Bisa dibilang aku memang anak kota, meskipun cuma pinggiran. Aku tak pernah tinggal di kampung, maksudku meskipun orang tuaku punya rumah di kampung aku tak pernah diajak tinggal disana. Kecuali ketika aku lahir di Prumpung, aku tinggal untuk beberapa bulan lamanya, sebelum akhirnya kembali ke rumah kakek di Kusuma 31.
Lingkungan tempat tinggalku, hampir seluruhnya dipenuhi dengan aktifitas perdagangan, sehingga sekeliling rumahku menjadi kawasan niaga. Bahkan rumah kakek juga diperuntukkan untuk toko dan ruang usaha, daur ulang dan warung nasi. Aku tak tahu mana yang lebih duluan mendorong keluarga ibuku menjadi pebisnis, apakah karena lokasi strategis rumah yang mendorongnya atau memang pada dasarnya kekek juga memiliki darah pebisnis juga dari orang tuanya.
Dan itu menjadikan posisiku berada pada situasi dalam dua tradisi budaya yang berbeda, namun masih saling mendukung. Keluarga ibuku hampir semuanya berbisnis, mengikuti jejak kakek yang pebisnis tulen. Sementara dari keluarga ayahku, adalah orang akademisi, memimpikan jenjang karirnya berpendidikan tinggi, menjadi guru dan tenaga pengajar. Sementara dari keluarga ibuku justru ukurannya adalah kesuksesan bisnis untuk menjadi penyambung rezeki.
Diantara dua kutub itu aku berada di persimpangan, aku memilih kedua tantangan itu menjadi pilihan hidupku kelak, karena menurutku berbisnis itu sangat menarik dan menantang. Pada akhirnya aku menyadari ketika kecil meskipun masih anak-anak, aku dan dua adikku kadang-kadang berlama-lama menikmati para pekerja membuat berbagai macam barang, melihat kakek bertransaksi dengan para pembeli, proses tawar menawar yang mirip orang berdebat, atau kegiatan nenek di warung, mengatur barang, memasak variasi makanan setiap hari. Aku ingat karena tidak setiap hari tersedia tumis yang sama, selalu berbeda setiap harinya, kecuali menu tertentu yang standar. Begitulah bisnis tanpa disadari memberikan banyak pelajaran yang baru aku rasakan di lain waktu ketika aku makin besar kemudian. Sementara dari pihak keluarga ayahku mendorongku untuk terus sekolah tinggi seperti beliau hingga menyelesaikan jenjang magister-nya. Namun yang tetap melekat dalam kehidupanku adalah kesukaanku pada buku-buku dan membaca yang pada akhirnya juga mengilhami aku untuk gemar menulis.
Small town and my family
by hans@acehdigest
You could say I was a child of the city, though only the periphery. I've never lived in the village, I mean even though my parents had a house in the village I was never invited to live there. Except when I was born in Prumpung, I lived for several months, before finally returning to the grandfather houses at Kusuma 31.
My neighborhood, almost entirely filled with trading activity, so the area around my house to be commerce. Even the grandfather's house is also destined for the shops and business space, recycling and rice stalls. I do not know which was first encouraged my family to be a businessperson, whether due to the strategic location of the house that was basically pushing or snicker also have blood businessman also from his parents.
And that makes my position themselves in situations in two different cultural traditions, yet still support each other. My mother's family is almost all business, following in the footsteps grandfather genuine businessman. While the family of my father, was a scholar, dreaming of college-educated career ladder, becoming a teacher and lecturer. While the size of my mother's family is precisely the success of the business to be a continuation provision.
Between the two poles that I was at the crossroads, I chose the second challenge was to be my future choice, because I think business is very interesting and challenging. In the end I realized when small though still a child, I and two brothers sometimes linger to enjoy the workers make a wide range of goods, see the grandfather transact with the buyers, the bargaining process similar to the debate, or grandmother activity in a stall , set the items, cook variety of food every day. I remember because it is not every day available the same menu, always different every day, except for certain that the standard menu. That business without realizing it provides many new lessons that I feel in another time when I was bigger then. Meanwhile, the family of my father encouraged me to keep such high school until he completed his master degree levels. But that remains embedded in my life is my favorite on the books and reading which in turn also inspired me to love to write.
Label
10 tahun tsunami.
(1)
2013
(1)
acehku
(1)
Adikku.
(1)
Aku
(4)
Among-among
(1)
Anak-anak
(1)
Anak-Anak Dikutuk
(1)
Angka ajaib
(1)
aqiqahku
(1)
Ayahku
(1)
babak baru
(1)
bakso
(1)
Barzanji
(1)
batu cincin
(1)
belimbing
(1)
Belut Loch Ness
(1)
Belut Sawah; Mancing Belut
(1)
Bibiku
(2)
bioskop misbar
(1)
birtdhday party
(1)
bisnis keluarga
(1)
busur dan panah
(1)
capung
(1)
Celengan bambu
(1)
China's Neighbords
(1)
Cibugel 1979
(1)
Cibugel Sumedang
(2)
cinta bunda
(1)
cracker
(1)
Curek; Inflammation
(1)
Dapur nenek
(1)
dejavu
(1)
Dian Kurung
(1)
distant relatives
(1)
Dremolem Or Dream Of Land
(1)
es dogger
(1)
es goyang
(1)
es serut
(1)
Fried Sticky Rice
(1)
Gadis Kecil
(1)
gambar desain
(1)
gambarku
(1)
Gandrung Mangu
(2)
golek;nugget cassava
(1)
harmonika kecilku
(1)
Ibuku
(11)
Ibuku Atau Kakakku?
(1)
Ikan
(2)
ikan dan ular
(1)
iseng
(1)
jalan kolopaking
(2)
Jalan Kusuma
(2)
jangkrik Jaribang Jaliteng
(1)
Jenang Candil
(1)
jogging
(1)
Juadah
(1)
Juz Amma
(1)
kakek dan nenek
(3)
kakekku
(3)
kecelakaan fatal
(2)
kelahiranku
(1)
Kelas Terakhir; the last class
(1)
kenangan
(1)
Kerupuk Legendar
(1)
kilang padi
(1)
Klapertart Cake
(1)
kolam ikan masjid
(1)
koleksi stiker
(1)
koleksi unik
(1)
koplak dokar dan colt
(1)
kota kecil dan rumahku
(1)
Kue tape
(1)
Kutawinangun
(1)
Lanting
(1)
little cards
(1)
Loteng rumah
(1)
lotere
(1)
lottery
(1)
mainan anak-umbul
(1)
makan
(1)
makkah
(1)
Malam Jum'at
(1)
Mancing Belut
(1)
masa kecil
(9)
masa kecil.
(1)
masa lalu
(2)
masjid kolopaking
(1)
meatballs
(1)
Mengaji
(1)
Minum Dawet
(1)
morning walk
(1)
my
(1)
my birth
(1)
my first notes
(6)
my mom
(4)
my note
(25)
Nama ibuku
(1)
Nenek Sumedang
(1)
new round
(1)
new year
(2)
others notes
(1)
ours home
(1)
padi sawah wetan
(2)
pande besi
(1)
Papan Tulis
(1)
Pasar dan Ibuku
(1)
Penculik dan Bruk
(1)
Pencuri
(1)
Perjalanan 25 Tahun Bag. Pertama
(1)
personal
(1)
Puasa
(1)
radio transistor
(1)
Roti dan Meriam Kauman
(1)
Rumah Ban
(1)
Rumah Kakek dan Nenek
(5)
rumah karang sari
(1)
rumah kecil di pojok jalan
(4)
rumah kelinci
(1)
rumah kutawinangun
(1)
Rumah Pojok
(1)
rumahku
(1)
Sarapan Apa Sahur?
(1)
saudara jauh
(1)
sawah utara
(1)
sawah wetan
(2)
SD Kebumen
(1)
Sepeda dan Meteor
(1)
shake es
(1)
shalat jamaah
(1)
sintren
(1)
Starfruit for Mom
(1)
Stasiun Kereta Api
(2)
Sumedang 1979
(1)
Sungai Lukulo.
(1)
tahun awal
(17)
tahun baru
(1)
Taman Kanak-kanak
(1)
Tampomas I
(1)
tanteku
(2)
Tetangga Cina
(1)
The magic Number
(1)
tradisional
(1)
tsunami 2014
(1)
Visionary grandpa
(1)
Wayang Titi
(1)
Senin, 16 Januari 2012
Sabtu, 14 Januari 2012
Aku, Ibuku dan Jalan pagi; Jogging, morning walk
Kami sebenarnya jarang berjalan pagi, tapi bila kami melakukannya biasanya kami berdua, aku dan ibuku, maka saat itu menjadi kisah yang menyenangkan. Kami berdua biasanya berjanji, besok akan rutin berjalan pagi terutama di hari minggu, setiap kali kami berkesempatan jalan pagi. Biasanya kami memilih berjalan kearah alun-alun kota, melintasi deretan pohon trembesi dan mahoni yang besar di sepanjang jalan disamping kanan terminal dokar itu, dan kemudian berhenti beristirahat sebentar di brug, (beton jembatan, bahasa Belanda?.) atau kepala jembatan besar yang selalu dipenuhi orang beristirahat sejenak sehabis berlari pagi di pagi hari minggu. Udaranya segar karena disisi kanan dan kiri jalan masih dipenuhi dengan persawahan yang membentang luas hingga ke Karang Sari dan Wanayasa yang dibatasi parit besar untuk mengairi sawah ketika musim tanam padi tiba.
Sepanjang jalan kami tertawa-tawa lepas, ibu akan berjalan cepat dan aku menyusulnya dengan setengah berlari, ibu akan memanggilku dengan mengatakan aku harus lari biar sehat, karena udara segarnya akan mengisi paru-paru dan membuat kita lebih kuat. Jika waktunya panjang, kami bahkan akan menyambungnya dengan berjalan kaki hingga ke desa Karang Sari dan memutar jalan melewati Wanayasa dan tembusnya tepat ke depan rumah kami di Jalan kusuma. Jika kami memutar kami akan menghabiskan banyak energi, tapi jalan-jalan itu justru menjadi kenangan yang menyenangkan dengan ibuku. Karena kami memang jarang melakukannya, kadang-kadang di malam minggu kami berjanji, dengan adik-adikku juga akan dibawa serta untuk jalan pagi, tapi paginya karena hari masih gelap dan adik-adikku juga belum bangun, ibu tak tega membangunkannya, jadilah hanya aku yang selalu menemaninya jalan-jalan pagi.
Aku masih bisa mengingat wajah riang ibuku, tawanya lepas bebas, itu juga yang selalu membuatku terkenang. Mengingat kisah biasa ini menjadi kenangan yang tak terlupakan. Setiap kali aku melihat senyum ibuku difoto yang masih tertinggal di albumku, aku masih bisa mengingat cerita jalan-jalan pagi itu. Begitulah ibuku selalu memberikan kesan yang manis di balik tawanya yang riang.
Jogging, Good morning
by hans@acehdigest
We actually rarely run in the morning, but when we do it is usually the two of us, me and my mother, then when it becomes a fun story. We both usually promise, tomorrow will be a regular morning walk, especially on week days, every time we had the opportunity jogging. Usually we choose to walk towards the town square, past a row of tamarind trees and a large mahogany along the road right beside the terminal's gig, and then stopped to rest briefly in brug, (concrete bridge, the Dutch language?.) Or the head of a large bridge that always filled with people taking a break after a morning jog in the week. Fresh air for the right and left side of the road were covered with vast stretches of rice fields to the Karang Sari and Wanayasa with a large trench and confined water the rice fields when rice planting season arrives.
Along the way we were laughed off, the mother will run fast and I caught up with the half-running, the mother would call me by saying I'll have to run a healthy, because the fresh air will fill your lungs and makes us stronger. If a long time, we'll even connect it to walk up to the village of Karang Sari and play my way through Wanayasa and breakdown right to the front of our house in Kusuma street. If we play we'll spend a lot of energy, but the roads that was the wonderful memories with my mom. Because we rarely do it, sometimes on a Saturday night we were promised, with my little brothers will also be taken along for the morning walk, but the morning because it was still dark and my brothers are also not up yet, mothers do not have the heart to wake him, be just me always accompany her morning walk.
I can still remember my mother's face cheerful, uninhibited laughter, it also always makes me fond memories. Given this unusual story into unforgettable memories. Every time I saw my mother smile photographed are still left in my album, I can still remember the story of the streets that morning. That's how she always gives the impression of a sweet behind the carefree laughter.
Sepanjang jalan kami tertawa-tawa lepas, ibu akan berjalan cepat dan aku menyusulnya dengan setengah berlari, ibu akan memanggilku dengan mengatakan aku harus lari biar sehat, karena udara segarnya akan mengisi paru-paru dan membuat kita lebih kuat. Jika waktunya panjang, kami bahkan akan menyambungnya dengan berjalan kaki hingga ke desa Karang Sari dan memutar jalan melewati Wanayasa dan tembusnya tepat ke depan rumah kami di Jalan kusuma. Jika kami memutar kami akan menghabiskan banyak energi, tapi jalan-jalan itu justru menjadi kenangan yang menyenangkan dengan ibuku. Karena kami memang jarang melakukannya, kadang-kadang di malam minggu kami berjanji, dengan adik-adikku juga akan dibawa serta untuk jalan pagi, tapi paginya karena hari masih gelap dan adik-adikku juga belum bangun, ibu tak tega membangunkannya, jadilah hanya aku yang selalu menemaninya jalan-jalan pagi.
Aku masih bisa mengingat wajah riang ibuku, tawanya lepas bebas, itu juga yang selalu membuatku terkenang. Mengingat kisah biasa ini menjadi kenangan yang tak terlupakan. Setiap kali aku melihat senyum ibuku difoto yang masih tertinggal di albumku, aku masih bisa mengingat cerita jalan-jalan pagi itu. Begitulah ibuku selalu memberikan kesan yang manis di balik tawanya yang riang.
Jogging, Good morning
by hans@acehdigest
We actually rarely run in the morning, but when we do it is usually the two of us, me and my mother, then when it becomes a fun story. We both usually promise, tomorrow will be a regular morning walk, especially on week days, every time we had the opportunity jogging. Usually we choose to walk towards the town square, past a row of tamarind trees and a large mahogany along the road right beside the terminal's gig, and then stopped to rest briefly in brug, (concrete bridge, the Dutch language?.) Or the head of a large bridge that always filled with people taking a break after a morning jog in the week. Fresh air for the right and left side of the road were covered with vast stretches of rice fields to the Karang Sari and Wanayasa with a large trench and confined water the rice fields when rice planting season arrives.
Along the way we were laughed off, the mother will run fast and I caught up with the half-running, the mother would call me by saying I'll have to run a healthy, because the fresh air will fill your lungs and makes us stronger. If a long time, we'll even connect it to walk up to the village of Karang Sari and play my way through Wanayasa and breakdown right to the front of our house in Kusuma street. If we play we'll spend a lot of energy, but the roads that was the wonderful memories with my mom. Because we rarely do it, sometimes on a Saturday night we were promised, with my little brothers will also be taken along for the morning walk, but the morning because it was still dark and my brothers are also not up yet, mothers do not have the heart to wake him, be just me always accompany her morning walk.
I can still remember my mother's face cheerful, uninhibited laughter, it also always makes me fond memories. Given this unusual story into unforgettable memories. Every time I saw my mother smile photographed are still left in my album, I can still remember the story of the streets that morning. That's how she always gives the impression of a sweet behind the carefree laughter.
Ketikkan teks atau alamat situs web atau terjemahkan dokumen.
Rumah Pojok dan Bakso Keliling; Houses and Meatballs
Rumah kami berada di perempatan jalan dekat terminal dokar, tempat itu menjadikan rumah kami selalu ramai dengan para pedagang yang lalu lalang begitupun dimalam hari. Di hari tertentu dan malam tertentu, biasanya hari minggu ketika ayahku masih tinggal bersama kami, biasanya kami ditraktir makan. Kesukaannya adalah bakso yang dijajakan dengan gerobak keliling, lebih praktis, tinggal panggil, pesan dan makan. Biasanya baksonya disajikan dengan mangkok khas bergambar ayam jago, dengan senduk sop lengkung berwarna-warna, biru, merah dan hijau dongker.
Kebiasaan jajan ini, juga merupakan kenanganku ketika aku kecil, karena setiap kali mengingatnya aku juga mengingat saat-saat ayahku bersama dengan kami. Karena diwaktu tertentu aku jarang melihatnya, kata ibuku karena kesibukan ayahku kuliah di jogja, beberapa orang berbisik, kalau ayahku sedang melakukan semacam kerja pengabdian di tempat yang jauh, kadang-kadang dengan bercanda mereka bilang ayahku tak pulang lagi. Aku tak pernah mengganggapnya serius, karena aku cuma seorang anak kecil yang ketika itu berumur 6 tahun, dan masih di kelas 1 sekolah dasar, sementara dua adik laki-lakiku masih balita.
Aku mengingat saat makan bakso karena sebab tadi itu, karena seingatku begitulah kejadian yang sebenarnya, ketika ada ayahku rutinitas itu selalu bisa terulang. Dan ketika ayahku kemudian pergi jauh, aku tak pernah lagi menikmati saat jajanan itu. Jika mengandalkan ibuku, aku kuatir akan memberatkan simpanan uangnya. Atau barangkali ibuku tak pernah mentraktir kami karena hanya akan mengingatkan masa lalu dan bayangan ayahku yang selalu saja jauh dari kami ketika itu. Dan begitupun pada akhirnya ketika kemudian pergi jauh untuk waktu yang lama dan kembali lagi di tahun 1988 atau 1989 jika tak salah ingat itupun hanya untuk sesaat, sebelum juga membawaku pindah ke bandung.
Aku hanya bisa mengingat kisah ini selama kami tinggal di rumah pojok diperempatan jalan, aku tak pernah bisa mengingat apakah pernah ayahku juga membelikanku ketika kami tinggal di rumah kakek di jalan kusuma 31. Mungkin ayahku tak mau terkesan pamer dan menghamburkan uang, atau ada alasan lain yang membuatnya hanya mentraktir kami ketika kami tinggal di rumah pojok itu. Setidaknya itulah sedikit kenangan yang bisa kuingat dari ayahku. Mungkin ibu mengingatnya sebagai kisah yang lain, entahlah.
Rumah Pojok dan Bakso Keliling; Houses and Meatballs
by hans@aceh digest
Our house is at a crossroads near the terminal gig, where it makes our house was always bustling with traders passing as are at night. On certain days and certain nights, usually on Sunday when my father was still living with us, we are usually treated to a meal-meatball. His favorite is the meatballs are sold with a cart around, more practical, live call, message and eat. Usually served with a meatball bowl typical picture of a rooster, with a curved sop multicolor spoon, blue, red and green dongker.
This snack habits, is also the memories when I was little, because every time I remember it also remember the times when my father shared with us. Because certain in that time I rarely see it, said my mother because my father was busy studying at Jogja, some people whisper, when my father was doing some sort of service work in distant places, sometimes they jokingly said he was not home anymore. I never consider it seriously, because I'm just a little boy when it was 6 years old, it was still in grade 1 primary school, while the two younger brother was a toddler.
I remember when eating meatballs because the reason was that, because that's the truth as I recall, when my father was always able to repeat the routine. And when my father then went away, I never again enjoyed the snacks. If relying on my mother, I worry about saving money burdensome. Or maybe my mom never treat us as it will only remind of the past and the shadow of my father who's always away from us at that time. And as are in the end when then go away for a long time and back again in 1988 or 1989 if I remember correctly and even then only for a moment, before also taking me to move to Bandung.
I can only remember this story during our stay at home at intersection street corner, I can remember if my father ever bought me when we lived in my grandfather's house on the road kusuma 31. Maybe my father did not want to seem showy and wasting money, or are there other reasons that make his treat us only when we lived in the house corner. At least that I can recall few memories of my father. Perhaps the mother remembered it as another story, I do not know.
Kebiasaan jajan ini, juga merupakan kenanganku ketika aku kecil, karena setiap kali mengingatnya aku juga mengingat saat-saat ayahku bersama dengan kami. Karena diwaktu tertentu aku jarang melihatnya, kata ibuku karena kesibukan ayahku kuliah di jogja, beberapa orang berbisik, kalau ayahku sedang melakukan semacam kerja pengabdian di tempat yang jauh, kadang-kadang dengan bercanda mereka bilang ayahku tak pulang lagi. Aku tak pernah mengganggapnya serius, karena aku cuma seorang anak kecil yang ketika itu berumur 6 tahun, dan masih di kelas 1 sekolah dasar, sementara dua adik laki-lakiku masih balita.
Aku mengingat saat makan bakso karena sebab tadi itu, karena seingatku begitulah kejadian yang sebenarnya, ketika ada ayahku rutinitas itu selalu bisa terulang. Dan ketika ayahku kemudian pergi jauh, aku tak pernah lagi menikmati saat jajanan itu. Jika mengandalkan ibuku, aku kuatir akan memberatkan simpanan uangnya. Atau barangkali ibuku tak pernah mentraktir kami karena hanya akan mengingatkan masa lalu dan bayangan ayahku yang selalu saja jauh dari kami ketika itu. Dan begitupun pada akhirnya ketika kemudian pergi jauh untuk waktu yang lama dan kembali lagi di tahun 1988 atau 1989 jika tak salah ingat itupun hanya untuk sesaat, sebelum juga membawaku pindah ke bandung.
Aku hanya bisa mengingat kisah ini selama kami tinggal di rumah pojok diperempatan jalan, aku tak pernah bisa mengingat apakah pernah ayahku juga membelikanku ketika kami tinggal di rumah kakek di jalan kusuma 31. Mungkin ayahku tak mau terkesan pamer dan menghamburkan uang, atau ada alasan lain yang membuatnya hanya mentraktir kami ketika kami tinggal di rumah pojok itu. Setidaknya itulah sedikit kenangan yang bisa kuingat dari ayahku. Mungkin ibu mengingatnya sebagai kisah yang lain, entahlah.
Rumah Pojok dan Bakso Keliling; Houses and Meatballs
by hans@aceh digest
Our house is at a crossroads near the terminal gig, where it makes our house was always bustling with traders passing as are at night. On certain days and certain nights, usually on Sunday when my father was still living with us, we are usually treated to a meal-meatball. His favorite is the meatballs are sold with a cart around, more practical, live call, message and eat. Usually served with a meatball bowl typical picture of a rooster, with a curved sop multicolor spoon, blue, red and green dongker.
This snack habits, is also the memories when I was little, because every time I remember it also remember the times when my father shared with us. Because certain in that time I rarely see it, said my mother because my father was busy studying at Jogja, some people whisper, when my father was doing some sort of service work in distant places, sometimes they jokingly said he was not home anymore. I never consider it seriously, because I'm just a little boy when it was 6 years old, it was still in grade 1 primary school, while the two younger brother was a toddler.
I remember when eating meatballs because the reason was that, because that's the truth as I recall, when my father was always able to repeat the routine. And when my father then went away, I never again enjoyed the snacks. If relying on my mother, I worry about saving money burdensome. Or maybe my mom never treat us as it will only remind of the past and the shadow of my father who's always away from us at that time. And as are in the end when then go away for a long time and back again in 1988 or 1989 if I remember correctly and even then only for a moment, before also taking me to move to Bandung.
I can only remember this story during our stay at home at intersection street corner, I can remember if my father ever bought me when we lived in my grandfather's house on the road kusuma 31. Maybe my father did not want to seem showy and wasting money, or are there other reasons that make his treat us only when we lived in the house corner. At least that I can recall few memories of my father. Perhaps the mother remembered it as another story, I do not know.
Jumat, 13 Januari 2012
Kelas Terakhir; The Last Class
Aku menyebutnya begitu, karena ketika aku kemudian menyadari, memang itulah kelas terakhirku di SD Kebumen. Ketika itu aku duduk di kelas dua. Aku, meski tak lincah tapi sedikit pemberani, berbeda dengan ketika aku di TK dulu, pendiam, mungkin juga manja dan pengecut barangkali?.
Aku punya banyak teman, beberapa teman akrabku perempuan, karena mereka tetanggaku juga. Sebagai anak tertua di rumah, ibuku sangat membanggakanku, terutama karena catatan pelajaran sekolahku terkenal unik dan rapi. Bagiku gambar ilustrasi dalam buku pelajaran, penting karena bisa membuat catatan pelajaranku menjadi lebih menarik bahkan seperti komik. Disamping aku memang langganan juara kelas, terutama karena hobiku menghafal banyak hal tentang pengetahuan umum yang selalu menantang memoriku.
Aku ingat ibuku paling senang dengan buku IPA-ku yang berwarna orange, dan biologi yang berwarna merah, dengan isi pelajaran yang detail dilengkapi gambar. Hampir setiap ada kesempatan selalu saja ditunjukkannya bukuku kepada orang-orang yang datang kerumah untuk sekedar main, atau bahkan membawa buku itu ketetangga dan menceritakan "kehebatan" buku pelajaranku itu. Begitulah ibuku, sekecil apapun yang dilakukan anak-anaknya selalu membuatnya bangga, itu pula yang selalu menyemangati aku untuk selalu juara di kelas, tak pernah mau kalah terutama dengan teman-teman perempuan yang dikelas lain menjadi langganan juara.
Tentang kisahku tadi, aku ingat ketika itu bulan Agustus 1978, aku sedang menonton karnaval tujuh belas agustusan di jalan dekat kali kecil, di pinggir jalan yang berbatas dengan Jalan Pahlawan. Tiba-tiba ayahku datang dan mengajakku untuk kembali kesekolah. Aku masuk dalam kelas, kelasku berada di sayap kiri dari bangunan tua gedung sekolah, yang ditengahnya difungsikan sebagai kantor kepala sekolah. Sementara ayahku masuk ke dalam ruang kepala sekolah setelah berbasa-basi, kemudian aku juga dipanggil masuk, mereka menyalamiku, aneh tapi aku tak berpikir panjang. Kemudian aku diminta berdiri di depan kelas, dengan malu-malu aku harus menyampaikan sesuatu. Aku tak ingat, apakah sekedar mengucapkan terima kasih atas semua pertemanan dan persahabatan dengan teman-teman semua ataukah aku juga menyampaikan hal lain, permintaan maaf untuk semua kesalahanku barangkali. Karena yang pasti aku juga malu kalau harus berbicara panjang dan terlalu lama di depan kelas tanpa alasan yang jelas, menurutku begitu. Karena ayahku tak menjelaskan apa sebenarnya yang sedang terjadi. dan karena sebenarnya itulah kesempatanku terakhir untuk berbicara di depan teman-temanku.
Semuanya terjadi begitu cepat, bahkan aku harus terburu-buru untuk memasukkan semua buku-bukuku ke dalam tas, hampir serabutan sepertinya kami sedang diburu waktu. Kemudian aku bersalam-salaman dan diberi sedikit pelukan oleh beberapa guru yang juga terlihat menangis, aku selalu berusaha mengelak dan tertawa setiap kali guru-guru itu memelukku, malu dilihat teman-teman, terutama Eni, Mira, Khusnul, yang tak pernah berhenti menggangguku. Aku kemudian pulang dengan masih tertawa-tawa, diiringi lambaian tangan teman-teman dan tangisan, aneh?. Begitu sampai dirumah aku justru disibukkan dengan buku-buku yang dibawa ayahku dari jogja barangkali, sementara aku lihat orang-orang sibuk, berkerumun berbicara, mengobrol, berjabat tangan. Kemudian aku tak ingat lagi, karena yang kuingat hanyalah kemudian aku naik keatas dokar, dan semua orang mengiringi kami berjalan di atas trotoar, dan tinggallah ibuku yang terakhir masih berlari di belakang dokar hingga ke rumah pojok kami yang penuh kenangan itu, dan berhenti di pojok jalan itu sambil menangis menutup mukanya dengan tangan. Kemudian aku tak ingat apa-apa, tapi jika aku membayangkan kisah itu, aku bisa merasakan bagaimana hati ibuku hari itu, malamnya di hari-hari pertama tak ada aku dan barangkali keluguanku yang tertawa-tawa ketika naik dokar, bisa jadi diterjemahkan sebagai ketidak pedulianku pada kesedihan ibuku, padahal aku ketika itu masih anak-anak dan tak perlu berpikir begitu merasa bersalah.
Dokar melaju meninggalkan simpang tiga, melewati jalan kusuma, simpang kolopaking, bundaran lawet di depan bioskop dan kedai penjual ketan hitam dan berbelok kearah utara, melewati toko Gombong menuju terminal bus kebumen. Semuanya kemudian hilang, dan jauh, ibuku, adik-adikku yang waktu itu tak kutahu nasibnya tapi aku ingat kutinggalkan semua buku-buku cerita yang dibeli ayahku ketika itu untuk mereka berdua, aku kemudian juga tak pernah melihat lagi sekolahku, teman-temanku dan kenangan stamplat colt, kedai ban kakek, toko Haji rohmat dan kue salome, kue kecil berwarna kuning berbentuk bintang kesukaanku yang kubeli dari sisa uang jajanku di toko disamping rumah.
Saat itu adalah saat yang seharusnya paling menyedihkan dan menyesakkan hati dalam hidupku, tapi aku tak bisa merasakan apa-apa dengan bahasa anak-anakku, kecuali kenangan lambaian tangan ibuku, yang ketika kemudian aku bisa mengingatnya, aku selalu meminta kepada siapapun dirumah baruku untuk kembali mempertemukan aku dengan ibuku, karena kerinduan yang terlalu lama aku pendam. Tapi semua tak pernah terjadi, hingga semakin lama, aku semakin tak menyadari bagaimana ibuku, barulah setelah surat-surat putih bergaris biru rutin menanyakan kabarku, aku kembali menyadari betapa sesungguhnya aku sangat merindukan ibuku.
The Last Class
by hans@acehdigest
I call it, because when I later realized, that's my final grade in elementary Kebumen. When I was in second grade. I, though not lively but slightly daring, different from when I was in kindergarten, quiet, perhaps too spoiled and cowardly perhaps?.
I have many friends, some of my close personal friend of women, because they are neighbors too. As the oldest child at home, my mother is very proud of, especially since the record unique renowned school lessons and tidy. To me the picture illustration in textbooks, it is important because it can make my lessons more interesting records even like comics. Besides, I was subscribed champion class, mainly because my hobby to memorize a lot about general knowledge that is always challenging my memory.
I remember my mother's most pleased with my science books are colored orange, and biology of the red, with the content of the lessons that detail completed the picture. Almost every chance always showed my book to people who come home to just play, or even bring the book and tell to her neigbor "greatness" that my instruction book. That's my mother, who carried out any small children always make her proud, that is what is always encouraging me to always champion in the class, never to be outdone, especially with friends the other class of women who became champion subscription.
About my story earlier, I remember when it was August 1978, I was watching the carnival Agustusan seventeen times on the road near a small, roadside bounded by Street Hero. Suddenly my father came and asked me to go back to school. I entered the classroom, my class was in the left wing of the old building school buildings, which functioned as a middle school principal's office. While my dad went to the principal's office after making small talk, then I also called in, they greeted me, weird but I do not think long. Then I was asked to stand in front of the class, sheepishly I must convey something. I do not remember, whether just to thank you for all the friendship and camaraderie with friends or do I also convey all the other things, an apology to all my fault, perhaps. Because for sure I also embarrassed when I have to talk long and too long in front of the class for no apparent reason, I think so. Because my father did not explain what exactly is going on. and because in fact that's the last chance to speak in front of my friends.
Everything happened so fast, even I have to rush to put all my books into the bag, almost casual like we're pressed for time. Then I greet and given a little hug by some teachers who were also seen crying, I'm always trying to dodge and laugh every time my teachers hugged me, embarrassed seen my friends, especially Eni, Mira, Khusnul, who never stopped bothering me. I then went home still laughing, accompanied by a wave of her hand and weeping friends, weird?. Once at home I'm just busy with the books that brought my father from Jogja perhaps, while I see busy people, gathered to talk, shake hands. Then I can not remember anymore, because I remembered it just then I climbed up gig, and all the people accompanying us walking on the sidewalk, and my mother lived the last one still running in the back of the buggy down to the corner of our house full of memories, and stop at the corner the street, crying with her hands to cover her face. Then I do not remember anything, but if I imagine the story, I could feel how my mother's heart that day, evening in the first days I was there and probably laughing my innocence when it rose, it could be interpreted as a lack my care on my mother's grief, and I did when it was still a child and not have to think so feel guilty.
Gig drove away from the intersection of three, passed kusuma roads, intersections Kolopaking, lawet roundabout in front of the cinema and shops selling black sticky rice and turn towards the north, past the shops towards the bus terminal Gombong Kebumen. Everything is then lost, and far away, my mother, my brothers who did not know his fate at that time but I remember I left all the story books that my father bought when it was for them both, I then also never see again my school, my friends and memories stamplat colt, tire shops grandfather, Haji Rohmat and pastry Salome, a small pie-shaped star colored yellow I bought my favorite pastry from the rest of my allowance at the shop beside the house.
When it is time that should be most miserable and suffocating the heart of my life, but I can not feel anything with the language of my children, except my mother's memories of waving hands, that when later I can remember, I always ask anyone to return my new home bring me to my mother, because I'm longing too long buried. But it all never happened, until the longer, the more I did not realize how my mother, then after the letters blue and white striped routinely ask me how, I again realized how much I really miss my mom.
Aku punya banyak teman, beberapa teman akrabku perempuan, karena mereka tetanggaku juga. Sebagai anak tertua di rumah, ibuku sangat membanggakanku, terutama karena catatan pelajaran sekolahku terkenal unik dan rapi. Bagiku gambar ilustrasi dalam buku pelajaran, penting karena bisa membuat catatan pelajaranku menjadi lebih menarik bahkan seperti komik. Disamping aku memang langganan juara kelas, terutama karena hobiku menghafal banyak hal tentang pengetahuan umum yang selalu menantang memoriku.
Aku ingat ibuku paling senang dengan buku IPA-ku yang berwarna orange, dan biologi yang berwarna merah, dengan isi pelajaran yang detail dilengkapi gambar. Hampir setiap ada kesempatan selalu saja ditunjukkannya bukuku kepada orang-orang yang datang kerumah untuk sekedar main, atau bahkan membawa buku itu ketetangga dan menceritakan "kehebatan" buku pelajaranku itu. Begitulah ibuku, sekecil apapun yang dilakukan anak-anaknya selalu membuatnya bangga, itu pula yang selalu menyemangati aku untuk selalu juara di kelas, tak pernah mau kalah terutama dengan teman-teman perempuan yang dikelas lain menjadi langganan juara.
Tentang kisahku tadi, aku ingat ketika itu bulan Agustus 1978, aku sedang menonton karnaval tujuh belas agustusan di jalan dekat kali kecil, di pinggir jalan yang berbatas dengan Jalan Pahlawan. Tiba-tiba ayahku datang dan mengajakku untuk kembali kesekolah. Aku masuk dalam kelas, kelasku berada di sayap kiri dari bangunan tua gedung sekolah, yang ditengahnya difungsikan sebagai kantor kepala sekolah. Sementara ayahku masuk ke dalam ruang kepala sekolah setelah berbasa-basi, kemudian aku juga dipanggil masuk, mereka menyalamiku, aneh tapi aku tak berpikir panjang. Kemudian aku diminta berdiri di depan kelas, dengan malu-malu aku harus menyampaikan sesuatu. Aku tak ingat, apakah sekedar mengucapkan terima kasih atas semua pertemanan dan persahabatan dengan teman-teman semua ataukah aku juga menyampaikan hal lain, permintaan maaf untuk semua kesalahanku barangkali. Karena yang pasti aku juga malu kalau harus berbicara panjang dan terlalu lama di depan kelas tanpa alasan yang jelas, menurutku begitu. Karena ayahku tak menjelaskan apa sebenarnya yang sedang terjadi. dan karena sebenarnya itulah kesempatanku terakhir untuk berbicara di depan teman-temanku.
Semuanya terjadi begitu cepat, bahkan aku harus terburu-buru untuk memasukkan semua buku-bukuku ke dalam tas, hampir serabutan sepertinya kami sedang diburu waktu. Kemudian aku bersalam-salaman dan diberi sedikit pelukan oleh beberapa guru yang juga terlihat menangis, aku selalu berusaha mengelak dan tertawa setiap kali guru-guru itu memelukku, malu dilihat teman-teman, terutama Eni, Mira, Khusnul, yang tak pernah berhenti menggangguku. Aku kemudian pulang dengan masih tertawa-tawa, diiringi lambaian tangan teman-teman dan tangisan, aneh?. Begitu sampai dirumah aku justru disibukkan dengan buku-buku yang dibawa ayahku dari jogja barangkali, sementara aku lihat orang-orang sibuk, berkerumun berbicara, mengobrol, berjabat tangan. Kemudian aku tak ingat lagi, karena yang kuingat hanyalah kemudian aku naik keatas dokar, dan semua orang mengiringi kami berjalan di atas trotoar, dan tinggallah ibuku yang terakhir masih berlari di belakang dokar hingga ke rumah pojok kami yang penuh kenangan itu, dan berhenti di pojok jalan itu sambil menangis menutup mukanya dengan tangan. Kemudian aku tak ingat apa-apa, tapi jika aku membayangkan kisah itu, aku bisa merasakan bagaimana hati ibuku hari itu, malamnya di hari-hari pertama tak ada aku dan barangkali keluguanku yang tertawa-tawa ketika naik dokar, bisa jadi diterjemahkan sebagai ketidak pedulianku pada kesedihan ibuku, padahal aku ketika itu masih anak-anak dan tak perlu berpikir begitu merasa bersalah.
Dokar melaju meninggalkan simpang tiga, melewati jalan kusuma, simpang kolopaking, bundaran lawet di depan bioskop dan kedai penjual ketan hitam dan berbelok kearah utara, melewati toko Gombong menuju terminal bus kebumen. Semuanya kemudian hilang, dan jauh, ibuku, adik-adikku yang waktu itu tak kutahu nasibnya tapi aku ingat kutinggalkan semua buku-buku cerita yang dibeli ayahku ketika itu untuk mereka berdua, aku kemudian juga tak pernah melihat lagi sekolahku, teman-temanku dan kenangan stamplat colt, kedai ban kakek, toko Haji rohmat dan kue salome, kue kecil berwarna kuning berbentuk bintang kesukaanku yang kubeli dari sisa uang jajanku di toko disamping rumah.
Saat itu adalah saat yang seharusnya paling menyedihkan dan menyesakkan hati dalam hidupku, tapi aku tak bisa merasakan apa-apa dengan bahasa anak-anakku, kecuali kenangan lambaian tangan ibuku, yang ketika kemudian aku bisa mengingatnya, aku selalu meminta kepada siapapun dirumah baruku untuk kembali mempertemukan aku dengan ibuku, karena kerinduan yang terlalu lama aku pendam. Tapi semua tak pernah terjadi, hingga semakin lama, aku semakin tak menyadari bagaimana ibuku, barulah setelah surat-surat putih bergaris biru rutin menanyakan kabarku, aku kembali menyadari betapa sesungguhnya aku sangat merindukan ibuku.
The Last Class
by hans@acehdigest
I call it, because when I later realized, that's my final grade in elementary Kebumen. When I was in second grade. I, though not lively but slightly daring, different from when I was in kindergarten, quiet, perhaps too spoiled and cowardly perhaps?.
I have many friends, some of my close personal friend of women, because they are neighbors too. As the oldest child at home, my mother is very proud of, especially since the record unique renowned school lessons and tidy. To me the picture illustration in textbooks, it is important because it can make my lessons more interesting records even like comics. Besides, I was subscribed champion class, mainly because my hobby to memorize a lot about general knowledge that is always challenging my memory.
I remember my mother's most pleased with my science books are colored orange, and biology of the red, with the content of the lessons that detail completed the picture. Almost every chance always showed my book to people who come home to just play, or even bring the book and tell to her neigbor "greatness" that my instruction book. That's my mother, who carried out any small children always make her proud, that is what is always encouraging me to always champion in the class, never to be outdone, especially with friends the other class of women who became champion subscription.
About my story earlier, I remember when it was August 1978, I was watching the carnival Agustusan seventeen times on the road near a small, roadside bounded by Street Hero. Suddenly my father came and asked me to go back to school. I entered the classroom, my class was in the left wing of the old building school buildings, which functioned as a middle school principal's office. While my dad went to the principal's office after making small talk, then I also called in, they greeted me, weird but I do not think long. Then I was asked to stand in front of the class, sheepishly I must convey something. I do not remember, whether just to thank you for all the friendship and camaraderie with friends or do I also convey all the other things, an apology to all my fault, perhaps. Because for sure I also embarrassed when I have to talk long and too long in front of the class for no apparent reason, I think so. Because my father did not explain what exactly is going on. and because in fact that's the last chance to speak in front of my friends.
Everything happened so fast, even I have to rush to put all my books into the bag, almost casual like we're pressed for time. Then I greet and given a little hug by some teachers who were also seen crying, I'm always trying to dodge and laugh every time my teachers hugged me, embarrassed seen my friends, especially Eni, Mira, Khusnul, who never stopped bothering me. I then went home still laughing, accompanied by a wave of her hand and weeping friends, weird?. Once at home I'm just busy with the books that brought my father from Jogja perhaps, while I see busy people, gathered to talk, shake hands. Then I can not remember anymore, because I remembered it just then I climbed up gig, and all the people accompanying us walking on the sidewalk, and my mother lived the last one still running in the back of the buggy down to the corner of our house full of memories, and stop at the corner the street, crying with her hands to cover her face. Then I do not remember anything, but if I imagine the story, I could feel how my mother's heart that day, evening in the first days I was there and probably laughing my innocence when it rose, it could be interpreted as a lack my care on my mother's grief, and I did when it was still a child and not have to think so feel guilty.
Gig drove away from the intersection of three, passed kusuma roads, intersections Kolopaking, lawet roundabout in front of the cinema and shops selling black sticky rice and turn towards the north, past the shops towards the bus terminal Gombong Kebumen. Everything is then lost, and far away, my mother, my brothers who did not know his fate at that time but I remember I left all the story books that my father bought when it was for them both, I then also never see again my school, my friends and memories stamplat colt, tire shops grandfather, Haji Rohmat and pastry Salome, a small pie-shaped star colored yellow I bought my favorite pastry from the rest of my allowance at the shop beside the house.
When it is time that should be most miserable and suffocating the heart of my life, but I can not feel anything with the language of my children, except my mother's memories of waving hands, that when later I can remember, I always ask anyone to return my new home bring me to my mother, because I'm longing too long buried. But it all never happened, until the longer, the more I did not realize how my mother, then after the letters blue and white striped routinely ask me how, I again realized how much I really miss my mom.
Kamis, 12 Januari 2012
Tampomas I; My First Journey
Kapal besar itu panjangnya hampir sepuluh kali rumah kakekku, dan besarnya bahkan hampir 50 kalinya. Aku tak ingat apakah aku harus ke jakarta dulu dari Cibugel, Sumedang atau langsung menuju pelabuhan di bandung?. Aku ingat perjalanan itu cukup lama, maksudku untuk menuju pelabuhan, berganti-ganti beberapa mobil sampai akhirnya sampai di Pelabuhan besar. Setelah antrian panjang dan lama, naik kederetan tangga penumpang akhirnya kami sampai di pelataran pelabuhan dengan tangga besar terbuat dari tali yang setiap kali bergoyang apalagi ketika penumpang berdesakan untuk naik ke atas, padahal seingatku ketika itu bukan saatnya lebaran. Mungkin penumpang di kelas bawah yang berebutan naik dan berharap bisa mendapat tempat bagus di dek kapal. Sementara kami memang sudah memesan kamar dengan dua tempat tidur di dalam kapal yang bisa ditempati lima orang sekaligus.
Kami menempati kamar di sisi kanan kapal dari arah ruang nahkoda, kamar itu berada di deretan kedua lantai kapal, dengan jendela bulat yang langsung menghadap ke laut lepas. kami bisa memandanginya dari dalam dengan naik ke bagian atas tempat tidur. Semuanya pengalaman itu menjadi sesuatu yang menarik kecuali satu hal aku suka mabuk laut, sehingga goyangan kapal sekecil apapun tetap saja membuatku mabuk dan serba tak enak. Menelusuri lorong dan jalan kapal menjadi sesuatu yang menarik tapi juga menyebalkan karena gara-gara mabuk laut tadi.
Aku terbiasa menyusuri setiap bagian kapal itu sendirian, seperti layaknya sedang main di daratan. Aku tahu di bagian belakang kapal ada buritan besar tempat orang berolahraga dan duduk santai, sambil memandangi laut yang tersibak di belakang kapal yang membuat lajur panjang seperti garis yang selalu terbentuk ketika dilewati kapal dan kemudian menghilang, begitu seterusnya. Beberapa kawanan lumba-lumba dihari tenang dan cerah kadang-kadang melompat beriringan mengikuti laju kapal seperti bermain dengan induk ikan besar. Aku menikmati turun naik tangga disetiap lorong, kadang-kadang aku mengintip ke dek melihat begitu banyak orang, begitu banyak aktifitas, begitu ribut dengan suara anak-anak menangis atau bermain, aku berpikir aku masih beruntung karena orang tuaku bisa membelikan kami kamar sehingga tak perlu berdesak-desakan di ruang bawah yang panas dan pengap dengan bau mesin kapal dan mobil yang dihidupkan pemiliknya agar bisa menghidupkan AC dan tidur didalamnya, biasanya para supir truk bis dan truk pengangkut barang.
Ritual yang paling aku tak suka, karena harus antrian panjang adalah ketika pagi-pagi sekali kami harus ke kamar mandi, untuk mandi pagi sebelum kami sarapan di ruang khusus. Di saat tertentu ketika aku harus buang air kecil sekalipun harus antri juga, menyebalkan. Karena meskipun kami membeli paket dilengkapi kamar dan paket makan tapi tidak memiliki kamar mandi sendiri, sehingga harus bergabung dan berbagi dengan penumpang lain yang mengambil paket di dek kapal.
Pagi sekali setelah semua aktifitas kamar mandi selesai, aku biasanya diajak ke ruang makan, semacam food court, lengkap dengan meja makan bulat dan kami akan dihidang dengan makanan ringan, dengan tambahan roti lapis selai yang gratis. Beberapa kali aku meminta lebih karena aku tak pernah tahu bahkan jarang barangkali memakan jenis makanan itu, sehingga aku merasa aneh dan menjadi pengalaman luar biasa, dan ketagihan. Aku meminta beberapa lapis yang agak tebal kepada koki kapal, dan biasanya dibantu ayahku dan sedikit rengekan membuat aku leluasa mendapatkan roti tambahan itu. Aku membawanya ke kamar, sebagian kubagikan ke zulfa, satu-satunya adik perempuanku. Sisanya aku nikmati sambil duduk di atas tempat tidur sambil memandangi laut. Tapi pernah juga aku makan sambil bersandar di pagar kapal bagian atas. Bagian ini tidak langsung berbatas dengan laut, masih ada satu lantai di bawahnya dan bagian dek lagi dibawahnya.
Kisah yang paling mengesankan dan juga menyeramkan dari Tampomas I adalah, ketika di hari ketiga perjalanan kami, kami memasuki wilayah perairan Samudera India, dengan pemandangan kota Singapura dari kejauhan dalam kondisi berkabut, namun deretan gedung-gedung menjulang tampak seperti pemandangan gunung-gunung beton yang berderetan. Pemandangan itu tidak saja menakjubkan tapi juga mengesankanku karena indahnya bayangan kota itu dan bayangan betapa besarnya gedung-gedung itu karena masih tampak dari kejauhan laut yang ketika itu memang sedang diwarnai hujan deras dengan angin yang berkejaran. Beberapa penumpang yang tidak mendapat tempat di dek dan menempati dinding disebelah kamar kami dihantam gempuran hujan deras, aku melihat anak bayinya menangis keras, tapi kami tak bisa menolong, karena semuanya tergantung ayahku, bisa setuju bisa tidak, tapi aku juga tak mengajukan penawaran. Hanya bisa miris dan merasa kasihan, sambil berharap mereka dapat tempat berlindung yang bagus dan hujan segera berhenti. Apalagi tak lama setelah mereka berkemas, karena hari tiba-tiba menjadi cepat gelap dan laut semakin tak bersahabat, gelombang laut meninggi, sehingga percikannya kemudian juga sampai ke jendela kamar kami di lantai dua. Bagaimana dengan dek dan haluan kapal?, semua dipenuhi air, aku masih teringat keluarga yang berada disisi kamarku, yang dihari cerah kadang-kadang aku menggoda bayi kecil itu yang tertawa-tawa, aku tak ingat apakah aku juga berbagai roti lapis itu dengannya?.
Lautan hindia memang dipenuhi misteri, misteri tentang tenggelamnya kapal, misteri segitiga bermuda, begitu yang aku baca di buku namun ketika itu aku belum pernah membacanya, baru setelah pengalaman perjalanan itu aku mengetahui bahwa jalur itu merupakan salah satu jalur maut. Setelah badai laut besar hingga malam, paginya kami mendapati kapal sedang melaju dalam keadaan tenang dan bahkan merapat ke sebuah pulau kecil dan menurunkan sekoci dan beberapa penumpangnya, entah penumpang kapal yang turun di pulau kecil yang tak memiliki pelabuhan kapal besar itu, atau sekedar kru kapal yang turun untuk mengambil air dan membeli beberapa keperluan, hampir dua jam jangkar tersauh dan kami bisa menikmati kapal tenang tanpa goyangan ombak seperti biasanya. Hampir semua penumpang seperti berusaha menghirup udara segara, berdiri berderet disepanjang pinggiran pagar kapal, melihat pantai dan deretan perahu-perahu kecil nelayan yang berada di sepanjang pantai itu.
Badai besar malam itu menjadi catatan sendiri buatku, karena kemudian seingatku aku juga mengalami kisah yang hampir sama hanya saja di pengalaman keduaku aku naik perahu nelayan kecil dengan muatan 30-orang ditambah beberapa ekor ternak. Setelah kunjunganku dengan kapal itu hingga besar kemudian dan bekerja aku naik kapal hanya dalam hitungan jari. Apalagi kemudian aku mendengar kabar setelah sampainya kami di pelabuhan, kapal sejenis, maksudku Tamponas II, tenggelam di lautan hindia dengan membawa serta hampir seluruh penumpang beserta isi lainnya. Aku shock, tak percaya pada kenyataan bahwa saudara kapal yang pernah aku tumpangi itu tenggelam di tempat yang sama dengan ketika kami juga di hantam badai. Peristiwa itu terjadi sekitar desember 1979 atau januari 1980. Pokoknya tak berselang lama sejak kami naik Tampomas I itu. dan Aku pikir ketika itu, Tampomas I akan menjadi pengalaman pertama dan terakhirku naik kapal, karena meskipun ketika aku kecil aku bercita-cita menjadi seorang perwira angkatan laut, ketika aku melihat dahsyatnya peristiwa Tamponas aku berkecil hati dan bersyukur aku cuma bermimpi. Dan setelahnya aku tinggal di kampus semua pikiranku tentang perwira apalagi militer menguap dan aku bahkan kemudian bercita-cita menjadi bankir. Tak aneh, semuanya bisa berubah dengan mudah karena aku masih anak-anak.
Sayangnya aku tak pernah menyimpan berkas tentang kejadian memilukan itu, aku berharap bisa mengingat dari gambar tentang betapa luar biasanya cerita itu. Tapi edisi khusus tempo yang pernah aku dapatkan dari tetanggaku kalau tak salah menyimpan catatan kecil tentang itu. Setidaknya aku bisa sampaikan keorang-orang bahwa aku pernah naik kapal sejenis, Tampomas I namanya. Dan aku juga pernah mengalami badai laut besar yang membuatku trauma hingga aku besar kemudian.
Tampomas I; My First Journey
by hans@acehdigest
Large ship nearly ten times the length of my grandfather's house, and the amount of time even close to 50. I do not remember if I had to go to jakarta first of Cibugel, Sumedang or directly to the port in Bandung?. I remember the trip was quite long, I mean to get to the port, changing some of the car until it arrived at the Port of. After a long, long queues, up to row passenger stairs we finally reached the court of the harbor with a large ladder made of rope swing every time especially when passengers crammed to rise to the top, but I remember when it was not the time widths. Perhaps the lower-class passengers who scrambled up and hoping to get a good spot on the deck of the ship. While we had already booked a room with two beds on the ship that could be occupied five people at once.
We occupy a room on the right side of the space ship captains, the room was located on the second floor of a row of ships, with a round window that directly overlooks the sea. we can look at from the inside by rising to the top of the bed. Overall the experience into something interesting but one thing I like seasickness, so the slightest wobble board still makes me drunk and completely uncomfortable. Down the hall and the way the ship into something interesting but also frustrating because of seasickness earlier.
I used it along any part of the ship alone, like playing on the mainland. I know in the back of the stern of the ship where people are exercising and sit back, watching the sea that parted at the rear of the ship that made the long rows like a line that is always formed when the ship passed and then disappear, and so on. Some dolphins herd calm and sunny on the day sometimes jump in tandem to keep pace with the parent vessel like playing big fish. I enjoyed the ride down the stairs in every aisle, sometimes I peek into the deck to see so many people, so many activities, so noisy with the sound of children crying or playing, I think I was lucky because my parents could buy us the room so no need to jostling in the basement of a hot and stuffy with the smell of ship engines and cars that are turned on their owners to be able to turn on the AC and sleep in it, usually the bus and truck drivers pickup truck.
Ritual The most I do not like, because they have to queue length is when the early morning we had to go to the bathroom, to shower the morning before our breakfast in a special room. At a certain moment when I have to urinate even have to queue as well, sucks. Because even though we bought the package is equipped room and meal plan but it does not have its own bathroom, so it should join and share with other passengers who take the package on the deck of the ship.
Morning after all the activities of the bathroom is finished, I was usually invited to the dining room, a sort of food court, complete with dining table and we'll round was served with snacks, with additional butter sandwich for free. Several times I asked for more because I never know maybe even a rare type of food it ate, so I feel weird and be a wonderful experience, and addiction. I asked for some layers are rather thick to cook the ship, and usually helped my dad and a little whining makes me free to get the extra bread. I took him to the room, partly to share with Zulfa, the only little sister. The rest I enjoy while sitting on the bed, staring at the sea. But never did I eat while leaning on the top rail. This section does not directly bounded by the sea, there is still one floor below and underneath the deck again.
The story of the most impressive and well Tampomas creepy than I was, when on the third day of our trip, we entered the territorial waters of the Indian Ocean, with views of Singapore from a distance in foggy conditions, but a row of towering buildings looked like a view of the mountains of concrete lined. The scene was not only stunning but also surprises me because the beauty of the city's shadow and the shadow of how great it is because the buildings are still visible from a distance the ocean when it is being marred by heavy rain chasing the wind. Some passengers who do not have a place on the deck and occupies the wall next to our room was hit by the onslaught of heavy rain, I saw her baby boy was crying loudly, but we can not help, because it all depends on my father, could not be agreed, but I also did not submit a bid. Can only be sad and feel sorry for, hoping they can spot a good shelter and the rain soon stopped. Moreover, shortly after they pack up, because the day has suddenly become fast growing dark and unfriendly sea, ocean waves rising, so that sparks and then also get to the window of our room on the second floor. What about the deck and the bow of the ship?, All filled with water. I still thought that was the side of my family, the Day of bright sometimes I smile teasing the little baby who was laughing, I do not remember whether I was also a variety of sandwiches with him? .
The Indian ocean is filled with mystery, the mystery about the sinking of the ship, the mystery of the Bermuda triangle, so that I read the book yet when it I've never read it, just after the experience of that trip I learned that the trail is one of the paths of death. After a huge storm sea until night, morning we found the ship was traveling in a state of calm and even close to a small island and lowered lifeboats and several passengers, some passengers who descended on the small island that has no big ship harbor, or just the crew down to fetch water and buy some purposes, nearly two-hour anchor posted and we can enjoy a quiet ship without the waves rocking as usual. Almost all the passengers as soon sucked in air, stood a row along the edge of fence board, see the beach and a row of small fishing boats that are along the beach.
Big storm the night it became its own record for me, because then I remembered I also had a similar story except that I'm in my second experience of a small fishing boat with a cargo of 30-person plus a few head of cattle. After my visit to the ship later and worked great until I took the boat in just a finger. Moreover, then I heard the news after our arrival at the port, ship type, I mean Tampomas II, sank in the Indian ocean to take along almost the entire passengers and other content. I was shocked, not believing in the fact that his ship was sinking ever I rode in the same place as when we are also in the storm struck. The incident occurred around December 1979 or January 1980. Anyway not long ago since we got Tampomas I was. and I think when it's, Tampomas I will be my first and last experience board the ship, because even when I was little I dreamed of becoming a naval officer, when I saw the enormity of the event Tamponas I get discouraged and give thanks I was just dreaming. And after that I lived on campus all my thoughts about let alone military officers and even then evaporated and I aspire to be a banker. Not surprisingly, everything can change easily because I was a child.
Unfortunately I never kept a file on the incident was heartbreaking, I wish I could remember from the picture about what an extraordinary story. But the special edition tempo I have ever got from my neighbor,save a little note about it. At least I can tell to the others people that I've climbed sister ships, Tampomas I name. And I also experienced a large sea storms that made me a big trauma until later.
Kami menempati kamar di sisi kanan kapal dari arah ruang nahkoda, kamar itu berada di deretan kedua lantai kapal, dengan jendela bulat yang langsung menghadap ke laut lepas. kami bisa memandanginya dari dalam dengan naik ke bagian atas tempat tidur. Semuanya pengalaman itu menjadi sesuatu yang menarik kecuali satu hal aku suka mabuk laut, sehingga goyangan kapal sekecil apapun tetap saja membuatku mabuk dan serba tak enak. Menelusuri lorong dan jalan kapal menjadi sesuatu yang menarik tapi juga menyebalkan karena gara-gara mabuk laut tadi.
Aku terbiasa menyusuri setiap bagian kapal itu sendirian, seperti layaknya sedang main di daratan. Aku tahu di bagian belakang kapal ada buritan besar tempat orang berolahraga dan duduk santai, sambil memandangi laut yang tersibak di belakang kapal yang membuat lajur panjang seperti garis yang selalu terbentuk ketika dilewati kapal dan kemudian menghilang, begitu seterusnya. Beberapa kawanan lumba-lumba dihari tenang dan cerah kadang-kadang melompat beriringan mengikuti laju kapal seperti bermain dengan induk ikan besar. Aku menikmati turun naik tangga disetiap lorong, kadang-kadang aku mengintip ke dek melihat begitu banyak orang, begitu banyak aktifitas, begitu ribut dengan suara anak-anak menangis atau bermain, aku berpikir aku masih beruntung karena orang tuaku bisa membelikan kami kamar sehingga tak perlu berdesak-desakan di ruang bawah yang panas dan pengap dengan bau mesin kapal dan mobil yang dihidupkan pemiliknya agar bisa menghidupkan AC dan tidur didalamnya, biasanya para supir truk bis dan truk pengangkut barang.
Ritual yang paling aku tak suka, karena harus antrian panjang adalah ketika pagi-pagi sekali kami harus ke kamar mandi, untuk mandi pagi sebelum kami sarapan di ruang khusus. Di saat tertentu ketika aku harus buang air kecil sekalipun harus antri juga, menyebalkan. Karena meskipun kami membeli paket dilengkapi kamar dan paket makan tapi tidak memiliki kamar mandi sendiri, sehingga harus bergabung dan berbagi dengan penumpang lain yang mengambil paket di dek kapal.
Pagi sekali setelah semua aktifitas kamar mandi selesai, aku biasanya diajak ke ruang makan, semacam food court, lengkap dengan meja makan bulat dan kami akan dihidang dengan makanan ringan, dengan tambahan roti lapis selai yang gratis. Beberapa kali aku meminta lebih karena aku tak pernah tahu bahkan jarang barangkali memakan jenis makanan itu, sehingga aku merasa aneh dan menjadi pengalaman luar biasa, dan ketagihan. Aku meminta beberapa lapis yang agak tebal kepada koki kapal, dan biasanya dibantu ayahku dan sedikit rengekan membuat aku leluasa mendapatkan roti tambahan itu. Aku membawanya ke kamar, sebagian kubagikan ke zulfa, satu-satunya adik perempuanku. Sisanya aku nikmati sambil duduk di atas tempat tidur sambil memandangi laut. Tapi pernah juga aku makan sambil bersandar di pagar kapal bagian atas. Bagian ini tidak langsung berbatas dengan laut, masih ada satu lantai di bawahnya dan bagian dek lagi dibawahnya.
Kisah yang paling mengesankan dan juga menyeramkan dari Tampomas I adalah, ketika di hari ketiga perjalanan kami, kami memasuki wilayah perairan Samudera India, dengan pemandangan kota Singapura dari kejauhan dalam kondisi berkabut, namun deretan gedung-gedung menjulang tampak seperti pemandangan gunung-gunung beton yang berderetan. Pemandangan itu tidak saja menakjubkan tapi juga mengesankanku karena indahnya bayangan kota itu dan bayangan betapa besarnya gedung-gedung itu karena masih tampak dari kejauhan laut yang ketika itu memang sedang diwarnai hujan deras dengan angin yang berkejaran. Beberapa penumpang yang tidak mendapat tempat di dek dan menempati dinding disebelah kamar kami dihantam gempuran hujan deras, aku melihat anak bayinya menangis keras, tapi kami tak bisa menolong, karena semuanya tergantung ayahku, bisa setuju bisa tidak, tapi aku juga tak mengajukan penawaran. Hanya bisa miris dan merasa kasihan, sambil berharap mereka dapat tempat berlindung yang bagus dan hujan segera berhenti. Apalagi tak lama setelah mereka berkemas, karena hari tiba-tiba menjadi cepat gelap dan laut semakin tak bersahabat, gelombang laut meninggi, sehingga percikannya kemudian juga sampai ke jendela kamar kami di lantai dua. Bagaimana dengan dek dan haluan kapal?, semua dipenuhi air, aku masih teringat keluarga yang berada disisi kamarku, yang dihari cerah kadang-kadang aku menggoda bayi kecil itu yang tertawa-tawa, aku tak ingat apakah aku juga berbagai roti lapis itu dengannya?.
Lautan hindia memang dipenuhi misteri, misteri tentang tenggelamnya kapal, misteri segitiga bermuda, begitu yang aku baca di buku namun ketika itu aku belum pernah membacanya, baru setelah pengalaman perjalanan itu aku mengetahui bahwa jalur itu merupakan salah satu jalur maut. Setelah badai laut besar hingga malam, paginya kami mendapati kapal sedang melaju dalam keadaan tenang dan bahkan merapat ke sebuah pulau kecil dan menurunkan sekoci dan beberapa penumpangnya, entah penumpang kapal yang turun di pulau kecil yang tak memiliki pelabuhan kapal besar itu, atau sekedar kru kapal yang turun untuk mengambil air dan membeli beberapa keperluan, hampir dua jam jangkar tersauh dan kami bisa menikmati kapal tenang tanpa goyangan ombak seperti biasanya. Hampir semua penumpang seperti berusaha menghirup udara segara, berdiri berderet disepanjang pinggiran pagar kapal, melihat pantai dan deretan perahu-perahu kecil nelayan yang berada di sepanjang pantai itu.
Badai besar malam itu menjadi catatan sendiri buatku, karena kemudian seingatku aku juga mengalami kisah yang hampir sama hanya saja di pengalaman keduaku aku naik perahu nelayan kecil dengan muatan 30-orang ditambah beberapa ekor ternak. Setelah kunjunganku dengan kapal itu hingga besar kemudian dan bekerja aku naik kapal hanya dalam hitungan jari. Apalagi kemudian aku mendengar kabar setelah sampainya kami di pelabuhan, kapal sejenis, maksudku Tamponas II, tenggelam di lautan hindia dengan membawa serta hampir seluruh penumpang beserta isi lainnya. Aku shock, tak percaya pada kenyataan bahwa saudara kapal yang pernah aku tumpangi itu tenggelam di tempat yang sama dengan ketika kami juga di hantam badai. Peristiwa itu terjadi sekitar desember 1979 atau januari 1980. Pokoknya tak berselang lama sejak kami naik Tampomas I itu. dan Aku pikir ketika itu, Tampomas I akan menjadi pengalaman pertama dan terakhirku naik kapal, karena meskipun ketika aku kecil aku bercita-cita menjadi seorang perwira angkatan laut, ketika aku melihat dahsyatnya peristiwa Tamponas aku berkecil hati dan bersyukur aku cuma bermimpi. Dan setelahnya aku tinggal di kampus semua pikiranku tentang perwira apalagi militer menguap dan aku bahkan kemudian bercita-cita menjadi bankir. Tak aneh, semuanya bisa berubah dengan mudah karena aku masih anak-anak.
Sayangnya aku tak pernah menyimpan berkas tentang kejadian memilukan itu, aku berharap bisa mengingat dari gambar tentang betapa luar biasanya cerita itu. Tapi edisi khusus tempo yang pernah aku dapatkan dari tetanggaku kalau tak salah menyimpan catatan kecil tentang itu. Setidaknya aku bisa sampaikan keorang-orang bahwa aku pernah naik kapal sejenis, Tampomas I namanya. Dan aku juga pernah mengalami badai laut besar yang membuatku trauma hingga aku besar kemudian.
Tampomas I; My First Journey
by hans@acehdigest
Large ship nearly ten times the length of my grandfather's house, and the amount of time even close to 50. I do not remember if I had to go to jakarta first of Cibugel, Sumedang or directly to the port in Bandung?. I remember the trip was quite long, I mean to get to the port, changing some of the car until it arrived at the Port of. After a long, long queues, up to row passenger stairs we finally reached the court of the harbor with a large ladder made of rope swing every time especially when passengers crammed to rise to the top, but I remember when it was not the time widths. Perhaps the lower-class passengers who scrambled up and hoping to get a good spot on the deck of the ship. While we had already booked a room with two beds on the ship that could be occupied five people at once.
We occupy a room on the right side of the space ship captains, the room was located on the second floor of a row of ships, with a round window that directly overlooks the sea. we can look at from the inside by rising to the top of the bed. Overall the experience into something interesting but one thing I like seasickness, so the slightest wobble board still makes me drunk and completely uncomfortable. Down the hall and the way the ship into something interesting but also frustrating because of seasickness earlier.
I used it along any part of the ship alone, like playing on the mainland. I know in the back of the stern of the ship where people are exercising and sit back, watching the sea that parted at the rear of the ship that made the long rows like a line that is always formed when the ship passed and then disappear, and so on. Some dolphins herd calm and sunny on the day sometimes jump in tandem to keep pace with the parent vessel like playing big fish. I enjoyed the ride down the stairs in every aisle, sometimes I peek into the deck to see so many people, so many activities, so noisy with the sound of children crying or playing, I think I was lucky because my parents could buy us the room so no need to jostling in the basement of a hot and stuffy with the smell of ship engines and cars that are turned on their owners to be able to turn on the AC and sleep in it, usually the bus and truck drivers pickup truck.
Ritual The most I do not like, because they have to queue length is when the early morning we had to go to the bathroom, to shower the morning before our breakfast in a special room. At a certain moment when I have to urinate even have to queue as well, sucks. Because even though we bought the package is equipped room and meal plan but it does not have its own bathroom, so it should join and share with other passengers who take the package on the deck of the ship.
Morning after all the activities of the bathroom is finished, I was usually invited to the dining room, a sort of food court, complete with dining table and we'll round was served with snacks, with additional butter sandwich for free. Several times I asked for more because I never know maybe even a rare type of food it ate, so I feel weird and be a wonderful experience, and addiction. I asked for some layers are rather thick to cook the ship, and usually helped my dad and a little whining makes me free to get the extra bread. I took him to the room, partly to share with Zulfa, the only little sister. The rest I enjoy while sitting on the bed, staring at the sea. But never did I eat while leaning on the top rail. This section does not directly bounded by the sea, there is still one floor below and underneath the deck again.
The story of the most impressive and well Tampomas creepy than I was, when on the third day of our trip, we entered the territorial waters of the Indian Ocean, with views of Singapore from a distance in foggy conditions, but a row of towering buildings looked like a view of the mountains of concrete lined. The scene was not only stunning but also surprises me because the beauty of the city's shadow and the shadow of how great it is because the buildings are still visible from a distance the ocean when it is being marred by heavy rain chasing the wind. Some passengers who do not have a place on the deck and occupies the wall next to our room was hit by the onslaught of heavy rain, I saw her baby boy was crying loudly, but we can not help, because it all depends on my father, could not be agreed, but I also did not submit a bid. Can only be sad and feel sorry for, hoping they can spot a good shelter and the rain soon stopped. Moreover, shortly after they pack up, because the day has suddenly become fast growing dark and unfriendly sea, ocean waves rising, so that sparks and then also get to the window of our room on the second floor. What about the deck and the bow of the ship?, All filled with water. I still thought that was the side of my family, the Day of bright sometimes I smile teasing the little baby who was laughing, I do not remember whether I was also a variety of sandwiches with him? .
The Indian ocean is filled with mystery, the mystery about the sinking of the ship, the mystery of the Bermuda triangle, so that I read the book yet when it I've never read it, just after the experience of that trip I learned that the trail is one of the paths of death. After a huge storm sea until night, morning we found the ship was traveling in a state of calm and even close to a small island and lowered lifeboats and several passengers, some passengers who descended on the small island that has no big ship harbor, or just the crew down to fetch water and buy some purposes, nearly two-hour anchor posted and we can enjoy a quiet ship without the waves rocking as usual. Almost all the passengers as soon sucked in air, stood a row along the edge of fence board, see the beach and a row of small fishing boats that are along the beach.
Big storm the night it became its own record for me, because then I remembered I also had a similar story except that I'm in my second experience of a small fishing boat with a cargo of 30-person plus a few head of cattle. After my visit to the ship later and worked great until I took the boat in just a finger. Moreover, then I heard the news after our arrival at the port, ship type, I mean Tampomas II, sank in the Indian ocean to take along almost the entire passengers and other content. I was shocked, not believing in the fact that his ship was sinking ever I rode in the same place as when we are also in the storm struck. The incident occurred around December 1979 or January 1980. Anyway not long ago since we got Tampomas I was. and I think when it's, Tampomas I will be my first and last experience board the ship, because even when I was little I dreamed of becoming a naval officer, when I saw the enormity of the event Tamponas I get discouraged and give thanks I was just dreaming. And after that I lived on campus all my thoughts about let alone military officers and even then evaporated and I aspire to be a banker. Not surprisingly, everything can change easily because I was a child.
Unfortunately I never kept a file on the incident was heartbreaking, I wish I could remember from the picture about what an extraordinary story. But the special edition tempo I have ever got from my neighbor,save a little note about it. At least I can tell to the others people that I've climbed sister ships, Tampomas I name. And I also experienced a large sea storms that made me a big trauma until later.
Menuju Sumedang 1979; Sumedang 1979
Aku memulai babak baru kehidupanku di sini. Jauh dari masa lalu, jauh dari ibuku dan rumahku. Sebenarnya aku tak tahu menahu soal keberangkatan itu, karena sebenarnya hal itulah yang hendak disembunyikan semua orang dariku. Aku tak merasa aneh ketika tiba-tiba ayahku datang setelah sekian lama menghilang, kata ibuku untuk studi. Dan kedatangannya yang tiba-tiba menjadi sesuatu yang surprise buatku, apalagi ayahku juga membawakanku buku-buku yang memang menjadi kesukaanku sejak kecil, aku bisa mengingatnya karena ada beberapa komik dan buku tentang Nabi-nabi yang dipenuhi gambar .
Setelahnya aku masih juga belum menyadari waktu aku diminta berbicara didepan teman-temanku karena aku akan pindah. Aku masih juga belum sadar ketika kemudian aku meninggalkan sekolah diiringi dengan tangisan dan lambaian tangan. Bisa jadi waktu itu ayahku bilang kepada mereka semua aku hanya sebentar pindah dan kemudian akan kembali untuk waktu yang tidak lama. Padahal ketika aku bisa memahami semuanya aku menyadari aku telah jauh dari semua, termasuk yang paling aku tidak sadari pada akhirnya aku harus kehilangan ibuku untuk waktu yang tak bisa aku tentukan kapan waktunya bisa ketemu lagi.
Dulu pernah dicoba untuk membujukku pulang, aku ingat karena baik nenek, kakek, tante maupun ibuku menjanjikanku akan membelikanku sepeda motor jika aku pulang, tapi persoalannya tak lagi sekedar ketemu dan kemudian aku berpindah lagi ketempat baru. Aku terlalu lama berpisah dari siapapun sehingga pada akhirnya membuat aku terbiasa untuk tak berempati, maksudku untuk soal-soal yang ada hubungannya dengan masa laluku. Saat itu aku berpikir aku sudah mempunyai dunia sendiri, baik atau buruk itu sudah menjadi bagian hidupku ketika itu. Sehingga sulit bagiku menerima kenyataan bahwa aku ternyata datang dari tempat yang jauh dari tempatku berada sekarang, tempatku dulu justru menjadi tempat asing buatku, lidahku tak bisa lagi menikmati makanan manis, atau budaya yang menurutku sekarang justru sangat asing.
Mungkin itu juga yang pada akhirnya membuatku makin terbiasa dengan tempat baruku tinggal, aku kemudian mulai berpikir seperti pemberontak yang pada awalnya terpaksa sekarang justru makin menikmati hidup baruku.
Sumedang, tepatnya Cibugel menjadi tempat singgahanku pertama, aku bertemu dengan teman-teman yang berbeda, berusaha saling dekat dan menjadikan mereka keluarga dan teman baruku. Aku juga mulai terbiasa dengan makanan dan pakaian yang jauh dari kebiasaanku dulu. Meskipun untuk yang satu ini aku belajar untuk menyesuaikan diri juga. Karena di tempat lamaku aku terbiasa santai dengan cukup memakai celana pendek sementara di tempat baruku yang berada jauh dipuncak gunung dengan udara yang mendekati titik nol, membuatku terbiasa dengan celana panjang dan jaket yang harus menutupi seluruh tubuhku, pengalaman baru dan menarik ini hanya berlangsung kurang lebih 3 atau 4 bulan, ketika aku baru memulai membangun pertemanan baru, ketika itu semuanya berganti. Aku mulai merasakan pengalaman yang aneh dengan hidupku yang berpindah-pindah dan berganti teman.
Di tempatku yang baru kualami selama kurang lebih 4 bulanan itu, aku menyimpan banyak sekali cerita masa lalu, tentang teman-teman yang aku sukai, maupun pengalaman lingkungan yang berbeda jauh dengan rumahku dulu. Terutama ketika aku mulai merasakan tak lagi kesulitan dengan soal makan dan pakaian. jauh sekali dengan pengalaman ketika aku masih bersama ibuku, yang hari-hariku selalu dipenuhi dengan pengalaman yang miris dan menyesakkan jika aku coba ingat kembali. Ketika kemudian kau menyadari kenyataan ini, aku juga berpikir, bagaimana ibuku selama itu bisa hidup dengan kehilangan salah seorang anaknya. Apakah ibuku benar-benar hanya sekedar sedih atau shock?. Bagaimana selanjutnya ibuku hidup dengan dua adikku, apakah ketika ayahku pulang ada kesepakatan baru untuk memberikan uang lebih? ataukah hanya sekedar mengurangi beratnya tanggungjawab ibuku dengan mengambil aku dan kemudian mengasuhnya?. Aku ingat soal berapa uang yang kami peroleh dari ayahku ketika studi atau ketika tak lagi tinggal lagi dengan kami. Aku hampir setiap bulan selalu diajak ibuku menuju kantor pos untuk antri menguangkan wesel pos yang dikirimkan ayahku. Barangkali sekitar 150 rupiah yang kami ambil setiap bulan, dan itu untuk kami bertiga termasuk juga uang sekolah dan makan kami selama sebulan, cukupkah?. Entahlah, karena ibuku tak pernah menceritakannya kepadaku, tapi yang masih juga terbayang dalam ingatanku, ibuku akan mengajakku belanja makanan kepasar sepulang dari kantor pos dan kami makan enak untuk beberapa saat.
Kunjungan singkatku ke sumedang menjadi kisah tersendiri yang mungkin bisa kuingat, mungkin akan aku coba tuliskan lagi dilain waktu. Sebagai bagian hidupku yang aku sadari kemudian merupakan bagian dari takdirku.
Towards Sumedang 1979
by hans@acehdigest
I'm starting a new chapter of my life here. Far from the past, away from my mother and my home. Actually I do not know anything about the departure that, because actually that's what everyone's going to be hidden from me. I do not feel weird when my father came suddenly after so long away, my mother said to the study. Arrivals and suddenly become something that surprise me, especially my dad also brought me books which is becoming a favorite since childhood, I can remember it because there are few comics and books about the prophets filled with pictures.
Afterwards I still did not realize when I asked to speak in front of my friends because I will move. I still did not realize when I left school later accompanied by weeping and hand waving. It could be time, my father told them all I only briefly and then will move back to a time not long. And when I could understand everything I realized I was far from all, including the most I did not realize at the end I had lost my mother for that time could not determine when it's time I could see you again.
Had once tried to persuade me to go home, I remember as my grandmother, grandfather, aunt and my mom would buy me a motorcycle promise if I go home, but the problem is no longer just met and then I moved again a new place. I was too long separation from anyone so in the end make me get used to not empathize, I mean to the questions that has to do with my past. At that time I think I already have my own world, good or bad it has become part of my life at that time. Making it difficult for me to accept the fact that I was coming from a place far from where I was, where I first became a foreign place for me, my tongue could no longer enjoy sweet foods, or who think culture is now very very strange.
Maybe that's what ultimately made me more and more accustomed to my new place to live, I then start thinking like insurgents who initially had now actually getting to enjoy my new life.
Sumedang, exactly Cibugel the first place I visit, I met with different friends, trying to close each other and their families and make new friends. I'm also getting used to the food and clothing away from the habit first. Although for this one I learned to adjust, too. Because at my old place I used to wear pretty casual with shorts while at my new place in far away mountain peaks with near-zero air, made me familiar with the trousers and jacket to cover my whole body, this new and exciting experience lasted less over 3 or 4 months, when I was just starting to build new friendships, when it all changed. I began to feel a strange experience with my life on the move and changing friends.
In the new place I've had for about 4 month, I save a lot of stories of the past, about my friends who I love, and experience a different environment away with my first. Especially when I started to feel no more trouble with the matter of food and clothing. much to do with experience when I was with my mom, my days are always filled with sad and suffocating experience if I try to remember back. When then you realize this fact, I also think, how my mother as long as it can live with losing one of his children. Did she really just sad or shocked?. How then my mother lives with two brothers, when my father came home whether there is a new agreement to provide more money? or just simply reducing weight by taking responsibility for my mother and then he feeds me?. I remember about how much money we get from my father when the study or when no longer lived longer with us. I almost always invited to my mother every month to the post office to cash a postal money orders queued sent my father. Probably about 150 dollars that we take every month, and it's for the three of us including our fees and meals for a month, enough?. I do not know, because my mother never told me, but who still imagined in my memory, my mother would take me food shopping to the market after returning from the post office and we eat well for a while.
My quick visit to sumedang be a separate story that could possibly remember, I'll probably try to write again next time. As part of my life that I realized later was part of my destiny.
Setelahnya aku masih juga belum menyadari waktu aku diminta berbicara didepan teman-temanku karena aku akan pindah. Aku masih juga belum sadar ketika kemudian aku meninggalkan sekolah diiringi dengan tangisan dan lambaian tangan. Bisa jadi waktu itu ayahku bilang kepada mereka semua aku hanya sebentar pindah dan kemudian akan kembali untuk waktu yang tidak lama. Padahal ketika aku bisa memahami semuanya aku menyadari aku telah jauh dari semua, termasuk yang paling aku tidak sadari pada akhirnya aku harus kehilangan ibuku untuk waktu yang tak bisa aku tentukan kapan waktunya bisa ketemu lagi.
Dulu pernah dicoba untuk membujukku pulang, aku ingat karena baik nenek, kakek, tante maupun ibuku menjanjikanku akan membelikanku sepeda motor jika aku pulang, tapi persoalannya tak lagi sekedar ketemu dan kemudian aku berpindah lagi ketempat baru. Aku terlalu lama berpisah dari siapapun sehingga pada akhirnya membuat aku terbiasa untuk tak berempati, maksudku untuk soal-soal yang ada hubungannya dengan masa laluku. Saat itu aku berpikir aku sudah mempunyai dunia sendiri, baik atau buruk itu sudah menjadi bagian hidupku ketika itu. Sehingga sulit bagiku menerima kenyataan bahwa aku ternyata datang dari tempat yang jauh dari tempatku berada sekarang, tempatku dulu justru menjadi tempat asing buatku, lidahku tak bisa lagi menikmati makanan manis, atau budaya yang menurutku sekarang justru sangat asing.
Mungkin itu juga yang pada akhirnya membuatku makin terbiasa dengan tempat baruku tinggal, aku kemudian mulai berpikir seperti pemberontak yang pada awalnya terpaksa sekarang justru makin menikmati hidup baruku.
Sumedang, tepatnya Cibugel menjadi tempat singgahanku pertama, aku bertemu dengan teman-teman yang berbeda, berusaha saling dekat dan menjadikan mereka keluarga dan teman baruku. Aku juga mulai terbiasa dengan makanan dan pakaian yang jauh dari kebiasaanku dulu. Meskipun untuk yang satu ini aku belajar untuk menyesuaikan diri juga. Karena di tempat lamaku aku terbiasa santai dengan cukup memakai celana pendek sementara di tempat baruku yang berada jauh dipuncak gunung dengan udara yang mendekati titik nol, membuatku terbiasa dengan celana panjang dan jaket yang harus menutupi seluruh tubuhku, pengalaman baru dan menarik ini hanya berlangsung kurang lebih 3 atau 4 bulan, ketika aku baru memulai membangun pertemanan baru, ketika itu semuanya berganti. Aku mulai merasakan pengalaman yang aneh dengan hidupku yang berpindah-pindah dan berganti teman.
Di tempatku yang baru kualami selama kurang lebih 4 bulanan itu, aku menyimpan banyak sekali cerita masa lalu, tentang teman-teman yang aku sukai, maupun pengalaman lingkungan yang berbeda jauh dengan rumahku dulu. Terutama ketika aku mulai merasakan tak lagi kesulitan dengan soal makan dan pakaian. jauh sekali dengan pengalaman ketika aku masih bersama ibuku, yang hari-hariku selalu dipenuhi dengan pengalaman yang miris dan menyesakkan jika aku coba ingat kembali. Ketika kemudian kau menyadari kenyataan ini, aku juga berpikir, bagaimana ibuku selama itu bisa hidup dengan kehilangan salah seorang anaknya. Apakah ibuku benar-benar hanya sekedar sedih atau shock?. Bagaimana selanjutnya ibuku hidup dengan dua adikku, apakah ketika ayahku pulang ada kesepakatan baru untuk memberikan uang lebih? ataukah hanya sekedar mengurangi beratnya tanggungjawab ibuku dengan mengambil aku dan kemudian mengasuhnya?. Aku ingat soal berapa uang yang kami peroleh dari ayahku ketika studi atau ketika tak lagi tinggal lagi dengan kami. Aku hampir setiap bulan selalu diajak ibuku menuju kantor pos untuk antri menguangkan wesel pos yang dikirimkan ayahku. Barangkali sekitar 150 rupiah yang kami ambil setiap bulan, dan itu untuk kami bertiga termasuk juga uang sekolah dan makan kami selama sebulan, cukupkah?. Entahlah, karena ibuku tak pernah menceritakannya kepadaku, tapi yang masih juga terbayang dalam ingatanku, ibuku akan mengajakku belanja makanan kepasar sepulang dari kantor pos dan kami makan enak untuk beberapa saat.
Kunjungan singkatku ke sumedang menjadi kisah tersendiri yang mungkin bisa kuingat, mungkin akan aku coba tuliskan lagi dilain waktu. Sebagai bagian hidupku yang aku sadari kemudian merupakan bagian dari takdirku.
Towards Sumedang 1979
by hans@acehdigest
I'm starting a new chapter of my life here. Far from the past, away from my mother and my home. Actually I do not know anything about the departure that, because actually that's what everyone's going to be hidden from me. I do not feel weird when my father came suddenly after so long away, my mother said to the study. Arrivals and suddenly become something that surprise me, especially my dad also brought me books which is becoming a favorite since childhood, I can remember it because there are few comics and books about the prophets filled with pictures.
Afterwards I still did not realize when I asked to speak in front of my friends because I will move. I still did not realize when I left school later accompanied by weeping and hand waving. It could be time, my father told them all I only briefly and then will move back to a time not long. And when I could understand everything I realized I was far from all, including the most I did not realize at the end I had lost my mother for that time could not determine when it's time I could see you again.
Had once tried to persuade me to go home, I remember as my grandmother, grandfather, aunt and my mom would buy me a motorcycle promise if I go home, but the problem is no longer just met and then I moved again a new place. I was too long separation from anyone so in the end make me get used to not empathize, I mean to the questions that has to do with my past. At that time I think I already have my own world, good or bad it has become part of my life at that time. Making it difficult for me to accept the fact that I was coming from a place far from where I was, where I first became a foreign place for me, my tongue could no longer enjoy sweet foods, or who think culture is now very very strange.
Maybe that's what ultimately made me more and more accustomed to my new place to live, I then start thinking like insurgents who initially had now actually getting to enjoy my new life.
Sumedang, exactly Cibugel the first place I visit, I met with different friends, trying to close each other and their families and make new friends. I'm also getting used to the food and clothing away from the habit first. Although for this one I learned to adjust, too. Because at my old place I used to wear pretty casual with shorts while at my new place in far away mountain peaks with near-zero air, made me familiar with the trousers and jacket to cover my whole body, this new and exciting experience lasted less over 3 or 4 months, when I was just starting to build new friendships, when it all changed. I began to feel a strange experience with my life on the move and changing friends.
In the new place I've had for about 4 month, I save a lot of stories of the past, about my friends who I love, and experience a different environment away with my first. Especially when I started to feel no more trouble with the matter of food and clothing. much to do with experience when I was with my mom, my days are always filled with sad and suffocating experience if I try to remember back. When then you realize this fact, I also think, how my mother as long as it can live with losing one of his children. Did she really just sad or shocked?. How then my mother lives with two brothers, when my father came home whether there is a new agreement to provide more money? or just simply reducing weight by taking responsibility for my mother and then he feeds me?. I remember about how much money we get from my father when the study or when no longer lived longer with us. I almost always invited to my mother every month to the post office to cash a postal money orders queued sent my father. Probably about 150 dollars that we take every month, and it's for the three of us including our fees and meals for a month, enough?. I do not know, because my mother never told me, but who still imagined in my memory, my mother would take me food shopping to the market after returning from the post office and we eat well for a while.
My quick visit to sumedang be a separate story that could possibly remember, I'll probably try to write again next time. As part of my life that I realized later was part of my destiny.
Senin, 02 Januari 2012
Stasiun Kebumen ; Railway Station Kebumen
Jaraknya kurang lebih 1 kilo dari rumahku di kusuma 31. Untuk main kesana harusnya pakai sepeda, tapi karena aku memang tak pernah punya, aku mencobanya berjalan kaki. Lurus dari arah rumah melintas di persimpangan jalan Kolopaking, dan lurus lagi akan sampai dibundaran simpang 5 tengah kota. Dari tugu lawet, melalui jalur kiri aku berjalan lurus kearah timur, dari situ aku tinggal berjalan setengah kilo lagi.
Stasiun itu memiliki dua jalur rel yang memotong jalan raya di dekat sokalah tanteku Muhibbah. tante hampir setiap hari melewati stasiun itu, jadi kalau aku ajak jalan-jalan kesana pasti ditolaknya.
Beberapa tanda pelintasan kereta api dan rumah kecil penjaga pintu berada di pemandangan paling depan dari stasiun itu. Aku harus memilih diantara dua jalan untk masuk kesana, dari samping jalan penjaga pintu kereta api, menelusuri stasiun sampai ke peron atau memilih jalan disebelah kiri rel kereta api untuk sampai ke dalam stasiun.
Hampir semua stasiun kita rata-rata sudah tua, dengan ciri khas dan bau yang sama, deretan para pedagang berada disetiap pinggiran rel kereta api. Mereka menjual pecal dan lainnya. Aku punya kisah aneh dengan kereta api, karena aku tak ingat apakah memang begitu ceritanya? atau sebenarnya cuma rekaanku saja.
Ketika itu aku masih duduk dikelas satu, tiba-tiba melintas di pikiranku untuk main ke tempat nenek-ku yang jauh di Gandrung Mangu, karena dalam pikiranku tak sulit untuk bisa kesana, asal sudah bisa masuk ke dalam kereta api pastilah sampai. Apalagi kereta api berhenti di hampir setiap stasiun yang lumayan besar termasuk Gandrung Mangu, pastilah ketika sampai disana kereta api juga akan berhenti dan aku tinggal melompat turun. Sewaktu aku melakukan perjalanan ini aku tak mengajak adikku, karena kuatir terjadi apa-apa di jalan.
Aku berangkat pagi-pagi minggu, menuju stasiun, bersembunyi di dalam gerbong, karena aku tak membawa uang untuk membeli karcis dan kemudian waktu kereta mau berangkat, aku pindah ke ruang masinis dan minta duduk disana dengan berbasa-basi.
Maka jadilah aku memulai perjalanan kereta api itu untuk pertama kalinya, sendirin. Tentu saja seperti yang kuduga semula kereta kemudian berhenti di stasiun gandrung mangu, apalagi aku duduk disamping masinis, yang langsung bilang begitu kereta hampir memasuki darerah gandrung mangu. Aku ingat masinisnya berpesan, segera pulang ketemu nenek dan besok tak boleh pergi sendirian.
Akibat ulahku rumah heboh, karena hingga sore aku belum juga pulang apalagi biasanya siang hari aku pulang untuk makan siang, maka pulangnya aku diantar ke stasiun dan dipastikan aku duduk dengan benar di tempat masinis dan dipastikan juga diantar pulang sampai kerumah. Ketika kemudian sampai ke kebumen aku tak ingat, apakah aku kemudian diantar dengan naik sepeda oleh orang stasiun atau aku berjalan kaki sendiri, atau dicarikan becak dan dipastikan sampai ke alamat yang sudah dipesan oleh masinis.
Ketika itu sebenarnya keinginanku cuma mau main ke rumah nenek karena kerinduan anak kecil dengan neneknya, tapi aku tak punya uang jadi aku coba cara yang paling mudah duduk di ruang masinis ketika kereta mau jalan. Tujuanku ke Gandrung Mangu, karena aku suka dengan Lanting, sejenis snack gurih, berukuran kecil berbentuk berbentuk angka delapan berbahan baku ubi yang memang paling khas ada di gandrung mangu, terutama yang dibuat persis di sebelah barat rumah nenek, rasanya asam-asam gurih karena ubimya setelah diparut, didiamkan beberapa saat yang membuat ada perubahan rasa yang menjadi ciri khas lanting itu, dan ciri khas tradisional itu yang selalu membuat makanan itu menjadi khas Gandrung dan membuat aku ketagihan. Karena belakangan ketika Lanting dimodifikasi rasanya menjadi terlalu renyah dan tak asli lagi seperti ketika aku kecil dulu.
Railway Station Kebumen
by hans@acehdigest
The distance is approximately 1 pound from my home in kusuma 31. To play there ought to wear a bicycle, but because I never had, I tried it on foot. Straight from the house passed Kolopaking crossroads, and straight again will get to the roundabout junction 5 downtown. From the monument lawet, through the left path I walked straight towards the east, from where I live to walk half a kilo more.
The station has two rail lines that cut the highway near my aunt school. aunt almost every day through the station, so if I take a walk there must be rejected.
Some railroad crossing sign and a small house doorman at the front view of the station. I had to choose between two roads remedy go in there, from the side street railway porter, browse to the station platform or choose the path to the left of the railroad to get to the station.
Almost all of our stations are old on average, with typical and smell the same, the merchants are in every rows of railroad suburb. They sell pecal and others. I have a strange story by train, because I do not remember whether it was the story? or actually just my imagination.
When I was sitting in class one, it suddenly flashed in my mind to play to where my grandmother is far Gandrung Mangu, because in my mind is not difficult to get there, the origin was able to get into the train must have been up to. Moreover, the train stopped at almost every station a sizable including Gandrung Mangu, must have been when I got there the train will also stop and I just jumped down. When I make this trip I did not invite my brother, for fear that anything happens on the road.
I leave early weeks, to the station, hiding in the car, because I did not bring money to buy a ticket and then when the train was leaving, I moved to the machinist and ask to sit there with pleasantries.
So I became a train journey for the first time, alone. Of course, as I think originally the train then stops at the station devoted to Gandrung Mangu, especially since I'm sitting beside the driver, who immediately said that the train entered the area almost Gandrung Mangu. I remember the engineer advised, go home see grandma and tomorrow should not be left alone.
As a result of my doing home excited, because until the afternoon I still had not come home much less often during the day I came home for lunch, then return I was escorted to the station and confirmed I was sitting right in the cab, and certainly also driven home to home. When then get to Kebumen I do not remember whether I was then escorted to ride a bike by the station or I walk alone, or looked for rickshaw and certainly up to the addresses that have been ordered by the engineer.
When it's actually just want to play my desire to grandma's house because of the desire of small children with her grandmother, but I had no money so I tried the easiest way to sit in the driver when the train going the road. My goal is to Gandrung Mangu, because I like to Lanting, a type of savory snacks, small figure-eight shaped form made from raw potatoes that are most typical in the Gandrung Mangu, especially those made just west grandmother's house, acids taste sweet tasty because after grated, silenced for a moment that made no change in taste that characterizes lanting it, and the traditional characteristics that always made it a typical Gandrung food and made me addicted. Since the latter is modified when Lanting feels like to be too crunchy and not original anymore like when I was a kid.
Stasiun itu memiliki dua jalur rel yang memotong jalan raya di dekat sokalah tanteku Muhibbah. tante hampir setiap hari melewati stasiun itu, jadi kalau aku ajak jalan-jalan kesana pasti ditolaknya.
Beberapa tanda pelintasan kereta api dan rumah kecil penjaga pintu berada di pemandangan paling depan dari stasiun itu. Aku harus memilih diantara dua jalan untk masuk kesana, dari samping jalan penjaga pintu kereta api, menelusuri stasiun sampai ke peron atau memilih jalan disebelah kiri rel kereta api untuk sampai ke dalam stasiun.
Hampir semua stasiun kita rata-rata sudah tua, dengan ciri khas dan bau yang sama, deretan para pedagang berada disetiap pinggiran rel kereta api. Mereka menjual pecal dan lainnya. Aku punya kisah aneh dengan kereta api, karena aku tak ingat apakah memang begitu ceritanya? atau sebenarnya cuma rekaanku saja.
Ketika itu aku masih duduk dikelas satu, tiba-tiba melintas di pikiranku untuk main ke tempat nenek-ku yang jauh di Gandrung Mangu, karena dalam pikiranku tak sulit untuk bisa kesana, asal sudah bisa masuk ke dalam kereta api pastilah sampai. Apalagi kereta api berhenti di hampir setiap stasiun yang lumayan besar termasuk Gandrung Mangu, pastilah ketika sampai disana kereta api juga akan berhenti dan aku tinggal melompat turun. Sewaktu aku melakukan perjalanan ini aku tak mengajak adikku, karena kuatir terjadi apa-apa di jalan.
Aku berangkat pagi-pagi minggu, menuju stasiun, bersembunyi di dalam gerbong, karena aku tak membawa uang untuk membeli karcis dan kemudian waktu kereta mau berangkat, aku pindah ke ruang masinis dan minta duduk disana dengan berbasa-basi.
Maka jadilah aku memulai perjalanan kereta api itu untuk pertama kalinya, sendirin. Tentu saja seperti yang kuduga semula kereta kemudian berhenti di stasiun gandrung mangu, apalagi aku duduk disamping masinis, yang langsung bilang begitu kereta hampir memasuki darerah gandrung mangu. Aku ingat masinisnya berpesan, segera pulang ketemu nenek dan besok tak boleh pergi sendirian.
Akibat ulahku rumah heboh, karena hingga sore aku belum juga pulang apalagi biasanya siang hari aku pulang untuk makan siang, maka pulangnya aku diantar ke stasiun dan dipastikan aku duduk dengan benar di tempat masinis dan dipastikan juga diantar pulang sampai kerumah. Ketika kemudian sampai ke kebumen aku tak ingat, apakah aku kemudian diantar dengan naik sepeda oleh orang stasiun atau aku berjalan kaki sendiri, atau dicarikan becak dan dipastikan sampai ke alamat yang sudah dipesan oleh masinis.
Ketika itu sebenarnya keinginanku cuma mau main ke rumah nenek karena kerinduan anak kecil dengan neneknya, tapi aku tak punya uang jadi aku coba cara yang paling mudah duduk di ruang masinis ketika kereta mau jalan. Tujuanku ke Gandrung Mangu, karena aku suka dengan Lanting, sejenis snack gurih, berukuran kecil berbentuk berbentuk angka delapan berbahan baku ubi yang memang paling khas ada di gandrung mangu, terutama yang dibuat persis di sebelah barat rumah nenek, rasanya asam-asam gurih karena ubimya setelah diparut, didiamkan beberapa saat yang membuat ada perubahan rasa yang menjadi ciri khas lanting itu, dan ciri khas tradisional itu yang selalu membuat makanan itu menjadi khas Gandrung dan membuat aku ketagihan. Karena belakangan ketika Lanting dimodifikasi rasanya menjadi terlalu renyah dan tak asli lagi seperti ketika aku kecil dulu.
Railway Station Kebumen
by hans@acehdigest
The distance is approximately 1 pound from my home in kusuma 31. To play there ought to wear a bicycle, but because I never had, I tried it on foot. Straight from the house passed Kolopaking crossroads, and straight again will get to the roundabout junction 5 downtown. From the monument lawet, through the left path I walked straight towards the east, from where I live to walk half a kilo more.
The station has two rail lines that cut the highway near my aunt school. aunt almost every day through the station, so if I take a walk there must be rejected.
Some railroad crossing sign and a small house doorman at the front view of the station. I had to choose between two roads remedy go in there, from the side street railway porter, browse to the station platform or choose the path to the left of the railroad to get to the station.
Almost all of our stations are old on average, with typical and smell the same, the merchants are in every rows of railroad suburb. They sell pecal and others. I have a strange story by train, because I do not remember whether it was the story? or actually just my imagination.
When I was sitting in class one, it suddenly flashed in my mind to play to where my grandmother is far Gandrung Mangu, because in my mind is not difficult to get there, the origin was able to get into the train must have been up to. Moreover, the train stopped at almost every station a sizable including Gandrung Mangu, must have been when I got there the train will also stop and I just jumped down. When I make this trip I did not invite my brother, for fear that anything happens on the road.
I leave early weeks, to the station, hiding in the car, because I did not bring money to buy a ticket and then when the train was leaving, I moved to the machinist and ask to sit there with pleasantries.
So I became a train journey for the first time, alone. Of course, as I think originally the train then stops at the station devoted to Gandrung Mangu, especially since I'm sitting beside the driver, who immediately said that the train entered the area almost Gandrung Mangu. I remember the engineer advised, go home see grandma and tomorrow should not be left alone.
As a result of my doing home excited, because until the afternoon I still had not come home much less often during the day I came home for lunch, then return I was escorted to the station and confirmed I was sitting right in the cab, and certainly also driven home to home. When then get to Kebumen I do not remember whether I was then escorted to ride a bike by the station or I walk alone, or looked for rickshaw and certainly up to the addresses that have been ordered by the engineer.
When it's actually just want to play my desire to grandma's house because of the desire of small children with her grandmother, but I had no money so I tried the easiest way to sit in the driver when the train going the road. My goal is to Gandrung Mangu, because I like to Lanting, a type of savory snacks, small figure-eight shaped form made from raw potatoes that are most typical in the Gandrung Mangu, especially those made just west grandmother's house, acids taste sweet tasty because after grated, silenced for a moment that made no change in taste that characterizes lanting it, and the traditional characteristics that always made it a typical Gandrung food and made me addicted. Since the latter is modified when Lanting feels like to be too crunchy and not original anymore like when I was a kid.
Langganan:
Postingan (Atom)