Label

10 tahun tsunami. (1) 2013 (1) acehku (1) Adikku. (1) Aku (4) Among-among (1) Anak-anak (1) Anak-Anak Dikutuk (1) Angka ajaib (1) aqiqahku (1) Ayahku (1) babak baru (1) bakso (1) Barzanji (1) batu cincin (1) belimbing (1) Belut Loch Ness (1) Belut Sawah; Mancing Belut (1) Bibiku (2) bioskop misbar (1) birtdhday party (1) bisnis keluarga (1) busur dan panah (1) capung (1) Celengan bambu (1) China's Neighbords (1) Cibugel 1979 (1) Cibugel Sumedang (2) cinta bunda (1) cracker (1) Curek; Inflammation (1) Dapur nenek (1) dejavu (1) Dian Kurung (1) distant relatives (1) Dremolem Or Dream Of Land (1) es dogger (1) es goyang (1) es serut (1) Fried Sticky Rice (1) Gadis Kecil (1) gambar desain (1) gambarku (1) Gandrung Mangu (2) golek;nugget cassava (1) harmonika kecilku (1) Ibuku (11) Ibuku Atau Kakakku? (1) Ikan (2) ikan dan ular (1) iseng (1) jalan kolopaking (2) Jalan Kusuma (2) jangkrik Jaribang Jaliteng (1) Jenang Candil (1) jogging (1) Juadah (1) Juz Amma (1) kakek dan nenek (3) kakekku (3) kecelakaan fatal (2) kelahiranku (1) Kelas Terakhir; the last class (1) kenangan (1) Kerupuk Legendar (1) kilang padi (1) Klapertart Cake (1) kolam ikan masjid (1) koleksi stiker (1) koleksi unik (1) koplak dokar dan colt (1) kota kecil dan rumahku (1) Kue tape (1) Kutawinangun (1) Lanting (1) little cards (1) Loteng rumah (1) lotere (1) lottery (1) mainan anak-umbul (1) makan (1) makkah (1) Malam Jum'at (1) Mancing Belut (1) masa kecil (9) masa kecil. (1) masa lalu (2) masjid kolopaking (1) meatballs (1) Mengaji (1) Minum Dawet (1) morning walk (1) my (1) my birth (1) my first notes (6) my mom (4) my note (25) Nama ibuku (1) Nenek Sumedang (1) new round (1) new year (2) others notes (1) ours home (1) padi sawah wetan (2) pande besi (1) Papan Tulis (1) Pasar dan Ibuku (1) Penculik dan Bruk (1) Pencuri (1) Perjalanan 25 Tahun Bag. Pertama (1) personal (1) Puasa (1) radio transistor (1) Roti dan Meriam Kauman (1) Rumah Ban (1) Rumah Kakek dan Nenek (5) rumah karang sari (1) rumah kecil di pojok jalan (4) rumah kelinci (1) rumah kutawinangun (1) Rumah Pojok (1) rumahku (1) Sarapan Apa Sahur? (1) saudara jauh (1) sawah utara (1) sawah wetan (2) SD Kebumen (1) Sepeda dan Meteor (1) shake es (1) shalat jamaah (1) sintren (1) Starfruit for Mom (1) Stasiun Kereta Api (2) Sumedang 1979 (1) Sungai Lukulo. (1) tahun awal (17) tahun baru (1) Taman Kanak-kanak (1) Tampomas I (1) tanteku (2) Tetangga Cina (1) The magic Number (1) tradisional (1) tsunami 2014 (1) Visionary grandpa (1) Wayang Titi (1)

Selasa, 19 Juni 2012

Batu Cincin, Stone Ring

Aneh, aku seperti terobsesi dengan cerita yang satu ini, sekalipun sebenarnya hampir mustahil aku mengalami kejadian ini. karena aku kenal betul bagaimana nakalnya anak-anak di stasiun. Mereka tak cuma dikenal kasar dan bandel, tapi juga sedikit kriminal. Kebiasaan melempari jendela kereta api dengan batu yang seringkali mengambil korban para penumpang yang tengah tertidur lelap dipinggiran jendela atau siapapun penumpang yang tengah berada di dekat jendela. Pecahan kaca bisa melukai mata dan muka.

Di setiap kesempatan setiap kali mengingt masa kecil antara percaya dan tidak, aku merasakan seperti pernah mengalami sebuah babak di masa kecilku. Aku pernah berkelahi dengan anak-anak rel kereta api.

Keseharianku meskipun tak sepenuhnya nakal, aku tak jarang berkelahi dengan teman sebayaku, terutama karena aku melindungi adik-adikku, atau karena persaingan permainan. Biasalah yang kalah tak terima dan berakhir dengan perkelahian kecil. Dua tiga hari kembali baikan, seperti tak pernah terjadi apa-apa.

Menurut ingatanku yang sedikit menipu, di hari peristiwa itu terjadi seperti biasa aku main di stasiun. Bagian rel dan bantalan kereta api berisi kumpulan kerikil kasar yang diambil dari sungai. Diantara kumpulan batu-batu itu kadang-kadang terdapat batu cantik, bening dan berwarna tertentu yang dicari juga oleh para pecinta batu cincin. Jadilah batu-batu cantik itu menjadi buruan, baik disengaja maupun tidak. maksudku, jika sesekali iseng melintas di sepanjang rel dan sambil mengamati batuan dan kebetulan menemukan batu cantik, tak ada salahnya membawa pulang.

Begitupun dengan aku. pagi itu aku menyusuri sepanjang rel kereta api, kuperkirakan sekilo lebih, karena jika terlalu jauh juga selain letih, lapar karena pagi belum sarapan dan panas matahari yang meninggi juga menambah haus tak tertahankan, sementara kami tak punya uang persediaan, kecuali dengan memanfaatkan air di kamar mandi stasiun. Sepanjang rel kami berusaha menemukan batu cantik, belakangan aku pikir untuk apa sebenarnya aku melakukan semua itu, karena toh aku tak pernah menjual batu cincin sebelumnya, atau katakanlah aku menemukan batu indah, tapi untuk apa, apa aku kemudian menyimpannya?.

Tapi di dalam kisahku aku tetap saja mencarinya, barangkali itu lebih didorong oleh rasa penasaran dari cerita orang tentang batu-batu indah yang bernilai jual tinggi, dan kemudian aku berharap menjadi salah satu orang yang beruntung menemukannya. Ketika itulah dalam perjalanan kami bertemu dengan kumpulan anak-anak stasiun kereta api, awalnya kami sama sekali tak menggubrisnya. Namun kemudian lagak dan gayanya mengesalkan dan ketika dipancing untuk kesekian kalinya, ditambah haus dan lapar, kami kemudian membalasnya dan terjadilah perkelahian itu. Aku tak kenal takut jika sudah dipancing, bahkan seingatku ketika aku kelas 3 SD aku berani melawan kakak kelasku di kelas 6 meskipun kalah pada akhirnya, setidaknya aku sempat mendaratkan pukulan diwajahnya yang pasti akan diingat sakitnya dan membuatnya jera untuk melawanku.

Dalam perkelahian itu aku  satu lawan satu, aku melawan mungkin pimpinan atau ketua genk, aku berusaha tak mengalah dan menyerah, itu juga yang kemudian membuat teman-temannya tiba-tiba melerai dan kemudian membiarkan kami main di wilayah kekuasaan mereka.

Tapi anehnya, aku merasa cuma bermimpi setiap kali mengingat kejadian yang satu ini, antara yakin dan tidak. Bisa jadi awalnya aku menceritakan kisah ini untuk menunjukkan bahwa aku pemberani, aku peduli dengan adik-adikku, dan setiap kali aku bercerita dengan anakku aku selalu menyelipkan kisah ini. Tapi begitupun terlepas dari benar tidaknya kisah ini, aku memang dikenal tak penakut ketika kecil, kecuali dengan hantu!.

Stone Ring
by hans-acehdigest


Strange, I was obsessed with a story like this one, though I actually almost impossible to experience this event. for I know well how naughty children at the station. They are not only known for rough and tough, but also a little criminal. Habit of throwing stones at a train window that often takes its toll of the passengers who were asleep sidelines passenger window or anyone who was near the window. Broken glass could injure the eyes and face.

On each occasion every time mengingt childhood between believing and not, I feel like have had a round in my childhood. I've fought with the children railroads.

My daily is not entirely bad though, I often fight with peers, especially since I melndungi my sisters, or because of the competition game. You know who did not accept defeat and ended with a minor scuffle. Two three days back better, such as had never happened.

According to my memory a bit deceptive, on the day it happened as usual I was playing at the station. Rail section and rail pads contain a collection of coarse gravel taken from rivers. Among a collection of stones that sometimes there is a beautiful stone, clear and colored tertantu also sought by lovers of stone rings. Be beautiful stones to be hunted, whether intentional or not. I mean, if occasionally passing fad along the rail and watching the rocks and by chance found a beautiful stone, it's worth bringing home.

Likewise with me. morning I walked along the railroad tracks, I figured a kilo more, because if too much is also in addition to fatigue, hunger since the morning before breakfast and a hot sun that rises also increase thirst unbearable, while we did not have the money stock, except with the use of water at room shower stations. Along the tracks we tried to find a beautiful stone, later I thought to what I actually do all of that, because after all I've never sold before the stone ring, or let's say I found a beautiful stone, but for what, what I then save it?.

But in the story I'm still looking for it, perhaps it is driven more by curiosity than the story of beautiful stones are high value, and then I hope to be one of the lucky person to find it. When that's the way we meet a collection of children's train station, initially we did not listen. But then the annoying mannerism and style and when provoked for the umpteenth time, plus the thirsty and hungry, we went back and a fight broke it. I do not know if it provoked fear, even as I recall when I was 3rd grade I was dared to fight against brother my class in grade 6 though defeated in the end, at least I could land a punch on her face that will surely remember the pain and make it a deterrent against me.

I was in a fight one on one, I might fight gang leader or chairman, I try not to give in and surrender, which was also later made friends suddenly broke it up and then let us play on their turf.

But strangely, I feel just a dream every time recall this one incident, the sure and did not. It may be that initially I was told this story to show that I'm brave, I care about my sisters, and every time I talked with my son I always put this story. But as did regardless of whether or not this story, I was not scared when the little known, except by a ghost

Stasiun Kereta Kebumen, The Railway Station

Lajurnya berisi kurang lebih empat atau enam rel yang meliuk saling memotong. Seperti saling bertabrakan. semula kupikir dengan rel model begitu kereta api akan saling bertabrakan. Tapi ternyata tidak. Petugas rel akan memberikan kode untuk setiap kereta yang lewat dan memindahkan setiap rel yang akan dilewati dengan sistem mekanis.

Rel itu rupanya tak sepenuhnya saling menempel, ada bagian yang terlepas yang bisa disatukan dengan cukup mempertemukan potongan-potongan bagian itu menjadi sebuah rel utuh. Jika sempat melihatnya terlihat seperti proses robotik yang menawan. Aku adalah peminat proses mekanis yang teratur seperti proses di pabrikasi.

Makanya proses pindah rel menjadi saat yang seru untuk dinikmati. Kesempatan itu agak langka karena tak setiap saat kita main ke stasiun, bertepatan dengan  masuknya jadwal kereta api datang dan menggunakan jalur yang seharusnya dilewati dengan cepat dan tetap berada di jalur yang sama sampai di tujuan.

Stasiun kereta api itu berjarak 5 kilo dari rumahku di Jalan kusuma 31. Di pinggiran relnya berderet bangunan peron berwarna krem dengan garis biru putih seperti seragam baju masinis. Diantara rel berisi kerikil dan bantalah kayu keras, tapi sekarang ini sudah diganti dengan batangan besi karena sulitnya mendapatkan kayu-kayu keras sebagai bantalan rel. Hampir setiap bagian stasiun dimanapun kita lihat punya "seragam" yang sama. Kecuali hanya ukuran peronnya yang berbeda. Di satu stasiun bisa muat 4 kereta api di tempat lain cuma dua rel, di stasiun model ini kesibukan pindah memindah rel saat jenis kereta api tertentu melintas menjadi pemandangan yang unik dan menarik. Karena dua rel harus dilintasi banyak kereta api untuk jalur yang berbeda-beda.

Deretan pinggiran rel dipenuhi dengan deretan kawat atau kabel yang ditopang besi penyangga kabel, bagian real dibedakan dengan bagian lain ditinggikan dengan menumpuk bagian rel dengan kerikil kasar. Bagian itu juga dipenuhi dengan rambu-rambu kereta yang berbentuk aneh, seperti tanda kali besar berisi arah penjuru lintasan kereta berwarna hitam.

Di dalam peron berisi deretan bangku panjang terbuat dari baja dan kayu keras, kusam dan berbau khas karena diduduki oleh beragam orang dengan bau yang bermacam ragam. Dengan sebuah jam bulat besar dan dindingnya dipenuhi tempelan daftar jadwal perjalanan dan pengumuman untuk berhati-hati dari copet yang bekerja ekstra cepat secepat laju kereta api berjalan, jika  dompet lepas maka lepas sudah harapan untuk mengambilnya kembali kecuali kita bisa dengan cermat menandai wajah si pencopet dan berharap di lain waktu bisa ketemu untuk menagihnya, tapi itupun hampir mustahil, mungkin satu diantara seribu yang berhasil.

Peron merupakan bangunan tua dengan tiang dan kayu penopang berukuran besar dengan tiang menjulang tinggi langsung ke atap, seringkali tanpa plafon. Jadi kita bisa melihat bagian atas atap dari bawah dengan jelas dan hampir semua peron dibangun sejak jaman penajajahan Belanda dulu. Rancangan itu rupanya tak sembarangan karena di rancang untuk tetap mempertahankan suasana tetap dingin di daerah tropis yang beriklim panas dan sedang dengan dua musim yang panjang-panjang per 6 bulanan, penghujan dan panas.

Dindingnya tebal hingga beberapa inchi, cukup untuk menahan gempuran bom yang dijatuhkan dari pesawat ketika perang dunia kedua. Di bagian atas depan gerbang digantung nama stasiun, dan dipinggirannya juga dipasang papan nama stasiun yang sama dengan ukuran lebih kecil, tapi tetap dengan les biru putih dengan huruf kapital yang besar berwarna hitam.

Dan untuk memisahkan bagian stasiun dengan bagian yang bisa dilintasi lalu lintas dari luar di tanam balok-balok baja sisa rel yang aus dan tak terpakai dengan dipajang memanjang menjadi pagar pembatas. Halamannya berkerikil dengan sedikit becek disana-sini dan areal itu dijadikan tempat mangkal para penarik becak. Berderetan memanjang mendekati bagian paling dekat dengan pintu keluar dan masuk stasiun sekaligus. Setiap kali mendapat jatah penumpang becak lain akan bergeser menggantikan posisinya begitu seterusnya bergantian supaya ada keadilan diantara sesama tukang becak, tanpa harus berebut rezeki hariannya, tak ada yang mengatur kecuali kesepakatan tak tertulis yang disepakati bersama.

Yang paling menarik dari bagian stasiun adalah para pedagang asongan dengan beragam barang yang dijajakan yang berkeliling diseantero stasiun, menawarkan beragam makanan tradisional, pecal pedas agak kering, rujak, teh dingin, teh panas adalah menu standar. Sedangkan jajanan lain berupa kue atau makanan tradisional khas daerah untuk bekal dan oleh-oleh yang tak boleh terlewatkan, karena pasti akan ditagih jika kita pulang dengan kereta api. Aku tak pernah melewatkan kesempatan ini, meskipun sebenarnya peron maksudku stasiun bukan tempat yang nyaman untuk makan jajanan karena baunya yang tak bisa diajak kompromi. Tapi memang tak terelakkan, jadi nikmati saja makanannya dan ajaibnya semua makanan distasiun diolah oleh tangan-tangan yang terampil dan bermutu ala chef, yummy.

Anehnya sepanjang aku main di stasiun tak pernah sekalipun ingat tentang kisah kecelakaan, tapi kewaspadaan harus selalu dijaga. Stasiun memang menjadi tempat menarik untuk mengamati banyak hal, lalu lalang orang, keseriusan penumpang yang menunggu kereta datang dengan cemas, kesal dan sebagiannya bahkan biasa saja bahkan cuek bebek. Duduk dipinggiran rel sambil ngemil atau membaca berita hangat harian terbaru. Atau tadi menikmati jajanan, nasi pecal dan segelas teh panas atau dingin yang dijajakan penjualnya sambil berjalan dengan deretan gelas teh sambil diayun-ayun atau berayun-ayun mengikuti gerak luwes penjualnya yang seperti sudah menjadi "bagian tubuh" sehingga tak terlintas lagi perasaan kuatir tumpah, sambil sesekali berteriak memekikkan dagangan, apapun jenisnya jika mau melewati kerumunan dengan cepat selalu meneriakkan yel yang sama, "air panas, air panas, air panas mau lewat!. dan secepat kilat setiap orang akan menghindar seperti gerakan refleks kungfu menghindari tangkisan dan tendangan. Sesekali itu bisa menjadi bahan tertawaan mengobati jenuhnya menunggu kereta datang.

Belum lagi pemandangan orang tidur, yang cuek bahkan terkadang seperti tak sadarkan diri, meregangkan badan seenaknya tak perduli sekeliling. Karena jamaknya stasiun selalu punya dinamika sendiri, jadi orang merasa cuek saja dengan semua  yang terjadi, kecuali yang sudah mengganggu betul. Begitulah stasiun, semuanya bisa terjadi disana diluar dugaan, tapi menurutku stasiun adalah tempat paling menarik untuk mengamati perilaku beragam orang dengan beragam warna wataknya.

Kebumen Railway Station
by hans-acehdigest

track contains about four or six tracks that intersect flicker. As collide with each other. I think the model of the original tracks so trains will collide. But it did not. Rail officials will provide the code for each passing train and move any rail that will be passed to the mechanical system.

Rel it apparently did not entirely mutual sticking, there are parts which irrespective which can be incorporated with enough bring together the pieces of part it become a rel intact. If you had seen him look like a charming robotic process. I was interested as a regular mechanical process in the manufacturing process.

Hence the process of moving rails into an exciting time to be enjoyed. It is rather a rare opportunity because not every time we play to the station, to coincide with the entry of train schedules to come and use the path should be passed quickly and stay on the same path until the destination.

The railway station is within 5 miles of my house in Jalan kusuma 31. On the outskirts of the platform tracks lined cream-colored building with blue stripe white uniform shirt machinist. Among the tracks contain gravel and hardwood pads, but now it's been replaced with an iron rod as the difficulty of getting hard as wood sleepers. Almost every part of the station where we see a "uniform" the same. Unless a different platform sizes only. At one station can fit four trains in other places only two tracks, the station is busy moving the model to move the train tracks when certain types across a landscape of unique and interesting. Because the two rails to cross train for many different paths.

Rows of edge rails lined with wire or steel cable suspended cable support, the real distinguished from other parts exalted by stacking the rails with coarse gravel. Part it also filled with signposts the train who shaped odd, like a sign times the big contains the direction corners of trajectory trains black colored.

On the platform contains a long row of benches made of steel and hard wood, dull and peculiar smell as occupied by a variety of people with a wide range of odors. With a large round clock and the walls were filled with patch list of itineraries and patch announcements to be careful of pickpockets who work extra fast trains running as fast as the rate, if the purse off the hope of escape was to take it back unless we are able to carefully mark the thief's face and hope in the future can be met to collect, but even then it is almost impossible, maybe one in a thousand who succeed.

Peron is an old building with pole and wooden cantilever of large size with pole towered directly into the roof, often without ceiling. So we can see the top of the roof from the bottom with a clear and almost all of the platform built since the Dutch first. The design is not arbitrary because it is apparently designed to keep the atmosphere cool in the tropics and warm climates with two seasons is a long-term per 6 months, the rainy and hot.

The walls are thick to several inches, enough to withstand the onslaught of bombs dropped from aircraft when the second world war. At the top of the front gate hung a station, and also posted a sign next to the same station with a smaller size, but still white with blue les with large capital letters in black.

And to separate the stations that can be traversed by the traffic from the outside in planting the rest of the steel beams and rails are worn with a display unused lengthwise into the guardrail. Gravel yard with a little muddy here and there and the area was used as a hangout of the rickshaw pullers. Lined lengthwise near the closest exit and enter the station at once. Every time another rickshaw passenger quota will shift his place and so on alternately so that there is justice between fellow pedicab driver, without having to fight for his daily sustenance, no one set of unwritten agreement unless mutually agreed.

The most interesting part of the station are the hawkers with a variety of goods sold is around diseantero station, offers a wide array of traditional foods, spicy pecal somewhat dry, salad, cold tea, hot tea is the standard menu. While the other snacks in the form of cookies or the traditional food for lunch and a gift that should never be overlooked, as it surely will be billed if we go by train. I never miss this opportunity, even though the station platform I mean not a comfortable place to eat snacks because of the smell that can not cooperate. But it was inevitable, so just enjoy the magic of food and all food is processed at the station by the hands of a skilled and qualified chef style, yummy.

Surprisingly long as I play on the station was never even remember story about the accident, but caution should always be maintained. Station is a place interesting to observe many things, people passing by, the seriousness of passengers anxiously waiting for the train coming, upset and some even mediocre even ignored me. Sitting rail sidelines while snacking or reading the latest current events daily. Or was enjoying snacks, rice and a glass of tea pecal hot or cold retailer sold while walking with rows of cups of tea as he rocked or swayed to follow the fluid motion as the seller who has become "the body" so that no longer feel anxious spill occurred, while occasionally shouting shouting merchandise, of any kind if you quickly through the crowd chanted always the same, "hot water, hot water, hot water coming through!. and as fast as everyone would like a dodge to avoid reflex defense and martial arts kicks. Occasional It could be the laughingstock of treating saturated waiting for the train to come.

Not to mention the sight of people sleeping, sometimes even ignorant as unconscious, no matter how casually stretched around. Because the plural is always a dynamic of its own station, so people feel ignored it with everything that happened, but that was really disturbing. That station, all the unexpected can happen there, but I think the station is the most interesting places to observe the behavior of diverse people with different character colors.

Senin, 18 Juni 2012

Ikan Super Besar, Super Big Fish

Dari mana mulainya aku tak ingat, hanya saja, hari itu menjadi saat pertama kalinya kolam di belakang rumah, maksudku kolam orang bukan kolam milik kakekku, dikuras. Karena seingatku sejak aku kecil aku tak pernah melihat kolam itu dikuras. Jadi begitu air mulai surut dan lumpur mulai muncul dipermukaan orang pencari ikan berhamburan masuk ke kolam, tapi tidak untuk anak-anak, kami harus sedikit bersabar menunggu. Setelah hampir habis ikannya, begitu juga dengan seluruh kesabaran kami maka aku langsung melompat  ke dalam kolam.

Tapi meskipun sudah berjam-jam tak ada juga ikan yang lumayan bisa memuaskan, tapi diluar dugaanku, ketika sedang berjalan diantara lumpur aku  tak sengaja menginjak benda lebar, dingin dan empuk. semula kupikir potongan batang pisang yang banyak tumbuh dipinggiran kolam. Namun ketika tangan aku ulurkan untuk mengambilnya ternyata itu seekor ikan nila besar, ikan paling besar yang pernah kulihat dalam hidupku.

Mungkin karena pusing dengan keruhnya air, ikan menjadi lemas dan tenang, tapi begitu aku angkat dan menghirup udara bebas dengan cepat ikan memberontak dan menepis dari tanganku dan dengan leluasa menghilang dalam keruh air. Giliran para pencari ikan yang panik dan berusaha keras menangkapnya.

Aku hanya bisa merasa sedikit beruntung bahwa di hidupku aku pernah "hampir" bisa menangkap ikan besar, paling besar mungkin, karena ukurannya saja hampir sebesar ukuran tubuhku.

Aku juga tak ingat apakah para pencari ikan berhasil menangkapnya atau tidak. tapi seandainya tidak pastilah ikan itu menjadi induk ikan paling besar dan dengan cepat akan mengisi kolam itu dengan anak-anaknya yang baru.

Tapi sudahlah berarti belum hari baikku.

Super Big Fish
by hans-acehdigest

Where to start I do not remember, it's just that, that day became the first time in the pond behind the house, I mean people are not swimming pools owned by my grandfather, drained. Because I can remember since I was little I never saw the pool was drained. So once the water begins to recede and the mud began to appear on the surface of the fish finder jump into the pond, but not for the kids, we need a little patience to wait. After running out of fish, as well as all our patience, so I immediately jumped into the pool

But even after many hours there are also fish that can be quite satisfying, but beyond the expected, while walking among the mud I accidentally stepped on a wide body, cold and soft. originally I thought that many pieces of banana growing pool sidelines. But when I reached to pick it up hand it was a large tilapia fish, big fish Paing I've ever seen in my life.

Perhaps because of dizziness with murky water, fish become lethargic and quiet, but once I lift it and breathe free air quickly rebelled and rejected fish from my hand and conveniently disappeared in murky water. Turn the fish finder to panic and tried hard to catch.

I can only feel a little lucky in my life that I've "almost" can catch big fish, most likely, because of its size alone almost as big as the size of my body.

I do not remember whether the search of fish caught him or not. but if the fish must not be holding the biggest fish and will quickly fill the pool with new children.

But anyway, is not yet my good days

Jumat, 08 Juni 2012

Dejavu

ketika melintas di depan taman kanak-kanak Blang Padang, aku seperti sedang melalui bagian dari masa laluku. Aku merasa tak asing dan pernah mengalaminya tapi entah kapan?, seingatku ketika aku kelas 1 sekolah dasar. Orang bilang itu Dejavu.

semuanya terasa sama, persis di setiap bagian, waktu dan saat, sehingga sempat membuatku tercenung beberapa saat seperti sedang melintas waktu. Aku tiba-tiba teringat ibuku, menggandeng tanganku menyusuri pagar depan kantor pos kebumen setelah turun dari becak.

Kami berdua berjalan riang untuk menguangkan wesel pos, meskipun menurut ibuku uang itu tak pernah cukup memenuhi kebutuhan kami, padahal kami telah mengencangkan ikat pinggang. Ada perasaan gembira dan sedih ketika kami harus menunggu datangnya pos wesel berwarna abu-abu dengan logo pos di sebelah kirinya. Seperti kertas ajaib, kami harus mengikuti antrian dan ketika petugas menyerahkan beberapa lembar uang ratusan, hati kami hampir meledak gembira.

Kami memaksa diri harus ke pasar, membeli keperluan dan belanja pertama di awal bulan memuaskan sedikit keinginan yang mewah dengan membeli ayam dan ikan peda pindang. Aku  bisa melihat wajah gembira ibuku, begitupun aku bisa merasakan kegembiraannya yang meluap.

Dan aneh juga, kenapa dejavu itu baru muncul sekarang ini tidak jauh-jauh hari, meskipun setiap kali melintas di depan TK Blang padang, aku selalu berusaha merasakan sesuatu yang seperti memaksa keluar dari hati dan perasaanku.

Dejavu membantu membangunkan masa laluku, yang telah mengantarku begitu lama dan jauh hingga ke detik ini. Masa lalu memang lekat dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari peristiwa dan hati, keduanya tersambung tali yang tak kasat mata. Sepahit apapun masa lalu tetap menyisakan sedikit kebahagiaan dan seringkali kita masih bisa tersenyum setiap kali mengingatnya.

Dejavu
by hans-acehdigest

when passing in front of kindergarten Blang Padang, I like going through a part of my past. I felt strange and never experienced it but who knows when?, I remember when I was an elementary school classroom. People said it was Dejavu.

all taste the same, exact in every part, time and time, so had got me was a moment like he was passing the time. I suddenly remembered my mother, holding my hand along the front fence Kebumen post office, after the fall of the rickshaw.

We both walked cheerfully to cash a postal money order, even though my mother was never enough money to meet our needs, but we have to tighten their belts. There is a sense of joy and sadness when we have to wait for postal money orders with a gray logo on his left post. Like the magic paper, we have to follow the queue and when the officer handed a few bills of hundreds, our hearts almost bursting joy.

We have to force themselves into the market, buying and shopping purposes at the beginning of the first few months of satisfying the desire of luxury by buying chicken and fish pindang bike. I could see my mother's happy face, as well as I could feel the joy that overflowed.

And strange, too, why it's dejavu emerging now is not far-distant day, though each time passing in front of TK Blang field, I always try to feel something like a force out of the heart and feelings

Dejavu help awaken my past, who had walked so long and far up to this moment. The past has been closely and become an integral part of the event and the liver, both connected to an invisible rope. Any bitter past, while still leaving a little happiness and often we can still smile every time to remember.

Aceh-Blitar-Bagian Pertama; The Trip Part One

Entah pada tahun berapa, aku melakukan kunjungan pertama kaliku, setelah hampir duapuluh lima tahun aku meninggalkan Kebumen. Kota kecil dipeta yang tak pernah kuingat dimana noktahnya untuk waktu yang sangat lama.

Kunjunganku kali inipun sebenarnya juga tak berencana, hanya saja aku mendapat titipan pesan dari ibu mertuaku untuk  mengantar surat penting, maka jadilah aku memulai sebuah perjalanan panjang. Dimulai dari pesawat, taksi, kereta api, hingga becak yang di dorong pengemudinya dari belakang bukan dari depan seperti di tempatku di Aceh.

Setelah mengikuti kunjungan kegiatan, lepas dari acara aku langsung menuju stasiun kereta api gambir, memesan tiket, setelah sebelumnya dipusingkan dengan kesana-kemari mencari stasiun, karena takut dibohongi para tukang becak aku memilih angkot, sialnya aku justru tertipu oleh perasaan takutku sendiri. Aku sengaja memilih kereta api bisnis, sialnya lagi,aku kehabisan tiket dan harus rela antri di kelas ekonomi. bayangan buruk kelas itu memang tergambar betul, bukan cuma soal ketidaknyamanan, tapi lebih soal keamanan. kalau semrawut, barangkali cuma sekedar bumbu dari begitu banyak dan panjangnya persoalan di kelas ekonomi.

Cibugel, Sumedang 1978

Kurang lebih tiga atau empat bulan, aku tinggal di Cibugel, selama itu aku punya banyak kenangan, karena saat itu sebenarnya menjadi tahun-tahun terakhir aku bertemu dengan ibuku. Mungkin karena sejak awal ayahku tak mau membuatku banyak bertanya-tanya, jadi aku tak pernah dapat penjelasan dan alasan kenapa aku harus berada disana untuk waktu yang lama sebelum akhirnya aku berangkat ke aceh, karena ayahku mendapat undangan dari Pak Ali Hasmy almarhum untuk menjadi salah seorang dosen di IAIN Ar-Raniry.

Tahun itu juga menjadi tahun kesedihanku yang paling dalam karena pada akhirnya aku menyadari betapa jauhnya aku dengan ibuku, karena aku harus melintasi banyak pulau dan melakukan perjalanan kapal hingga 3 hari 4 malam untuk sampai ke serambi mekkah. Aku tetap merasa sendirian, sekalipun saat itu aku ditemani nenek dari pihak ayahku yang memang punya kedekatan secara personal denganku. Pada akhirnya ketika kemudian nenek juga pulang ke Gandrungmangu aku benar-benar merasa bahwa aku memang sendirian.

Ada perasaan menyesal yang terlambat aku rasakan, terutama ketika apada akhirnya nenek dan kakek juga meninggal dan aku tak juga bisa hadir kesana untuk menjenguknya terakhir kali.

Aku membayangkan betap berat ibuku menjalani semua kenyataan yang aku rasakan sendiri saja begitu berat, apalagi bagi seorang ibu yang harus kehilangan dan berjauhan dengan anaknya untuk waktu yang tak pernah bisa ditentukan. Kesedihan dan kenyataan itu yang membuatku pada akhirnya menjadi kebal rasa karena keinginan untuk bertemu ibuku yang tak pernah kesampaian.

Bahkan untuk waktu yang sangat lama, barulah kami memiliki cara untuk berkomunikasi melalui surat yang penuh rahasia. Meskipun di awal aku tak menyadari kenyataan betapa rumitnya memulai hubungan melalui surat itu karena persoalan menjaga hati orang lain. Aku juga kemudian menyadari mengapa komunikasi itu lama sekali baru kami lakukan, karena persoalan, barangkali karena aku masih anak-anak susah untuk menjaga rahasia dan berhati-hati, sehingga setelah beranjak dewasa barulah kami, maksudku aku dan ibuku memulai kemunikasi melalui surat tadi.

Cibugel dan Sumedang menjadi catatan sendiri buatku untuk waktu yang sangat panjang, karena sudah menjadi bagian kisah hidupku.

Cibugel, Sumedang 1978
by hans-acehdigest

Approximately three or four months, I lived in Cibugel, during which I have many memories, because when it's actually become the last years I met with my mother. Maybe because since the beginning of my father did not want to make many wonder, so I never could the explanation and the reason why I should be there for a long time before I finally went to Aceh, because my father received an invitation from Mr. Ali Hasmy the deceased to be one lecturer at IAIN Ar-Raniry.

That year also became the year's most in my grief because in the end I realized how far I was with my mother, because I have to cross many of the islands and ships to travel up to 3 days 4 nights to get to the porch mecca. I still feel alone, even when I accompanied my grandmother from my father's side who did have a personal closeness with me. In the end, when the then grandmother is also home to Gandrungmangu I really felt that I was alone.

There is a feeling of regret that late I'm feeling, especially when apada finally grandparents also died and I could also be present there to see him one last time.

I imagine my mother's heavy betap fact that I live all alone feeling so heavy, especially for mothers who have lost and far from his son for the time that could never be determined. The sadness and the realization that made me eventually become immune to feeling the desire to meet my mother who was never accomplished.

Even for a very long time, then we have a way to communicate through letters full of secrets. Although in the beginning I did not realize how complex reality to start a relationship through letters because the issue of keeping the hearts of others. I also then realized why communication is so new we do long, because the issue, perhaps because I was a child hard to keep secrets and be careful, so that after growing up before us, I mean me and my mother had started communication by mail.

Sumedang Cibugel and became its own record for me for a very long time, because it has become part of my life

Pesan dari Mekkah, Short Message from Mecca

Kisah ini seperti melompat dari catatanku, cuma karena bersambung dengan kisahku dulu aku memaksa menyambungnya. Pesan singkat itu mengingatkanku kembali kapan aku mula sekali menginjakkan kaki di tanoh serambi mekkah. Ibuku berkisah sepulang ayahku dari Pulau Selayar, sulawesi selatan, sebuah pulau kecil digugusan kepulauan di sulawesi yang penduduknya seluruhnya muslim. Tak lama setelahnya ayahku membawaku berlayar jauh menuju Aceh. mungkin melanjutkan kesan perjalanan jauhnya ke Selayar.

Kisah ini sekaligus menguak ingatanku kembali, tentang kesedihan yang teramat berat ketika aku harus meninggalkan ibuku yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Karena semua terjadi di luar pengetahuanku, kupikir orang dewasa ketika itu bermuslihat agar aku tak berkeluh kesah dan bersedih berkepanjangan.

Begitupun aku mencatatnya sebagai bagian dari periode kelam yang mestinya kujadikan catatan namun aku tak mau mengingatnya berlebihan. Aku mengingatnya hanya sebagai bagian dari hidup yang telah membesarkan dan membantuku tumbuh menjadi pribadiku sendiri seperti sekarang ini.

Sungkan rasanya mencatatkan kisah ini, jika pada akhirnya menyiratkan ada penyesalan yang tak berkesudahan. Tapi catatan ini tetap saja menarik minat hatiku untuk memasukkannya dalam catatan panjang yang baru kumulai sebagiannya. Masih banyak lainnya, dan mungkin lebih musykil dan dramatis, hanya saja aku belum bisa sepenuhnya mengingat dengan baik.

Short Message from Mecca
by hans-acehdigest

This story is like jumping from my notes, just continued on with my story because I used to force the dial. The short message reminded me when I first set foot on the Tanoh Seramoe Mecca. My mother told me about my father's story of Selayar Island, South Sulawesi, a small island in  cluster Sulawesi island in the whole Muslim population. Shortly after my dad took me sailing away into Aceh. may continue the journey to Selayar impression.

This story reveals once again my memory, about grief is very heavy when I had to leave my mother that I never imagined before. Because all happened outside my knowledge, I think adults when it cover up so I did not complain and prolonged grief.

Likewise I recorded it as part of the dark period that should make me want to record but I do not remember too much. I remember it only as a part of life that has been encouraging and helped me grow into my own personal today.

Feel free to record the story, if in the end implies there is an endless remorse. But these records still attract me to include it in the newly begun a long track record in part. Many more, and perhaps more improbable and dramatic, it's just that I can not fully remember it well.