang banyak mesin jahit duduk. Penjahit tidak duduk diatas kursi tapi hanya duduk di alas kain diatas lantai, dan mesin diputar dengan tangan.

Aku ingat loss pasar itu berbentuk panjang dengan meja kayu untuk menjual dagangan. Ada satu jenis makanan yang rasanya agak sulit untuk aku lukiskan, karena aku ingat samar-samar. Rasanya antara asam manis tapi berbentuk seperti lembaran wafer. Aku biasanya membelinya karena ada hadiah di bagian tengah wafer itu. Hadiahnya bermacam-macam, aku bahkan pernah dapat korek api dari besi. Makanan lain yang masih juga aku ingat adalah permen berbentuk batangan seperti rokok, sehingga kami kadang-kadang bermain-main layaknya orang merokok. Aku juga ingat ibuku juga membelikanku sejenis cendol yang disebut “dawet”, yang dijual dengan dipikul dan di simpan dalam kuali tanah setelah selesai berkeliling pasar.

Hal lain yang kuingat dari kisah ini,  biasanya ibuku paling senang berbelanja ketika bulan puasa, Karena untuk mengibur aku yang sedang belajar berpuasa. Sejak aku ikut belanja itu aku terbiasa melihat detail banyak kejadian, salah satu yang kuingat di tahun itu adalah produk rinso awal dalam kemasan kotak, dengan gambar ibu yang tersenyum riang. Aku meminta ibu membelinya, karena aku berencana menggambar  kotak rinso itu untuk tugas menggambar di sekolah.

Gara-gara aku sering ikut ibuku belanja, aku bisa mengingat bagian-bagian pasar itu, termasuk pintu masuknya yang dipasangi gerbang besar, dan deretan para penjual bermacam-macam barang. Pasar itu juga tembus ke jalan pahlawan di jalur jalan utama sebelah kiri dan bagian kanannya tembus ke jalan kolopaking.

Aku kemudian juga menyadari, bahwa  main ke pasar selalu menyenangkan, karena bisa melihat banyak hal, termasuk juga wajah ibuku yang gembira, dan yang kemudian aku sadari, ketika berjalan-jalan kita menjadi santai dan bisa melupakan macam-macam kejadian dirumah, walaupun sebentar.


Me, My Mom and Market  
by hans@acehdigest 

One of the ways my mother was comforted himself with the shopping, I mean not a waste of money, but around the market to buy some of the needs of home while washing the eyes.

My mother took me most excited when shopping at the market, looking around this and that, although eventually returned to the seller also boiled chicken and fish. Usually I'm allowed to see the rest of the market, one of my favorites in addition to seeing "Puppet Titi" is to see the action seller of ornamental glass. They immediately set fire to a glass-glass-shaped raw bar, and shape it according to the order of the purchaser. Can be shaped flower or animal shapes like geese. They work very adept and quick, so the glass rods softened when burned, that's as fast as they were then shaping it into a variety of decorative glass.


I'm glad to see how the tailors play with the old sewing machine pounding feet regularly, such as music. As I recall, the old market that many sewing machine sits. Tailors do not sit on chairs but just sitting on the floor above the base fabric, and the machine rotated by hand.


I remember the market loss was shaped by a long wooden table to sell merchandise. There is one type of food that tastes a bit difficult for me to describe, because I vaguely remember. Between sweet and sour taste but shaped like a sheet of wafer. I usually buy it because there are prizes at the center of the wafer. Variety of prizes, I could ever even lighter. Other foods that are still well I remember the candy bar shaped like a cigarette, so we sometimes play like people smoking. I also remember my mother also bought me a kind of cendol called "dawet", which sold the bear and stored in the soil after completion of round pot market.


Another thing I remember from this story, usually my mom loves to shop when the fasting month, Due to please me who is learning fast. Since I go shopping I used to see the details of many events, one thing I remember in that year was the beginning Rinso products in the packaging box, with a picture of a smiling mother cheerfully. I asked mom to buy it, because I plan to draw a box Rinso it for tasks such as drawing in school.


Because I often take her shopping, I can remember parts of that market, including pinto fitted the inclusion of a large gate, and rows of vendors sundries. The market was also penetrating into the street hero in the path of the main road to the left and the right side of the road Kolopaking translucent.


I then also realized, that play to the market is always fun, because I could see many things, including my mother's happy face, and then I realized, when we walk into a relaxing and can forget about the various events at home, though briefly.

Rabu, 28 Desember 2011

Sarapan Apa Sahur?; Sahur Too Late!

Menurutku cerita ini lucu, mungkin ibu masih ingat bagaimana kisahnya, kalau ibu membaca tulisanku ini ibu pasti tertawa keras dan terheran-heran kenapa aku masih bisa mengingatnya.  Tapi aku curiga jangan-jangan ibu sebenarnya tahu kalau kami bakal telat sahur tapi tetap saja ibu membiarkan kami sahur supaya kami tetap puasa hari itu.

Ketika itu, kami sudah tinggal di rumah nenek, setelah kami pindah dari rumah pojok yang tak punya dapur itu. Kami menempati kamar yang berbatasan langsung dengan ruang tamu di rumah tengah, kamarnya dekat sumur dan tak jauh dari loteng kakekku. Kamar itu berdinding triplek, dengan jendela dan pintu  yang terhubung langsung dengan ruang tengah yang tembus ke dapur. Kalau aku buka pintunya, aku bisa melihat orang lalu lalang dari semua penjuru, karena kamar kami memang di tempat yang pas, tapi sayangnya juga panas ketika siang hari karena pantulan matahari langsung mengenai dinding kamar.

Cerita ini terjadi ketika aku kelas satu, waktu itu aku masih belajar puasa, kata orang, anak-anak seperti kami boleh berpuasa hanya setengah hari, karena takut tak sanggup puasa penuh, yang dimulai pagi-pagi sekali sampai sore menjelang magrib. Karena itu ibu tak memaksaku untuk berpuasa. 

Ibuku paling bersemangat kalau sudah urusan puasa. Dihari pertama puasa apalagi waktu hendak berbuka biasanya ibu mengajakku ke pasar, berbelanja sedikit keperluan untuk persiapan sahur atau berbuka. Sepulang belanja ibu akan memasak sambil tak berhenti bercerita, ibuku memang riang dan suka bercerita, mungkin ibu juga bermaksud menghibur aku yang mulai kelaparan karena sedang belajar puasa, ibu terus bercerita tak berhenti dan berharap aku mendengar dan tertarik dengan ceritanya dan melupakan lapar puasa. Begitulah ibuku merayu dan menghiburku untukterus bertahan dengan puasa. Ketika menjelang berbuka ibu akan mengajak kami duduk di depan rumah menunggu meriam dan sirene berbunyi.  Ketika meriam berdentum diudara dan mengeluarkan gumpalan asap, kami berebutan berlari menuju meja makan untuk melahap semuanya. Biasanya kami berbuka dengan makan nasi langsung diselingi kue. Aneh karena aku tak begitu ingat apakah kami biasanya memakan kue dulu baru shalat magrib, atau langsung makan nasi?.

Malamnya kami bertarawih, beramai-ramai, ibu kadang-kadang juga ikut jika berkesempatan pergi, tapi jika terlalu lelah biasanya ibu istirahat dan bertarawih dirumah.

Pagi itu, kami bangun sahur seperti biasa, ibu menghidangkan semua makanan untuk sahur kami dan membiarkan kami makan untuk bekal puasa hari itu. Karena berpikir masih pagi makanya ibu tak membuka gorden jendela dan pintu. Dibiarkannya kami makan setelah mencuci tangan dan muka. Kami makan seperi biasa tanpa melihat jam, setelah  makan sahur itu selesai, kemudian kami keluar kamar untuk melihat apakah sirene dan fajar telah keluar sehingga kami harus berhenti makan sahur. Ketika itulah kami semua terperanjat dan kaget, karena ternyata hari telah begitu terang dan jam dirumah sudah menunjukkan pukul 7. Tentu saja kami panik dan langsung berhenti makan sahur, kalau sudah terlanjur makan maka kami terpaksa minum dengan cepat supaya jangan tersedak dan batal juga puasanya. Ibuku bilang karena kami tidak tahu dan tak sengaja jadi tidak batal, setelah membaca niat hari itu kami tetap berpuasa.  

Kami semua tertawa, begitupun ketika kami menceritakannya kepada nenek, mereka semua terpingkal-pingkal karena kegelian. Hari itu kami beruntung karena berpuasa dimulai jam tujuh pagi, dan kami saling bercanda sebenarnya tadi bukan sahur tapi sarapan pagi.

Breakfast Or Sahur?
by hans@acehdigest

I think this story is funny, maybe the mother still remembers how her story, if she reads this writing mother would laugh out loud and wonder why I can still remember it. But I suspect that the mother actually knew if we would be late for the meal but still let our mothers so that we remain fast meal that day.


At that time, we've stayed at grandma's house, after we moved out of the corner house with no kitchen. We occupy a room adjacent to the middle of the living room in the house, his room near the well and not far from my grandfather's attic. The plywood-walled room, with windows and doors that connect directly to the living room through to the kitchen. If I open the door, I could see people passing by from all directions, because our room was in the right place, but unfortunately too hot when the sun during the day due to direct reflection on the bedroom wall.


This story happened when I was first class, I was still "studying" the fast, they say, the kids like us should fast only half day, for fear of being unable to fully fasting, which began early in the morning until late afternoon before sunset. Because the mother was forced to fast.


My mother was excited when it matters most fasting. First day of fasting are usually much less time was about to break their mother took me to the market, needs a little shopping in preparation for the meal or break. After shopping mom will not stop telling her to cook, my mother was cheerful and likes to tell, perhaps intend also to comfort the mother who begins to starve because I'm learning fast, the mother continued to talk and hope I never stop listening and interested in the story and forget the hungry fasting. That's how my mom seduce and comfort to move forward by fasting. When breaking the fast before mom would take us to sit in front of the house waiting for the cannon and the siren went off. When the cannon boomed in the air and release plumes of smoke, we ran to the scrambling table to devour everything. Normally we break the fast by eating rice cakes directly interspersed. Strange because I do not really remember if we usually eat the cake first before evening prayer, or immediately eat rice?.


At night we tarawih, rollicking, sometimes ibuk also participate if the opportunity to go, but if too tired mother a break and tarawih usually at home.


That morning, we woke dawn as usual, mothers serve all the food for our meal and let us eat for lunch that day fasting. Since the thought was still early so the mother can not open a window and door curtains. Let us eat after washing hands and face. We are like regular meals without looking at the clock, after the meal was finished, then we left the room to see if the siren and the dawn has come out so we had to stop eating the meal. That's when we were all shocked and surprised, because it was so bright days and hours at home are shown at 7. Of course we panicked and stopped eating the meal, if you are already eating so we had to drink fast so do not choke on and off too fast. My mom says because we do not know and do not accidentally be canceled, after reading the intentions of the day we remain abstinent.


We all laughed, as did when we told my grandmother, they were all laughing because it tickled. That day we were lucky because the fasting begins at seven in the morning, and we were joking with each other but in fact did not dawn breakfast.

Curek! ; Inflammation Of The Ear

Aku tak tahu persis apa sebabnya, karena sakit jenis ini tak begitu kuketahui dengan pasti. Apakah disebabkan karena infeksi di dalam gendang telinga, atau hanyalah sekedar sakit karena masuknya air yang bersarang terlalu lama di dalam lubang telinga. Orang-orang di tempatku bahkan bercerita bahwa penyakit ini muncul karena kami sering memakan buah kenari mentah, yang masih berwarna hijau dan daging buahnya masih lunak bahkan kadang-kadang cair seperti kelapa muda.

Di depan trotoar jalan dekat rumah memang tumbuh sebatang pohon kenari yang sangat besar, kalau di Wanayasa kebanyakan yang tumbuh adalah pohon asam, di depan rumah kami justru pohon kenari itu yang banyak tumbuh. Buahnya hampir tak pernah berhenti, dan jika musimnya tiba, maka buah-buah kenari itu akan menghitam dan berjatuhan di jalanan, bahkan kadang-kadang terlindas kendaraan yang lewat. Jika tak remuk benar, kami memunggutnya dan dengan menggunakan tangkai korek atau ranting pohon kami mencungkil isinya yang berwarna putih, yang terselip diantara cangkang berwarna krem. Begitulah, pohon kenari besar itu selalu menjadi hiburan kami, dan ketika sore hari saat mobil-mobil tak lagi melintas, kami berlomba melempari buah-buahnya yang bergantung berwarna hitam dengan batu. Jika gagal batu itu akan melayang dan mendarat langsung di tanah terminal atau stamplat colt itu, yang berada persis diseberang jalan dan jika sore hari juga tak dihuni lagi oleh kendaraan angkutan umum itu.

Aku sebenarnya cuma mau menceritakan kisah ini sebagai kenangan, karena gara-gara hal ini aku kemudian bertengkar, berkelahi dan lebih mencintai adik-adikku. Semuanya saling berhubungan karena kisah ini menyangkut adikku sendiri.

Aku tak tahu pasti bagaimana mulanya adikku menderita sakit ini, apakah karena rumah yang tak sehat atau karena mengkonsumsi makanan tertentu yang membuat sakitnya timbul.  Tapi ibuku sangat rajin mengobatinya, dengan berbagai cara hampir semua telah dicobanya, mungkin kedokter spesialis saja yang belum, karena mungkin beranggapan ini hanya sakit biasa, atau juga karena mahal dan ketiadaan biaya. Jika sudah tak bisa diatasi, ibuku biasanya membersihkan telinga adikku dan menyumbatnya dengan kapas, sehingga jika ada sesuatu yang keluar tidak terlihat orang atau mengganggu orang. Tapi kadang-kadang cairan itu banyak sekali keluar, sehingga adikku kewalahan dan kemudian membuang kapas penyumbat telinganya yang telah basah. Dan tanpa disadari keluarlah cairan itu membasahi bajunya, Jika begitu aku biasanya memintanya pulang untuk diobati, tapi jika tak terlihat olehku maka dibiarkannya telinga itu apa adanya.

Beberapa anak yang merasa terganggu seringkali protes, meskipun tak tercium bau tetap saja mengolok-olok. Dalam beberapa kejadian aku membiarkan, maksudku aku berpura-pura tak peduli, tapi kalau sudah keterlaluan, aku pasti membela adikku. Dan jika itu terjadi tak jarang aku harus berkelahi, untuk memperingatkan siapapun untuk tidak mengejek adikku. Karena penyakit itu sebenarnya sesuatu yang tak kami harapkan tapi namanya penyakit, tak bisa ditahan dan tak bisa memilih, begitulah. Sebenarnya untuk berkelahi aku tak berani benar, cuma karena membela adikku dan terpaksa aku melakukannya.

Dengan model "perhatianku" yang sedikit aneh itu, beberapa temanku merasa takut dan tak berani macam-macam. dan gilirannya aku yang selalu mengingatkan adikku untuk berhati-hati dan kalau memang sedang parah sakitnya aku  minta adikku pulang untuk diobati. Aku juga selalu mengingatkan adikku untuk tak memakan kenari mentah, meskipun aku tak yakin apakah memang itu penyebabnya, tetap saja aku kuatir dan melarangnya memakannya, agar sakitnya tak bertambah parah.

Kisah itu juga mengingatkan aku pada kasih sayang ibuku pada kami semua, meskipun kami terbilang bandel dan nakal, tapi ibuku tetaplah seorang ibu yang dengan marah dan kesalnya tetap saja menunjukkan beliau sangat mencintai kami. Apalagi jika aku melihat dengan rajin dan sabar ibu mengobati telinga adikku, aku duduk di sampingnya sambil melihat ibu membersihkan dan bertanya-tanya meminta perhatian ibu, kenapa bisa timbul penyakit yang diderita adikku, ibuku dengan jawaban sederhana berusaha menjawab keingintahuan kami, meskipun jawabannya bisa benar atau tidak, kami tetap mengiyakannya sebagai jawaban yang paling benar.

Ketulusan dan kasih sayang ibuku, adalah sesuatu yang paling aku rasakan menyentuh hati, setiap kali mengingat kisah ini. Karena ketika itu ibuku single parent, jauh dari ayah yang entah kuliah atau tengah bekerja dimana aku tak ingat dengan pasti. Hanya saja aku selalu melihat ibuku berjuang sendiri, mengawasi, memperhatikan, menyayangi kami dengan caranya sendiri. Jika orang kadang-kadang melihat ibuku bertindak keras, bisa jadi karena sayangnya kepada kami atau suasana hati yang kadang-kadang tak bisa disembunyikannya. Aku harusnya menyadari hal ini sejak dulu, sehingga tak membuat ibuku  marah dan bersedih hati. Tapi kami saat itu hanyalah anak-anak yang senang bermain, tak peduli apapun nasehat yang baik buat kami.

Apapun yang bisa kuingat dari kisah ini, semakin membuat aku mencintai ibuku, dan semakin membuat aku memahami adik-adikku, Pelajaran tentang "hidup" yang aku pelajari langsung dari "guruku" yang juga sekaligus ibuku.

(Ketika aku cari tahu , ternyata penyakit ini adalah "radang telinga bagian tengah" terjadi perforasi atau lubang sehingga cairan keluar dari telinga, apalagi kalau sedang pilek. Pengobatan sederhananya dengan menjaga jangan masuk air ke dalam telinga dan selalu membersihkannya, persis seperti yang selalu ibuku lakukan dan jika parah terpaksa harus mengoperasinya dengan melakukan tympanoplasti atau menutup lubang perforasi tadi.)


Curek! ; Ear and Inflammation?
by hans@acehdigest

I do not know exactly why, because this type was so sick I know for sure. Whether caused by an infection in the ear drum, or just simply sick because of water ingress that nest too long in the ear hole. The people at my place even told me that this disease arises because we often eat the fruit raw walnuts, which are still green and soft flesh is still liquid even at times like a young coconut.

On the sidewalk in front of the house is near the walnut tree grows very large, if at Wanayasa is mostly grown tamarind tree, in front of our house it was a lot of walnut trees grow. The fruit is almost never stops, and if the season comes, the fruit of the walnut will darken and fall in the street, sometimes even run over by vehicles. If not completely crushed, we pick and by using a match stalk or twig that we gouged it white, which is tucked among the cream-colored shell. Thus, a large walnut tree that has always been our entertainment, and when the late afternoon when the cars are no longer passing, we race threw its fruits are black with a stone depends. If it fails it will levitate rocks and landed directly in the ground terminal or stamplat colt, which is directly across the street and if the evening is also no longer inhabited by public transportation vehicles it.


I actually just wanted to tell this story as a memory, since because of this I then argue, fight and much loved brother. Everything is interconnected because this story about my own brother.


I'm not sure how this was originally my brother's illness, whether due to an unhealthy house or by ingestion of certain foods that make the pain arises. But my mother was very diligent to treat it, in many ways almost all had tried, perhaps medicine specialist who has not, as they may think this is just plain sick, or too expensive and because of the absence of cost. If it is not able to overcome, my mother and my brother usually clean the ear with a cotton plug, so if something does not look out of people or annoy people. But sometimes it's a lot of fluid out, so my brother was overwhelmed and then discard the cotton ear plugs that have been wet. And without realizing it's fluid out wet clothes, If so I usually ask him home for treatment, but if not it seemed to me then let's ear it is.


Some children who feel disturbed often protest, though it still smells of ridicule. In several instances I let, I mean I do not pretend care, but when it's outrageous, I would defend my brother. And if it happens not infrequently I have to fight, to warn anyone to not mock my brother. Because the disease is actually something that we expected but did not name the disease, can not be arrested and can not choose, that is. Actually I did not dare to fight really, just for defending my brother and I had to do it.


With the model of "attention" a little strange, some of my friends did not dare to feel fear and all sorts. And turn, I always remind my brother to be careful and if it is severe pain I asked my brother to go home for treatment. I also always remind my brother to not eat raw walnuts, though I'm not sure if that was the cause, still I worried and forbid eating it, so that the pain was getting worse.


The story also reminds me of my mother's affection to all of us, although we were somewhat stubborn and mischievous, but she remains a mother who was angry and upset with the show she still loves us. Especially when I look at it diligently and patiently treating mothers ear my brother, I sat beside her as  saw my mother cleaning and wondering calls attention to the mother, why can develop the illness my brother, my mother tried to answer with a simple answer to our curiosity, although the answer could be true or not, we still say yes as the most correct answers.


Sincerity and love my mother, is something I feel most touching, each time remembering this story. Because when my mother was a single parent, away from either college or a father who was working where I do not remember for sure. It's just that I always saw my mother to fend for themselves, watching, watching, loving us in his own way. If people are sometimes hard to see her act, it could be because unfortunately to us or a mood that sometimes can not hide. I should have realized this long ago, so it does not make her angry and sad. But we then just children who love to play, no matter what good advice for us.


Whatever I can remember from this story, the more I love my mother makes, and more to make me understand my brother, Lessons of the "life" that I learned directly from the "teacher" who was also at the same time my mother.


(When I find out, it turns out this disease is "inflammation of the middle ear" occurs perforations or holes so that the fluid out of the ear, especially if a cold. Treatment should not simply by keeping the entry of water into the ear and always clean, just like my mother always do and if severe forced to operate by doing tympanoplasti or perforation hole was closed.)

Selasa, 27 Desember 2011

Memburu Belut Loch Ness; Eels Hunt Loch Ness

Ini tak ada kaitan dengan kisah loch Ness di Danau Windermere, Inggris. Karena yang kami sebut dengan "monster loch ness" itu hanyalah seekor belut besar yang tinggal di sumur umum di belakang rumah Haji Rohmat. Sumur itu dalam, kurang lebih 10 meter, dindingnya dibuat dari genteng merah yang disusun jajar. Dan sepengetahuan kami di dinding sebelah kanan dalam ada sebuah lubang besar tempat mengalirnya mata air, tapi juga tempat belut itu tinggal.

Tak pernah ada seorangpun yang berani masuk ke dalam sumur untuk sekedar membersihkan atau mengambil benda yang jatuh. Takut dibelit atau bahkan digigit, padahal belut tak pernah menyerang manusia. Hanya karena bentuk dan ukurannya yang besar membuat kami semua ketakutan yang tak beralasan.

Aku dan teman-teman pernah berusaha untuk memancingnya, dengan menyiapkan banyak pancing dengan tali pancing senar yang besar. Kami berharap dan menunggu dimulai dari pagi-pagi sekali, karena kami pikir mungkin pagi-pagi sekali belut itu akan keluar dan memakan umpan yang kami pasang, tapi ternyata hingga tengah hari tak satupun kail yang dimakan umpannya, yang ada justru ikan-ikan besar yang mengambil umpan itu. Barangkali karena banyaknya ikan-ikan itulah makanya belut itu betah tinggal, bertambah besar dan tak mau memakan umpan yang disediakan siapapun untuk memancingnya keluar. Atau barangkali juga karena memang tak bisa keluar lagi.

Bagi kami yang anak-anak kisah belut itu menjadi misteri besar, sehingga hampir setiap waktu kami selalu mencuri-curi kesempatan untuk sekedar melihat ke dalam sumur di waktu-waktu yang tak terduga kapanpun, bahkan dengan cara yang aneh, misalnya berjingkat-jingkat, berjalan pelan waktu mendekati sumur, karena siapa tahu belut raksasa itu bisa mendengar langkah kami sehingga akan lari sebelum kami sempat melihatnya. Dan ketika semua upaya itu gagal, kami biasa melampiaskan kekesalan kami dengan melempari sumur itu dengan potongan genteng dan batu yang banyak di sekitar sumur, sambil berharap siapa tahu lemparan kami bisa mengenainya dan belut itu keluar dengan tubuh terluka..?. Begitulah anak-anak berfantasi.

Tapi ternyata orang-orang dewasa di tempatku juga punya rasa penasaran yang sama, cuma caranya mungkin tak segila kami yang masih anak-anak.

Eels Hunt Loch Ness
by hans@acehdigest

This had nothing to do with the story of loch Ness in Lake Windermere, England. Because what we call the "loch ness monster" is just a big eel living in public wells in the back of the house Haji Rohmat. The well was deep, about 10 meters, the walls are made of red tiles arranged a parallelogram. And to our knowledge on the wall right in there is a large hole where the springs flow, but also where eels lived.

No one has ever dared to go into the well to just clean up or take falling objects. Fear of wrapped or even bitten, but eels never attack humans. Just because the shape and large size makes us all the fears unwarranted.


Me and my friends had tried to lure, to prepare a lot of fishing line with a large string of fishing line. We hope and wait for the start of the early morning, because we thought it might be early in the morning eel will come out and take the bait that we install, but apparently none of them until noon to eat the bait hook, that is precisely the big fish take the bait. Perhaps because of the large fish that's why it's like living eels, growing larger and would not take the bait for anyone who provided him out. Or perhaps because it could not get out again.

For us that the children the story of the eel was a mystery, so almost every time we always steal the opportunity to simply look into the well at times unpredictable at any time, even in a strange way, for example, on tiptoe, walk slowly when approaching the well, because who knows the giant eels could hear us so it will run before we could see it. And when all efforts failed, we used to vent our frustration by throwing it well with pieces of tile and stone that many around the well, hoping that maybe we could about it and throw it out with eel body is injured ... That the children fantasize.


But it turns out the adults at my place also had the same curiosity, just how maybe not as crazy as we are still children.

Sepeda dan Meteor; Bicycle And Meteors

Mulanya aku dan ibuku hanya berlatih sepeda, karena aku terus mendesaknya untuk belajar, disebabkan teman-temanku mengejekku yang cuma bisa naik sepeda mini tapi tidak sepeda kumbang, jadi aku meminta ibu untuk mengajariku. Kemudian kami berdua berboncengan ke arah Wanayasa, mencari tempat yang agak sepi dengan deretan pohon asam besar di pinggiran jalannya.

Kami terus berlatih, ibuku memegangi sepeda dari belakang, sementara aku berusaha untuk mengayuhnya, tapi tetap saja jatuh, begitu terus hampir satu jam lamanya, sampai akhirnya aku dan ibu kelelahan, karena berlatih sepeda dan juga tertawa-tawa sepanjang jalan. Ibu menertawakan aku yang tak bisa-bisa mengayuh dan selalu jatuh.

Akhirnya setelah kami benar-benar kelelahan, ibu dan aku berboncengan ke arah Karang Sari untuk refresing menikmati suasana malam yang tambah lama tambah sepi, setelah lelah berlatih. Tapi di luar dugaan kami, tiba-tiba terjadi sesuatu yang tak pernah kami lupakan. Dari arah langit tiba-tiba turun seberkas cahaya terang benderang, meluncur dengan cepat kearah persawahan, sehingga persawahan menjadi terang benderang ketika benda aneh bercahaya itu turun. Jika tak salah dengar kami mendengar suara benda jatuh di atas air. Kami penasaran luar biasa, tapi juga takut luar biasa. Karena benda yang jatuh itu pastilah benda yang luar biasa, jika itu adalah meteor, maka benda yang jatuh itu adalah pecahan meteor yang tersisa karena pecah di atmosfer, begitu yang aku tahu dan pernah kubaca di buku sains.

Ibu buru-buru menarikku dari jalan dan membawaku dengan sepeda setengah mengebut, lalu kami berbalik arah kembali ke arah rumah di Jalan kusuma. Kami berdua ketakutan luar biasa, tapi sepanjang jalan sambil terengah-engah kami mengobrol, tentang rencana besok untuk melihat benda apa yang semalam jatuh di tengah rimbunan sawah. Pastimya jika itu adalah benda langit, jatuhnya juga pasti dalam, masuk ke dalam lumpur. Ibu kemudian melarangku untuk kembali kesana sekedar mengobati rasa penasaran sekalipun, jadi siangnya aku cuma melihatnya dari pinggiran sawah di kejauhan.Jadi batalah rencanaku untuk melihat dari dekat benda meteor itu. Tapi sampai sekarang aku tetap penasaran dan mengingatnya sebagai kisah kenangan dengan ibuku yang tak terlupakan. Aku masih bisa mengingat, ketika kami belajar sepeda, ibu kelihatan gembira sekali, meski penuh dengan keringat, tapi terlihat gembira dan lepas dari semua persoalan di rumah.

Ketika peristiwa itu terjadi, aku sempat membuat sebuah permintaan, seperti yang pernah aku dengar dan aku baca di buku. Aku memohon agar ibuku selalu mendapat kebahagiaaan, agar kami selalu diberi kesehatan dan semua hal yang baik-baik yang aku ucapkan dan niatkan dalam hati. Aku terus berharap agar ibuku yang aku cintai bisa terus sehat. Meskipun kemudian kami berpisah untuk waktu yang sangat lama, namun kasih sayang itu tak pernah hilang dan tak terlupakan, persis seperti harapan dalam doaku.

Bicycle And Meteors
by hans@acehdigest

At first my mother and I were practicing just a bike, because I kept urging her to learn, because my friends make fun of me that can only ride a bike mini but not moped, so I asked the mother to teach me. Eventually we both rode in the direction Wanayasa, find a rather quiet place with a row of large tamarind tree on the outskirts of the course. 

We continue to practice, my mother was holding the bike from behind, while I tried for pedaling, but still falling, so hold nearly an hour, until finally I and maternal fatigue, because the practice bike and also laughing all the way. Mothers who can not laugh at me-can ride and always fell. 

Finally after we were completely exhausted, mom and I rode towards Karang Sari to enjoy the refreshing atmosphere that adds a long night plus quiet, tired after practice. But beyond our expectations, all of a sudden something happened that we never forget. From the sky was suddenly down a beam of bright light, hurtling towards the rice fields, so that the rice field was lit up when a strange luminous object was dropped. If no one heard our voice heard falling objects on the water. We were curious remarkable, but also afraid of remarkable. Due to falling objects must have been a remarkable thing, if it was a meteor, then falling objects were meteor fragments remaining in the atmosphere due to rupture, so that I knew and had read in a book of science.

Mother hastily pulled off the road and took me by half a bike race, then we turn back toward the house at road Kusuma. We were both extraordinary fear, but along the way while we were talking breathlessly about the plan tomorrow to see what the overnight fall in the middle of rice field hedge. Surely if it is the celestial bodies, would also fall in, get into the mud. Mom then told me to go back there just treat curiosity though, so by noon I just saw it from the outskirts of rice fields in the distance. So it canceled plans for a close look at the meteor thing. But until now I remain curious and remember it as a story with my mother's memories unforgettable. I can still remember, when we learn the bike, the mother seemed delighted, though full of sweat, but it looks happy and free from all problems at home.

When it happened, I could make a request, as I have ever heard and I read about in books. I begged my mom always gets happiness, so we were always given a health and all the good things that I say and intend in the heart. I kept hoping that my mother that I love to keep healthy. Although later we split up for a very long time, but the affection is never lost and never forgotten, just as hope in my prayers.

Ikan dan Kolam Masjid; The Fish and Pond Side Mosque

Aku harus menuliskannya karena kisah ini tetap menyentuh hatiku setiap kali aku mengingatnya. Kadang-kadang aku berpikir, apakah seharusnya aku bertindak bodoh dengan mengomel dan memarahi adikku berlebihan karena kesalahan yang sama sekali tak bisa dijelaskan alasannya. Anehnya aku tetap mengingat peristiwa ini, aku ingat betul bagaimana marahnya aku, bagaimana sedihnya adikku. Acara memancing yang tadinya seru menjadi hambar, adikku diam, ketakutan dan bahkan setiap kali kailnya ditarik ikan sekalipun dia ragu, apakah seharusnya di tarik atau dibiarkan?. Sebetulnya kejadiannya sepele, karena ini cuma soal memancing.

Siang itu kami memancing, persis di lorong kecil di samping masjid Kolopaking. Kolam itu persis dibelakang gudang Bus Merdeka, tempatnya memang enak karena selalu dipenuhi dengan ikan. Kami membawa beberapa pancing yang kami buat sendiri jorannya dari bilah bambu. Umpan cacing aku ambil dari belakang rumah, tanpa perlu mencangkulnya. Hampir dua jam lebih kami berada disana dengan panas yang mulai terik, jadi aku biarkan pancing tergeletak di atas rumpun kangkung, sementara kami bersembunyi di rimbunan pohon pisang, nanti kalau ada tanda-tanda ikan menariknya barulah aku tarik dengan kuat, sebelum ikan menyeretnya kedalam belitan akar rumpun kangkung.

Ketika sedang santai, salah satu pancing ditarik ikan dengan cepat, karena satu-satunya orang yang dekat dengan pancingku itu adalah adikku, kuminta dia dengan cepat menariknya. Tanpa aba-aba dan hampir reflek, dia menariknya dengan sangat kuat. Akhirnya seekor ikan gabus, ukuran besar keluar dari air, langsung terlempar ke dinding dan mati!.

Aku kesal, karena aku pikir tadi bisa saja di tarik tanpa perlu membentur dinding dan mati. Padahal kalau aku yang menariknya, barangkali ikannya bukannya mati mungkin hancur, karena terlalu bersemangat. Adikku cuma bilang, tadi kan aku meminta menariknya dan kalau tidak cepat ditarik, ikan membawa lari pancing atau lebih buruk lagi, ikan meloloskan diri. Tapi aku tetap saja tidak terima dengan tindakannya. Aku pitam dan marah besar!.

Tapi selanjutnya kusadari kisah itu sebagai sesuatu yang membuatku merasa terus bersalah, dan berkecil hati. Tapi itu juga menjadi pelajaran berharga dan penting buat hidupku selanjutnya. Terutama kemudian ketika aku memiliki putra dan putri.

The Fish and Pond Side Mosque
by hans@acehdigest

I have to write it because this story still touches my heart every time I remember it. Sometimes I think, should I act stupid with my brother's nagging and scolding redundant fault entirely inexplicable reason. Strangely enough I still remember this incident, I remember very well how angry I am, how sad my sister. Fishing event that was fun to be bland, he was silent, frightened and even every hook she pulled the fish even if he doubted, whether it should in drag or left?. Actually a trivial incident, because this is also just fishing.

That afternoon we were fishing, just in a small alley next to the mosque Kolopaking. The pool was just behind the bus barn Merdeka, the place is good because it is always full of fish. We carry some of our own making fishing hook from bamboo. I took the bait worms from the back of the house, without the need for digging. Nearly two hours we were there to begin scorching heat, so I let the rod lying on the grove swamp, while we hid in a banana tree hedge, later if there are signs that I pulled the fish with a strong pull, before the fish dragged him into the entanglement root clumps of watercress.


When you're relaxed, one reel the fish is pulled quickly, because the only people close to pancingku it is my brother, ask him to withdraw it quickly. Without warning and almost a reflex, he pulled it very strong. Finally, a fish cork, large size out of the water, immediately thrown into a wall and die!.


I was upset, because I think it could have been in drag, do not necessarily have to hit the wall and die. And if I had pulled it, probably not only the dead may be destroyed, because it was too excited. My brother just said, did not I ask a quick pull and if not withdrawn, the fish carry off a fishing line or even worse, the fish escaped. But I still did not accept his actions. I was furious and outraged!.


But then I realized the story as something that continues to make me feel guilty, and discouraged. But it is also a valuable and important lessons for the next life. Especially later when I have a son and daughter.