Bendanya termasuk besar untuk ukuran radio, hampir sebesar kotak televisi yang kita kenal sekarang dengan ukuran kurang lebih 50 inchi. Berbentuk persegi panjang dengan kain penutup berbahan tebal dibagian depannya. Ada deretan tunning pencari siaran dengan alat pemutar yang besar seperti tombol pemutar pada kompor gas atau mesin cuci. Radio transistor itu berwarna peach dan kream, indah sekali, karena di masanya hanya beberapa orang yang bisa memiliki benda itu, karena televisi juga masih terbilang jarang dipunyai oleh rumah tangga.
Mungkin kakek membelinya, atau hasil barter dari bisnisnya. Yang jelas radio itu menghiasi rumah kami sejak lama. Radio itu kami letakkan di antara ruang tengah dan dapur, di kaki tangga dekat loteng kakek. Sekaligus digunakan untuk penghias dan pembatas ruang.
Namun sayangnya di tahun yang tak bisa kuingat, barangkali 1976 atau 1977, aku merusak transistor radio itu, dengan membuka bagian belakang radio dan menarik transistornya itu sendiri. Berupa tabung kecil bening yang berada tepat ditengah radio, seperti jantung bagi manusia. Ketika aku tarik dan putus, maka radio itu berhenti tak lagi bisa bersuara. Kata ibuku, aku memang sering nakal, dengan menjadikan bagian belakang radio itu sebagai tempat persembunyian seperti bagian lemari. Aku masuk ke dalamnya dan tidak memperdulikan apapun yang aklu lakukan termasuk merusak bagian dalam radio yang aku lakukan tanpa aku sadari.
Meskipun kakek sempat marah dan gusar, tapi apa mau dikata semuanya sudah terjadi. Beberapa usaha pernah dilakukan oleh kakek dengan mencari barang pengganti transistor itu, namun terlalu sulit karena ketika itu radio itu telah menjadi barang yang sangat langka onderdilnya. Dan kemungkinan memang tidak lagi diproduksi di pabriknya.
Maka jadilah radio itu barang rongsokan, dan fungsinya berubah menjadi meja dan tempat hias pembatas ruang. Bertahun- tahun aku tak memperdulikan dan ketika kusadari itu sebagai benda yang bernilai tinggi namun semuanya terlambat karena radio transistor telah lenyap tak tahu kemana. Terutama sepeninggal kakek, karena kemudian rumah itu ditempati oleh pamanku.
Transistor radios
by hans@acehdigest
Large for the size of objects including radio, television box almost as big as we know it today with a size of approximately 50 inches. Is a rectangle with a thick cloth made from front section. There is a row of search tunning broadcast with a big player like the player on a gas stove or washing machine. Transistor radios and kream peach-colored, beautiful, because in his time only a few people who could have it, because television is still relatively rarely possessed by the household.
Maybe my grandfather bought it, or the result of business bartering. What is clear is that radio decorate our house for a long time. We put the radio in between living room and kitchen, at the foot of the stairs near the attic grandfather. Once used to decorate and a room divider.
But unfortunately in the years that I can not remember, maybe 1976 or 1977, I damaged the transistor radio by opening the back of the radio and pull, transistor itself. Nodes form a small tube which is right in the middle radio, such as the heart of human. When I drag and drop, then the radio stopped no longer have a voice. Said my mother, I was often naughty, by making the back of the radio as a hiding place as part of the cabinet. I got into it and disregard anything that I do include damage to the inside of the radio which I did without me knowing it.
Although my grandfather was angry and upset, but what can I say everything is happening. Some effort was made by my grandfather to look for a replacement item of transistors, but when it's too difficult because the radio has become a very rare item spare parts. And chances are no longer manufactured in the factory.
Then be that radio junk, and its functions turned into a table and place decorative room divider. For years I did not care and when I realized that as a high-value items, but it's too late since the transistor radio was gone did not know where. Especially after the death of my grandfather, because then the house was occupied by my uncle.
Label
10 tahun tsunami.
(1)
2013
(1)
acehku
(1)
Adikku.
(1)
Aku
(4)
Among-among
(1)
Anak-anak
(1)
Anak-Anak Dikutuk
(1)
Angka ajaib
(1)
aqiqahku
(1)
Ayahku
(1)
babak baru
(1)
bakso
(1)
Barzanji
(1)
batu cincin
(1)
belimbing
(1)
Belut Loch Ness
(1)
Belut Sawah; Mancing Belut
(1)
Bibiku
(2)
bioskop misbar
(1)
birtdhday party
(1)
bisnis keluarga
(1)
busur dan panah
(1)
capung
(1)
Celengan bambu
(1)
China's Neighbords
(1)
Cibugel 1979
(1)
Cibugel Sumedang
(2)
cinta bunda
(1)
cracker
(1)
Curek; Inflammation
(1)
Dapur nenek
(1)
dejavu
(1)
Dian Kurung
(1)
distant relatives
(1)
Dremolem Or Dream Of Land
(1)
es dogger
(1)
es goyang
(1)
es serut
(1)
Fried Sticky Rice
(1)
Gadis Kecil
(1)
gambar desain
(1)
gambarku
(1)
Gandrung Mangu
(2)
golek;nugget cassava
(1)
harmonika kecilku
(1)
Ibuku
(11)
Ibuku Atau Kakakku?
(1)
Ikan
(2)
ikan dan ular
(1)
iseng
(1)
jalan kolopaking
(2)
Jalan Kusuma
(2)
jangkrik Jaribang Jaliteng
(1)
Jenang Candil
(1)
jogging
(1)
Juadah
(1)
Juz Amma
(1)
kakek dan nenek
(3)
kakekku
(3)
kecelakaan fatal
(2)
kelahiranku
(1)
Kelas Terakhir; the last class
(1)
kenangan
(1)
Kerupuk Legendar
(1)
kilang padi
(1)
Klapertart Cake
(1)
kolam ikan masjid
(1)
koleksi stiker
(1)
koleksi unik
(1)
koplak dokar dan colt
(1)
kota kecil dan rumahku
(1)
Kue tape
(1)
Kutawinangun
(1)
Lanting
(1)
little cards
(1)
Loteng rumah
(1)
lotere
(1)
lottery
(1)
mainan anak-umbul
(1)
makan
(1)
makkah
(1)
Malam Jum'at
(1)
Mancing Belut
(1)
masa kecil
(9)
masa kecil.
(1)
masa lalu
(2)
masjid kolopaking
(1)
meatballs
(1)
Mengaji
(1)
Minum Dawet
(1)
morning walk
(1)
my
(1)
my birth
(1)
my first notes
(6)
my mom
(4)
my note
(25)
Nama ibuku
(1)
Nenek Sumedang
(1)
new round
(1)
new year
(2)
others notes
(1)
ours home
(1)
padi sawah wetan
(2)
pande besi
(1)
Papan Tulis
(1)
Pasar dan Ibuku
(1)
Penculik dan Bruk
(1)
Pencuri
(1)
Perjalanan 25 Tahun Bag. Pertama
(1)
personal
(1)
Puasa
(1)
radio transistor
(1)
Roti dan Meriam Kauman
(1)
Rumah Ban
(1)
Rumah Kakek dan Nenek
(5)
rumah karang sari
(1)
rumah kecil di pojok jalan
(4)
rumah kelinci
(1)
rumah kutawinangun
(1)
Rumah Pojok
(1)
rumahku
(1)
Sarapan Apa Sahur?
(1)
saudara jauh
(1)
sawah utara
(1)
sawah wetan
(2)
SD Kebumen
(1)
Sepeda dan Meteor
(1)
shake es
(1)
shalat jamaah
(1)
sintren
(1)
Starfruit for Mom
(1)
Stasiun Kereta Api
(2)
Sumedang 1979
(1)
Sungai Lukulo.
(1)
tahun awal
(17)
tahun baru
(1)
Taman Kanak-kanak
(1)
Tampomas I
(1)
tanteku
(2)
Tetangga Cina
(1)
The magic Number
(1)
tradisional
(1)
tsunami 2014
(1)
Visionary grandpa
(1)
Wayang Titi
(1)
Jumat, 20 Januari 2012
Loteng warung dan Stikerku; Attic and sticker
Entah kenapa aku masih terus mengingat satu hal ini, barangkali ketika aku meninggalkan rumah di pertengahan tahun 1979, aku memang sedang memulai koleksi stiker hitam putihku. Ternayata minatku ke warna hitam putih memang sudah sejak dari dulu. Koleksiku itu kusimpan ditempat yang agak aneh, penutup atap warung yang terbuat dari bahan unik, anyaman tipis karet bekas ban mobil yang dirancang sendiri oleh kakekku. Ide ini orisinil dan barangkali ketika itu hanya rumah kami yang mempunyai materi interior unik seperti itu, kakekpun menggunakan limbah sisa karet dari pembuatan benda lain.
Ditempat yang aneh dan unik itulah tak ada seorangpun yang menyadari jika aku menyimpan puluhan, bahkan hampir seratusan stiker yang kubeli secara sembunyi-sembunyi selama waktu yang tak bisa kuingat lagi. Sesekali aku memanjat untuk menambahkan koleksi sambil mengintip berapa banyak koleksi yang sudah terkumpul, sambil memastikan semuanya masih aman di tempatnya.
Biasanya aku memanjat dari petak lemari pajang di sebelah kanan warung, memanjat perlahan ketika para pekerja sedang istirahat, karena jika ketahuan maka mereka akan gaduh, seperti ada huru hara, karena ada cucu majikannya memanjat lemari yang pasti bisa membahayakannya, dan dengan cepat aku akan ditangkap dan segera diturunkan. Padahal maksudku cuma untuk mengintip koleksi gambarku.
Dengan kerja kerasku yang begitu besar, dan kemudian aku tinggalkan begitu saja, aku selalu merasa penasaran, karena pada awalnya ketika aku diajak ayahku ke bandung di tahun 1978 itu, tak terpikirkan olehku aku akan pergi untuk waktu yang sangat lama, bahkan hampir semua jenis mainanku yang kusimpan ditempat-tempat aneh dirumah sebagai rahasia persembunyian semua "hartaku", akhirnya kutinggalkan dengan sia-sia, karena aku juga kesusahan berkomunikasi dengan adik-adikku, sehingga aku tak bisa mengirim pesan sekedar bilang bahwa mereka berdua boleh mengambil apapun yang kumiliki untuk mereka semua.
Diantara rasa penasaran itu, ketika aku berkunjung kesana aku berkesempatan untuk mengobati rasa isengku, apakah semuanya masih berada di tempatnya seperti semula atau benar-benar sudah berganti. Ternyata 180 derajat semuanya hilang, termasuk radio transistor yang kupikir bisa kuambil sebagai sisa kenangan yang paling aku impikan.
Attic stall and my sticker
by hans@acehdigest
Somehow I still remember this one thing, maybe when I left home in mid-1979, I am currently starting my white black sticker collection. Its turns out my interest to black and white had been since the first. I kept my collection was a rather strange place, stall roof coverings made of unique material, a thin rubber matting used automobile tires are designed by my grandfather. The idea was original and perhaps when it is only our house that has a unique interior material like that, grandpa using residual waste from the manufacture of rubber other objects.
In that's strange and unique place that no one was aware if I save tens, even hundreds of stickers which I bought almost clandestinely during the time that I can not remember anymore. Every now and then I climbed up to add a collection of peering how many collections that have been collected, while making sure everything is still securely in place.
Usually I climbed from the showcases plot on the right stall, climbing slowly when workers are resting, because if caught they will be noisy, like a riot there, because there are grandchildren master closet that can certainly climb harm, and quickly I would was arrested and immediately taken down. And I mean just to peek at my picture collection.
With my hard work is so great, and then I leave it alone, I always find it curious, because at first when I invited my father to Bandung in 1978 was, not I think I'll go for a very long time, almost all kinds of toys I kept at home in places strange as confidential hiding all my "treasure", finally left in vain, because I also trouble communicating with my brothers, so I can not send a message just saying that they both should take whatever I have for them all.
Among curiosity, when I visit there I had the opportunity to treat the curiosity, if everything is still in place as before or really had changed. 180-degree turns are all lost, including a transistor radio that I thought I could pick up as the rest of the best memories I dream of.
Ditempat yang aneh dan unik itulah tak ada seorangpun yang menyadari jika aku menyimpan puluhan, bahkan hampir seratusan stiker yang kubeli secara sembunyi-sembunyi selama waktu yang tak bisa kuingat lagi. Sesekali aku memanjat untuk menambahkan koleksi sambil mengintip berapa banyak koleksi yang sudah terkumpul, sambil memastikan semuanya masih aman di tempatnya.
Biasanya aku memanjat dari petak lemari pajang di sebelah kanan warung, memanjat perlahan ketika para pekerja sedang istirahat, karena jika ketahuan maka mereka akan gaduh, seperti ada huru hara, karena ada cucu majikannya memanjat lemari yang pasti bisa membahayakannya, dan dengan cepat aku akan ditangkap dan segera diturunkan. Padahal maksudku cuma untuk mengintip koleksi gambarku.
Dengan kerja kerasku yang begitu besar, dan kemudian aku tinggalkan begitu saja, aku selalu merasa penasaran, karena pada awalnya ketika aku diajak ayahku ke bandung di tahun 1978 itu, tak terpikirkan olehku aku akan pergi untuk waktu yang sangat lama, bahkan hampir semua jenis mainanku yang kusimpan ditempat-tempat aneh dirumah sebagai rahasia persembunyian semua "hartaku", akhirnya kutinggalkan dengan sia-sia, karena aku juga kesusahan berkomunikasi dengan adik-adikku, sehingga aku tak bisa mengirim pesan sekedar bilang bahwa mereka berdua boleh mengambil apapun yang kumiliki untuk mereka semua.
Diantara rasa penasaran itu, ketika aku berkunjung kesana aku berkesempatan untuk mengobati rasa isengku, apakah semuanya masih berada di tempatnya seperti semula atau benar-benar sudah berganti. Ternyata 180 derajat semuanya hilang, termasuk radio transistor yang kupikir bisa kuambil sebagai sisa kenangan yang paling aku impikan.
Attic stall and my sticker
by hans@acehdigest
Somehow I still remember this one thing, maybe when I left home in mid-1979, I am currently starting my white black sticker collection. Its turns out my interest to black and white had been since the first. I kept my collection was a rather strange place, stall roof coverings made of unique material, a thin rubber matting used automobile tires are designed by my grandfather. The idea was original and perhaps when it is only our house that has a unique interior material like that, grandpa using residual waste from the manufacture of rubber other objects.
In that's strange and unique place that no one was aware if I save tens, even hundreds of stickers which I bought almost clandestinely during the time that I can not remember anymore. Every now and then I climbed up to add a collection of peering how many collections that have been collected, while making sure everything is still securely in place.
Usually I climbed from the showcases plot on the right stall, climbing slowly when workers are resting, because if caught they will be noisy, like a riot there, because there are grandchildren master closet that can certainly climb harm, and quickly I would was arrested and immediately taken down. And I mean just to peek at my picture collection.
With my hard work is so great, and then I leave it alone, I always find it curious, because at first when I invited my father to Bandung in 1978 was, not I think I'll go for a very long time, almost all kinds of toys I kept at home in places strange as confidential hiding all my "treasure", finally left in vain, because I also trouble communicating with my brothers, so I can not send a message just saying that they both should take whatever I have for them all.
Among curiosity, when I visit there I had the opportunity to treat the curiosity, if everything is still in place as before or really had changed. 180-degree turns are all lost, including a transistor radio that I thought I could pick up as the rest of the best memories I dream of.
Kamis, 19 Januari 2012
Kerupuk Legendar; crackers legendar
Dibelakang rumahku ada pintu keluar terbuat dari besi yang bisa didorong untuk membukanya, pintu itu terhubung ke bagian belakang rumah, menyusuri parit kecil comberan yang dipenuhi ribuan cacing tanah, yang biasanya kami pakai juga untuk memancing.
Dari situ ada jalan tikus, melintasi sumur yang berisi belut "besar" seperti yang pernah kuceritakan dulu, tempat para ibu-ibu mencuci, hampir mirip dengan sumur umum, karena para kusir dokar juga mengambil air disana untuk memberi minum kuda dan memberi campuran dedak dan air untuk makanan kuda.
Dan disebelah kiri sumur itu ada halaman luas milik orang kaya lama di pinggiran kota kami, beberapa anaknya sakit dan telah lama meninggal sehingga hanya tinggallah nenek itu sendirian dengan Hisbullah anaknya yang bungsu yang juga menderita sakit ingatan sejak lama dan tinggal terkurung di bagian kamar depan rumah itu, dengan jendela berjeruji kayu yang selalu terbuka. Kami biasanya mengganggunya, meskipun kadang-kadang kami merasa kasihan, tapi namanya anak-anak kadang-kadang memang bertingkah aneh, sesekali baik besoknya berubah nakal dan iseng dengan begitu cepatnya.
Dan di halaman yang lumayan besar hampir seribu meter itu, menjadi tempat arena permainan kami, bermain layangan, engklek, berkejaran, tapi hanya disiang hari, dimalam hari tempat itu menjadi sunyi karena selain didepannya berbatas dengan jalan sepi yang berseberangan dengan pabrik plastik dan las cat duco yang di malam hari tutup. Ditambah lagi rumah sebelah kanan halaman itu juga mempunyai kebiasaan aneh suka memajang poster film bioskop, bahkan film yang paling horor sekalipun, penghuninya juga suka aneh-aneh kelakuannya. Kami anak-anak berpikir, jangan-jangan gambar itu pada malam hari akan menyelinap keluar dan mengganggu kami, makanya kami malas main disana pada saat malam hari kecuali di malam terang bulan, itupun sesekali jika ramai teman yang mengajaknya, kami biasanya bubar jika malam makin larut atau para pemilik rumah berteriak mengusir kami untuk segera pulang karena kami dianggap membuat keributan.
Di halaman besar itu juga nenek pemilik rumah itu selalu menjemur, sejenis kerupuk yang biasa kami sebut "legendar", kerupuk dari nasi atau ketan berwarna kuning hampir mirip kerupuk tempe. Kerupuk dijemur di atas lembaran sejenis tampi yang berbentuk persegi empat terbuat dari lembaran bambu yang dianyam. Dan agar tidak terganggu binatang terutama ayam atau anak-anak, kerupuk tadi dijemur dengan digantung. Karena kerupuk itu selalu menggoda kami, terutama ketika kami sehabis bermain dan tak memiliki apapun yang bisa menjadi camilan, sementara makanan lain tak ada. Karena kalau kami bosan, selalu makan anak nangka yang masih kecil maupun anak mangga mentah, maka satu-satunya pilihan adalah berusaha memanjat atau menggunakan galah untuk merontokkan beberapa kerupuk legendar yang telah kering, dan berebutan memakannya. Dengan satu syarat tak boleh terlihat oleh nenek itu, karena bisa marah besar dan akan mengusir dan mengejar kami meskipun dengan jalannya yang sudah membungkuk pasti kalah cepat dengan kami anak-anak yang berlari riang dan lincah. Tapi sebenarnya nenek itu tak begitu mempermasalahkan, karena kalau memarahi kami, hanya untuk mengingatkan agar kami tidak mengambilnya berlebihan, secukupnya saja. Karena toh jika dimakan sendiri oleh si nenek dan anaknya, kerupuk sebanyak itu tak akan habis, kecuali kalau tanpa sepengetahuan kami nenek itu juga menjualnya kepasar, jika itu benar maka hebat juga si nenek dengan kondisi yang begitu renta dan sendiri dirumahnya yang besar, masih sanggup mandiri, tak pernah mau berhenti bekerja.
Kerupuk legendar mungkin memang salah satu jenis camilan khas di tempatku,tapi aku tak tahu pasti, hanya saja namanya yang tak asing buatku, meskipun aneh menunjukkan jenis camilan itu memang sudah terbiasa ada di tempatku. Biasanya sebelum digoreng, legendar berukuran kurang lebih lima kali lima centi meter tapi jika sudah digoreng dan dibiarkan tanpa dilipat dua besarnya menjadi hampir sebesar setengah lembar buku tulis. Berwarna kuning dengan rasa yang sedikit aneh, pahit gurih, mungkin karena menggunakan ragi untuk membuatnya sedikit mengembang. Kerupuk ini juga tak terlalu tebal, sehingga renyah, begitupun dalam kondisi mentah jika sudah kering terjemur matahari seharian akan terasa renyah juga.
Dan soal nenek tadi, beliau akan tahu kerupuknya hilang jika seharian kami mencurinya terlalu banyak, sehingga ada satu bagian dari lempengan bambu tak lagi terisi, tapi jika kami mengambilnya acak dari semua bilah lembaran bambu nenek itu tak akan menyadari kalau seharian tadi kami sudah mencurinya. Tapi kebiasaan itupun hanya kami lakukan sesekali, terutama jika kami tongpes alias kantong kempes, karena kami tak punya uang sepeserpun.
Crackers Legendar
by hans@acehdigest
Behind my house there is a door made out of iron that could be encouraged to open, the door is connected to the rear of the house, down a small trench gutter filled with thousands of earthworms, which normally we use also for fishing.
There's a way of mice, through the wells containing the eel "big" as I told you before, where mothers wash, almost similar to public wells, because the coachman gig there as well to fetch water to water their horses and gave a mixture of bran and water for horse food.
And to the left of the well there is a rich woman's broad pages long on the outskirts of our town, some of the sick child and has since gone so just stay with my grandmother was alone with Hezbollah his youngest son who also suffered from memory for a long time and stay cooped up in the front room of the house that, with wooden bars on the windows are always open. We used to bother him, although sometimes we feel sorry, but the children sometimes do behave strangely, occasionally both naughty and fun the next day changed so quickly.
And in a fairly large page nearly a thousand feet, it becomes the arena where our games, flying kites, engklek, chased each other, but only in the daytime, at night it becomes quiet because in addition to front boundary with the road opposite the deserted factory welding plastic and workshop paint duco that close in the night. Plus the house right of the page it also has a strange habit of posters like movie theaters, even the best horror films though, residents also like strange behavior. We all the children think, lest the picture at night would sneak out and bother us, so we are lazy to play there at night except on moonlit nights, and even then sometimes if busy friend who asked, we usually disband when the night more soluble or homeowners yell drive us to go home because we considered making a fuss.
In the yard of the homeowner was also grandmother was always hanging out, a type of crackers which we call "legendar", crackers from rice or glutinous yellow almost like tempeh crackers. Dried crackers on the sheet of tampe kind of rectangular sheets made of woven bamboo. And that is not compromised animals, especially chickens or children, crackers were dried by hanging. Since crackers are always teasing us, especially when we have after every play and not anything that could be a snack, while other foods do not exist. Because if we get bored, always eating the young jackfruit or raw mangoes, then the only option is to try to climb or use the pole to shed a few crackers legendar dry ones, and scrambling to eat it. With one condition must not be seen by the old woman, because it can be furious and will repel and pursue us even with the course that has been bent will lose quickly with our children who ran cheerful and lively. But the grandmother was not actually so concerned about, because if you scold us, only to remind so we do not take excessive moderation. Because after all if eaten alone by grandmother and her son, crackers as much as it would not be exhausted, unless unbeknownst to our grandmother was also sold to the market, if it were true it's also great grandmother to the condition that is so old and alone at home is great, still able to independent, never want to stop working.
Crackers legendar may indeed one kind of typical snacks in my place, but I do not know for sure, it's just a familiar name for me, although the odd indicates the type of snacks that are already accustomed to in my place. Usually before frying, legendar measuring approximately five times five centi-meter, but if it is fried and left without folded in half to nearly the size of half a sheet of notebook. Yellow with a slightly odd taste, savory bitter, probably because of using yeast to make it a bit fluffy. Crackers are also not too thick, so crispy, as well as in raw condition if it is dry in the sun all day it will feel too crunchy.
And about the grandmother said, she would not know that cracker lost if we steal it too much all day, so there is one part of the bamboo plate is no longer occupied, but if we pick at random from all the sheets of bamboo slats grandmother would not have realized that we had stolen a day earlier. But our ability to do even then only occasionally, especially if we are "tongpes" or we have nothing in our pockets, we means money.
Dari situ ada jalan tikus, melintasi sumur yang berisi belut "besar" seperti yang pernah kuceritakan dulu, tempat para ibu-ibu mencuci, hampir mirip dengan sumur umum, karena para kusir dokar juga mengambil air disana untuk memberi minum kuda dan memberi campuran dedak dan air untuk makanan kuda.
Dan disebelah kiri sumur itu ada halaman luas milik orang kaya lama di pinggiran kota kami, beberapa anaknya sakit dan telah lama meninggal sehingga hanya tinggallah nenek itu sendirian dengan Hisbullah anaknya yang bungsu yang juga menderita sakit ingatan sejak lama dan tinggal terkurung di bagian kamar depan rumah itu, dengan jendela berjeruji kayu yang selalu terbuka. Kami biasanya mengganggunya, meskipun kadang-kadang kami merasa kasihan, tapi namanya anak-anak kadang-kadang memang bertingkah aneh, sesekali baik besoknya berubah nakal dan iseng dengan begitu cepatnya.
Dan di halaman yang lumayan besar hampir seribu meter itu, menjadi tempat arena permainan kami, bermain layangan, engklek, berkejaran, tapi hanya disiang hari, dimalam hari tempat itu menjadi sunyi karena selain didepannya berbatas dengan jalan sepi yang berseberangan dengan pabrik plastik dan las cat duco yang di malam hari tutup. Ditambah lagi rumah sebelah kanan halaman itu juga mempunyai kebiasaan aneh suka memajang poster film bioskop, bahkan film yang paling horor sekalipun, penghuninya juga suka aneh-aneh kelakuannya. Kami anak-anak berpikir, jangan-jangan gambar itu pada malam hari akan menyelinap keluar dan mengganggu kami, makanya kami malas main disana pada saat malam hari kecuali di malam terang bulan, itupun sesekali jika ramai teman yang mengajaknya, kami biasanya bubar jika malam makin larut atau para pemilik rumah berteriak mengusir kami untuk segera pulang karena kami dianggap membuat keributan.
Di halaman besar itu juga nenek pemilik rumah itu selalu menjemur, sejenis kerupuk yang biasa kami sebut "legendar", kerupuk dari nasi atau ketan berwarna kuning hampir mirip kerupuk tempe. Kerupuk dijemur di atas lembaran sejenis tampi yang berbentuk persegi empat terbuat dari lembaran bambu yang dianyam. Dan agar tidak terganggu binatang terutama ayam atau anak-anak, kerupuk tadi dijemur dengan digantung. Karena kerupuk itu selalu menggoda kami, terutama ketika kami sehabis bermain dan tak memiliki apapun yang bisa menjadi camilan, sementara makanan lain tak ada. Karena kalau kami bosan, selalu makan anak nangka yang masih kecil maupun anak mangga mentah, maka satu-satunya pilihan adalah berusaha memanjat atau menggunakan galah untuk merontokkan beberapa kerupuk legendar yang telah kering, dan berebutan memakannya. Dengan satu syarat tak boleh terlihat oleh nenek itu, karena bisa marah besar dan akan mengusir dan mengejar kami meskipun dengan jalannya yang sudah membungkuk pasti kalah cepat dengan kami anak-anak yang berlari riang dan lincah. Tapi sebenarnya nenek itu tak begitu mempermasalahkan, karena kalau memarahi kami, hanya untuk mengingatkan agar kami tidak mengambilnya berlebihan, secukupnya saja. Karena toh jika dimakan sendiri oleh si nenek dan anaknya, kerupuk sebanyak itu tak akan habis, kecuali kalau tanpa sepengetahuan kami nenek itu juga menjualnya kepasar, jika itu benar maka hebat juga si nenek dengan kondisi yang begitu renta dan sendiri dirumahnya yang besar, masih sanggup mandiri, tak pernah mau berhenti bekerja.
Kerupuk legendar mungkin memang salah satu jenis camilan khas di tempatku,tapi aku tak tahu pasti, hanya saja namanya yang tak asing buatku, meskipun aneh menunjukkan jenis camilan itu memang sudah terbiasa ada di tempatku. Biasanya sebelum digoreng, legendar berukuran kurang lebih lima kali lima centi meter tapi jika sudah digoreng dan dibiarkan tanpa dilipat dua besarnya menjadi hampir sebesar setengah lembar buku tulis. Berwarna kuning dengan rasa yang sedikit aneh, pahit gurih, mungkin karena menggunakan ragi untuk membuatnya sedikit mengembang. Kerupuk ini juga tak terlalu tebal, sehingga renyah, begitupun dalam kondisi mentah jika sudah kering terjemur matahari seharian akan terasa renyah juga.
Dan soal nenek tadi, beliau akan tahu kerupuknya hilang jika seharian kami mencurinya terlalu banyak, sehingga ada satu bagian dari lempengan bambu tak lagi terisi, tapi jika kami mengambilnya acak dari semua bilah lembaran bambu nenek itu tak akan menyadari kalau seharian tadi kami sudah mencurinya. Tapi kebiasaan itupun hanya kami lakukan sesekali, terutama jika kami tongpes alias kantong kempes, karena kami tak punya uang sepeserpun.
Crackers Legendar
by hans@acehdigest
Behind my house there is a door made out of iron that could be encouraged to open, the door is connected to the rear of the house, down a small trench gutter filled with thousands of earthworms, which normally we use also for fishing.
There's a way of mice, through the wells containing the eel "big" as I told you before, where mothers wash, almost similar to public wells, because the coachman gig there as well to fetch water to water their horses and gave a mixture of bran and water for horse food.
And to the left of the well there is a rich woman's broad pages long on the outskirts of our town, some of the sick child and has since gone so just stay with my grandmother was alone with Hezbollah his youngest son who also suffered from memory for a long time and stay cooped up in the front room of the house that, with wooden bars on the windows are always open. We used to bother him, although sometimes we feel sorry, but the children sometimes do behave strangely, occasionally both naughty and fun the next day changed so quickly.
And in a fairly large page nearly a thousand feet, it becomes the arena where our games, flying kites, engklek, chased each other, but only in the daytime, at night it becomes quiet because in addition to front boundary with the road opposite the deserted factory welding plastic and workshop paint duco that close in the night. Plus the house right of the page it also has a strange habit of posters like movie theaters, even the best horror films though, residents also like strange behavior. We all the children think, lest the picture at night would sneak out and bother us, so we are lazy to play there at night except on moonlit nights, and even then sometimes if busy friend who asked, we usually disband when the night more soluble or homeowners yell drive us to go home because we considered making a fuss.
In the yard of the homeowner was also grandmother was always hanging out, a type of crackers which we call "legendar", crackers from rice or glutinous yellow almost like tempeh crackers. Dried crackers on the sheet of tampe kind of rectangular sheets made of woven bamboo. And that is not compromised animals, especially chickens or children, crackers were dried by hanging. Since crackers are always teasing us, especially when we have after every play and not anything that could be a snack, while other foods do not exist. Because if we get bored, always eating the young jackfruit or raw mangoes, then the only option is to try to climb or use the pole to shed a few crackers legendar dry ones, and scrambling to eat it. With one condition must not be seen by the old woman, because it can be furious and will repel and pursue us even with the course that has been bent will lose quickly with our children who ran cheerful and lively. But the grandmother was not actually so concerned about, because if you scold us, only to remind so we do not take excessive moderation. Because after all if eaten alone by grandmother and her son, crackers as much as it would not be exhausted, unless unbeknownst to our grandmother was also sold to the market, if it were true it's also great grandmother to the condition that is so old and alone at home is great, still able to independent, never want to stop working.
Crackers legendar may indeed one kind of typical snacks in my place, but I do not know for sure, it's just a familiar name for me, although the odd indicates the type of snacks that are already accustomed to in my place. Usually before frying, legendar measuring approximately five times five centi-meter, but if it is fried and left without folded in half to nearly the size of half a sheet of notebook. Yellow with a slightly odd taste, savory bitter, probably because of using yeast to make it a bit fluffy. Crackers are also not too thick, so crispy, as well as in raw condition if it is dry in the sun all day it will feel too crunchy.
And about the grandmother said, she would not know that cracker lost if we steal it too much all day, so there is one part of the bamboo plate is no longer occupied, but if we pick at random from all the sheets of bamboo slats grandmother would not have realized that we had stolen a day earlier. But our ability to do even then only occasionally, especially if we are "tongpes" or we have nothing in our pockets, we means money.
Panah Raksasa; giant arrow
Kisah ini sebenarnya konyol dan lucu. Karena aku masih anak-anak, dan lumrah rasanya jika anak-anak berkelahi dan bermusuhan dengan teman karena sebab-sebab kecil dan sepele. Aku juga pernah terlibat perseteruan model begitu, meskipun bila aku mengingatnya kembali kejadiannya sangat berbahaya sekali, terutama jika kami tak saling menjaga emosi.
Rumah kami sebenarnya tak terpaut jauh, hanya beberapa meter dipisahkan pagar belakang rumah. Aku biasanya mencari potongan logam di depan rumahnya untuk mencari uang tambahan, jadi sebenarnya kami juga berteman baik. hanya karena dalam beberapa permainan umbul mereka kalah, mereka tak terima kekalahan, akhirnya terpancing menjadi permusuhan kecil, mulai dari beradu mulut sampai beradu kreasi senjata.
Di musim permainan panahan, kami maksudku aku dan teman di belakang rumahku, Anto dan Andung kembali terpancing bermusuhan, dipicu oleh urusan gambar tadi ditambah kebiasaan mereka yang sedikit nakal, lalu kami bersaing membuat senjata untuk saling mengalahkan, dan fatalnya kami memilih panah, yang sangat berbahaya, karena mata panahnya kami sengaja asah setajam mungkin untuk bisa mengalahkan. Meskipun tidak sampai menimbulkan insiden berdarah.
Ketika perlombaan persaingan itu dimulai, kami saling membuat panah dan busurnya, kalau ukurannya kalah, kami akan pulang kerumah dan membuat ukuran yang lebih besar lagi, begitu seterusnya berulang, sehingga tanpa kami sadari kami justru membuat panah dan busurnya berlomba mana yang lebih besar, bukan mana yang lebih cepat bisa menjangkau lawan, hasilnya kami justru menjadi bahan olok-olokan para orang dewasa yang mengganggap kami tidak saja sedang melakukan sesuatu yang berbahaya tapi juga lucu.
Bayangkan saja jika ukuran busurnya sudah lebih besar dari badan anak-anak, sehingga untuk menarik anak panahnyapun tangan kami tak lagi sampai, tapi kami tetap juga membuatnya karena dalam pikiran kami ketika itu, jika busurnya besar maka kami bisa mengenai musuh dengan lebih keras dan mematikan. Padahal ukuran sebenarnya bukan pada besar tapi pada bentuk yang paling ideal yang bisa membuat anak panah melesat dengan keras, terutama jika karet penarik busurnya berukuran tepat. Tapi namanya anak-anak, persaingan itu justru membuat kami jadi tambah konyol.
Giant Arrow
by hans@acehdigest
This story is actually ridiculous and funny. Because I was a child, and it feels natural when the children were fighting and feuding with friends for reasons of small and trivial. I also have been involved feud model so, although if I remember it happened is very dangerous, especially if we do not keep emotions to each other.
Our house is actually not far away, just a few yards separated the fence behind the house. I usually look for pieces of metal in front of his house to look for extra money, so actually we are also good friends. just because in some games they lost pennant, they did not accept defeat, finally goaded into hostilities small, ranging from arguments to the creation of weapons clashing.
In the game of archery season, we I mean me and my friends behind my house, Anto and Andung again provoked hostile, fueled by images affairs had added their habits are a little naughty, and we compete to make weapons to outdo each other, and we chose the fatal arrow, which is very dangerous, because we deliberately hone his bow eye as sharp as possible to be beat. Although it does not lead to a bloody incident.
When the race competition began, we had to make arrows and bow, if size is less, we will go home and make a bigger size, and so on repeatedly, so without us knowing we would make an arrow and the bow where the larger race, not Which is faster to reach the opponent, our results are precisely the subject of derision the adults who do not just assume we're doing something dangerous, but also funny.
Just imagine if the size of the bow was bigger than the bodies of children, so as to attract children the arrow our hands no longer up, but we also make it because in our minds when it is, if the bow is big then we can about the enemy with more hard and deadly . Though the actual size is not at large but in the most ideal form which can make arrows with a hard shot, especially if appropriately sized rubber bow roller. But his children, the competition that just made us become even more ridiculous.
Rumah kami sebenarnya tak terpaut jauh, hanya beberapa meter dipisahkan pagar belakang rumah. Aku biasanya mencari potongan logam di depan rumahnya untuk mencari uang tambahan, jadi sebenarnya kami juga berteman baik. hanya karena dalam beberapa permainan umbul mereka kalah, mereka tak terima kekalahan, akhirnya terpancing menjadi permusuhan kecil, mulai dari beradu mulut sampai beradu kreasi senjata.
Di musim permainan panahan, kami maksudku aku dan teman di belakang rumahku, Anto dan Andung kembali terpancing bermusuhan, dipicu oleh urusan gambar tadi ditambah kebiasaan mereka yang sedikit nakal, lalu kami bersaing membuat senjata untuk saling mengalahkan, dan fatalnya kami memilih panah, yang sangat berbahaya, karena mata panahnya kami sengaja asah setajam mungkin untuk bisa mengalahkan. Meskipun tidak sampai menimbulkan insiden berdarah.
Ketika perlombaan persaingan itu dimulai, kami saling membuat panah dan busurnya, kalau ukurannya kalah, kami akan pulang kerumah dan membuat ukuran yang lebih besar lagi, begitu seterusnya berulang, sehingga tanpa kami sadari kami justru membuat panah dan busurnya berlomba mana yang lebih besar, bukan mana yang lebih cepat bisa menjangkau lawan, hasilnya kami justru menjadi bahan olok-olokan para orang dewasa yang mengganggap kami tidak saja sedang melakukan sesuatu yang berbahaya tapi juga lucu.
Bayangkan saja jika ukuran busurnya sudah lebih besar dari badan anak-anak, sehingga untuk menarik anak panahnyapun tangan kami tak lagi sampai, tapi kami tetap juga membuatnya karena dalam pikiran kami ketika itu, jika busurnya besar maka kami bisa mengenai musuh dengan lebih keras dan mematikan. Padahal ukuran sebenarnya bukan pada besar tapi pada bentuk yang paling ideal yang bisa membuat anak panah melesat dengan keras, terutama jika karet penarik busurnya berukuran tepat. Tapi namanya anak-anak, persaingan itu justru membuat kami jadi tambah konyol.
Giant Arrow
by hans@acehdigest
This story is actually ridiculous and funny. Because I was a child, and it feels natural when the children were fighting and feuding with friends for reasons of small and trivial. I also have been involved feud model so, although if I remember it happened is very dangerous, especially if we do not keep emotions to each other.
Our house is actually not far away, just a few yards separated the fence behind the house. I usually look for pieces of metal in front of his house to look for extra money, so actually we are also good friends. just because in some games they lost pennant, they did not accept defeat, finally goaded into hostilities small, ranging from arguments to the creation of weapons clashing.
In the game of archery season, we I mean me and my friends behind my house, Anto and Andung again provoked hostile, fueled by images affairs had added their habits are a little naughty, and we compete to make weapons to outdo each other, and we chose the fatal arrow, which is very dangerous, because we deliberately hone his bow eye as sharp as possible to be beat. Although it does not lead to a bloody incident.
When the race competition began, we had to make arrows and bow, if size is less, we will go home and make a bigger size, and so on repeatedly, so without us knowing we would make an arrow and the bow where the larger race, not Which is faster to reach the opponent, our results are precisely the subject of derision the adults who do not just assume we're doing something dangerous, but also funny.
Just imagine if the size of the bow was bigger than the bodies of children, so as to attract children the arrow our hands no longer up, but we also make it because in our minds when it is, if the bow is big then we can about the enemy with more hard and deadly . Though the actual size is not at large but in the most ideal form which can make arrows with a hard shot, especially if appropriately sized rubber bow roller. But his children, the competition that just made us become even more ridiculous.
Pande Besi Wanayasa; Iron Craftsmen
Tempatnya persis di sebelah kanan dari jalan ke arah pabrik padi Badri, bersebelahan dengan pabrik mie telor. Sejak aku kecil tempat itu sudah ada disana, bertempat di sebuah areal tanah seluas kurang lebih 800 meter, dengan rumah sederhana dari atap kelapa atau rumbia, dengan semua bagian terbuka, hanya di topang dengan batang bambu, dibagian belakangnya dilengkapi dengan bale-bale juga dari bahan bambu.
Di bagian depannya ada tempat pembakaran, bentuknya unik berupa dua buah tabung, aku tak ingat terbuat dari apa, tapi besarnya setengah dari ukuran drum minyak, berdiameter kurang lebih 30 sentimeteran. Berwarna hitam dan tebal, mungkin terbuat juga dari bahan seng atau mungkin baja seperti bahan rel kereta api, cuma karena sudah terlalu lama sering dibakar menjadi hitam kelam. Seorang pande besi bertugas menjaga api agar tetap menyala membakar peralatan yang sedang dibuat temannya dengan cara memompa tabung tadi. Dengan menggunakan kayu bergagang panjang yang terhubung langsung kedalam tabung yang didalamnya mungkin ada katup yang membuat angin bisa dipompa didalam tabung, begitu terus menerus sehingga apinya tak pernah padam selama pande besi lainnya membakar besi untuk dijadikan parang atau pisau.
Caranya yang tradisional dan berbahan unik, sering membuatku tertarik, karena kesukaanku pada kerja mesin, robotic yang monoton. Dan sewaktu aku kecil, aku seringkali main juga kesana, jika tak ada teman untuk bermain mencari ikan dengan seser, biasanya aku duduk mengamati para pande besi membuat macam-macam benda, sambil sesekali aku dimarahi dan ditegur untuk tidak duduk terlalu dekat, dengan tungku pembakaran, takut bara api yang beterbangan karena terpompa dan tertiup angin mengenai badanku terutama mata.
Kegiatan dan ritmenya selalu membuatku asyik, karena aku juga terbiasa melihat kakek dan pekerja di rumah membuat macam-macam benda daur ulang dari karet, sedangkan disini mereka membuat benda dari logam.
Tempat itu hitam legam, karena setiap hari atap rumbia itu terkena asap pembakaran, dan setahu aku tak banyak orang yang masih menggunakan cara itu padahal saat itu masih tahun 1977, ternyata tak semua orang menggunakan cara membakar logam jenis itu, mungkin karena dirasa terlalu berat dan panas. Tapi sebenarnya cara itulah yang punya banyak keunikan dan membedakannya dengan daerah lainnya. Sayang aku tak sempat memiliki fotonya, setidaknya itu bisa menjadi cerita dan kenangan di masa kecilku.
Bahkan ditempatku dulu, rasanya pande besi itu adalah satu-satunya yang masih tertinggal. Anak-anak saat itu tak begitu memperhatikan karena selain banyak asap, tempatnya juga tak terawat dan dipenuhi dengan potongan logam yang berserakan di halaman. Kami biasanya bermain di depan halamannya, karena ada pohon waru besar yang tumbuh di tepian irigasi yang berdahan asyik untuk dipanjat, selain itu tak ada alasan yang bisa membuat kami berlama-lama, maksudku teman-temanku, tapi tidak denganku yang terbiasa mengamati detail karena kebiasaanku dirumah.
Pandai besi itu merupakan salah satu kenangan yang bisa kuingat, dan menurutku unik, karena kibaran api dan baranya yang berkobar-kobar saat di pompa dan membakar logam menjadi merah menjadi pemandangan yang menarik, apalagi ketika besi yang masih dalam keadaan membara tadi kemudian dicelupkan kedalam bejana dari karet bekas ban, yang mungkin dibuat atau dipesan di tempat kakekku, yang membuat sensasi suara yang mendesis keras, sebelum akhirnya baranya hilang dan besi itu berubah warnanya menjadi kelabu kehitaman.
Biasanya sebelum dicelup para pande besi akan menempanya nmenjadi pipih dengan cepat selagi panas, dan diulanginya terus menerus jika masih terlalu tebal, sehingga nantinya bisa di buat menjadi parang atau pisau ataupun alat penyabit rumput yang banyak digunakan di pinggiran kota kami, karena sebagian areal tanah di belakang deretan pertokoan masih merupakan areal pertanian yang luas. Mungkin itulah kenapa pandai besi itu masih tetap bertahan untuk waktu yang sangat lama , meskipun banyak alat modern yang berdatangan menggantikan pisau bahkan dengan harga yang murah sekalipun, dibandingkan dengan alat yang dibeli di pande besi karena caranya yang tradisional dan susah dibuatnya, membuatnya sedikit mahal harganya.
Ini juga barangkali yang menjadi alasan aku tak pernah melihat etalase di tempat pande besi, karena mereka sangat tradisional, jadi pisau-pisau itu mungkin dibuat hanya sesuai dengan pesanan, baik pasar atau toko dan tidak dibuat untuk membuat stok seperti di toko-toko yang kita kenal sekarang.
Tapi itulah sisi menariknya semuanya yang serba jadul, meskipun pada akhirnya semuanya kalah bersaing dan hanya sekedar menjadi kenangan, termasuk juga buatku.
Iron Craftsmen
by hans@acehdigest
The place just to the right of way to a rice mill Badri, adjacent to the factory egg noodles. Since I was little it was already there, housed in a land area of approximately 800 meters, with a modest house from the roof of palm or thatch, with all the open, only the prop with a bamboo rod, rear section is equipped with a bale-bale also from bamboo materials.
On the front there is an incinerator, a unique shape in the form of two tubes, I can not remember made of, but the magnitude of half the size of oil drums, diameter approximately 30 centimeter. Black and thick, may be made also of material such as zinc or steel material may be train tracks, just because it was too long often burned into black. A iron craftsmen in charge of keeping the fire burning in order to remain on the equipment being made by his friend was pumping tube. By using long-handled timber that is connected directly into the tube in which there may be a valve that makes the wind can be pumped inside the tube, so that continuous fire never goes out for another iron craftsmen burning iron to be used as a machete or a knife.
The traditional way and made a unique, often made me interested, because it's my favorite on the work machine, robotic monotone. And when I was little, I often play well there, if there are no friends to play catch fish with seser, usually I sat watching the iron craftsmen make a variety of objects, while occasionally I scolded and reprimanded for not sit too close, with the furnace , fear of flying embers as pumping and the wind on my body especially the eyes.
Activities and rhythm always made fun, because I'm too used to seeing his grandfather and working at home makes a variety of objects from recycled rubber, while here they make things from metal.
The place was jet black, because every day it's thatched roof exposed to combustion fumes, and as far as I'm not many people who still use it when it was still 1977, turns out not everyone uses that kind of burning metal, probably because it was too heavy and the heat. But actually that's the way that has many unique and distinguishes it from other areas. Unfortunately I do not have time to have that photo, at least it could be a story and memories of my childhood.
Even in places where I life, it felt that iron craftsmen is the only one that remains. The children then did not pay much attention because in addition to a lot of smoke, the place is also not well maintained and filled with pieces of metal that littered the yard. We usually play in the front yard, because there is a large hibiscus tree that grows on the banks of irrigation branchy fun to climb, but there was no reason that could make us linger, I mean my friends, but not with me who used to observe the details because my habit at home.
The smith is one of the memories I can remember, and I think unique, because they take a flutter and a fire burning at the pump and burn the metal becomes red become an interesting sight, especially when the iron is still in a state of burning was then dipped into vessel from the rubber tire, which may be made or ordered in place of my grandfather, who makes loud hissing sound sensation, before they take a loss and iron that change color to gray-black.
Usually before dyed the iron craftsmen will fashioneth it be flat quickly while hot, and constantly repeated if still too thick, so it can later be made into a machete or a knife or tool that is widely used scytheman grass on the outskirts of our town, because some areas of land in behind a row of shops is still a large agricultural area. Maybe that's why iron craftsmens were still retained for a very long time, although many modern tools that came to replace the blade even with the cheap price though, compared with a iron craftsmen who bought in because of how the traditional and hard to make, make it a little expensive .
It's also probably the reason I never saw in the window iron craftsmen, as they are very traditional, so the knives that may be made only in accordance with the order, either the market or shop and not made to make the stock as in our stores know it today.
But that's the side to pull it all that paced old, though in the end they can not compete and just be memories, including me.
Di bagian depannya ada tempat pembakaran, bentuknya unik berupa dua buah tabung, aku tak ingat terbuat dari apa, tapi besarnya setengah dari ukuran drum minyak, berdiameter kurang lebih 30 sentimeteran. Berwarna hitam dan tebal, mungkin terbuat juga dari bahan seng atau mungkin baja seperti bahan rel kereta api, cuma karena sudah terlalu lama sering dibakar menjadi hitam kelam. Seorang pande besi bertugas menjaga api agar tetap menyala membakar peralatan yang sedang dibuat temannya dengan cara memompa tabung tadi. Dengan menggunakan kayu bergagang panjang yang terhubung langsung kedalam tabung yang didalamnya mungkin ada katup yang membuat angin bisa dipompa didalam tabung, begitu terus menerus sehingga apinya tak pernah padam selama pande besi lainnya membakar besi untuk dijadikan parang atau pisau.
Caranya yang tradisional dan berbahan unik, sering membuatku tertarik, karena kesukaanku pada kerja mesin, robotic yang monoton. Dan sewaktu aku kecil, aku seringkali main juga kesana, jika tak ada teman untuk bermain mencari ikan dengan seser, biasanya aku duduk mengamati para pande besi membuat macam-macam benda, sambil sesekali aku dimarahi dan ditegur untuk tidak duduk terlalu dekat, dengan tungku pembakaran, takut bara api yang beterbangan karena terpompa dan tertiup angin mengenai badanku terutama mata.
Kegiatan dan ritmenya selalu membuatku asyik, karena aku juga terbiasa melihat kakek dan pekerja di rumah membuat macam-macam benda daur ulang dari karet, sedangkan disini mereka membuat benda dari logam.
Tempat itu hitam legam, karena setiap hari atap rumbia itu terkena asap pembakaran, dan setahu aku tak banyak orang yang masih menggunakan cara itu padahal saat itu masih tahun 1977, ternyata tak semua orang menggunakan cara membakar logam jenis itu, mungkin karena dirasa terlalu berat dan panas. Tapi sebenarnya cara itulah yang punya banyak keunikan dan membedakannya dengan daerah lainnya. Sayang aku tak sempat memiliki fotonya, setidaknya itu bisa menjadi cerita dan kenangan di masa kecilku.
Bahkan ditempatku dulu, rasanya pande besi itu adalah satu-satunya yang masih tertinggal. Anak-anak saat itu tak begitu memperhatikan karena selain banyak asap, tempatnya juga tak terawat dan dipenuhi dengan potongan logam yang berserakan di halaman. Kami biasanya bermain di depan halamannya, karena ada pohon waru besar yang tumbuh di tepian irigasi yang berdahan asyik untuk dipanjat, selain itu tak ada alasan yang bisa membuat kami berlama-lama, maksudku teman-temanku, tapi tidak denganku yang terbiasa mengamati detail karena kebiasaanku dirumah.
Pandai besi itu merupakan salah satu kenangan yang bisa kuingat, dan menurutku unik, karena kibaran api dan baranya yang berkobar-kobar saat di pompa dan membakar logam menjadi merah menjadi pemandangan yang menarik, apalagi ketika besi yang masih dalam keadaan membara tadi kemudian dicelupkan kedalam bejana dari karet bekas ban, yang mungkin dibuat atau dipesan di tempat kakekku, yang membuat sensasi suara yang mendesis keras, sebelum akhirnya baranya hilang dan besi itu berubah warnanya menjadi kelabu kehitaman.
Biasanya sebelum dicelup para pande besi akan menempanya nmenjadi pipih dengan cepat selagi panas, dan diulanginya terus menerus jika masih terlalu tebal, sehingga nantinya bisa di buat menjadi parang atau pisau ataupun alat penyabit rumput yang banyak digunakan di pinggiran kota kami, karena sebagian areal tanah di belakang deretan pertokoan masih merupakan areal pertanian yang luas. Mungkin itulah kenapa pandai besi itu masih tetap bertahan untuk waktu yang sangat lama , meskipun banyak alat modern yang berdatangan menggantikan pisau bahkan dengan harga yang murah sekalipun, dibandingkan dengan alat yang dibeli di pande besi karena caranya yang tradisional dan susah dibuatnya, membuatnya sedikit mahal harganya.
Ini juga barangkali yang menjadi alasan aku tak pernah melihat etalase di tempat pande besi, karena mereka sangat tradisional, jadi pisau-pisau itu mungkin dibuat hanya sesuai dengan pesanan, baik pasar atau toko dan tidak dibuat untuk membuat stok seperti di toko-toko yang kita kenal sekarang.
Tapi itulah sisi menariknya semuanya yang serba jadul, meskipun pada akhirnya semuanya kalah bersaing dan hanya sekedar menjadi kenangan, termasuk juga buatku.
Iron Craftsmen
by hans@acehdigest
The place just to the right of way to a rice mill Badri, adjacent to the factory egg noodles. Since I was little it was already there, housed in a land area of approximately 800 meters, with a modest house from the roof of palm or thatch, with all the open, only the prop with a bamboo rod, rear section is equipped with a bale-bale also from bamboo materials.
On the front there is an incinerator, a unique shape in the form of two tubes, I can not remember made of, but the magnitude of half the size of oil drums, diameter approximately 30 centimeter. Black and thick, may be made also of material such as zinc or steel material may be train tracks, just because it was too long often burned into black. A iron craftsmen in charge of keeping the fire burning in order to remain on the equipment being made by his friend was pumping tube. By using long-handled timber that is connected directly into the tube in which there may be a valve that makes the wind can be pumped inside the tube, so that continuous fire never goes out for another iron craftsmen burning iron to be used as a machete or a knife.
The traditional way and made a unique, often made me interested, because it's my favorite on the work machine, robotic monotone. And when I was little, I often play well there, if there are no friends to play catch fish with seser, usually I sat watching the iron craftsmen make a variety of objects, while occasionally I scolded and reprimanded for not sit too close, with the furnace , fear of flying embers as pumping and the wind on my body especially the eyes.
Activities and rhythm always made fun, because I'm too used to seeing his grandfather and working at home makes a variety of objects from recycled rubber, while here they make things from metal.
The place was jet black, because every day it's thatched roof exposed to combustion fumes, and as far as I'm not many people who still use it when it was still 1977, turns out not everyone uses that kind of burning metal, probably because it was too heavy and the heat. But actually that's the way that has many unique and distinguishes it from other areas. Unfortunately I do not have time to have that photo, at least it could be a story and memories of my childhood.
Even in places where I life, it felt that iron craftsmen is the only one that remains. The children then did not pay much attention because in addition to a lot of smoke, the place is also not well maintained and filled with pieces of metal that littered the yard. We usually play in the front yard, because there is a large hibiscus tree that grows on the banks of irrigation branchy fun to climb, but there was no reason that could make us linger, I mean my friends, but not with me who used to observe the details because my habit at home.
The smith is one of the memories I can remember, and I think unique, because they take a flutter and a fire burning at the pump and burn the metal becomes red become an interesting sight, especially when the iron is still in a state of burning was then dipped into vessel from the rubber tire, which may be made or ordered in place of my grandfather, who makes loud hissing sound sensation, before they take a loss and iron that change color to gray-black.
Usually before dyed the iron craftsmen will fashioneth it be flat quickly while hot, and constantly repeated if still too thick, so it can later be made into a machete or a knife or tool that is widely used scytheman grass on the outskirts of our town, because some areas of land in behind a row of shops is still a large agricultural area. Maybe that's why iron craftsmens were still retained for a very long time, although many modern tools that came to replace the blade even with the cheap price though, compared with a iron craftsmen who bought in because of how the traditional and hard to make, make it a little expensive .
It's also probably the reason I never saw in the window iron craftsmen, as they are very traditional, so the knives that may be made only in accordance with the order, either the market or shop and not made to make the stock as in our stores know it today.
But that's the side to pull it all that paced old, though in the end they can not compete and just be memories, including me.
Selasa, 17 Januari 2012
Aqiqahku; My Aqiqah Party
Sebenarnya aku bukan cucu pertama, tapi aku bisa mengingat betapa meriahnya pesta aqiqahku. Aqiqah adalah bentuk ungkapan syukur atas kelahiran bayi, yang aku tahu jika anaknya laki-laki disunahkan memotong kambing dua ekor, sedangkan jika bayinya perempuan, aqiqahnya satu ekor saja. Selama aku tinggal di kampung ayahku, aku biasanya menemani kakek menggembala kambing dan berkebun, sebagai imbalannya aku mendapatkan seekor kambing jantan yang super besar, hingga besarnya melampui tinggiku, karena ketika itu aku belum lagi sekolah.
Kandangnya terletak di sebelah kiri rumah, didekat pintu masuk dapur. Menjelang magrib biasanya kumpulan kambing yang menurutku luar biasa banyaknya, bahkan hampir seratusan memenuhi hampir seluruh halaman di sebelah kiri rumah tadi, termasuk juga kambing super besarku itu. Aku bahkan seringkali tidak tampak jika sudah tergabung dengan kerumunan itu, hilang di telan tingginya kumpulan ternak itu, padahal aku lumayan tinggi untuk ukuran anak laki-laki. Karena kakekku juga lumayan tinggi, berbeda dengan nenek yang mungil tapi sangat sigap, begitu menurutku.
Aku tak begitu ingat tentang ibuku, ketika aku kecil tinggal di kampung ayah, apakah ibu juga selalu tinggal denganku?, tapi sepanjang yang bisa kuingat aku jarang melihat ibuku di rumah kakek. Biasanya aku diantar dan dibiarkan disana untuk sekian waktu. Karena dikampung ada nenek, anak-anak pengajian yang setiap malam memenuhi rumah kakek dan juga sepupu dari adik ayah jadi aku tak pernah merasa kesepian. Kampung juga punya banyak tempat bermain, kebun timun, sungai, mainan tradisional, pohon karsen di depan rumah dan jalanan yang panjang dan luas yang masih dipenuhi sawah dan tanaman tinggi juga menjadi hiburan buatku yang anak pinggiran kota.
Kembali ke cerita aqiqah, kambing super besarku itu pada hari yang ditentukan, akhirnya direncanakan untuk di potong sebagai syarat aqiqahku. Aku ingat waktu itu aku tak bisa menahan kesedihan karena harus kehilangan kambing istimewa itu. Kakekku bilang sebagai salah seorang cucu yang disayangi kakek, aku sudah dipilihkan kambing istimewa, karena sudah diniatkan jadi tidak bisa diganti dengan kambing lain. Jadi sore menjelang kambing itu dipotong, aku bermain dan memberinya makan untuk terakhir kalinya dan waktu dipotongnya aku tak tega melihatnya, bahkan malamnya ketika kambing itu sudah disajikan sebagai makanan aku masih enggan untuk memakannya.
Perayaan aqiqah itu meriah sekali, bahkan hingga larut malam, karena banyaknya anak-anak yang mengaji yang sekalian diundang ikut khanduri dan membaca doa. Kami duduk-duduk di beranda rumah di atas risban, kursi panjang dari bambu. Bercerita tentang banyak hal, termasuk cerita hantu yang menjadi kesukaan anak-anak mengaji, karena mereka tahu aku sangat takut dengan hantu. Sehingga aku menjadi bahan candaan mereka.
Aqiqah Party
by hans@acehdigest
Actually I'm not the first grandchild, but I can remember my aqiqah swing party. Aqiqah is a form of gratitude for the birth of a baby, which I know if his son, the sunnah cut the two goats, whereas if it's a girl, that aqiqah one only. As long as I live in my father's village, I usually accompany my grandfather herding goats and gardening, in return I get a billy goat that is super great, until the amount exceeded the tall, because when I have school again.
Cage located on the left of the house, near the kitchen entrance. Before sunset is usually a collection of goats which I think is enormous, even almost a hundred took up almost the entire page to the left of the house before, including goat's super big. I often do not even look if it is joined with the crowd, lost in the high herd swallow it, and I pretty tall for a boy. Because my grandfather was also quite high, in contrast to a grandmother whose a tiny but very swiftly, so I think.
I do not really remember about my mother, when I was little my father lived in the village, whether the mother also always stay with me?, But as far as I can remember I rarely saw my mother in my grandfather's house. Usually I brought and left there for a long time. Because there grandmother village, teaching children that meets the grandfather's house every night and also a cousin of my father's sister so I never feel lonely. The village also has many places to play, garden cucumber, rivers, traditional toys, karsen tree in front of houses and roads are long and wide are still filled with paddy fields and tall plants also became for me a child entertainment suburbs.
Back to the story aqiqah, super big goat on the appointed day, eventually planned to be cut as a condition my aqiqah. I remember that time I could not stop the grief of losing that special goat. My grandfather told me as one of his grandchild who loved grandfather, I've chosen a special goat, because it was intended so it can not be replaced with another goat. So the afternoon before the goat was cut I play, feed my goat for the last time and I could not bear to see it cut, even at night when the goat had been presented as the food I'm still reluctant to eat it.
Aqiqah celebration was festive, even until late at night, because of the many children who chant are all invited to participate khanduri and read prayers. We sat on the porch of a house on risban, the length of bamboo chairs. Tell about many things, including a ghost story that became a favorite with the children chant, because they know I am very afraid of ghosts. So I became their ribbing joke.
Kandangnya terletak di sebelah kiri rumah, didekat pintu masuk dapur. Menjelang magrib biasanya kumpulan kambing yang menurutku luar biasa banyaknya, bahkan hampir seratusan memenuhi hampir seluruh halaman di sebelah kiri rumah tadi, termasuk juga kambing super besarku itu. Aku bahkan seringkali tidak tampak jika sudah tergabung dengan kerumunan itu, hilang di telan tingginya kumpulan ternak itu, padahal aku lumayan tinggi untuk ukuran anak laki-laki. Karena kakekku juga lumayan tinggi, berbeda dengan nenek yang mungil tapi sangat sigap, begitu menurutku.
Aku tak begitu ingat tentang ibuku, ketika aku kecil tinggal di kampung ayah, apakah ibu juga selalu tinggal denganku?, tapi sepanjang yang bisa kuingat aku jarang melihat ibuku di rumah kakek. Biasanya aku diantar dan dibiarkan disana untuk sekian waktu. Karena dikampung ada nenek, anak-anak pengajian yang setiap malam memenuhi rumah kakek dan juga sepupu dari adik ayah jadi aku tak pernah merasa kesepian. Kampung juga punya banyak tempat bermain, kebun timun, sungai, mainan tradisional, pohon karsen di depan rumah dan jalanan yang panjang dan luas yang masih dipenuhi sawah dan tanaman tinggi juga menjadi hiburan buatku yang anak pinggiran kota.
Kembali ke cerita aqiqah, kambing super besarku itu pada hari yang ditentukan, akhirnya direncanakan untuk di potong sebagai syarat aqiqahku. Aku ingat waktu itu aku tak bisa menahan kesedihan karena harus kehilangan kambing istimewa itu. Kakekku bilang sebagai salah seorang cucu yang disayangi kakek, aku sudah dipilihkan kambing istimewa, karena sudah diniatkan jadi tidak bisa diganti dengan kambing lain. Jadi sore menjelang kambing itu dipotong, aku bermain dan memberinya makan untuk terakhir kalinya dan waktu dipotongnya aku tak tega melihatnya, bahkan malamnya ketika kambing itu sudah disajikan sebagai makanan aku masih enggan untuk memakannya.
Perayaan aqiqah itu meriah sekali, bahkan hingga larut malam, karena banyaknya anak-anak yang mengaji yang sekalian diundang ikut khanduri dan membaca doa. Kami duduk-duduk di beranda rumah di atas risban, kursi panjang dari bambu. Bercerita tentang banyak hal, termasuk cerita hantu yang menjadi kesukaan anak-anak mengaji, karena mereka tahu aku sangat takut dengan hantu. Sehingga aku menjadi bahan candaan mereka.
Aqiqah Party
by hans@acehdigest
Actually I'm not the first grandchild, but I can remember my aqiqah swing party. Aqiqah is a form of gratitude for the birth of a baby, which I know if his son, the sunnah cut the two goats, whereas if it's a girl, that aqiqah one only. As long as I live in my father's village, I usually accompany my grandfather herding goats and gardening, in return I get a billy goat that is super great, until the amount exceeded the tall, because when I have school again.
Cage located on the left of the house, near the kitchen entrance. Before sunset is usually a collection of goats which I think is enormous, even almost a hundred took up almost the entire page to the left of the house before, including goat's super big. I often do not even look if it is joined with the crowd, lost in the high herd swallow it, and I pretty tall for a boy. Because my grandfather was also quite high, in contrast to a grandmother whose a tiny but very swiftly, so I think.
I do not really remember about my mother, when I was little my father lived in the village, whether the mother also always stay with me?, But as far as I can remember I rarely saw my mother in my grandfather's house. Usually I brought and left there for a long time. Because there grandmother village, teaching children that meets the grandfather's house every night and also a cousin of my father's sister so I never feel lonely. The village also has many places to play, garden cucumber, rivers, traditional toys, karsen tree in front of houses and roads are long and wide are still filled with paddy fields and tall plants also became for me a child entertainment suburbs.
Back to the story aqiqah, super big goat on the appointed day, eventually planned to be cut as a condition my aqiqah. I remember that time I could not stop the grief of losing that special goat. My grandfather told me as one of his grandchild who loved grandfather, I've chosen a special goat, because it was intended so it can not be replaced with another goat. So the afternoon before the goat was cut I play, feed my goat for the last time and I could not bear to see it cut, even at night when the goat had been presented as the food I'm still reluctant to eat it.
Aqiqah celebration was festive, even until late at night, because of the many children who chant are all invited to participate khanduri and read prayers. We sat on the porch of a house on risban, the length of bamboo chairs. Tell about many things, including a ghost story that became a favorite with the children chant, because they know I am very afraid of ghosts. So I became their ribbing joke.
Senin, 16 Januari 2012
Kakekku Visioner; My Visionary Grandpa
Visioner!, Aku pikir sebutan itu paling pas buat kakek dari pihak ayahku. Lahir dari keluarga teungku yang kuat, dengan tradisi setiap hari yang tidak pernah lepas dari mushala, bahkan didepan rumah kakekku dibangun mushala untuk umum dan balai pengajian. Disamping seluruh rumahnya juga dijadikan kelas mengaji. sewaktu aku berkunjung kesana di tahun 70-an. bagi aku, adalah kegembiran luar biasa kalau setiap hari rumah dipenuhi banyak orang, apalagi aktifitasnya untuk belajar mengaji.
Kenangan itu tetap mengalir seperti darah dalam hidupku, baik ayahku maupun aku meniru apa yang dilakukan kakek selama hidupnya, menghidupkan rumah dengan mengaji dan shalat jamaah untuk menyatukan keluarga, setelah seharian capai bekerja, sekolah dan aktifitas rumah, pengajian menjadi tempat beristirahat dan bertukar pikiran.
Kakekku bercita-cita tinggi, meskipun pada awalnya aku pikir tidak kesampaian, padahal dengan bisa mengumpulkan dan mengajar mengaji beratus-ratus anak-anak di kampungnya adalah pencapaian luar biasa, karena di tahun-tahun setelahnya bahkan ada anak dan cucu dari para murid kakek dulu bisa sekolah sangat jauh hingga di Inggris. Itu mungkin salah satu kebanggaan kakek jika beliau masih ada. Tidak saja mengajarkan mengaji tapi meyakinkan para murid dan banyak orang untuk berpikir jauh, bercita-cita tinggi melampui kampungnya.
My Visionary Grandpa
by hans@acehdigest
Visionary!, I thought it most fitting title for my father's paternal grandfather. Born of a family teungku strong, with a tradition every day that are never out of mushala, even in front of the house my grandfather built mushala to the public and study hall. Besides the whole house also used as a classroom chanting. when I visit there in the 70's. for me, is excitement great if every day a house filled with many people, especially activities to learn the Qur'an.
The memory was still flowing like blood in my life, both my father and I emulate what grandfathers do during his life, turning the house with the chanting and praying pilgrims to unite families, tired after a day of work, school and home activities, recitals become a place to rest and exchange ideas.
My grandfather aspiring, though at first I thought not accomplished, but by being able to collect and Qur'an teach hundreds of children in the village is a remarkable achievement, because in the years that followed there are even children and grandchildren of his grandfather's first student school can be very much up in the UK. That's probably one of the proud grandfather when he was still live. Not only teach the Qur'an but to convince the disciples and many people to think much, aspiring beyond theirs village.
Kenangan itu tetap mengalir seperti darah dalam hidupku, baik ayahku maupun aku meniru apa yang dilakukan kakek selama hidupnya, menghidupkan rumah dengan mengaji dan shalat jamaah untuk menyatukan keluarga, setelah seharian capai bekerja, sekolah dan aktifitas rumah, pengajian menjadi tempat beristirahat dan bertukar pikiran.
Kakekku bercita-cita tinggi, meskipun pada awalnya aku pikir tidak kesampaian, padahal dengan bisa mengumpulkan dan mengajar mengaji beratus-ratus anak-anak di kampungnya adalah pencapaian luar biasa, karena di tahun-tahun setelahnya bahkan ada anak dan cucu dari para murid kakek dulu bisa sekolah sangat jauh hingga di Inggris. Itu mungkin salah satu kebanggaan kakek jika beliau masih ada. Tidak saja mengajarkan mengaji tapi meyakinkan para murid dan banyak orang untuk berpikir jauh, bercita-cita tinggi melampui kampungnya.
My Visionary Grandpa
by hans@acehdigest
Visionary!, I thought it most fitting title for my father's paternal grandfather. Born of a family teungku strong, with a tradition every day that are never out of mushala, even in front of the house my grandfather built mushala to the public and study hall. Besides the whole house also used as a classroom chanting. when I visit there in the 70's. for me, is excitement great if every day a house filled with many people, especially activities to learn the Qur'an.
The memory was still flowing like blood in my life, both my father and I emulate what grandfathers do during his life, turning the house with the chanting and praying pilgrims to unite families, tired after a day of work, school and home activities, recitals become a place to rest and exchange ideas.
My grandfather aspiring, though at first I thought not accomplished, but by being able to collect and Qur'an teach hundreds of children in the village is a remarkable achievement, because in the years that followed there are even children and grandchildren of his grandfather's first student school can be very much up in the UK. That's probably one of the proud grandfather when he was still live. Not only teach the Qur'an but to convince the disciples and many people to think much, aspiring beyond theirs village.
Langganan:
Postingan (Atom)